
"Aku suka dengan mbak Aisyah bagaimana yah?" tanya Andi yang masih duduk di bangku smp saat itu. Abhi yang sedang belajar hanya tersenyum kecil.
"Kamu ini kan pamanku, bagaimana pendapat paman kalau aku suka Aisyah?" Abhi mengusap rambut Andi sambil tersenyum dan membalikkan duduknya hingga kini mereka berhadapan.
"Kamu masih kecil, belajar yang benar. Hafalan saja masih belum benar,"
"Aku akan menjadi lelaki tangguh dan mengalahkan paman," lagi-lagi Abhi tersenyum melihat anak ingusan berkata seperti itu.
"Sudah lah ayo tidur sudah larut," Abhi beranjak dari belajarnya kemudian pergi ke kamar nya untuk tidur ia meninggalkan Andi kecil sendiri di ruangan belajar itu.
"Aku benar-benar akan mengalahkanmu menjadi orang sukses dan cerdas bisa mengalahkanmu adalah impianku," tangan mungil Andi kecil tergenggam dengan penuh tenaga tatapannya melihat Abhi pergi memancarkan kebencian dan kekecewaan.
* Waktu mundur *
Hujan turun dengan sangat deras saat itu, Tahlilan di hari ke seratus sudah usai. Para tamu yang ikut dalam pengajian tersebut suda mulai pulang ke rumah mereka masing-masing. Meskipun di guyur hujan tak sedikit bebe
"Bu apa tidak salah. Kenapa sebagian besar harta dan Pondok pesantren ini di berikkan kepada Kak Ansori...!" pekik ibu Andi sekaligus Adik dari kyai Ansori.
"Kamu itu perempuan belum cukup kalau untuk bisa mengelola pondok ini harus benar-benar sudah matang, sodara yang lainnya tidak ada yang protes, lagi pula perempuan dan laki-laki itu hak waris nya lebih besar laki-laki to ndo," Ibu besar menjelaskan.
__ADS_1
"Jaman ini sudah jaman emansipasi wanita bu, kan kak Ansori itu laki-laki bisa bekerja dan cari uang sendiri sedangkan wanita itu mau bergerak pun susah harus nya yang lebih di perhatikan itu wanita, bu."
"Astaghfirullah hal'adzim nak, kita itu hidup harus sesuai dengan perintah dan parangan Allah, harus bisa sebaik mungkin mengikuti aturan dari Allah. Istighfar nak jangan terbawa hawa nafsu kita itu hidup hanya sesaat nak di dunia biarlah Ansori yg lebih tahu tentang agama mengelola pondok ini lagipula kamuoun ada bagian perusahaan yang kamu kelola dari almarhum bapak kamu."
Saat itu ibu Andi langsung pergi ke kamar dan berkemas, ia menangis sambil memasukkan barang - barangnya ke dalam koper.
"Bu, mau kemana?" tanya Andi yang melihat akan pertengkaran tadi.
"Kita pergi dan sekolah mu akan pindah," ucap ibu Andi.
"Kemana?" tanya Andi.
"Aku gak mau aku mau sama mas Abhi mau sama paman Abhi disini," rengek Andi yang masih belum tahu apa-apa usia Andi saat itu baru saja masuk kelas 1 SD.
"Dengarkan ibu, bapak nya Abhizar itu telah merebut hak ibu sehingga kita hanya terbagi sedikit saja yang seharusnya menjadi hak kita," ibu Andi memegang tangannya ke kedua pipi di wajah Andi. Sambil menangis Andi hanya menganggukkan kepalanya.
* 7 tahun kemudian di London
"Nak, jadilah anak pintar dan cerdas. Biar bisa merebut harta yang seharusnya sudah menjadi hak ibu. Ingat betapa sakitnya hati ibu sampai detik ini kau harus menjadi anak yang menonjol sekolah lah di indonesia jadilah laki-laki yang bisa mengalahkan Abhizar dalam hal apapun, setelah lulus SMP kamu balik kembali kemari dan meneruskan pendidikan disini," dengan mata yang pasti dan menggebu-gebu.
