Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Bakso


__ADS_3

Satu bulan sudah setelah kejadian itu, Andi yang seperti biasa meminta maaf kepadaku seperti tanpa rasa penyesalan karena wajahnya begitu datar dan terkesan mengolok-olok atas kejadian kemarin. Entahlah mungkin baginya kejadian waktu itu adalah suatu kejadian lucu baginya. Akus ebagai seorang teman sekaligus tante iparnya sudah tentu harus lebih bijak mentikapi ulah Andi yang masih sembrono itu. Sedangkan mas Abhi, ia tak meng iyakan memaafkan Andi dan tak juga menolak permintaan maaf dari Andi, entah apa masalah mereka sepertinya kejadian itu mas Abhi semakin over protective kepadaku jika ada Andi di sampingku.


Pernah suatu ketika Andi kerumah ke apartemen kami untuk menyerahkan dokumen yang aku monta dari Lia, karena Lia tak bisa menemuiku, jadi Andilah yang dengan senang hati mengantarkan dokumen itu .Aku yang tak mungkin langsung menyuruh Andi untuk pwrgi tentu saja menyuruhnya beristirahat sebentar yang kemudian ku buatkan minuman untuk sekedar menghilangkan rasa dahaganya.


Tetiba pintu apartemen berbunyi dan terbuka dengan cepat pintu utama kami.


"Honey...!" begitulah mas Abhi berteriak seolah sedang terjadi apa-apa kepadaku. Atau aku yang sedang terancam pembunuhan oleh Andi.


Melihat reaksiku yang kaget dan heran sedang memberikan segelas minuman kepada Andi begitupun Andi sendiri. Kami menatap heran dengan tingkah mas Abhi yang menurut kami lucu saat itu.


Siang ini di kantor aku merasa lemas, tubuhku serasa tak bergairah. Aku duduk di posisiku dengan posisi membungkukkan tubuhku ke atas meja dengan di topang oleh kedua tanganku. Matahari sudah mulai meninggi mas Abhi belum kembali dari rapatnya. Sengaja tak ikut rapat dengan mas Abhi karena ingin beristirahat saja karena itu aku lebih memilih di kursi beristirahat.


Ketika aku mulai terlelap, terasa sentuhan lembut di kepalaku membelai rambutku yang tertutup oleh kerudung yang ku pakai.


"Eh, mas Abhi..." aku tersentak, mas Abhi tersenyum kemudian duduk di depanku.


"Sepertinya kamu lelah sekali, apa kamu sakit?"tanya mas Abhi yang baru selesai dari rapatnya.


"Sudah makan?" aku menggelengkan kepalaku.


"Kalau begitu kita makan siang, mau di restoran mana?" tanya mas Abhi antusias.


"Emm...aku mau bakso yang pedas,"


"Huh, bakso. Ayo kita pergi kemana bakso keju atau bakso rudal?" Mas Abhi hafal nama bakso viral karena ada salah satu karyawannya yang selalu membawa bakso kebetulan ia penggemar bakso berat.


"Hmm... aku mau tukang bakso yang di gerobak di dorong itu loh mas, kayaknya enak." Saking pengennya aku sampai menelan ludah tak sabar ingin segera memakannya.


Tanpa menolak mas Abhi langsung mengajakku ke mobil mencari bakso yang di tuju.


"Mas tahu tempat tukang jual bakso gerobaknya?"

__ADS_1


"Kita cari di jalanan mungkin ada," jawab mas Abhi mantap. Aku tersenyum melihat suamiku yang punya sikap siap di saat istrinya membutuhkan.


Tak lama kami pun sampai di tempat tongkrongan anak muda yang dimana ada berjejer dagangan kaki lima termasuk ada bakso juga. Suasana yang aku suka dari dulu, hanya saja ada yang berbeda saat ini.


Tetiba saja aku muak melihat asap yang ngepul dari tukang sate, benci melihat si amang disana yang sedang sibuk melayani para penggemar sate. Bau asap yang biasa terasa harum dan menjadi parfum alami itu kini berasa memuakan, ulu hatiku seolah naik dan tertekan menjadi mual, kepalaku pusing, tubuhku bergetar tetiba lemas dan hampir terjatuh.


"Ada apa. Kamu sakit?" tanya mas Abhi yang menopang tubuhku saat hampir terjatuh.


"Bau sekali asap nya, kita cari bakso yang gak ada asap nya aja ya mas?" rajukku.


