Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Aisyah...!


__ADS_3

Sebenarnya aku hanya ingin makan di rumah saja untuk malam ini, entah kenapa rasanya badanku terasa sangat lelah. Inginnya rebahan terus, mas Abhi membukakan pintu di belakang tapi aku hanya diam mematung tak masuk ke dalam.


"Kenapa ayo masuk mobil dulu,ya." Sekali lagi mas Abhi menyuruh, melihat Aisyah yang sudah duduk yang artinya aku akan duduk bersebelahan dengan nya entah kenapa membuatku sedikit muak, apalagi setelah mengingat kejadian tadi.


"Aku mau duduk dengan mas Abhi saja,"


"Loh, mas kan nyetir"


"Gak mau, aku maunya duduk di belakang dengan mas Abhi...!" gandengan tanganku semakin erat kepada mas Abhi.


Hanya dengan tatapan mata yang dikirimkan kepada Aisyah, ia langsung mengerti kemudian pindah untuk duduk di depan sambil melirikkan matanya yang nampak keberatan.


Andi yang melihat adegan itu pun tak lagi protes hanya menghela anfas saja.


"Yuk, mas Abhi dan Honey cepetan naik keburu malam nih," pekik Andi.


Akupun kini duduk dengan mas Abhi di samping mas Abhi.


Mas Abhi yang melihat tingkahku seperti anak kecil tak sedikitpun berniat membahasnya. Kini mobilpun berpacu dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang semakin rame dan terang oleh cahaya lampu jalanan dan juga kendaraan.


Entah kenapa sikap mas Abhi sedikit dingin padaku. "Apakah ia masih marah dan menyalahkanku atas terjatuhnya Aisyah tadi? entahlah, aku tidak ingin terlalu banyak berfikir." Ku senderkan punggungku mengistirahatkan diri.


Tak lama kami pun sampai di sebuah restoran mewah. Mas Abhi membukakan pintu Aisyah setelah menurunkanku dari mobil.


"Ayo," seru Andi mengajakku untuk masuk duluan ke dalam, dan akupun mengikutinya tanpa menoleh lagi ke arah mas Abhi dan Aisyah.


"Han, mau pesan apa?" tanya Andi yang langsung di samperi pelayan restoran dan memberikan buku menu.


"Hah, aku mau nasi goreng saja."


"Nasi goreng? yang benar saja gak ada nasi goreng si restoran western begini," jawab Andi.


Aku tidak terlalu fokus dengan Abdi, pandanganku tak lepas dari mas Abhi yang menemani Aisyah masuk.


"Han?" tanya Andi.


"Eh, apa tadi. Pesan yah, aku nasi goreng saja kalau begitu,"


"Kan udah di bilang gak ada nasi goreng disini," ketus Andi.

__ADS_1


"Iya maaf, aku pesan apa saja yang penting halal. Lagipula ngapain sih ke restoran barat kenapa gak ke restoran pinggir jalan aja," usulku.


"Aku sedang mau makan ini," jawab Andi ledek.


Tak lama Aisyah dan mas Abhi sampai lalu mempersilahkan Aisyah duduk setelah menyingkapkan kursi agar Aisyah dapat duduk. Perlakuan mas Abhi kepada Aisyah membuatku muak.


"Sudah jelas aku ini istrinya mas Abhi, bagaimana bisa dia memperlakukan wanita lain seperti itu di depan istrinya!" pekikku dalam hati.


Setelah selesai memesan makanan, tak lama hidanganpun tersedia di atas meja.


"Loh, Han. belum pesan makanan?" tanya mas Abhi yang duduk di sebelahku, aku menggelengkan kepala.


"Aisyah, nih. Kamu pilih mau makan apa," mas Abhi menyodorkan buku menu pada Aisyah kemudian membuka buku menunya sendiri.


Tuk... Andi menyikutku, kulihat ia memainkan alisnya mengisyaratkan agar aku mengambil buku menu dan membukanya untuk memilih makanan yang akan aku pesan. Tapi ku balas dengan mengerutkan keningku sambil menggelengkan kepalaku.


"Dan kamu mau pesan makanan apa?" tanya mas Abhi yang sedari tadi memperhatikan tingkahku dengan Andi yang seketika itu terdiam dan Andi kembali fokus dengan makanan nya.


