
Sepanjang perjalanan tak ku arahkan sedikitpun pandanganku kepada mas Abhi. Hari ini jalanan tol yang mulai sepi itu menjadi pengalihan pandanganku selama perjalanan. Senyum yang biasa ku sebar kepada pak Tarno tak kulakukan malam ini.
Mas Abhi tak menanyaiku, dia hanya sibuk dengan ponselnya.
"Ya, bagaimana kamu sudah sampai rumah?" ku lihat mas Abhi dari kaca jandela, ia sedang menelpon.
"Seperti suara perempuan. Tapi, tak terdengar jelas apa yang di katakan nya," aku terus memperhatikan mimik wajah mas Abhi dari pantulan kaca mobil.
"Siapa yang dia telpon sepertinya nyaman sekali," aku mulai penasaran.
"Mas, siapa?" tanyaku pada mas Abhi." Mas Abhi hanya melempar senyum.
"Teman," jawabnya setelah selesai menelpon.
"Aku harus bisa jaga privasi mas Abhi," gumamku.
Saat sampai di parkiran, akupun mulai naik lift meninggalkan pak Tarno yang sedang bengong dan mas Abhi.
"Ahhhh....."ku baringkan tubuhku yang terasa lelah di atas kasur. Ku buka stocking yang tadi menutupi kakiku.
"Siapa wanita tadi bersama dengan mas Abhi ya?
Rasanya ini pertama kali nya aku memikirkan rekan kerja mas Abhi," Kulihat jam sudah mulai sangat larut.
Cetrek...
Aku terkagetkan dengan suara pintu kamar yang tebuka. Ternyata mas Abhi, buru-buru aku bangun karena posisi dan rok ku yang sedikit terlipat sampai ke paha atas.
"Eh, maaf" Mas Abhi buru-buru memalingkan dirinya dan kembali menutup pintu kamar, setelah ku ijinkan untuk masuk kembali.
"Ada apa, mas?" Tanyaku yang sekarang sudah ku tutupi putihnya paha ku dengan selimut.
"Maaf, barusan sebelumnya mas sudah mengetuk pintu dahulu, tapi tidak ada yang menjawab. Mas kira ada masalah, kamu tidak apa-apa kan?" Ternyata lamunanku mampu menutup telingaku sehingga diriku tak bisa mendengar ketukan pintu dari mas Abhi.
"Oh, iya gak apa-apa. Aku juga tidak dengar mas Abhi mengetuk pintu, ada apa mas?" tanyaku penasaran.
"Tadi, teman kerja mas Abhi?"
"Hmm, mengenai itu mas mau cerita sedikit. Boleh?"
"Iya," jawabku.
"Mas sebelumnya mau minta maaf karena tadi tidak mengatakan bahwa kita berdua sudah menikah." Jelas mas Abhi.
"Hmm, ya udah gak apa-apa," aku melengos ke kamar mandi ketika itu mas abhi mencegahku.
"Dengarkan dulu," mas Abhi menarik tanganku dan aku terdiam di hadapannya.
"Kamu marah?"
"Tidak,"
"Aku hanya..." tak ku teruskan kataku.
"Lagi pula kita sudah menjalani perjanjian, jadi tak ada masalah mas mau bertemu dengan siapapun aku sudah mencantumkan disana jangan saling mengganggu privasi." Ku lepaskan tanganku saat mas Abhi tetap saja diam tak menjawab, aku lebih memilih pergi ke kamar mandi, sampai selesai ku bersihkan diri kulihat mas Abhi sudah tidak ada di kamar.
Ku rebahkan kembali tubuh ini dengan hanya memakai handuk kimono di atas ranjang.
"Kenapa rasanya seperti ini ya, kenapa rasanya sesak sekali saat melihat mas Abhi bersama dengan wanita itu. Siapa sebenarnya wanita itu?" Ada banyak pertanyaan yang ingin di di ungkapkan pada saat itu ke mas Abhi. Tapi aku memilih diam karena perjanjian yang sudah aku tulis di dalam kertas itu.
Ku langkahkan kaki ku dan ku buka laci mengambil kertas yang berisikan perjanjian itu, ku pandangi kertas itu tanpa ku baca lagi isi nya. Sampai ku tertidur di atas ranjang sampai ku terbangun kembali posisi tidurku sudah dalam keadaan berselimut rapi menutupi tubuhku.
__ADS_1
"Sepertinya mas Abhi semalam kemari dan membenarkan posisi tidurku" gumamku.
Dret...dret...dret...
"Han..." Sebuah pesan WA masuk, ternyata dari Bobi tunangannya Lia.
"Apa?"
"Nanti sore kita double date,yuk?"
"Ogah ah,"
"Loh kenapa ada movie yang seru"
"Gak ada yang bisa di ajak date"
"Yaelah, payah dong ajak aja suaminya"
"Ya udah date berdua aja dulu, ntar di kabari kalau aku ikut,"
"Oh ya udah"
Seperti biasa aku mulai membereskan kamar utamaku baru ruang kamar, tak banyak memakan tenaga memang membereskan rumah minimalis karena perlengkapan nya pun serba memakai elektronik canggih.
Ku lihat ada mas Abhi yang belum pergi bekerja sedang asyik di luar balkon.
"Sudah bangun?" mas Abhi menutup pintu balkon.
"Iya," jawabku lalu langsung ke dapur membuat sarapan.
