Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Kerumah orang tua Honey


__ADS_3

Hari ini hari sabtu, waktunya mas Abhi memenuhi janjinya untuk bersandang ke rumah bapak dan Ibu. Sebegitu antusiasnya sampai semalaman aku tidak bisa tidur karena tak sabar ingin segera menghadapi pagi agar bisa langsung cuss berangkat ke rumah bapak dan ibuku.


Alhamdulillah semua barang yang akan di bawa hampir penuh 1 mobil di belakang. Mas Abhi sampai geleng-geleng kepala saat mengantarku belanja untuk oleh-oleh pulang kampung. Tapi ia tidak pernah berkomentar dengan ini malahan dia menawarkannya lagi dan bilang.


"Yakin udah cukup, kita nanti dirumah bapak dan ibu sebentar loh, hri senin sudah harus pulang." Karena kebeneran hari senin sore aku dan mas Abhi harus ikut berangkat ke London untuk pertemuan dengan klien disana, ada proyek besar yang bisa membangun kerjasama luas dengan perusahaan lain dan aku tak bisa menolak. Tentu saja karena ini pertama kalinya aku berangkat ke luar negeri, semua dokumen yang di perlukan untuk keberangkatanku ke London termasuk visa dan paspor ternyata sudah di urus mas Abhi dari 3 bulan lalu.


Kali ini kami tidak memakai jasa pak Tarno untuk mengantar kami kerumah kedua orang tuaku, karena mas Abhi ingin menikmati perjalanan berdua saja denganku.


Setelah barang-barang dimasukkan ke dalam mobil, pak Tarno pun di beri kunci apartemen oleh mas Abhi dan juga uang jajan untuk pak Tarno selama ditinggal kami pergi.


"Pak, kalau mau makan atau apa jangan sungkan saya kemarin membuat rendang dan ayam balado saya masukkan freezer, ada juga sambal goreng saya simpan di kulkas, lalapan timun sudah saya cuci saya simpan di laci kulkas. Tinggal sayurnya saja nanti pak Tarno beli yg lainnya di angetin aja ya, pak." perintahku, pak Tarno pun mengangguk.


"Enak kok pak masakan Honey," ucap mas Abhi.


"Pasti enak, nak. Karena masakan non Honey selalu enak walau sederhana, apalagi ini."


"Pak Tarno bisa saja. O'ya pak nanti Andi kesini untuk mengambil rendang dan juga ayam gulai nya. Sudah saya pisahkan kok, titip apartemennya ya pak." imbuhku, kamipun pergi pamit ke pak Tarno.


Memang kemarin aku sengaja memasak selain mas Abhi yang ingin mencoba rendang dan ayam gulai buatanku, aku juga sengaja memasak untuk pak Tarno dan Andi.


Mas Abhipun membukakan pintu mobil lalu mempersilahkanku untuk masuk kemudian giliran mas Abhi yang masuk.


"Siap?"


"Huuh," ucapku. Mas Andhi langsung menancap gas setelah menghidupkan mobil lalu melaju menuju jalan raya.


Di perjalanan alhamdulillah tidak terlalu macet mungkin karena kami pagi-pagi sekali perginya.


"Mas"


"Hmm"

__ADS_1


"Aku kok kasian yah liat pak Tarno.Beliau sudah lumayan berumur loh mas, jadi suka inget sama bapak deh kalau liat pak Tarno, sudah waktunya menikmati masa tua tapi pak Tarno di usia segitu masih saja bekerja. Akupun memulai pembicaraan, mas Abhi tersenyum tapi matanya fokus ke depan saat mengendarai.


"Trus maunya bagaimana, kamu mau mas memecat pak Tarno, pak Tarno itu punya anak 6 yang 2 sudah menikah, yang satu baru lulus kemarin dan yang dua lagi anak kembar baru berusia 2 tahun. Masih perlu biaya untuk anak-anaknya," imbuh mas Abhi.


"Ya jangan di pecat juga, mas. Tega banget kalau harus di pecat, ya minimal mas Abhi buatin beliau rumah sebagai hadiah atau umroh kan pak Tarno itu kerjanya udah 21 tahun lebih sama keluarga mas." Mas Abhi hanya tersenyum lalu mengelus rambutku.