"Aku mau nasi goreng bukan makanan mewah ini..!" jawabku.


"Disini gak ada nasi goreng, kamu pilih yang lain saja yah?" mas Abhi menyarankan.


"Mas, aku mau pesan ini dan ini." Aisyah menyodorkan buku menu dengan tangan menunjuk ke nomer menu makanan yang tersedia.


"Oh ya sudah, aku pesankan." Di balas anggukan Aisyah dengan senyum manisnya kemudian mas Abhi mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan di sana.


"Ini tuh bukan di pedagang kaki lima, mana ada nasi goreng. Lagi pula kenapa mau nasi goreng,sih." Celetuk Andi membuatku mendelik.


"Iya, Han. Di coba saja kamu mau makan apa tinggal pesan," celetuk Aisyah membuatku ill feel.


Drrr....drrr....drr...


[Han, ada pak Andi disana? Kalau ada tolong idupin ponselnya aku mau nanyain tentang berkas]


"Hah, Lia. Apa aku harus...." gumamku dalam hati sambil ku tekan calling.


"Halo..." ucap Lia.


"Ha, halo Lia. A,ada apa ya?" sebentar ku lirik mereka yang duduk memperhatikanku.

__ADS_1


"O,oh... boleh. Ma, maksudku aduh aku lupa sudah ada janji sama kamu. Ah yang bener kamu sampe nunggu dari sore sampai sekarang?"


"Kamu ngomong apaan sih,Han?" ucap Lia dari sambungan telepon.


"Ya udah kalau gitu aku pergi sekarang kesana, tunggu yah tunggu aku datang." Kemudian ku matikan dan ijin pamit kepada mereka yang masih bengong melihatku.


"Mas, aku lupa tadi ada janji mau ketemu Lia dia nunggu dari sore sampe sekarang nungguin. Aku harus samperin Lia dulu sebentar sekalian makan dengan Lia disana," ucapku memberikan alasan.


"Biarkan mas yang bicara dengan Lia, telpon dia."


"Aku sudah terlanjur akan kesana, lagipula janji kan harus di tepati gak enak juga sama Lia yang udah nunggu dari sore,kan." Jawabku masih membuat alasan.


"Ka,kalau begitu aku pergi dulu yah. Nanti kalau aku pulang mas Abhi aku telpon untuk jemput." Hendak aku pergi meninggalkan mereka mas Abhi meraih tanganku hingga langkahku tertahan, Aisyah melihat itu dan merasa tidak nyaman.


"Setelah disini nanti mas anterin ke temanmu Lia."


"Tapi, mas." Mas Abhi langsung bangun dari duduknya kemudian mengajakku pergi.


"Aku antar Honey dulu, kalian kalau mau makan, makan saja tanpaku. Andi nanti antarkan Aisyah ke apartemenku,"


"Tapi, aku juga mau pulang" Andi tak berani lagi membantah ketika melihat wajah mas Abhi yang tegas.


Akhirnya kamipun pergi berdua menggunakan grab. Di mobil, mas Abhi tak melepaskan genggamannya dari tanganku.


"Mas, nanti Aisyah bagaimana?"


"Biarkan saja, ada Andi disana."


"Tapi..."


"Kamu mau ketemu dengan Lia,kan. Janji adalah janji jadi harus di tepati," ucap mas Abhi.


"Ma,maaf ya mas."


"Tidak usah meminta maaf, kita berdua makan dengan Lia nanti."


"Bukan itu, aku berbohong dan bingung sekarang harus bagaimana. Aduh... jangan sampai ketahuan, kalau nggak mampus deh gue" gumamku dalam hati sambil memikirkan cara agar kita ketemu di tongkrongan.


Akhirnya ku chat Lia meski balasannya tentu saja makian dari sahabatku ini, tapi akhirnya ia mau membantu juga.

__ADS_1


"Gila ya, udah pake baju tidur di suruh pergi lagi. Lagian ngapain juga sih ngebohong, kan jadinya oleh-oleh dari LN gak kebawa. Nyusahin aja lu...!" begitulah balasan Lia yang akhirnya ia tetap mau menolongku, temannya yang sedang terjepit. Sedangkan mas Abhi masih dengan genggamannya yang kini membelai kepalaku yang berbalutkan kerudung.


__ADS_2