
"Hendra...!!" Teriak Lia yang memekakkan telinga sekitar termasuk telingaku.
"Berisik banget sih lu...!" ku kucekkan salah satu tanganku ke telingaku, "Lagian ngapain manggil-manggil dia, sih..." Sungutku.
Tak lama Hendra yang mendengar teriakan Lia mendekati kami yang sedang asyik nongkrong di kantin bi Sumi untuk makan bakso.
"Ada apa...gak usah teriak-teriak," ucap Hendra yang langsung duduk.
"Bi Sum, aku mau es teh manis saja ya. Jangan terlalu manis," Hendra memesan.
"Lu kalau mau teh manis dingin kenapa gak bawa dari rumah aja tinggal beli es nya kan," celetuk Lia.
"Apaan sih Li... biarin aja duit-duit dia ini, syirik aja!!" jawabku melawan.
"Gue nanya sama si Hendra bukan Lu, Han...! lagian mentang-mentang pacarnya pake bela-belaan segala. iih....le...ba...y!!" hardik Lia.
Aku tak menjawab hanya melirik tajam sambil menyengirkan bibir atasku pada Lia saat itu.
Hari itu kami di jam istirahat, kami biasa nongkrong di kantin bi Sumi. Aku dan Hendra berpacaran saat kami berada di bangku sekolah SMP kelas 2.
**Flashback**
Pluk...! Sebuah kertas yang sengaja di uwel-uwel
sampai mengecil dan berbentuk bola sengaja di lemparkan seseorang hingga mengenai kepalaku.
"Aduh...!! siapa sih," ku lempar pandangan ke arah belakang sekitar hingga ku temukkan sosok lelaki melemparkan wajahnya ke arah jendela saat sadar ku lihat dan sedikit-sedikit kembali memandang ke arahku.
Ku buka kertas yang bertuliskan " Aku tunggu di belakang ruang olahraga...Hendra...," Hah mau ngapain? ketusku lalu kembali fokus ke pelajaran yang bu Maya ajarkan saat itu.
***
"Ada apa!?" tanyaku pada Hendra yang saat ini kami berada di belakang gedung olahraga.
"Kamu gak bawa apa-apa,kan?" tanya nya yang biasanya relax ngobrol denganku sekarang menjadi sedikit kaku.
"Sama Lia, tuh dia di depan gedung olahraga sedang nunggu. Ada apa sih...?" tanyaku yang sebenarnya akupun sedikit gugup dan curiga dengan maksud Hendra memberikkan ajakan ditempat ini.
"Kenapa ajak Lia?" tanya Hendra yang lalu mendekatiku.
"Emang kenapa sih, biasanya juga bertiga dan sekarang gue tanam si Lia di temoat yang agak jauhan dikit kan gak apa-apa."
Saat itu di jam pulang sekolah dan hampir semua murid sudah pulang hanya beberapa saja yang masih di sekolah karena kegiatan ekstrakulikulernya, piket, dan juga anggota osis yang selalu rapat sepulang sekolah memang 2 hari sekali. Kebetulan aku, Hendra dan juga Lia salah satu anggota osis yang baru diangkat 1 bulan lalu.
__ADS_1
"Gue mau ngomong sesuatu, tapi gue takut lu malah marah," jawab Hendra.
"Ngomong apa?"
"Gue...g,gue suka sama lu dan mau kita jadian." Semilirnya angin yang menembus di sekitar taman di belakang gedung olahraga membuat tubuhku sedikit menggigil karena hari semakin sore.
Aku yang pada saat itu belum tahu yang namanya apa itu suka dengan lawan jenis apalagi pacaran hanya diam terpaku mendengar pernyataan dari Hendra.
"Tapi, gue belom pernah pacaran."
"Lu gak suka sama gue!"
"Bukan, bukan begitu. Maksud gue... ini mendadak jadi gue masih belum bisa jawab,"
"Kasih gue waktu...,"
"Kapan...?"
"1 minggu,"
"1 hari saja, atau lupakan..." Hendra memaksaku untuk menjawab mau tidak mau siap tidak siap. Jika ku katakan tidak aku tidak ingin kami jadi malah musuhan dan kagok karena kita di satu bidang menjadi anggota osis juga.
"Hah...serius, si Hendra nembak lu...!?" Tanya Lia yang langsung heboh saat mendengar berita itu dari narasumbernya langsung,"
"Duh, bisa gak sih lu pelan-pelan sih kalau ngomong. Berasa sakit banget kuping gue...!"
"Gimana apanya?"
"Ya jawabannya lah....!!" sentak Lia yang sebal karena aku gak peka.
"Gue bilang minta waktu dan dia malah ngasih waktu satu hari saja," jawabku memelas seakan tidak tahu apa yang harus di jawab.
"Hari ini dong, terus mau jawab apa. Jawab ia aja terima, bukannya lu juga suka dia?" saran Lia yang memang sempat terpikirkan olehku juga.
Semua murid di kantin bu Sumi mulai ramai, anak-anak mulai ngantri memesan makanan ke bu Sumi. Aku melihat ada Hendra yang sedang berjalan menuju tempat kami duduk. Aku yang bingung langsung salting dengan kedatangan Hendra, Lia yang melihat tingkahku hanya tersenyum setelah menyikut tanganku.
