Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Ikut mas Abhi


__ADS_3

"Halo, Sand..." ku coba menelpon Sandy, belum selesai aku ngomong seseorang mengambil Hp ku lalu mematikannya.


"Mas, kenapa di matikan?" tanyaku sedikit geram karena mengambil Hp orang tanpa permisi.


"Ibu dan bapak memanggilmu, tidak baik kalau harus menghiraukannya." jawab mas Abhi lalu memberikan kembali Hp yang sempat ia rebut barusan kemudian pergi keluar.


Akupun keluar mengikuti mas Abhi, dan mendatangi bapak sama ibu.


"Ada apa pak,bu." Tanya ku heran, karena melihat ada mobil terparkir di halaman.


"Pak kiyai tadi menelpon bapak, katanya kalian disuruh siap-siap pulang. Karena besok nak Abhi harus sudah pergi ke tempat kerja nya untuk ketemu klien. Nak Abhi pasti sangat sibuk," Bapak melirik ke arah Mas Abhi di balas senyum oleh mas Abhi.


"Iya, pak." jawabnya.


"Ya sudah ibu bantu Honey dulu membereskan pakaiannya, ya. Kamipun pergi masuk ke kamar untuk membereskan pakaian yang akan aku bawa.


"Bu, Han gak mau pergi dulu. Han mau tinggal dulu disini beberapa hari saja, bu." Aku merajuk pada ibu tapi tetap membukakan koperku dan ikut membereskannya.


"Kamu ini, baru saja bapakmu bilang tadi. Masa gak ngerti juga, Han." jawab ibu.


"Ibu gak tahu akutuh berat sekali ninggalin kalian disini, tiba-tiba saja dalam satu malam aku sudah menyandang status istri," air mataku kembali jatuh lalu ibu memelukku.


"Jangan gitu, kamu udah gede udah dewasa. Ibu dan bapak lega karena yang menikah sama kamu adalah orang yang tahu agama." jawab ibu tanpa henti mengusap rambutku mencoba meredakan tangisku.


"Belum tentu juga bu anak seorang kiayi itu baik dan agamis. Banyak kok anak-anak ustad tapi masih melakukan dosa besar, " rajukku.


"Setidaknya mereka ada dasar iman dan agama yang kuat," jawab ibu singkat.


Aku tidak bisa berkata apa-apa tetap pada akhirnya membereskan pakaian yang akan ku bawa.


***


Setelah di rasa sudah selesai bapak dan ibu juga Ririn mengantarkanku sampai ke depan pintu mobil dan terjadilah tangis-menangis diantara aku dan keluargaku.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan aku dan mas Abhi duduk di belakang sementara di depan adalah supir dan juga asisten mas Abhi. Kami menaiki mobil alphard tapi bukan yang malam kemarin warna silver, yang ini warna hitam dengan dalamnya sedikit di modifikasi dengan aksen hitam juga tempat duduk depan dan yang kedua di beri penutup seperti gorden.


"Mau kemana kita, kerumah pak kiyai?" tanyaku.


"Bukan, kita ke apartemen saja." Jawab mas Abhi. Aku hanya mengangguk lalu mengeluarkan Hp ku, kulihat di Hp sudah menunjukkan jam 6 sedangkan perjalanan membutuhkan waktu 2-3 jam jika tidak macet. Tujuan kami kali ini adalah ke apartemen mas Abhi di jakarta, kami berhenti dulu ke sebuah restoran di rest area. Mas Abhi pergi ke mushola yang di sediakan restoran untuk shalat maghrib dengan supir dan asistennya. Sedangkan aku menunggu dan memesan makanan untuk makan malam.


"Kamu disini tunggu dulu Mas shalat, pesan saja makanan yang mau kamu makan," perintah Mas Abhi di balasku dengan anggukan.


"Mbak," aku melambaikan tanganku memanggil pelayan di sana untuk memesan menu. Kulihat pelayan itu sedikit bete karena ku panggil, sepertinya ia merasa terganggu karena sedang melihat cowok ganteng keganggu olehku.


"Ya siapa lagi yang para pelayan wanita itu lihat selain mas Abhi," gumamku.


