
"Aku bahkan tidak ingin mendengar suaramu!" Teriak Lia dari balik pintu kost an nya
Saat ini aku sedang berada di kost an baru Lia, ia pindah ke kost an yang sedikit menjauh dari tempat ia bekerja di banding kost an yang dulu lebih dekat. Tentunya, alasan utama karena Bobi sering sekali meneror Lia baik lewat telpon ataupun datang langsung ke kost an nya. Lia merasa risih jika harus terus-terusan di ajak kembali padahal Lia sudah jelas-jelas di sakiti dan di khianati oleh Bobi.
Langkahku terhenti tatkala saat Lia kembali dari teras.
"Kamu, tidak apa-apa?" tanyaku khawatir lalu menyuruh Lia duduk dan mengambilkannya minum.
"Jika ingin menangis, menangislah," ku usap rambut di kepalanya agar ia merasa sedikit tenang dan berharap bisa mengeluarkan air matanya. Karena air mata dapat meringankan sakit hatinya terhadap tunangannya itu.
Aku tahu Lia begitu mencintai Bobi, ia menjadi gadis penurut sejak Bobi hadir di hidupnya.
"Aku tidak menyangka lelaki yang aku percaya selama ini, tega mengkhianati kepercayaanku. Padahal selama ini aku menjaga semuanya untuknya." Kini tangisan yang selama ini Lia pendam mulai pecah mengalir membanjiri kedua pipinya yang kenyal. Saat ini tak ada kata yang bisa keluar dari mulutku selain dari mengusap kepala Lia dan menghapus air mata penderitaannya.
Sebagai orang yang termasuk dekat dengan Lia dari sekolah sampai sekarang. Aku bisa merasakan kesedihannya yang begitu mendalam, bagaimana tidak sebelumnya mereka saling mencintai, melindungi, bahkan tak pernah lepas dari berkabar satu sama lain, bisa hancur hanya dengan satu orang baru di satu pekerjaanya. Aku tidak tahu perempuan itu, tahu atau tidak bahwa Bobbi sudah bertunangan dan akan menikah dalam waktu dekat dengan Lia.
***
Aku bahkan tidak bisa menemani sahabatku di saat dia butuh tempat curhat. Sudah 2 minggu lamanya sejak mas Abhi pulang dari Cirebon, sebagai istri menurut hukum dan agama aku harus menemani mas Abhi yang kini menjadi suamiku.
"Mas, diminum teh nya," malam ini aku buatkan mas Abhi kue pukis coklat buatanku. Ku suguhkan kepada mas Abhi yang ada di balkon, ia meminum teh hangat dan melepas senyum manis kepadaku setelah meletakkan cemilan yang ku bawa untuknya.
"Terima kasih,ya," ku balas dengan anggukanku.
"Ada apa?" tanya mas Abhi.
__ADS_1
"Apa tentang Lia?" tebakan mas Abhi memang selalu benar dan entah apa yang ia milikki seolah mempunyai indra ke 10 saja bisa menebak apa yang aku fikirkan, tidak perlu cape merangkai kata untuk menceritakannya, mas Abhi sudah langsung tahu ke intinya.
"Aku kasihan melihat Lia, mas. Rasanya ingin sekali aku membantu menghilangkan rasa sakit yang sudah pasti sangat menyakitkan baginya. Lia sahabatku dari kecil, ia bukan wanita nakal, dia juga bukan wanita matre, hanya saja dia sedikit bodoh dan ceroboh, juga sedikit kotor. Aku rasa itu tidak ada masalah," ku lihat senyum mas Abhi yang kembali mengembang saat ku ceritakan watak dan kebiasaan sahabat terbaikku itu.
"Bobbi juga lelaki lugu dan baik,mereka sangat dekat. Begitu sangat menjaga kepercayaan masing-masing, tak pernah absen selalu saling memberi kabar. Mereka pun saling mensupport satu sama lain. Tapi, kok bisa tergoda oleh satu wanita baru yang belum ia tahu watak nya. Jadi penasaran seberapa cantik wanita penggoda itu, dan kenapa begitu tega memisahkan mereka berdua yang sudah jelas-jelas saling mencintai dan sedikit lagi akan berstatuskan suami istri," ku pegang erat pagar balkon yang berdiri kokoh di depanku seakan menahan amarah dan kekecewaan.
"Lagi pula, wanita itu tidak tahu diri sekali. Kalau pun tidak tahu kalau si Bobbi itu sudah tunangan, harusnya sebagai wanita bisa memilih, memilah dan menimbang dari segala aspek. Bobbi pun aneh, bisa-bisanya tergoda dengan wanita yang baru apalagi yang jelas-jelas wanita itu bukan tunangannya dan tidak dia kenal dengan baik sebelumnya dasar lelaki tidak punya perasaan," Lirikku. Rasanya aku bukan hanya menceritakan kisah Lia dan Bobbi tapi juga unek-unek sendiri yang masih memikirkan tentang wanita yang mas Abhi antar ke Cirebon itu.
