Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Ke pondok


__ADS_3

"Ehem, mohon maaf ada perlu apa ya?" tanyaku pada sekertaris centil yang bernama Sinta itu.


"Aku mau menemui pak Abhizar," jawabnya ketus.


"Dasar perawan tua," pekikku dalam hati. "Perlu di waspadai nih orang."


"Mohon maaf, dari sebelum anda bekerja disini, saya sudah biasa memberikan apapun langsung kepada mas Abhizar,"


"Apa, mohon maaf, mas?" wanita itu mengangguk membuatku kesal.


"Ehem, di karenakan sekarang pak Abhi sudah mempekerjakan seorang sekertaris yang tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri alias saya yang bernama Honey, jadi mulai saat ini di harap anda yang hanya bawahan ayang Abhi alias suamiku Abhizar yang juga berarti bawahan saya karena saya istrinya, harap di berikan ke saya karena berkas untuk ayang Abhi juga sama saja itu berkas untuk saya istrinya,"


"A,apa. Ayang, mas,?" ucapnya tak percaya. Aku hanya balas mengangguk dengan senyum licikku.


"Rasakan, gak bisa ngelak kan kau!" pekikku dalam hati.


"Ada apa ini?" tiba-tiba mas Abhi keluar pintu sepertinya dari tadi ia memperhatikan kami dari dalam.


"Ini saatnya saya mengeluarkan jurus rayuan mautku." gumamku.


"Mas Abhi alias pak Abhi atasanku. Saya kan mau memberikan berkas penting ini kepada bapak. Karena bapak sendiri yang bilang kalau saya sendiri yang harus mengantarkan nya langsung kepada bapak. Tapi, istri bapak ini malah terus menghalangiku, sebenarnya beliau ini tahu nggak sih cara bekerja sebagai sekertaris," Aku yang mendengar itu langsung kikuk dan melotot pada perawan tua itu.


"Dasar perawan tua!" pekikku dalam hati. Wanita itu tersenyum licik kepadaku.


"Ayang..., apa benar?" tanya ku dan mas Abhi pun mengangguk, mengiyakan kalau ia sendiri yang menyuruh Sinta mengantarkan berkas itu langsung.


"Gawat,harus keluarkan alasan lagi," sontak langsung memutar otak untuk mencari alasan lain karena mas Abhi mengiyakan.


"aku kan sekarang sudah menjadi sekertaris ayang kan, jadi memang prosedurnya seperti itu kan?" rayuku kepada mas Abhi.


Meski rasanya berat tapi hari ini rasanya aku tanggalkan rasa maluku karena terlalu emosi melayani perawan tua ini, hingga tak peduli lagi yang aku katakan, bahkan aku mepet-mepet ke arah mas Abhi.


"Wah rame sekali ternyata," entah darimana dan sejak kapan Andi tiba-tiba keluar dari ruangan mas Abhi dan mengatakan hal itu.


"Matilah kau Honey," gumamku.


"Baiklah-baik, sekarang apapun dan sepenting apapun berkas. Harus melalui istriku sekaligus sekertarisku, baru nanti beliau yang akan memberikannya kepadaku." Mendengar jawaban itu si perawan tua itu langsung pasrah dan memelas tidak bisa membalas, tapi ia masih tetap mendelik kepadaku sebelum ia pamit.


"Wah, ayang Abhi bagaimana pendapat ayang?" Andi mengolok-ngolokku dengan puas.


Srrett...Andi mengambil berkas itu lalu berterima kasih setelah menerima berkas itu kemudian pamit pergi.


"Sudah ya makasih banyak, ayang," ucapnya masih mengolokku.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya mas Abhi kepada Andi.


"Mau kembali, karena berkas ini sudah di tangan. Lagipula aku tidak mau mengganggu ke unyuan kalian berdua, hahahahha." Andipun berlalu pergi setelah pamit.


Kini tinggal aku dan mas Abhi yang di dalam satu ruangan. Bisa di bayangkan bagaimna kikkunya saat ini.


"Ada apa, ada masalah apa dengan Sinta. Apakah dia menyinggungmu?" tanya mas Abhi.


"Tidak,"


"Lalu?"


"Aku hanya mengerjakan tugas yang mestinya aku kerjakan sebagai sekertaris," Mas Abhi terdiam menatapku.


"Maaf jika aku melakukan kesalahan," timbalku dengan mengarahkan pandangan keluar.


"Apa kamu cemburu?" sontak ku lihat wajah mas Abhi.


