Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Tak jadi kerumah nenek


__ADS_3

Ku simpan ke dalam tas ATM yang di berikan mas Abhi. Tak lama mobil mas Abhi pun berhenti di depan pintu Mall, aku dan mas Abhi turun dari mobil dan masuk ke dalam. Sedangkan pak Tarno pergi ke tempat parkiran lantai bawah untuk menyimpan mobil mas Abhi.


"Mas, mau beli apa kesini?" Mataku mulai liar melihat ke sekeliling di lantai dasar.


"Kita beli pakaian untukmu," mas Abhi mulai melangkahkan kakinya diikuti olehku di belakang mas Abhi.


Aku hanya diam tanpa menjawab mengikuti langkah mas Abhi. Selama ini mas Abhi tidak pernah menyuruhku menutup tubuhku dengan pakaian muslim.


Saat itu kami telah sampai di sebuah toko di lantai 2. Kamipun masuk dan langsung disambut oleh satu orang wanita bercadar dari dalam yang sedang memajang-majangkan pakaian.


"Assalamu'alaikum, Kalsum apa kabar?" mas Abhi mengucapkan salam dan di sambut oleh wanita bercadar itu lalu melihat ke arahku dan menganggukkan kepalanya kepadaku, akupun langsung membalasnya.


"Halo," aku yang tak mau kalah dengan mas Abhi pun memberi salam dalam versiku. Wanita itu sepertinya tersenyum karena terlihat kedua matanya menyipit tapi tak menjawab salamku.


"Sombong sekali gak mau jawab sapaanku," pekik ku dalam hati.


"Han, ini owner di toko muslim ini. Kamu boleh mulai pilih-pilih pakaian apa yang mau kamu pakai dan modelnya," kata mas Abhi mempersilahkan lalu duduk di kursi yang di sediakan, akupun mulai melihat-lihat.


"Pakaiannya mewah dan bagus-bagus sekali jadi bingung mau pilih yang mana, pasti harganya mahal-mahal." Dengan sedikit menggaruk kepala akupun mulai berkeliling mencari yang cocok menurut penglihatanku.


Memang selama berganti-ganti pacar aku selalu di belanjakan di mall-mall elit, tapi tak pernah belanja dengan sengaja untuk ke toko muslim apalagi yang harganya jutaan. Pernah satu kali saat akan ada acara maulid nabi, aku membelanjakan adik dan ibuku.


Saat ku temukan pakaian yang aku suka, akupun mengambilnya dan berniat menunjukkannya pada mas Abhi. Langkahku terhenti saat ku lihat mas Abhi yang sedang asyik ngobrol dengan wanita bercadar yang ku ketahui namanya dengan Kalsum itu. Pada akhirnya aku memberanikan diri mendekati mereka yang sedang asyik ngobrol.


"Mas," panggilku dengan muka masam. Mas Abhi dan mbak Kalsum langsung melihat ke arahku yang sudah berdiri di depan mereka dan mereka juga ikut berdiri.


"Ada apa, sudah ketemu gamis yang kamu suka?" tanya mas Abhi saat melihat ku dengan tanpa membawa apa-apa di tangan, karena ku simpan kembali pakaian itu.


"Belum, gak ada yang cocok denganku sepertinya,mas." Jawabku dengan sedikit melirik ke arah mbak Kalsum.


"Aku kurang suka, pakaiannya kurang lembut apalagi warnanya juga gak ber variasi gak ada manik-manik nya yang bisa kelihatan mewah," kataku dengan sombongnya.

__ADS_1


"Masa, yang mas tahu di toko mbak Kalsum ini toko paling bagus. Selain ownernya yang ramah juga terkenal dengan bahan-bahan yang berkualitas tapi mewah saat di pakai, malah nenek langganan di sini." Mas Abhi pun melempar senyum ke arah mbak Kalsum.


Aku yang sedikit risih mengajak mas Abhi pergi untuk mencari ke toko lain.


"Aduh, mas. Disini harganya juga mahal-mahal, mending kita cari yang murah aja tapi kualitasnya juga gak kalah dari toko ini,yuk." Aku mengajak mas Abhi untuk keluar dari toko ini. Mas Abhi mengerutkan keningnya saat melihat tingkahku yang seperti anak kecil.


"Sudah tidak apa-apa Bhi, biarkan saja terserah keponakanmu mau ke toko yang mana turuti saja." Mbak Kalsum pun menyuruh mas Abhi untuk menuruti ke inginanku mencarimke toko lain.