"Asap," mas Abhipun seketika itu melihat sekitar tukang bakso itu dan langsung mengerti asap apa yang di maksud olehku. "Kamu tidak apa-apa, kita cari di tempat lain saja," mas Abhi memapahku ke dalam mobil. Kami mencari bakso gerobak di sekitaran dekat kantor tapi rata-rata ada tukang sate entah itu di sebelahnya ataupun terhalang oleh beberapa dagangan lainnya.


"Hemm..., kalau begitu kamu tunggu di mobil saja biar mas beli saja kita makan di kantor saja, yah." Ucap maa Abhi memberi solusi kemudian bersiap ke luar.


Tapi aku malah meneteskan air mata seperti anak kecil merengek. "Aku maunya makan di tempat gerobaknya gak mau dirumah," rengekku pada suamiku yang terlihat kebingungan dengan tingkahku. Tanpa bertanya mas Abhi meredakanku dengan memelukku dan mengusap kepalaku.


"Baiklah, kita cari lagi jangan nangis." Bak kepada seorang anak kecil mas Abhi berkata dengan lembut dan mau mencari lagi gerobak bakso yang aku mau.


"Kenapa mas dari tadi liatain aku terus," masih dengan mencari tongkrongan bakso yang jauhh sekali dengan tukang sate.


"mm... ketemu," setelah 1 jam lebih muter2 akhirnya aku menemukan bakso gerobak yang sendiri jauh dari keramaian apalagi tukang sate. Mas Abhi buru-buru turun dan memesan bakso untuk di bungkus.


"Alhamdulillah akhirnya..." seru mas Abhi sembari duduk dan memberikkan kantong plastik warna hitam itu kepadaku.


"Duh repot banget sih mau makan siang aja," pekikku dalam hati yang merasa malu. Tapi jujur ketika ada bakso yang di mau tanpa ada tukang sate itu serasa mendapat piala oscar saja senangnya minta ampun.


"Mau apalagi?" tanya mas Abhi.


"Nggak usah, itu aja sudah cukup. Maaf ya mas, udah ngerepotin sampe hampir 2 jam muter-muter nyari bakso doang," aku memanyunkan sedikit bibirkan dengan manja dan mas Abhi mencubit pipiku yang tembem dengan gemas hingga aku meraung manja karena sakit.


"Sakit, mas....ih apa sih," dengan wajah semeringah mas Abhi mulai memanaskan mobil dan langsung melaju diantara jalan-jalan yang sudah mulai macet.

__ADS_1


Di Kantor...


"Wah...bakso nih bu," goda bu Mastani saat aku mulai menyendokki mie telor ke dalam mulutku.


"Eh, Bu. Ayo ngebakso,bu." Aku yang malu karena tidak sadar ada bu Mastani masuk ke ruang mas Abhi.


"Maaf pak, saya mengganggu karena dengan terdesak meminta tanda tangan file ini setengah jam lagi harus sidah saya kirim ke pak Jorge," bu Mastani pun memberikan file yang perlu di tanda tangani oleh mas Abhi dan tak lama mas Abhi pun mengambil pulpen dari saku baju kemejanya kemudian menanda tanganinya.


"Beli dimana bu baksonya, di bawah sana yah?" tanya bu Mastani.


"Bukan, aku maunya bakso gerobak,heee..." jawabku.


"Wah, jangan-jangan nih. Semoga saja ya Pak Abhi dan Bu Honey," Senyum manis nan wibawa tergambar dari wajah bu Mastani yang menyejukkan.


Aku dan mas Abhi hanya terbengong dan Heran ketika mendengar bu Mastani mengatakan hal itu yang kemudian pamitan.


"Nanti pulang beli bakso ini lagi ya,mas." Ucapku yang ketagihan dengan baksonya.


"Doyan,yah. Nanti gendut loh..." rayu mas Abhi.


"Biarin gendut juga, memangnya kenapa mas mau cari penggantiku. Jangan harap langkahi dulu mayatku...!" rajukku.


"Hehehe..." seperti biasa kalau gemas ia pasti mencubit pipiku sampai aku merengek kesakitan.


*Di rumah...


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya mas Abhi cemas kemudian mendudukkanku ke atas kasur.


Di kantor aku sempat menghebohkan kantor karena pingsan di toilet. Di toilet salah satu karyawan mas Abhi menemukanku yang sedang tergeletak dekat wastafel. Mas Abhi yang mengetahui itu langsung menemuiku dan menggendongku ke ruangannya.


"Hmm...aku hanya lemas,mas " Ku baringkan tubuhku yang tak berdaya itu di atas kasur setekah mas Abhi mencopotkan sepatu dan juga pakaian yang aku kenakan termasuk kerudung yang aku pakai, Ia menyelimutiku.

__ADS_1


__ADS_2