"Maaf, tapi bagaimana bisa kamu melakukan ini sedangkan ia juga salah satu karyawan kita?"


"Apa benar dugaanku, kamu cemburu?" tanya lagi mas Abhi dengan tatapan matanya.


Aku tak menjawab, aku tertunduk tak berani melihat wajah mas Abhi.


"Han, jawab." Mas Abhi memintaku menjawabnya, kali ini wajahnya memelas.


"Aku, aku..."


Drrr....drrr...drrr...


Ponsel mas Abhi bergetar, ia mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, ya ada apa?" wajah mas Abhi yang biasanya kini terlihat panic.


"Oke aku kesana sekarang," mas Abhi.langsung menutup telponnya.


"Ada apa, mas." Tanyaku penasaran karena raut wajah mas Abhi seperti panic dan menghawatirkan sesuatu.


"Hallo, Andi. Bisa tolong kau handle semuanya, iya mas akan pergi ke sana, baiklah."


"Mas, ada ap...?"


"Kita berangkat sekarang," mas Abhi menarik tanganku membawaku masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Mas?" tanyaku lagi. Mas Abhi buru-buru menginjak pedal gas mobil hingga kami langsung melaju membelah jalan raya yang tak begitu ramai saat itu karena masih di jam kantor.


Di tengah perjalanan barulah mas Abhi bilang bahwa neneknya di Cirebon di larikan ke rumah sakit karena jatuh dari kamar mandi sehingga menyebabkan pendarahan pada kepalanya dan harus di bawakan ke rumah sakit terdekat.


"Astaghfirullah," aku hanya bisa mengatakan itu saja saat ini. Aku tahu mas Abhi sedang panik karena itu aku tak berani mengajaknya ngobrol dalam keadaan seperti ini, apalagi saat ini mas Abhi sedang panik, takut terjadi apa-apa.


***


"Assalamu'alaikum, bagaimana dengan keadaan nenek, Man?" tanya mas abhi kepada salah satu kepercayaan bapaknya mas Abhi di pondok sana.


" Wa'alaikum salam. Alhamdulillah sekarang kondisinya membaik," jawabnya. Laki-laki itu melihat ke arahku. "Ini...," mas Abhi baru sadar kalau ia juga membawaku.


"Oh, ini istriku Man." Mas Abhi merangkulku memperkenalkanku kepada orang ini.


"Salam, namaku Honey panggil saja Han."


"Oh, mbak Han, salam juga untuk mbak Han. Maaf saya gak mudeng karena biasanya mas Abhi gak pernah membawa perempuan selain dari..."


"Maaf mengganggu, anda keluarganya boleh menemui ibunya di dalam." Belum sempat orang itu meneruskan bicaranya seorang dokter datang menyuruh kami menengok nenek di dalam.


Mas Abhi dan kami pun pergi ke dalam untuk melihat keadaan nenek.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," di dalam terdapat seorang wanita yang pernah aku lihat, wanita yang sempat jalan dengan mas Abhi saat di mall itu.


"Mas," kata wanita itu.


"Bagaimana keadaan nenek?" tanya mas Abhi


"Alhamdulillah membaik," jawab wanita itu.


Entah kenapa saat melihat itu aku langsung merasa insecure melihat nya. Kulitnya yang tak begitu putih tapi begitu bercahaya, memancarkan aura. Sepertinya bukan cuman aku sendiri yang merasa segan, tapi juga yang lainnya. Ia melihat ke arahku lalu tersenyum, akupun membalasnya mengangguk dengan senyum.


"Mas, kata dokter nenek harus di rawat beberapa hari disini karena harus menjalani pemeriksaan lain. Karena rawan saat jatuh dari kamar mandi apalagi orang tua yang sudah berumur." tukas perempuan itu.


"Baiklah, sekarang biarkan ia istirahat dulu. Kamu bisa tunggu disini, aku harus ke pondok dulu," mas Abhi memerintah kepada laki-laki itu dan lelaki itu mengangguk.


"Aku ikut pulang dengan mas, karena harus mengurus beberapa hal di pondok. Dan juga di pondok utama tidak ada siapa-siapa sekarang karena itu," wanita itu bersua.


"Memangnya Nining kemana?" tanya mas Abhi.


"Nining sudah satu minggu ijin pulang dulu ke jawa,mas. Ibunya sedang sakit," jawab wanita itu. Mas Abhipun mengangguk dan meng iyakan apa yang dikatakan wanita itu.

__ADS_1


Kami pun berangkat menuju pondok.


__ADS_2