
Saat telah sampai di suatu mall, ku lihat seseorang yang mirip dengan mas Abhi. Sontak ku alihkan pandangan ke arah yang dimaksud, tapi sudah tidak ada .
"Ah mungkin hanya perasaanku saja", gumamku
"Kita mau belanja apa, Han?" tanya Lia
"Hmm gak tahu terserah kamu aja," kami mulai mencari tempat makan sampai kami menemukan sebuah kedai makanan yang menyediakan masakan Korea' hotpot.
"Dengernya disini makanannya enak-enak loh. Katanya ada juga steak wagyu" Lia memilih-milih tempat duduk.
Saat dirasa ada tempat duduk yang cocok untuk kita, kami pun pindah ke tempat duduk yang posisinya menghadap ke arah luar sehingga kami bisa melihat orang berlalu lalang.
"Han, mau pesan apa?" Lia membuka menu memilih apa yang akan di pesan.
"Apa aja boleh,"
"ya udah kita makan hotpot aja ya. All you can eat?" tawarnya.
Aku mengangguk tanda setuju. Kulihat sekeliling restoran memang sedang ramai, rata-rata mereka membawa keluarganya.Memang menu ini cocok untuk di makan bersama keluarga.
"Han,"
"Hmm?"
"Kamu bagaimana dengan Mas Abhi?" seolah Lia tahu apa yang terjadi antara aku dan mas Abhi.
"Hmm, aku sekarang bisa sedikit lega" Lia menatapku heran.
"Maksudnya?" masih dengan tatapan heran nya.
"Mas Abhi tidak akan bisa mengganggu kegiatanku, mau jungkir balik kek, mau kerja atau nggak, mau pulang subuh kek, bahkan aku mau pacaran pun tidak apa-apa begitupun sebaliknya," Seakan kaget dengan pernyataanku, mata Lia membulat sempurna sedang bibirnya sedikit menganga.
"Serius?" Seolah tak percaya.
"Huuh" aku meyakinkan.
"Kamu cerai?" tanya Lia lagi memastikan.
"Nggak" mulai ku susun daging-daging yang sudah di siapkan pelayan, ku celupkan ke dalam panci panas yang berisikan air yang mendidih untuk menge tes rasa.
Kutambahi bumbu kedalam panci, lobak,daun bawang dan lainnya. Sementara Lia masih menatapku dengan matanya yang bulat seolah masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Kamu gak gila kan?" ucapnya.
__ADS_1
"Nggak lah," Akupun mulai memasukkan daging satu-satu untuk mulai di cicipi. Tak butuh waktu lama mencelupkan daging ke dalam panci hanya beberapa saat langsung angkat dan bisa di makan.
"Aku meminta mas Abhi untuk menerima syarat yang aku ajukan kepadanya dan menanda tanganinya. Awalnya mas Abhi marah, tentu dia tidak setuju dengan komitmen yang aku ajukan. Tapi aku tidak mau, karena aku rasa kami butuh masa penjajakan seperti orang-orang yang pacaran dahulu baru nikah." Aku melihat ke arah Lia yang mulai mengerutkan kedua alisnya.
"Nah, entah kenapa mungkin mas Abhi fikir ada benarnya jadi dia mau menanda tanganinya dengan catatan syarat larangan dan yang tidak di larang semua berada di dalam kertas yang kami tanda tangani. Sekarang kamarku di atas sedangkan kamar mas Abhi di bawah, jadi kamu bisa nginep kapan saja tanpa takut mas Abhi datang ke kamar." Kemudian aku menjelaskan seolah tiada beban.
"Wah stres emang kamu ini, yang benar saja menikah tapi seolah tak menikah. Tapi yang nafkahin dia, kamu juga boleh punya pacar. Hati-hati loh mas Abhi di gaet cewek, nyesel baru tahu rasa," Lia menceramahiku dengan sesekali mengaduk-aduk lobak yang sedang berenang di air mendidih.
"Gila, serasa gak percaya mas Abhi setuju, dia kan juga tahu agama, masa iya dia setuju dengan ide konyol kamu sih?"
"Entah," ku angkat kedua bahuku seolah tak peduli.
"Kamu itu gak bersyukur udah dapet cowok gantengnya gak ketulungan, care, baik, kaya,pinter juga di tambah pewaris satu-satunya dari orang tuanya. Kalau mas Abhi ke cantol sama seseorang udahlah jangan sampe kamu curhat sama aku ya,Han." Dengan terus berbicara memperingatiku Lia pun masih anteng dengan makanannya.
Dirasa daging dan sayur sudah mulai habis, aku beranjak pergi untuk mengambil lagi daging ke pantry yang di sediakan.