"Hari ini ada acara?" tanya mas Abhi yang sekarang duduk di kursi dapur. Memang dapur yang di buat dengan kontek ala bar bar di cafe, jadi saat makan menghadap langsung ke arah yang masak.
Aku tak bergitu mengindahkan pertanyaan dari mas Abhi, aku hanya fokus membuat sarapan telur dadar setengah matang di buat sandwich dan ku hangatkan sop ayam gingseng yang di beli semalam saat di mall kemarin bersama dengan Lia.
"Nggak bagus loh, kalau seorang suami bertanya tak di jawab istri nya," goda mas Abhi.
"Aku tahu," jawabku.
"Lalu kenapa masih cemberut?" tanya lagi mas Abhi.
"Gak apa-apa," akupun sarapan bersama mas Abhi.
"Hari ini ada acara nggak?" tanya lagi mas Abhi.
"Nggak tahu, Bobi ngajak nonton di bioskop malam ini" jawabku.
"Bobi?" mas Abhi mengerutkan alisnya.
"itu tunangan Lia yang pernah aku ceritakan,"
"oh gitu. Ya udah mau berangkat?" mas Abhi sepertinya antusias.
"Nggak ah, aku lagi malas."
Mas Abhi pergi berangkat kerja katanya akan agak sibuk dan pulang larut.
Aku kembali ke kamar setelah selesai membereskan bekas makan kami, lalu membereakan kamar Mas Abhi yang di bawah lalu menjemur pakaian aku dan mas Abhi.
Kembali ku ke kamar setelah semua selesai dan kembali rebahan di kamar memainkan permainan game yang aku download.
Dret...dret...dret...
__ADS_1
"Han..."
"Malam ini kita double date, si Bobi ngajak nonton di bioskop lagi tuh." Lia mengirim WA padaku.
"Aku sedang malas, emang Bobi gak bilang yah"
"Udah sih pergi aja biar gak suntuk,"
"Gak bawa pasangan ogah aku," jawabku lagi.
"Mas Abhi mu itu ajak saja,"
"Ayo aja terus ngomong..."
"Hehe... iya maaf, aku pengennya kita ikut barengan nonton nya,"
"Ya udah liat nanti saja"
"Ya uda nanti kabari yah kalau jadi, aku mau kerja dulu, bye..."
"Bye..."
Aku berniat pergi ke bawah untuk membeli sesuatu di mini market untuk membeli cemilan dan minuman.
***
"Semua totalnya 38.000, bu."
"ini, makasi yah." Setelah ku terima uang kembalian, akupun bergegas ke belakang taman memilih tempat duduk untuk memakan cemilan
Setelah sudah ku temukan tempat duduk, akupun mulai membuka cemilan. Banyak orang berlalu lalang ada yang sedang lari-lari kecil, ada juga yang sedang mendorong troli anak. Ada juga anak-anak yang sedang bermain di taman bermain kecil.
"Ternyata komplit juga fasilitasnya, hanya saja serba harus di beli," Aku kerutkan keningku pada satu titik orang yang berada tepat di sebrang tempatku duduk. Ada satu orang laki-laki dan juga perempuan yang mungkin umurnya masih di bawah sedang berduaan bermesraan, sepertinya masih belasan tahun di bawahku.
"Anak jaman sekarang sudah mahir yang beginian," gumamku. Makanan yang tadinya sedang ku nikmati sekarang mulai tidak berasa nikmat. Akupun pergi mencari spot lain untuk nongkrong.
"Maaf boleh aku ikut duduk?" tanyaku pada salah satu lelaki yang sedang asyik nongkrong, tapi ia tak mendengar.
"Permisi, boleh aku duduk disini?" tanyaku sekali lagi kali ini aku sedikit menundukkan badanku agar lelaki itu tahu.
Akhirnya lelaki itu membuka kacamata hitamnya dan membuka headset yang terpasang di telinganya.
"Boleh aku duduk disini?" sekali lagi ku tanya. Lelaki itu menganggukkan kepalanya dan menggeser badannya memberi tempat padaku.
Ku teruskan memakan cemilanku sambil melihat orang-orang yang sedang berkeliaran di sekitar.
"Perempuan harusnya bisa jaga penampilan," aku langsung konek, seketika melirik ke arah lelaki di sebelahku, lelaki itu tersenyum kecil kepadaku.
"Kamu bicara padaku?" tanyaku.
"Memangnya di sebelahku ada orang selain kamu,"
"Ih, apaan sih nih orang rese banget" gumamku.
Dia kembali memakai headset ke kupingnya dan kembali memandang ke arah depan.
"Mau makan apa kek, bukan urusan kamu tubuh-tubuh aku yang gendut atau nggak juga aku. Lagi pula tubuhku juga gak gendut tapi semok," ku buka minuman yang ku beli tadi di mini market dan ku minum.
"Pffft...pffft ..." Lelaki itu tertawa. Sontak aku melotot ke arah nya. Akupun mulai membereskan semuanya lalu pergi meninggalkan lelaki usil itu.
Brukk...Ku masukkan sampah cemilan tadi ke tempat sampah.
__ADS_1
"Dasar tidak sopan, gak kenal gak apa juga enak aja ngatain orang," masih dengan kesal memikirkan lelaki yang sok kenal tadi amarahku terasa membara, baru kali ini ada laki-laki tidak sopan. Aku memutuskan kembali ke apartemen untuk mendinginkan hati yang panas karena singgungan dari lelaki tadi.
Bersambung....