
"Mas..."
"Hmm?" jawabnya.
"Disini pak sudah sampai," kata supir Grab itu.
"Ya sudah ini uangnya, kenbaliannya ambil saja," Mas Abhi menyodorkan kertas merah kepada supir itu.
"Terima kasih banyak, pak" Kemudian kamipun turun.
"Si Lia mana yah, apa dia belum datang?" gumamku dalam hati yang hampir setengah mati tegang.
"Dimana Lia nya?" tanya mas Abhi.
"Eh... anu dimana ya?"
"Coba kamu telpon Lia nya di sebelah mna?" Dengan ragu akupun menghidupkan layar ponselku. Perasaan tegang dan takut ketahuan campur aduk.
"Duh, Li lu kemana sih?" batinku.
"Honey...!" Terdengar teriakkan memanggil dari arah samping depan kami, tepatnya dari dalam tenda nasi goreng Lia nongol menheluarkan kepalanya dengan tangan sebelah melambai.
"Untunglah... Hey Li " jawabku seraya pergi menemuinya, mas Abhi mengikutiku dari belakang.
"Han, gimana kabarnya kangen banget tahu." Lia memelukku dengan senyum tergambar dari wajahnya, aku tahu sahabatku ini sangat kangen kepadaku.
"Alhamdulillah,baik. Kamu gimana kabarnya Li, sehatkan?" tanyaku balik.
"Alhamdulillah baik," jawabnya.
"Pak, gimana keadaanya?" kini pertanyaannya ia lontarkan kepada mas Abhi yang ada di dekatku.
"Alhamdulillah baik juga. O'ya... bukannya kalian janjian bertemu kalau begitu mau makan dimana?" tanya mas Abhi yang seketika Lia sahabatku sedikit bengong bukan karena ia memikirkan tentang kebohonganku, tapi merasa heran atas mas Abhi karena biasanya ia pemalu hanya menebar senyum tapi sekarang ia begitu welcome dengan Lia.
"O,oh... iya benar sekali kami janjian dari siang,"
"Dari sore...,"timpalku sambil melototkan mata ke arah Lia berharap ia mengerti sengan kodeku.
"Oh, iya benar sejak sore. hehehe...," untunglah Lia mengerti.
"Bukannya kamu bilang tadi mau makan nasi goreng?" tanya mas Abhi mengingatkan.
"Eh, iya..." Akhirnya kamipun mausk ke tenda nasgor dan pecel kemudian memesan makanan.
Dug...Lia menyikutku yang duduk di sebelahku sedangkan mas Abhi di sebelah sisiku yang lain.
"Apa?" bisikku.
"Itu..." bisik Lia padaku sambil menuduhkan lewat mata ke arah suamiku. Akupun mengangkat kedua bahuku tanda tak tahu.
Tak lama pesananpun sudah tersedia di meja kayu khas tenda kaki lima. Tak banyak pikir setelah membaca doa makan akupun langsung melahap nasi goreng sendok demi sendok.
"Pelan-pelan makannya," celetuk Lia yang melihat makanku seperti orang yang kelaparan, tapi memang lapar sih.
__ADS_1
"Iya pelan-pelan saja," mas Abhi memesan kwetiau goreng sedangkan Lia memesan sate ayam.
Selama pertemuanku dengan Lia, tak ada obrolan yang berarti hanya membahas masalah kerjaan saat di London sana, sekalian liburan selebihnya tak ada sedikitpun kami membahas soal yang lalin. Mungkin karena adanya mas Abhi, aku dan Lia jadi canggung.
*Di aprtemen*
"Kenapa kamu belum pulang, An?" tanya Aisyah.
"Saya tunggu mas Abhi dulu kesini baru saya akan pulang," jawab Andi kemudian duduk di sofa.
"Ternyata Abhi masih seperti dulu perhatian kepadaku," ucap Aisyah yang masih berdii tidak jauh dari Andi yang sedang duduk.
"Jangan salah paham, mas Abhi hanya menganggap mbak Aisyah sebagai tamu saja tidak lebih. Oya satu lagi, jangan coba-coba merusak kebahagiaan mereka, apalagi sampai kamu sentuh saja sedikit Honey, kamu akan tahu akibatnya." Andi yang sepertinya begitu mengenal Aisyah mengingatkan.
"Bukankah di larang keras jika kita menyukai wanita yang sudah bersuami, kita tak jauh beda yah." Ucap Aisyah yang tak mau kalah dengan Andi, mendengar ucapan dari Aisyah Andi terdiam sejenak.
"Bukan suka, aku hanya tidak ingin rumah tangga mereka rusak hanya karena kau. Bukankah seorang keponakan juga berhak melindungi paman dan iparnya?" balas Andi di barengi dengan senyum sinisnya yang terlihat dari balik kaca apartemen membuat Aisyah memalingkan wajahnya yang kini terfokus pada suasana sekitar semakin ramai.
Di Tongkrongan Kaki Lima
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu,yah. Besok kalau gak sibuk kita ketemu di tempat ini lagi yah?" Kataku pada Lia yang juga akan pulang.
"Ya sudah, lagi pula ini sudah larut juga kan. Terima kasih banyak loh atas traktirannya perut saya sampe full begini kayak orang hamil, hehehe." Sambil mengusap-usap perut nya yang kian mengembang karena terlalu banyak makan.
"Terima kasih juga kepada pak Abhi," Lia menganggukkan kepalanya seraya berkata kepada Abhi.
"Sama-sama," senyum tergambar dari bibir mas Abhi yang manis.
Drrr ..drr...drr...
"Assalamu'alaikum, ya halo." Ucap mas Abhi saat mengangkat telponnya yang berdering.
