
"Aku tidak menyangka apa yang aku lihat, mas" Suaraku tertekan menahan tangis.
"Han..."
"Jangan mendekat!"
"Aku jijik melihat tingkahmu yang sok bijak, berpura-pura baik dan beradab padahal kau tak lebih dari seorang buaya yang menjijikan!" sentakku.
"Aku, aku tidak pernah menyangka apa yang ku lihat. Ternyata selama ini kau berhubungan dengan wanita busuk itu, Kau bahkan berani berbohong kepadaku. Benar apa yang dikatakan nenek, saat kau mengantarkan wanita jahanam itu bahkan menginap beberapa hari di cirebon yang entah dimana kau menginap,"
"Honey, dengarkan dulu." Mas Abhi memelas.
"Cukup! aku tak butuh penjelasan lagi, yang kau bilang teman ternyata tak lebih dari seorang wanita perebut," mas Abhi mendekatiku.
"Cukup, Han," kata mas Abhi.
"Kau bahkan selalu setia bersama nya selama ia di jakarta menyusulmu, untuk apa? apa yang kalian lakukan sampai kau menginap di cirebon, hotel apa yang kalian pesan senhingga," tak sampai di penghujung, kalimatku terhenti tatkala saat mas Abhi melayangkan tangan lima jarinya di pipiku. Aku terdiam, bukan karena takut, hatiku semakin menggebu-gebu, panas, sakit, ku tatap tajam wajah mas Abhi yang terlihat menyesal karena telah menamparku.
"Kau tidak apa-apa?"
"Jangan seolah kau mengasihaniku, aku tidak butuh dikasihani olehmu, aku ingin kita cerai, talak aku saat ini juga!"
"Apa kamu gila!" sentak mas Abhi.
"Ya, aku gila dan aku tidak ingin kegilaanku ini semakin jadi saat menjadi istrimu."
"Honey, maafkan mas. Dengarkan dulu penjelasanku,"
"Sudah cukup, aku kecewa," aku melangkah pergi meninggalkan mas Abhi yang berdiri kaku seperti orang bodoh, ia tak mengejarku akupun tak berharap di kejar olehnya.
Kulihat Andi sedang berdiri mematung diantara tangga menuju ke bawah.
"Han," tegur Andi saat melihatku mulai turun menuruni anak tangga. Tak ku hiraukan tegurannya saat itu, hatiku hancur se hancur-hancurnya. Ku tegakkan tubuhku agar terlihat kuat dihadapan Andi tapi nyatanya air mataku tetap deras keluar mengaliri hampir seluruh kedua pipiku.
Andipun tak mencegahku, ia mematung melihatku berjalan seolah tak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Pak, bu, Honey kangen." Suaraku parau aku tersungkur di antara pohon-pohon yang ada di taman bawah apartemenku. Aku menangis sesegukkan, pilu,sakit begini rasanya di khianati.
"Dulu akulah yang selalu menghianati, kini aku tahu bagaimana rasanya di campakkan," Ku tatap ke atas bangunan apartemenku. Ingin ku pergi untuk mengambil beberapa pakaian dan pergi, tapi ku urungkan. Kulangkahkan kakikku pergi meninggalkan apartemen itu, tak ku bawa tas dan dompetku, hanya ponsel yang ku bawa.
[ Li...]
Segera ku hapus kembali pesan teks yang baru di ketik untuk Lia. Tak butuh berapa lama, Lia kembali menelponku tapi tak ku angkat.
__ADS_1
***
Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mas Abhi, Lia dan juga Andi bergantian menelponku sampai batre di ponselku mati, tak satupun ku jawab panggilan ataupun pesan WA dari mereka.
"Aku lapar," ku kodok sakuku ada uang 50rb bisa untuk membeli makanan dan minuman. Ada tukang bakso disana dengan harga 25 ribu untuk1 porsi bakso dan 8 ribu untuk teh botol dengan total 33 ribu sudah lumayan membuatku kenyang. Memang tukang bakso di pusat kota selaku beda dari yang lain, mahal.
"Kalau di kampung 25 ribu bisa untuk 2 porsi," gumamku.
Setelah ku bayar dan beranjak pergi, Andi sudah berdiri tegap di luar toko. Aku berbalik memutar arah untuk pergi.
Andi menyeret tanganku hingga sampai di mobilnya. Kini aku berada di apartemen Andi, duduk di sofanya.
Apartemen yang sudah Andi renovasi menjadi bernuansakan clasic modern dengan di cat berwanakan hitam dan putih, dan di berikkan aksen emas di antara sisi-sisi langitnya sehingga menambah kesan elegan namun mewah.
"Nih," Andi menyodorkan minuman kepadaku agar diminum.
Ia meletakkan sebuah baskom kecil berisikan handuk kecil dan air hangat. Lalu mengompres tumitku yang ternyata terluka, lecet dan berdarah.
Mungkin karena berjalan jauh hingga sampai ke taman kakikupun lecet, karena rasa amarah dan sedih lebih besar hingga rasa sakit di tumit tak terasa.
Aku membiarkan Andi mengompresnya hingga tak terasa air matakupun kembali jatuh mengenai tangan kekar namun lembut itu.
"Han, " ia kemudian duduk di sebelahku sambil mengusap kepalaku yang masih di baluri kerudung.
"Aku kecewa, walaupun aku memberikan syarat tapi bukan berarti dia bisa seperti ini memperlakukanku."
"Sudah?" Entah kenapa Andi yang biasa ku kenal arogan, iseng dan nyebelin saat ini berubah menjadi sosok lelaki yang lembut. Aku sampai kikuk dibuatnya, malu karena ia bersikap seperti itu.
