Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Ke kampung halamanku


__ADS_3

"Mas," aku sedikit merinding dengan pelukkan lembut mas Abhi yang di barengan sebuah kecupan di leher.


"Hmm," ia membalikkan tubuhku hingga kami saling berhadapan, ia mengumbar senyum manisnya ketika kami saling bertatapan. Aku di dorongnya duduk di atas kasur dan mas Abhi menutup pintu kamar laku menguncinya.


"Ada apa?" tanyaku heran dan sedikit curiga dengan tingkah suamiku itu.


"Jangan-jangan mau minta jatah," gumamku dalam hati.


Mas Abhi mendekatiku lalu menciumi tangan lalu kedua kakikku.


"Jangan mas kakikku kotor," ia hanya melempar senyum nya kepadaku tanpa menghiraukanku.


"Mas, nanti ibu kesini."


"Memangnya kenapa, kita kan tidak lagi apa-apa."


"Apanya yang tidak apa-apa," kini ia mengalungkan tangannya ke leherku membiarkan kepalaku tiduran di tangannya.


"Tidurlah, mas berasa masih ngantuk." Ucap mas Abhi setelah mengecup keningku tanpa menghiraukanku yang darit adi protes karena salaj paham.


"Ku fikir tadi mas mau...,"


"Mau apa, mas juga laki-laki sedang sensitif-sensitifnya .Cuman kalau kamu tidak mau juga ga apa-apa," wajar saja mas Abhi menggebu-gebu ia yang tidak pernah tahu bagaimana cara menyentuh wanita dan memeprlakukan wanita saat sebelum nikah, sekarang begitu haus akan belaian hingg akupun terbawa suasana.


Akhirnya akupun memeluk mas Abhi dengan erat setelah mencium bibirnya yang halus itu.


"Muachhh...!" ia melirik.


"Kalau mau boleh kok, asal pelan-pelan dan jangan gede-gede," mas Abhi mendengar itu terkekeh tertawa renyah.


"Memangnya besar kecilnya bisa di kendalikan mas, itukan sudah di beri dari sana nya." Aku yang mendengar itu wajahku memerah membayangkannya tersipu malu dan menenggelamkan wajahku di dada kekar suamiku.


Kamipun mulai bercumbu mesra setelah mas Abhi menutup jendelanya. Aku yang semasa mudanya banyak laki-laki yang terjerat denganku, walaupun aku hanya memanfaatkan mereka tetap saja sekedar pelukkan dan bercumbu saja selalu ku berikkan sebagai imbalan telah sudi menghabiskan uangnya untukku tanpa rasa segan dan malu. Tapi dengan suamiku ini yang tiada lain adalah mas Abhi tentu saja rasa maluku lebih besar rasanya.


"Kak, bangun udah maghrib pamali." Ku dengar suara sayu-sayu dan ku buka mataku perlahan terlihat adikku yang membangunkanku.


"Dimana mas Abhi?" dengan setengah sadar ku tanyai keberadaan suamiku yang sejak tadi berada di sampingku tiba-tiba tidak ada.


"Ada, kak Abhi dan juga bapak sedang pergi ke masjid menunaikan shalat magrib. Lalu kenapa kakak masih belum bangun udah maghrib pamali kata ibu juga," tukas adikku Ririn.


"Hah, sudah maghrib perasaan tadi aku tidur untuk menunggu jam makan siang kenapa tiba-tiba sudah maghrib?"


"Astaghfirullah...," lagi-lagi mimpi dan akupun seketika bangun melihat ke arah sisi mas Abhi masih tidur pulas.


"Assalamu'alaikum," suara Ririn dan ibu dari luar.


Aku yang baru sadar kalau kancing bajukku terbuka segera ku tutup kembali dan bergegas keluar untuk membukakan pintu rumah karena tadi di kunci.

__ADS_1


"Mas Abhi apa yang ia lakukan selama aku tidur," gumamku dalam hati.


"Kenapa di kunci?"


"Tadi aku dan mas Abhi mau istirahat, karena kami semua ngantuk jadi aku kunci pintu takut ada orang asing yang masuk." Akupun membantu ibu mengangkat kantong pelastik merah yang terlihat sangat berat itu.


"Ibu belanja apa saja kok berat banget," tanyaku.


"Masak untuk kalian makan, lalu ibu beli apalagi."


"Tau tuh ibu, padahal sehari-hari kami tidak sering makan enak kak."


"Ibu, ibu tidak usah ngirit-ngirit mulai sekarang. Beli barang atau kebutuhan yang ibu mau kebutuhan Ririn dan juga bapak."


"Gak usah Han, kamu itu. Ibu gak mau menyusahkan kasian nak Abhi udah kerja banting tulang untuk kebutuhan kamu dan harus membiayai ibu, bapak dan Ririn.." Satu persatu kami mengeluarkan belanjaan yang mau di masak untuk makan malam sekaligus makan malam.


"Ibu mulai sekarang gak usah di fikirin ibu boleh membeli apapun yang ibu mau, apapun. Karena kan sudah Honey bilang kalau Han itu udah kerja di kantor mas Abhi dan punya gaji juga. Jadi, gak usah khawatir lagi pula itu juga mas Abhi sendiri yang menawarkan jadi ya gak apa-apa." Aku memeluk ibuku dari belakang dengan erat,momen ini adalah saat dimana yang aku rindukan bersama ibu, memeluknya.