"Bukannya Andi masih disana?" Kini aku tak perlu lagi mengira-ngira, sudah tahu siapa yang menelpon.
"Siapa lagi kalau bukan wanita centil itu, Aisyah!" pekikku dalam hati.
Lia yang melihat ekspresiku menjadi bete hanya menaikkan alisnya isyarat sebagai tanda tanya.
"Ya sudah, sebentar lagi kami pulang." Mas Abhipun menutup telponnya.
"Yuk, sudah larut sudah jam sebelas malam juga. Kita segera pulang.
"Kayaknya aku mau nginep dirumah Lia saja sudah lama aku tak menginap di rumah sahabatku ini, apalagi sekarang kan Lia punya apartemen sendiri." Celetukku tanpa fikir panjang, Entah kenapa rasanya hatiku tiba-tiba memanas saja saat mendengar nama itu.
"Hah, gila lu...!" pekik Lia dalam hatinya yang di tandai dengan melototnya mata Lia padaku.
"Kenapa menginap, kita pulang saja, yuk?" ajak mas Abhi aku menggelengkan kepala layaknya anak kecil.
"Iya,Han. Kamu pulang saja dengan pak Abhi kan kasian kalau harus pulang sendiri. Lagipula besok kita ketemu lagi kok,yah...?" rayu Lia.
"Han...?" mas Abhi menatapku. Akupun tak bisa berkata apa-apa, mas Abhi menarik tanganku dan akhirnya kami dan Lia pun berpisah di depan tenda kaki lima mie goreng.
Di mobil
__ADS_1
Mas Abhi menatapku sepanjang jalan, meski sudah larut syukurnya masih ada mobil Grab yang mau menerima tumpanganku dan mas Abhi.
Aku yang masih dengan hati panas tak sedikitpun memalingkan wajahku dari pemandangan jalan raya yang ramai akan lampu-lampu dan juga anak-anak funk yang sedang nongkrong di sebagian sisi jalannya, begitupun tukang dagang yang sedang mendorong gerobak dagangannya yang sepertinya sudah habis dagangannya.
Beruntung nasibku alhamdulillah baik,bisa makan dengan baik membeli barang apapun dengan baik, berpakaian baik. Tak sadar pipiku panas terkena air yang keluar dari mataku.
"Kamu kenapa, apa ada yang mengganjal di hatimu sehingga kamu seperti ini?" tanya mas Abhi yang terlihat khawatir karena hari ini sepertinya mood ku berubah-ubah.
Ku gelengkan kepalaku sambil menghapus air mataku, mas Abhi memelukku tapi aku menolaknya. Tak ingin kalah kini mas Abhi mengusap-usap kepalaku dan tak ku tolak.
Ting.... Suara terbukanya kode pintu apartemen kami.
"Assalamu'alaikum," ucap mas Abhi tak lama akupun mengucapkan kata yang sama.
"Wa'alaikum salam, mas." Aisyah tanpa basa-basi mencium tangan mas Abhi membuatku syok seketika.
"Kalian sudah pulang?" tanya Andi yang kemudian muncul dari dapur dengan menenteng satu gelas air putih.
"Loh, kok kamu disini?" tanya mas Abhi. Andi yang sedikit heran dengan ucapan pamannya itu mengerutkan keningnya.
"Memangnya aku kemana, dari tadi akukan..." belum selesai ngomong Aisyah menyela.
"Tadi aku kira Andi sudah pulang, ternyata dia hanya ke bawah untuk membeli minuman,"
"Memangnya selarut ini mini market masih buka?" tanya mas Abhi.
Aisyah tak menjawab hanya mengangkat kedua bahu sambil melirik ke arah Andi.
Seolah sudah tahu dengan sifat Aisyah mas Abhi tidak ingin meneruskan perdebatan di tambah kondisi Honey istrinya yang mood nya sering berubah-rubah seharian ini, mas Abhi cari aman saja.
"Kamu gak mandi dulu?" tanya mas Abhi yang sudah duluan membersihkan diri sedangkan aku langsung berbalutkan selimut tanpa mengganti pakaianku.
"Han, ganti dulu pakaian kalau gitu." Masih tak ku jawab, masih asyik dengan handphone yang ku mainkan.
Aku tahu mas Abhi menghela nafas yang kemudian mengangkat selimut sehingga kini kami tidur berdekatan, mas Abhi memelukku. Aku membalikkan arah sehingga kini membelakangi mas Abhi.
"Boleh mas bertanya?" tanya mas Abhi, aku langsung menggelengkan kepalaku.
"Boleh mas peluk dari belakang?" aku sempat terdiam kemudian sedikit meninggikkan posisi selimutku hingga kini menutupi setengah wajahku lalu aku mengangguk kecil, mas Abhi yang tahu itu langsung memelukku dari belakang dengan erat.
Aku masih marah, tapi aku juga lelah seharian ini. Tak tahu kenapa aku tak bisa mengontrol emosiku hari ini, apa karena Aisyah. Sepertinya memang moodku saja sedang tidak baik, karena masa pms ku masih belum waktunya.
"Hangat," ucapku pelan sambil menutup mataku.
"Hmm...benarkah?" tanya mas Abhi yang kemudian membalikkan tubuhku hingga kini saling berhadapan.
Mas Abhi mulai mencium keningku yang kemudian merayap ke mata kemudian ke bibirku.
"Aku belum mandi,mas." Tolakku.
"Tidak apa-apa, yuk...?" ajak mas Abhi merayuku.
Berhubung aku masih badmood aku tak mengindahkan mas Abhi dan memilih membelakanginya saja.
__ADS_1