"Rasa suka itu memang tidak bisa di kendalikan apalagi ke yang bukan muhrim. Rasa itu seperti menggebu - gebu seperti akan mengikuti lomba. Tidak bisa juga memilih. Hanya saja, tinggal kita bagaimana menyikapi perasaan kita, apakah akan berlanjut apa tidak." ucap mas Abhi.
"Mungkin saja, saat Bobbi penasaran dan si wanita membalas nya lalu mereka mengerti akan kode satu sama lain dan tidak kuat, ya akhirnya seperti sekarang." jelas mas Abhi.
"Oh, jadi setiap laki-laki seperti itu ya. Memang yah, sepertinya semua laki-laki seperti itu. Berarti menikah dan tidaknya itu tidak akan menjadi hambatan besar jika mereka saling mengerti kode, yah." ucapku dengan sedikit kesal berharap mas Abhi mengerti apa yang aku maksudkan.
"Buktinya itu si Bobbi dan juga mas Abhi bilang kode-kode seperti itu, apa maksudnya?" tanyaku penasaran.
" Ada istilah cinta tak harus memiliki, jodoh Allah yang atur, bahkan ada juga yang tadinya tidak kenal jadi kenal yang di jodohkan tidak saling cinta bisa malah awet rumah tangga mereka dan harmonis saling menyayangi satu sama lain," senyum mas Abhi kembali mengembang sambil menatapku dan mengusap rambutku, sehingga sedikit membuatku gugup.
"Aku tidak mengerti," balasku ketus sambil membalikkan tubuhku membelakangi mas Abhi karena gugup.
"Ingat, kita menikah karena apa? kecelakaan yang tak di sengaja sehingga mengundang fitnah dari setiap mata yang melihat saat itu. Kita tidak saling kenal, tak pernah bertemu juga tapi tiba-tiba di jodohkan hanya karena kejadian yang tak di sengaja. Dan buktinya rumah tangga kita sudah menginjak 5 bulan baik-baik saja. Bahkan...." mas Abhi tak meneruskan kata-katanya, ia membalikkan tubuhku hingga menghadapnya.
"Aku gugup, deg-deg an rasanya. Melihat wajah sedikit ke arab-araban, menatap mata yang sendu dengan alis tebalnya serta bulu matanya yang lentik. Ya Allah, sungguh indah ciptaan Mu." gumamku dalam hati.
Mas Abhi melemparkan senyum yang manis dan kalem, sesekali giginya terlihat karena senyum manisnya melebar sebentar-sebentar. Kami saling menatap, aku dan mas Abhi semakin mendekat, kini wajah kami hanya terhalang dengan sejauh kuku saja. Nafas dari hidung mas Abhi yang mancung terasa sampai ke wajahku, "Mas," ucapku. Tapi mas Abhi menghiraukanku, tatapannya kini bukan ke mataku, tapi sedikit ke bawah yakni bibirku. Ya, aku yakin ia menatap ke arah bibirku, akupun melakukan hal yang sama. Semakin dekat ia, mas Abhi memiringkan kepalanya ke sisi lain. Wajah kami kini benar-benar semakin dekat. Tak terasa mataku kini terpejam dan...
__ADS_1
Cekrek....!
Suara pintu terbuka, aku yang sadar langsung mendorong mas Abhi tapi karena mas Abhi begitu kekar dan kuat malah aku sendiri yang terdorong ke belakang. Sontak mas Abhi memegangi tubuhku karena hampir jatuh.
Aku buru-buru mengambil air teh yang tadinya di suguhkan untuk mas Abhi.
"Kalian sedang apa, belum tidur, sudah jam 11 malam juga," tanya Andi dengan polos.
"Ka, kami?" ucap mas Abhi terbata-bata.
Aku yang tak menjawab dan terus meminum teh sampai habis, entah kenapa dirasa udara terasa panas tiba-tiba.
Setelah teh mas Abhi ku habiskan, aku pamit ke atas untuk membersihkan diri dan tidur.
"Oh, iya mas ini tadi berkas dari klien. Dia minta aku membawakannya langsung, di dalam juga berisi cek. Aku dapat komisi yah, hehehe," ucap Andi.
"Hmm, oh iya," Mas Abhi mulai membuka berkas setelah masuk ke dalam dan menutup pintu kaca balkonnya.
"Astaghfirullah," mas Abhi mengucap sambil mengusap wajahnya.
***
Di kamar...
"Ada apa tadi itu, apa yang dilakukan mas Abhi, dan, dan kenapa aku...," Aku menepuk-nepuk kepalaku lalu membaringkan tubuhku setelah selesai dengan semuanya.
__ADS_1