"Udah sana, ibu mau masak nanti suamimu nyariin." Perintah ibu, akupun bergegas pergi keluar berniat membangunkan mas Abhi untuk menunaikan shalat ashar. Saat sampai di ruang keluarga bapak datang.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'aalikum salam, eh bapak" akupun menghampiri bapak dan mencium tangannya.


"Loh kok kamu kesini gak ngabarin dulu, Han. Jam berapa kesini?" Begitulah, seperti biasa respon bapak memang seperti itu orangnya kalem.


"Mas Abhi masih tidur, baru mau Han bangunin. Tadi siang Honey datangnya," jawabku


"Ya sudah jangan di bangunkan saja,nanti pas ashar saja banguninnya kamu temani nak Abhi saja di kamar." Akupun pergi ke kamar melihat keadaan mas Abhi apakah ia sudah bangun atau belum, sedangkan bapak ke kamar juga untuk mengganti bajunya.


Terlihat dari wajah bapak yang lesu, kehilangan orang terdekat atau sahabatnya sendiri adalah hal yang paling menyakitkan. Tidak dapat di bayangkan bagaimana kalau akupun kehilangan sahabat terbaikku Lia.


Kulihat mas Abhi tidak ada di tempat tidur.


"Loh, mas Abhi kemana perasaan tadi masih tidur."


Aku celingak celinguk ke dalam berjalan mencari suamiku itu.


"Astaghfirullah hak'adzii...m, mas!" Kagetnya setengah mati ada seseorang yang memelukku yang ternyata suamiku.


"Hehehe..."


"Kenapa kaget?"


"pikir aja sendiri," pekikku.


"Tentu saja bagaimana tidak kaget."

__ADS_1


"Maaf kalu mas ngegetin," ia mencium leherku dari belakang.


"Sebentar lagi ashar,mas. Tadi bapak juga sudah pulang, ibu sedang masak di dapur untuk makan kita nanti ibu juga belanja banyak banget bahan makanan loh mas, sepertinya akan banyak makanan yang di buat."


Mas Abhipun keluar dan menemui bapak untuk menyapa sedangkan aku pergi ke dapur mebantu ibu dan Ririn memasak.


Malam pun tiba, mas Abhi dan bapak pergi ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Sedangkan aku berbincang-bincang dengan ibu dan Ririn.


"Tapi, Han. Kenapa cuman sebentar disini,"


"Iya kak, kan kaka baru tadi pagi kesini kenapa harus pergi lagi. Akukan masih kangen, rajuk adikku.


"Aku juga gak mau sekarang bu, cuman kan ada pertemuan yang mendadak yang tidak bisa di tunda. Proyek ini besar bu, kalau berhasil kami akan mendapat keercayaan sebesar 25M bu,Rin."


"Hah 25M, miliar maksudnya. Berapa tuh nol nya?" melihat reaksi wajah adikku yang kaget mendengarnya.


Ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menghela nafas seolah tidak rela anaknya pergi lagi, tapi apa boleh buat kini aku sudah milik mas Abhi sekaligus bekerja sebagai sekertaris mas Abhi sekarang.


Tak lama mas Abhi dan bapak pulang, setelah kucium tangan suamiku dan juga bapak kamipun mulai berkumpul di meja makan untuk makan malam. Makanan ibu memang makanan terbaik dari semua makanan, aku bersyukur masih bisa merasakan masakan ibu dan berkumpul dengan keluargaku yang masih komplit dan yang membuatku istimewa adalah mas Abhi, kini ada suamiku di samping.


"Kak, malam ini tidur denganku ya," kata Ririn yang masih asyik dengan makanan nya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku kangen pengen cerita-cerita,"


"Tumben sekali biasanya berantem terus," sindir ibu.


"Ye... ibu, gitu amat sama kami." imbuhku.


"Bilang saja sama kaka iparmi dulu karena sekarang kaka kan punya suami,"


"Jangan ganggu kakakmu, biarkan mereka berdua bersama-sama biar cepat-cepat kasih cucu sama bapak." Seketika itu aku yang melongo kaget dengan omongan bapak yang tiba-tiba mas Abhi tersedak hingga ia mengambil air minum dwngan tergesa-gesa.


"Bapak, bapak ini ngomong apa orang lagi makan juga. Lagian Honey nikah nya juga baru 5 bulanan kan, mana mungkin langsung ngasih cucu semua juga butuh proses." ucap ibu yang sama kagetnya dengan kami.


"Tidak apa-apa kalau memang Honey mau tidur dengan Ririn,"


"Mas,"


"Hmm,"


"Bener gak apa-apa aku tidur dengan Ririn malam ini?" tanyaku ragu. Kami sudah selesai makan dan ngobrol-ngobrol dengan bapak dan juga ibu sedangkan aku dari tadi sibuk asyik dengan Ririn adikku berbincang-bincang membicarakan banyak hal.


"Gak mau, tapi apa boleh buat kan" jawab mas Abhi.


Setelah mendapatkan ijin akupun pergi ke kamar Ririn untuk tidur disana. Malam ku habiskan dengan adikku Ririn sampai kami tertidur lelap hingga adzan subuh berkumandang. Kamipun bersiap-siap untuk pergi ke apartemen dulu lalu sorenya pergi ke bandaran menuju London.

__ADS_1


"Mah, pak, Rin, semoga kalian sehat selalu hingga kita di pertemukan kembali nantinya," gumamku dalam hati saat melihat mereka melambaikan tangan mengucapkan kata pisah. Walau sementara tetap saja ada rasa sakit yang ku rasakkan saat berpisah dari orang terkasih.


__ADS_2