Aku sedikit kaget saat melihat orang yang ku kenal sedang duduk dengan satu sosok wanita tentunya di restoran sebelah. Kebetulan letak tempat makanan terletak pas di depannya ada kaca, karena itu bisa melihat restoran sebelah.Ku perhatikan dengan seksama.
"Mas Abhi," Saat ku sadar bahwa itu tidak lain adalah mas Abhi. Tapi yang membuatku mengerutkan alis adalah dengan siapa dia. Wanita berkerudung itu tidak terlihat wajahnya karena posisinya membelakangiku.
Ingin ku coba menghampirinya, tapi ku urungkan karena mungkin itu adalah teman kerja nya. Akupun kembali dengan membawa banyak daging, tak ku ceritakan apa yang ku lihat tadi pada Lia karena pasti heboh.
"Aku aja yang bayar," setelah kami berada di depan kasir.
"Wah di teraktir bos dong,hehehe" Lia melemparkan senyum senangnya karena di bayarkan olehku. Aku membayarkan menggunakan ATM yang mas Abhi berikan.
"Apaan sih," tanyaku.
"Itu tuh..." Akupun melihat ke arah yang di tujukan oleh Lia.
Kulihat mas Abhi sedang jalan dengan wanita tadi yang kulihat.
"Kan udah di bilang, pasti mas Abhi marah baru aja selesai tanda tangan udah ada gantimu,Han." Lia dengan wajah kaget nya tetap mengoceh seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya karena tidak nurut.
"Han, samperin cepet"
"Apaan sih lebay banget, paling juga dia itu klien nya mas Abhi. Kan mas Abhi orangnya sibuk suka melayani klien-klien untuk urusan perusahaan," aku mencoba berfikir positif.
"Masa iya urusan perusahaan tapi jalannya berduaan aja. Udah yuk kita samperin" Lia tetap kukuh menyuruhku menghampiri mas Abhi dengan wanita itu.
Akupun akhirnya menuruti saran Lia. Kami menjumpai mereka berdua yang sedang berjalan pelan.
"Mas," Mas Abhi menoleh ka arahku yang menyapanya dari belakang punggung mereka.
__ADS_1
Reaksi mas Abhi yang ku sapa cukup kaget, dan sedikit bingung.
"Honey?" Ucapnya.
"Mas, siapa ini?" tanya wanita berkerudung biru itu.
"Aku..."
"Dia rekan bisnis mas," jawab mas Abhi membuatku tersontak kaget.
"Iya, kami rekan kerja nya mas Abhi. Iya kan Han?" Lia membantuku menjawab.
Aku tak mampu berkata-kata dan langsung pamit kepada mas Abhi tanpa menunggu wanita itu memperkenalkan diri pada kami.
"Wah, suami mu itu kenapa bisa jawab seperti itu ya? tanya Lia yang masih heran dengan jawaban mas Abhi.
"Akupun heran kenapa mas Abhi bisa begitu jawabannya," gumamku dalam hati.
"Mungkin itu tertulis di dalam kertas perjanjian," kami pun melangkah kan kaki berjalan menuju tujuan kami berikutnya.
Akupun tidak ingin banyak berfikir, kami berdua bersenang-senang shoping jalan sekitaran mall.
"Han, kamu pulang di jemput mas Abhi atau pulang sendiri?" tanya Lia yang saat ini kami sudah berdiri di depan pintu mall.
"Nggak tahu, mas Abhi mungkin sudah selesai lagi pula ini sudah jam 10 malam."
"Ya udah kamu gak apa-apa gak diantar, atau sekalian saja diantar olehku dan Bobi?" Tak lama Bobi datang menjemput Lia.
"Bener?" Lia meyakinkan.
"Iya sana pergi kasian Bobi kan udah jauh-jauh jemput. Besok juga kan kamu harus bekerja," merekapun pergi berdua meninggalkan ku sendiri.
Saat ku buka Hp ku untuk memesan grab, ku dapati ada pesan yang sampai dari mas Abhi.
[Assalamu'alaikum, Han. Dimana?]
[Masih di mall?]
Entah kenapa rasanya amarahku memuncak saat itu, tak ku indahkan pesan WA yang dikirimkan mas Abhi kepadaku. Sampai saat itu mas Abhi telah sampai untuk menjemputku.
"Kenapa mas Abhi jemput, aku bisa kok jalan sendiri, bisa naik grab juga." Jawabku dengan ketus tanpa melihat wajah mas Abhi.
"Sudah malam, ayo sekalian kita pulang bareng." Mas Abhi mengajakku.
__ADS_1
"Loh, kemana cewek tadi. Bukannya bareng jalan dengan mas Abhi," akhirnya akupun naik setelah mas Abhi memberikan reaksi diam dari wajahnya.
"Siapa wanita yang bersama dengan mas Abhi tadi ya?" fikirku.