"Apaan si,...!!" bisikku.
"Hai,"
"Ha, hai..." senyum manis terkembang di wajah Hendra.
"Udah pesan makanan?" tanya Hendra yang memang saat itu belum ada makanan yang terhidang di meja kami.
__ADS_1
"Mau traktir?" tanya Lia yang langsung ku sikut lengannya tapi tak menghiraukanku.
"Hendera...!!" teriak salah satu teman lelakinya memanggil Hendra untuk mengikuti rapat dengan guru.
"Kalian kalau mau pesan makanan pesan saja, nanti bilang saja sama bu Sumi biar aku yang bayar," tawaran dari Hendra tak di sia-siakan Lia ia langsung mengiyakan dan memesan makanan ke bi Sumi. " Bi...!! bakso 2 mangkok yah," sambil kedua jarinya menunjukkan angka dua ke bi Sumi yang masih sibuk melayani para pembeli.
Haripun mulai sore para guru,murid dan juga Hendra sebagi ketua osis sudah menyelesaikan rapatnya. Rapat mengenai rencana tandong basket anter sekolah karena itu ketua osis daari masing-masing sekolah di haruskan mengikuti rapat.
Aku yang sedang menunggu di belakang gedung olahraga, di kagetkan dengan kedatangan Hendra dari belakang saat menepuk pundakku. "Han, si Lia mana?" tanyanya.
"Eh..., dia pulang duluan." Jawabku yang kikuk atas kedatangan Hendra.
"Maaf yah lama, tadi setekah selesai rapat gue langsung ke kelas ngambil tas dan ke kantin bi Sumi untuk bayar makanan kalian,"
"Si Lia bikin malu aja...!" bathinku.
"Tadi udah mau bayar,kok. Tapi Lia bersikukuh melarangku, nih uang nya aku ganti" dengan rasa malu ku sodorkan uang yang berjumlah dua puluh ribu itu.
"Gak usah kan udah gue bilang gue yang bayar," Hendra mengepalkan tanganku agar aku mengembakikkannuangnyang ku sodorkan kepadanya segera di masukkan kembali ke dalam saku bajuku.
"Han, bagaimana jawabannya?" tanpa basa-basi Hendra meminta jawaban darikku.
"Kenapa gak basa-basi dulu nih orang si....!" bathinku.
"Aku tahu, aku kutu buku dan gak pantas jika harus punya pacar secantik kamu. tapi, aku juga ingin mencobanya dan tahu perasaanmu kepadaku. " Hendra yang memelas membuatku iba, aku yang tadinya tidak ingin pacaran dulu kini terasa berat jika harus menolaknya apalagi Hendra yang aku kenal sejak masuk smp kelas 1 sangat tahu.
Hendra yang cerdas, aktif, atletik tapi juga kutu buku dan juga disiplin hingga sesuatu apapun harus tepat waktu. Dengan perawakan yang tinggi dan berwajah manis cukup mengundang perhatian para cewek pada masa itu, hanya saja butuh sedikit di permak agar sedikit glowing.
"Tumben banget bilang aku kamu biasanya lu gue...," gumamku.
"Gue...mau...asal jangan ketahuan yang lain kecuali Lia," jawabku sambil meremas jari jemariku.
" Loh, kenapa. Kamu malu pacaran sama aku?"
" Yang benar saja apa yang mereka katakan kalau jadian sama lu, ndra. Bisa-bisa gue jadi bulan-bulanan murid cewek yang ada disini," pekikku dalam hati.
"Ya, gak mau pokoknya. Itu kalau lu setuju kita jadian kalau nggak ya sudah," aku yang saat itu tak mementingkan perasaan Hendra dengan mudahnya berkata seperti itu.
"Baiklah," maka sejak itu kamipun jadian. Aku dan Hendra kelas 2 SMP jadian dengan Hendra.
Ia mulai mendekatiku lebih dekat, tangannya kini memegang jari-jemariku terasa dingin saat kedua tangannya memegang tanganku. Aku hanya menundukkan kepala karena malu di campur ada sesuatu yang menyengat hati saat Hendra memegangku. Padahal sebelumnya tidak ada perasaan ini, tapi kenapa sekarang jadi seolah ada yang bergejolak di dada.
Hendra mengangkat daguku dengan tangannya hingga kini wajahku mendongak ke atas ke wajahnya. Hendra dengan tangannya yang sedikit gemetar saat menyentuh daguku kini wajahnua semakin mendekat. Aku yang tahu apa maksudnya refleks langsung memejamkan mataku, kini bibirku dan Hendra saling beradu. Wajah kami berdua langsung memerah terasa panas, ada perasaan yang menggebu pada hatiku saat itu mungkin begitupun Hendra memiliki perasaan yang sama.
__ADS_1
Kesokan harinya saat Lia mengetahui status kami ia memberikkan selamat kepadakudan Hendra dengan catatan jangan sampai ada yang tahu. Begitulah hubungan kami hanya kuat sampai 6 bulan hingga aku memutuskan untuk berpisah karena ingin fokus dengan belajar karena saat itu bapak kena phk dan aku harus fokus membantu kedua orang tuaku mencari tambahan setelah pulang sekolah.
Ku jalani itu semua sampai keluar SMA