Ku anggukkan kepalaku walau tangisku sudah mereda, tetap saja isakkanku masih berjalan karena saking sakitnya ku tumpahkan semuany di depan Andi.
"Ya, di depan Andi bukan di depan suamiku mas Abhi yang telah mengkhianatiku. Aku kecewa kepadanya, ia yang tidak pernah mungkin melakukan hal yang menjijikkan sekalipun itu untuk terlintas di bayanganku."
"Sebaiknya kamu ganti baju dan tidurlah di kamar," Andi menolongku menunjukkan jalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri, Andi menyuruhku memakai pakaian nya karena tidak ada pakaian wanita di apartemen nya.
Saat aku keluar dengan berbalutkan kaos hitam yang tak terlalu besar sehingga lekuk tubuhku terlihat olehnya dan celana pendek miliknya, kulihat Andi sedang asyik menyiapkan mie instan untuk makan malam.
"Aku sudah makan," imbuhku.
"Aku masak untuk diriku sendiri," tukasnya.
"Ya ya ya, untuk diri sendiri mana mungkin seorang pria seperti dia mau memasakkan mie untukku, hanya ada dalam mimpi. Sepertinya saat kejadian tadi itu karena dia kerasukkan setan baik hati," gumamku dalam hati lalu duduk di sofa.
Ku nyalakan TV di ruang tamunya, tak lama Andi duduk di sebelahku dengan Asyik memakan mie nya yang masih panas.
__ADS_1
"Duh, panas!" Saat ia memasukkan mie ke dalam mulutnya.
"Kayak debus saja, makan mie gak ditiup," celetukku.
Andi tak mengindahkan perkataanku ia tetap melanjutkan makan mie nya sambil sesekali kepanasan.
"Wah... akhirnya habis, seger." Benar saja tak sedikit saja ia menawariku untuk makan mie walau hanya basa basi Andi meletakkan mangkuk mie nya di atas meja.
"Dasar gak sopan!" ucapku dalam hati.
Aku bermaksud untuk mengambil remot yang disimpan di tempat duduk sebelah otomatis badankupun membalik untuk mengambilnya dan tak di sangka kepalaku terbentur ke dadanya, reflek Andi mengusap-usap kepalaku yang tanpa kerudung itu lalu terdiam saat aku mulai menatapnya.
Diriku terdorong ke belakang hingga pungguku menyentuh punggung sofa itu. Andi menatapku sendu, wajahnya semakin dekat dan semakin dekat. Aku yang berasa terpojok tidak bisa bergerak, hanya kedua telapak tanganku saja yang menahan dada bidangnya agar tidak terlalu mendekatiku.
"A, Andi," suaraku pelan agar tak menyinggungnya. Wajah kami semakin dekat dan dekat, Andi sedikit memiringkan kepalanya agar hidung kami tidak bertabrakan.
Dan..." Hah...!" ku tiup bibirnya yang mulai membuka hingga ia seketika menjauh.
"Bau!" pekiknya. "Nafasmu bau makan apa kau, emang tidak gosok gigi tadi?" Andi sibuk sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya untuk membersihkan wajahnya.
"Ha ha ha ha, tentu saja tadi aku makan semur jengkol yang ada di lemari karena enak jadi aku makna," tanpa rasa bersalah aku tertawa padahal mengsalting hanya agar Andi tidak curiga kalau akupun gugup.
"La, lagi pula, kau lupa kalau aku ini tante mu, tante iparmu, berani sekali kau mau menciumku!" Sentakku.
"Awalnya aku memang mau menciummu, tapi tak ku sangka ternyata mulutmu bau, jadi gak jadi." Aku melotot saat Andi mengejekku.
"Aku heran apa yang di suka oleh mas Abhi, dengan o
perempuan yang pendek,montok, bau lagi mulutnya, iiihhh" Aku lemparkan bantal kursi dengan sekuat tenaga ke arahnya.
"Kau tidak tahu saja kalau aku primadona laki-laki sebelum aku menikah, dasar bocah tengik!" ucapku sambil melengos ke kamar lalu menguncinya.
"Apa, bocah tengik. Hei, kau fikir kau itu siapa memanggilku begitu ibuku saja tidak pernah mengatakan itu kepadaku, Hey...! itu kamarku kau tidur di sofa,Hey...!" teriak Andi yang terlihat kesal dari nada bicaranya.
"Gak mau!" balasku lalu melemparkan diri ke atas kasur.
"Huff...apa tadi itu. Kenapa bisa jantungku berdetak kencang seperti itu di hadapan keponakannya mas Abhi?"
"Ah jangan-jangan, aku....Ah tidak mungkin. Sudaah Honey jangan fikir yang macam-macam, sekarang sebaiknya tidur lalu lupakan dengan apa yang sudah terjadi hari ini," Akupun langsung menyelimuti diri setelah menghidupkan AC.
dret ...dret....dret...
[ Han, dimana mas cari-cari gak ada di apartemen. Kenapa gak telpon balik, kenapa gak diangkat saat di telpon? ]
__ADS_1
[ Hubungi mas kalau kamu baca, ya. Ada yang mau mas jelaskan ]
sebuah pesan WA masuk ke ponselku yang ternyata di charge oleh Andi, ia mematikan Ponselku setelah membaca pesan dari mas Abhi dan menon aktifkan lokasiku dari ponsel. Aku tak sadar kalau aku benar-benar sudah terlelap, nyawaku terbang ke alam mimpi.