Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Saran Lia


__ADS_3

[Han, maaf banget hp ku gak di aktifin tadi karena sibuk banget di kantor]


"Akhirnya Lia mengirim balasan dari chat yang aku kirim dari tadi," pekikku.


[ Ya sudah kalau sedang sibuk nanti saja ]


[Pak Andi ternyata dia bos di kantor bukan rekan kerja. Dia ngasih kerjaan udah kayak ke robot aja]


sedikit ku lirik Andi yang juga sedang asyik melihat orang-orang berlalu lalang.


"Memang dia ini tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik," pekikku dalam hati.


[jangan marah, ya, please....]


Lalu Lia meminta izin untuk bertemu sepulang kerja nanti untuk makan malam, ia juga izin untuk kembali bekerja.


Dret....dret...dret...Lia menelpon karena chat nya belum aku balas. Sengaja tak ku angkat telpon dari Lia karena ada Andi bos nya yang sedang duduk bersamaku.


"Siapa?" tanya Andi yang baru sadar.


"Eh, itu.... gak apa-apa bukan siapa-siapa" Andi melihatku dengan seksama. "Mas Abhi?" tanya nya lagi.


"Eh, iya. Hehehe,"


"Oh," Andi mengangguk-angguk kepalanya ke atas dan bawah. Di saat aku lengah mengambil nafas ponselku pun raib di rampas Andi, belum sempat ku kunci ponselnya, Andi sudah terlanjur melihat ponselku dan di bacakannya chat ku dengan Lia.


"Wah berani sekali dia bilang begitu padaku," Terlihat jelas wajah kesal Andi karena baca chat ku dengan Lia. Kurebut kembali ponsel yang Andi rampas buru-buru, takut ia baca yang lainnya.


"Jangan seperti itu, Lia hanya mengungkapkan kekesalannya saja kepada temannya," Aku berusaha menenangkan Andi yang sedang jengkel walau sedikit kemungkinan untuk berhasil.


"Walau bagaimanapun itu pekerjaan dia," dan benar saja tidak berhasil, wajah Andi masih kesal dan mengutuk Lia temanku. Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya Andi yang seperti anak kecil.

__ADS_1


"By the way, kenapa kamu ada disini, bukannya kerja di kantor," cetusku.


"Kalau bos kapanpun dia mau, kerja gak kerja, gak akan ada yang marah atau larang." Wajah Andi yang menyombongkan diri dengan wajah yang dinaikan ke atas membuatku sedikit geli.


"Sudah makan siang, kalau belum kita makan siang sekalian jak teman tak tahu diri kamu itu," wajah Andi yang masih kihatan bete karena Lia.


"Gak usah, aku bisa makan dan masak di rumah." Andi menatapku dengan seksama, kembali ku teruskan bicaraku.


"Lagi pula, aku bisa masak dan juga sayur dan buah yang di beli di supermarket sudah mulai layu, di buang sayang lebih baik di masak saja." Ucapku pada Andy yang masih dengan wajah herannya entah takjub.


"Kalau kamu bisa masak kenapa tidak masakin mas Abhi, bukankah kamu istrinya," aku diam tak menjawab.


"Lagipula hubungan kalian itu aneh, menikah tapi tak seperti suami istri, kehidupan kalian berdua kaku," aku masih tak menjawab dan mulai meminum air mineral dari dalam botol.


"Atau jangan-jangan, kau juga masih belum di sentuh mas Abhi, ya, atau kalian hanya kawin kontrak." Seketika itu juga langsung naik ke atas dan tembus ke lubang hidung keluar, aku tersedak air.


Andi yang kaget langsung menepuk-nepuk pundakku dan mengambilkanku tissu, Aku masih terbatuk-batuk karena tersedak tadi karena kaget.


"Bisa-bisanya kau tersedak air yang ku minum di depan dia, yang lebih memalukan cairan pun keluar juga dari lubang hidungku, serasa ingin menghilang dari bumi saja." Aku menutup wajahku oleh selimut tebal, karena tak lama setelah itu Andi pergi kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kini aku hanya terbaring di atas kasur berselimut tanpa ada kegiatan.