Akupun memesan menu makanan yang sederhana, ku pesan ayam bakar utuh dan juga 4 nasi putih sayur beserta lalapan dan sambal.


"Minumnya biar mas Abhi saja yang pilih nanti," gumamku. Tak lama mas Abhi dan juga supir serta asistennya kembali. Mas Abhi duduk mengahadapku lalu kedua lelaki tadi pak supir yang ku ketahui namanya pak Tarno dan juga asisten Mas Abhi duduk di belakangku.


"Kamu mau ganti pembalut?" bisik mas Abhi.


"Nggak usah," jawabku seketika geram saat ia melemparkan tawaran kepadaku. Aku sendiri tidak mengerti padahal sekarang ia suamiku dan wajar rasanya seorang suami bilang seperti itu. Kulirik ke wajah mas Abhi tak ada raut wajahnya berubah jadi bete atau jemberut atau tidak nyaman.


"Dia pun tersenyum dengan sedikit ada suara tertawa, tapi kecil hampir tak terdengar." Mas Abhi menggelang gelengkan kepalanya.


Pesanan pun datang, kami pun langsung lahap menyantap makanannya.


"Enak sekali ayamnya, seperti masakan ibu." celetukku saat sudah merasakan ayam bakar khas sunda itu.


"Kamu bisa masak ini untuk mas?" tanya nya tiba-tiba.


"Tentu," jawabku yakin. Karena aku juga termasuk pintar memasak, karena jika libur kerja kalau gak dapat buruan cowok baru. Aku pasti memasak makanan mewah dirumah, sampai yang dirumah ketagihan dan memuji masakanku.


"Oh iya, Sandy!" tiba-tiba aku teringat dengan Sandy dan juga Lia. Aku bahkan belum bilang ke manager kalau aku akan mengundurkan diri.


"Mas," panggilku sedikit gak yakin.

__ADS_1


"Ya," jawabnya singkat karena sedang melahap makanan.


"Aku permisi sebentar yah," aku meminta ijin keluar untuk menelpon mereka.


"Mau kemana?" tanya mas Abhi.


"Aku mau menelpon temanku, penting" aku sedikit memohon.


"Kita sedang makan, gak baik kalau di tinggal begitu saja. Selesaikan dulu makan baru mengurus hal lain," jawabnya. Aku pun tidak berani menjawab dan melanjutkan makanku hingga selesai.


Setelah waktu pembayaran, kedua pelayan itu berebut tempat untuk sesegera mungkin sampai menghampiri mas Abhi.


"Cuih, dasar murahan. Gak tahu apa aku ini istrinya" fikirku yang melihat kelakuan mereka.


Wajar sih, jika sikap mereka seperti itu. Karena memnag mas Abhi melebihi ganteng di atas ganteng. Aku saja sampai susah sekali menggambarkannya. Pokoknya guanteng pool deh, Sandy pun kalah kalau lawan mas Abhi.


dret...dret...dret...dret...


"Halo... ya bu. Baru selesai makan aku dan mas Abhi, sekarang mau jalan lagi.


***


"Katanya tadi kamu bilang mau ada perlu, yuk aku temani." tawarnya


"Tidak jadi," jawabku singkat.


"Ada yang ingin kamu telpon?" tanya nya lagi sedikit membuatku kaget. Aku tidak menjawab dan naik ke dalam mobil. Setelah selesai semua masuk ke dalam mobil, kamipun melaju dengan kecepatan sedang dengan di awali "Bismillah..."oleh mas Abhi.


Aku sedikit bete karena untuk menelpon temanku saja susah sekali. Rasanya sudah cukup aku bersabar, Mas Abhi memperhatikanku dan aku tahu itu. Aku tahu kalau mas Abhi sadar aku sedang tidak mood.


"Aku akan bicara saat sampai nanti," gumamku.


Sepanjang jalan aku hanya diam dan memalingkan wajah ke arah berlawanan. Mas Abhi memperhatiknku sesekali, dapat ku lihat dari pantulan kaca jendela mobil sebelah kiriku. Sampai akhirnya aku tertidur pulas sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2