"Aku istrinya mas Abhi, bukan keponakannya." Pekikku pada mbak Kalsum.


"Honey, gak boleh gitu pada mbak Kalsum." Mas Abhi meperingatiku saat kelakuanku yang seperti anak kecil keluar.


"Oh maaf, saya kira keponakan Abhi. Maaf sekali ya mbak," dengan tulus mbak Kalsum meminta maaf. Aku yang masih kesal tak terlalu menghiraukan reaksi yang di berikan mbak Kalsum saat mengetahui aku istrinya mas Abhi.


"Wah Bhi, selamat yah. Mbak kira kamu gak akan secepat ini dapat jodoh, soalnya kamu kan deketnya dari kecil sama ...," mbak Kalsum pun terpotong bicaranya saat mas Abhi langsung menjawab tanpa harus menunggu mbak Kalsum selesai bicara.


"Iya mbak, lagi pula jodoh sudah Allah atur."Mas Abhi pun ijin pamit setelah meminta maaf dan mengajakku untuk melihat ke toko yang lain.


"Kamu mau pakai disini atau di toilet?" tanya mas Abhi saat selesai membayar, karena memang rencana pakaian itu untuk aku pakai saat kerumah nenek mas Abhi.


"Pakai disini saja,mas." Aku pun menuju ruang ganti untuk menggantikan pakaianku dengan yang lebih sopan. Saat dikira selesai, akupun mulai keluar dan menunjukkannya kepada mas Abhi.


"Bagus gak mas?" tanyaku menunggu reaksi dan jawaban mas Abhi.


"Bagus," jawabnya.


"Apa yang mau kita beli untuk nenek dan pak Kiyai?" tanyaku antusias setelah tak lama kami pergi meninggalkan toko baju.


"Sepertinya kita undur kerumah nenek," jawaban mas Abhi sedikit membuatku mengerutkan alis.


"Loh kenapa mas?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Barusan saat kamu ganti pakaian, bapak bilang di cancel saja. Nenek sama bapak ada urusan mendadak," mas Abhi memasukkan kedua pergelangan tangannya ke saku celana saat kita menuruni escalator.


"Terus kenapa mas Abhi gak ngomong barusan saat aku selesai mengganti pakaian?" akupun sedikit merengut.


"Tidak usah di ganti, kamu lebih bagus seperti itu. Kita makan malam disini saja, bgaimana?" tanya mas Abhi yang melihatku merengut.


Akupun hanya menjawab dengan menganggukkan kepalaku tanda iya, dan mas Abhipun sudah mengerti, lalu menelpon pak Tarno untuk ikut makan dengan kami.


Akhirnya kami bertiga makan malam di salah satu restoran yang ada di mall itu. Setelah selesai makan malam, kamipun pulang ke apartemen.


"Mas, tadi wanita yang bercadar di toko itu siapa?" Akupun memberanikan diri untuk bertanya tentang mbak Kalsum.


"Oh mbak Kalsum, beliau teman ku saat kuliah di kairo dulu. Beliau beda 2 tahun denganku," mas Abhi duduk di sofa, kini dia satu sofa denganku.


" Oh, pantesan dekat sekali kekihatannya ternyata teman." Jawabku sambil bangun dari duduk tapi tiba-tiba di tarik mas Abhi hingga akupun terduduk kembali.


"Iya, kenapa kamu cemburu ya?" goda mas Abhi.


"Apanya yang cemburu aku cuman nanya doang." Kini wajah ku dan mas Abhi sangatlah berdekatan. Mas Abhi bermaksud untuk menciumku tapi aku dorong. Kemudian ku ambil handuk.


"Kenapa?" kata mas Abhi.


"Aku gak mau,"


"Han, kita sudah suami istri, kita sudah menikah dan sah secara agama dan hukum." Mas Abhi berusaha mendekatiku tapi aku malah menjauh.


"Gak mau mas, maksudku kita itu menikah bukan dasar karena cinta atau saling suka.


"Lalu maumu apa?" Mas Abhi akhirnya mengalah.


"Mas, aku ingin ada perjanjian di atas pernikahan ini. Aku tidak ingin disentuh mas Abhi bukan karena aku benci. Tapi karena saat pernikahan terjadi aku benar-benar tidak siap.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2