***


Di sisi lain Andi sedang mengendarai mobil menuju kantornya.


Dret...dret...dret...


"Iya mas Abhi, sudah, dia baik-baik saja." Andi menerima telpon dari Abhi.


"Dasar ceroboh," senyum manis tersimpul di bibir tipis Andi setelah menutup teleponnya dengan Abhi, mengingat kembali kejadian tadi Honey tersedak saat minum air.


****

__ADS_1


"Gila, ternyata Andi itu bos gw dong Han, kaget gak tuh.", Ekspresi kekaget Lia sangat ketara hingga kami dilihatin oleh para pengunjung yang ada di sekitar.


"Ya mana aku tahu," Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Tapi, walau gimanapun aku minta maaf yah, karena kemarin aku gk bs bales cepat-cepat." Kini wajah Lia terlihat sangat menyesal, padahal sejujurnya aku tidak apa-apa karena memang bekerja atas telunjuk orang ya memang seperti itu.


"Hmm, kamu sih enak bisa kerja, aku setiap hari jadi pengangguran yang luntang lantung saja." Lia menatapku iba.


"Kamu lebih enak, gak usah lagi mikirin gimana caranya dapet duit, gak usah mikirin ini itu, ibu bapak mu sudah di jamin hidup mereka oleh suamimu, bahkan adikmu pun sudah terjamin sekolah nya sampai lulus kkuliah dan pekerjaannyapun sudah di jamin nantinya,semua sudah di jamin suami kaya mu itu." Balas Lia menghibur, tak lama makanan yang kami pesan datang dan pelayan disana mempersilahkan kami menyantap hidangan setelah semua sudah tersedia di atas meja.


"Ke ramah tamahan pelayan muda itu membuatku ingat masa-masa kerja dulu. Walau bagaimanapun kondisi fisik, mental bahkan hati tak mendukung harus selalu bisa menebar senyum tulus kepada para pelanggan. Meskipun berat hari-hari itu ku lalui, tapi aku sangat menikmatinya." Lia memegang tanganku, kulihat wajah Lia yang memelas melihat nasib sahabatnya ini.


"Aku juga bukan tipe orang yang meminta-minta tanpa pamrih, kau sendiri tahunotu sebagai temanku."Lia memiringkan bibirnya karena tak percaya.


"Terus cowok-cowok yang kau gaet dahulu itu apa, mana ada cowok mau ngasih semua yang kamu mau tanpa dikasi apa-apa," Aku melotot kepada Lia seketika dan Lia hanya membalasku dengan tertawa cekikikan. Karena Lia lah yang paling tahu aku bukan orang yang gampang memberi kepada semua laki-laki,bahkan ia dulu pernah bertengkar dengan salah satu cewek yang pacarnya ternyata memacariku. Lia rela bertaruh kalau aku masih perawan.


"Bagaimana, kalau kamu minta ijin saja sama suamimu itu untuk bisa bekerja di kantornya. Selain kamu bisa memantau mas Abhi mu itu, kamu juga bisa bekerja dan dapat gaji," dengan mata berbinar Lia memberiku saran.


"Benar juga, apa aku coba dulu yah sama mas Abhi?" gumamku.


****


"Sudah pulang,mas." Ku sambut hangat saat seseorang datang membukakan pintu rumah.


"Iya aku sudah pulang tante ipar, hahahhaha..." Wajahku langsung memerah ketika tahu yang datang dahulu adalah Andi keponakan jailnya.


"Tumben pulang lebih dulu dari mas Abhi," pekikku.


"Lah, memangnya tidak boleh?" Andi membuka sepatu kemudian kemeja nya di depanku membuatku seketika menutup wajahku dengan kedua tanganku.


"Aku memakai kaos dalam, dasar mesum." Ku buang mukaku dari Andi lalu naik ke atas setelah ku ledekki Andi.

__ADS_1


"Kenapa mas Abhi belum pulang yah?" gumamku dalam hati dari balik pintu kamar.


__ADS_2