__ADS_1
Kini Andi sudah mengerti semuanya dia sudah tahu penderitaan ibunya selama di London, bahkan ayahnya Andi sakit-sakitan karena virus HIV yang ia derita. Ibu Andi yang begitu sangat mencintai ayah Andi sabgat menderita saat itu hingga 2 perusahaan yang di berikkan oleh kakek Andi sebagai warisan tidak bisa mereka kelola dengan baik hingga perekonomian mereka merosot pesat.
Ayah Andi yang tidak bersyukur dengan apa yang di dapat membuatnya khilaf sehingga ayah Andi bermain perempuan dan terserang penyakit HIV uang membuatnya berangsur kritis dan meninggal dunia pada saat Andi kelas 5 SD.
Kini Andi kembali ke indonesia untuk mengecam pendidikan SMP di indonesia agar bisa mendekatkan diri dengan neneknya. Andi yang dulu dekat dengan Abhi tak sama dengan Andi yang sekarang penuh dengan ke bencian kepada Abhi.
Di fikiran Andi yang ada adalah merebut kembali apa yang harus menjadi hak dia dan ibunya. Meski sebenarnya kiyai Ansori sangatlah welcome dan senang dengan kedatangan Andi, tidak begitu dengan Andi. Ia sangat membenci Kyai Ansori yang merasa telah merebut semuanya yang seharusnya mendapat ke adilan akan semuanya.
Ia juga yang begitu menyayangi sekali dan begitu dekat tidak mau jauh dengan Abhi berubah menjadi begitu dingin. Abhizar pada saat itu mengecam sekolah SMA tidak sadar dengan tujuan Andi datang ke indonesia tapi seiring berjalannya waktu Abhi pun sudah mulai mengerti.
Berhubung sekolah Abhi dan Andi dalam satu yayasan atau pondok dari SD sampai SMA menjadi satu ruang lingkup lingkungan itu hanya terpisah beberapa jarak saja dan terpisah dengan kantin.
Setiap ada perempuan yang mendekati Abhi pasti langsung Andi serobot. Meskipun awalnya mereka mengira Andi hanyalah seorang adik kelas tentu saja dengan ketampanan yang di miliki Andi bisa membuat semua perempuan tertuju padanya, Andi yang memiliki tubuh tinggi dengan badan yang berisi juga menjadi daya tarik para wanita di sekolahnya saat itu.
Ia selalu berusaha membelokkan niat para wanita yang ingin menggaet Abhi agar bisa menjadi gaetan Andi. Dan berhasil hanya dengan rayuan Andi para wanita bisa klepek-klepek dengan nya. Dan berfikir jika tak dapat Abhi dapat Andipun tak apalah sama saja sama-sama tampan, sama-sama idola, sama-sama pintar dan cerdas.
Abhi yang memang dingin terhadap para wanita menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian murid disana, membuat mereka oenasaran dan selalu ingin mendekati Abhi. Hanya Aisyah lah yang begitu dekat dengan Abhi saat itu karena Abhi hanya menganggap Aisyah sebagai adiknya.
Sebagai laki-laki normal tentu saja Abhi pun pernah memilikki perasaan kepada Aisyah karena tentu saja masa-masa puber laki-laki saat SMA tak terbantahkan hanya Abhi adalah laki-laki yang kalem dan tak ingin mengumbar ke sukaannya terhadap wanita. Apalagi tanggung jawabnya sebagai anak dari si yang empunya nya yayasan itu Abhi harus bisa memberikan contoh yang baik kepada yang lain.
__ADS_1
Abhipun harus fokus mengejar cita-citanya untuk dapat membesarkan nama pondok itu menjadi jebolan yang terbaik di antaran yayasan pondok pesantren lainnya. Pondok pak Kyai Ansori terpilih sebagai penerima bantuan beasiswa ke Kairo mesir bagi yang menonjol di sekolah sana. Dan Abhi berhasil untuk maju lebih dulu menjadi jebolan dari sekolah yayasan sekaligus pondok pesantren disana dan berhasil lulus hanya dengan 2 tahun sekolah disana.