"Nanti sepulang dari bapak dan ibu kamu, kita kerumah keluarga pak Tarno, yuk. Deket kok dari rumah kamu di kampung paling sekitar 30 menitan."


"Wah yang benar, ayok aja sih cuman kan pak Tarno nya gak ada di rumah apa boleh. Sedangkan mas Abhi aja pernah bilang kalau katanya gak boleh nerima tamu lelaki yang berkunjung kerumah kalau suami gak ada."


"Nanti mas Telpon pak Tarno sebelum kesana, kalau di bolehin nanti kita kesana," akupun mengangguk.


Tak terasa sepanjang perjalanan kami begitu lancar mengobrol padahal sebelumnya kami selalu saja kikuk, tapi sejak kami sudah saling menyatakan kami seperti suami istri pada umumnya sepertinya.


Akhirnya kami sudah sampai di depan rumah ibu, yang pertama menyambut adakah Ririn adikku. Terlihat wajah terkejutnya yang ku lihat dari balik kaca mobil kemudian masuk kerumah sepertinya untuk mengabarkan orang di rumah bahwa aku dan mas Abhi datang. Tak lama ibu keluar dari rumah menunggu si teras.


"Ibu.....!" rasa haru seketika menghampiri kami, aku memeluk ibu dan mencium tangan serta kedua pipinya.


"Huss gimana ini nak, kalau datang kerumah orang itu awali dengan assalamu'alaikum bukan gitu," Ibu memperi gatkan.


"Hehehe, ya maaf bu abisnya saking semangatnya pengen ketemu ibu"


"Waupun begitu gak boleh.Kenapa gak kabari dulu kalau kalian mau kesini kan ibu jadi belum persiapan," imbuh ibu.


"Ya maaf, bu."


"Kak, kangen sama Ririn gak" tanya adikku Ririn yang sedari tadi diam di dekat kami tak kami hiraukan.


"Tentu saja kangen, sama adikku yang cantik dan centil ini," ku cubit dan ku uwel-uwel kedua pipinya yang semakin cabi.


"Aduh sakit, kak!"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bu." Mas Abhi yang baru datang dengan membawa beberapa kantong buah tangan lalu mencium tangan ibu.


"Wa'alaikum salam nak Abhi, bagaimana keadaan nenek nak Abhi katanya kemarin sempat koma,ya?" tanya Ibu.


"Iya, Bu. Alhamdulillah sudah kembali pulih," tukas mas Abhi.


"Syukur deh kalau sudah pulih, yuk masuk?" perintah ibu.


"Rin, bantuin kakak iparnya bawain yang lainnya, tuh" ku tunjukan mas Abhi yang sedang sibuk membawakan beberapa kantong dan koper.


"Banyak amat kak bawaannya, kenapa kaka juga gak bantu?" tanya Ririn.


"Kalau Ratu mah emang gak di bolehin kerja berat. Loh bapak kemana kok belom kelihatan?" tanyakku.


"Bapakmu sedang ke desa sebelah, ada orang yang meninggal kemarin pak Sumanto."


"Innalillahi...meninggal kenapa bu, pak Sumanto teman bapak mancing?" tanyaku belum yakin.


"Iya, udah ah ayo masuk."


Akupun masuk.mengikuti ibu yang lebih dulu masuk. Suasana rumah dari setengah kayu masih belum juga berubah masih sama seperti 5 bulan yang lalu saat aku ikut mas Abhi ke kota.


"Nak Abhi, kalian istirahat dulu pasti cape sudah perjalanan jauh. Ibu mau ke desa sebelah ke toko grosir dulu sekaligus ke waeung sayur pak Parman untuk belanja buat nanti makan," ibu meletakkan 2 gelas air putih dengan kue bolu jadul yang sudah pasti ibu sendiri yang membuatnya.


"Aku ikut bu."


"Kamu temani suamimu aja di sini, biar ibu dan Ririn saja yang nemenin."


Tak berlangsung lama ibu dan Ririn pun pergi sedangkan aku masuk kamar dengan mas Abhi. Suasana kamar pun tidak berubah masih dalam keadaan rapi seperti terakhir aku tinggal.


"Sepertinya ibu selalu memebereskan kamar ini karena spreinya berbeda saat terakhir aku tinggal," gumamku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2