Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Klien


__ADS_3

"Disini?" Mas Abhi memberhentikan mobil di sebuah komplek rumah.


"Iya, disini." Andi turun dari mobil lalu mengambil tas nya.


"Kamu yakin gak usah kami tunggu?" Andi melihat ke arahku. "Nggak usah, aku masih ada urusan nanti aku pulang sendiri." Andi pergi ke jalanan komplek, entah rumah mana yang akan ia tuju, mas Abhi pun mulai menginjak gas mobilnya dan melaju dengan teratur.


"Mas,"


"Hmm?"


"Kita mau kemana?" tanyaku karena penasaran mas Abhi tidak memberitahukan tujuannya.


"Oh, mas ada janji ketemu klien. Karena klien mas suruh bawa pacar jadi mas bawa istri mas saja," Raut wajah mas Abhi tanpa beban ketika mengatakan itu, tapi aku masih belum bisa membuka hati sepenuhnya.


"Kamu gak keberatan kan?"


Aku menghela nafas dalam-dalam lalu menggelengkan kepalaku. Tak ku timpali lagi omongan mas Abhi, aku hanya fokus melihat lurus ke depan.


***


"Huh?"


"Ini...,"


"Kenapa?" Mas Abhi mengunci pasti kendaraanya.


"Katanya mau bertemu klien, tapi kenapa ke hotel?"


"Dia ingin mas menemuinya disini," Mas Abhi melangkah pasti ke depan menuju tempat kliennya.


Saat di lantai 21 pintu lift pun terbuka lebar, aku dan mas Abhi keluar dari lift dan mencari ruangan yang di sebutkan klien mas Abhi.


"Wah, kenapa klien mas Abhi sampai meminta bertemu di sebuah hotel, sih. Masa iya meeting sampe harus di hotel," gumamku sambil terus melangkah di belakang mas Abhi. Sampai akhirnya mas Abhi berhenti di satu pintu bernomer.


Ia menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya dan...Srett, kini tangan mas Abhi merangkul pinggangku dan mendekatkanku kepada dirinya hingga tercium wangi parfum dari tubuhnya membuatku sedikit syok dan seketika jantungku seolah mau loncat.


"Tu, tunggu dulu!" Reflek ku dorong tubuh kekar mas Abhi hingga sedikit bergeser.


"Kenapa?" mas Abhi menatap heran padaku.


"Tidak, hanya saja, barusan, itu, tadi..." Aku bahkan tak mampu berkata lancar hingga ku dengar suara pintu di buka.


Mas Abhi kembali menarik pinggangku hingga kami berdempetan.


"Mas!" Bisikku.


"Maaf, sebentar saja,ya." Mas Abhi melempar senyum canggung padaku.

__ADS_1


"Oh, pak Abhizar bagaimana kabar anda. Hehehe," seorang wanita menyapa dengan senyum semeringah.


"Iya," jawab mas Abhi.


"Eh, ini siapa ya kenapa ada disini?" Wajah wanita itu seketika jadi sinis saat melirik ke arahku.


"Oh, ini istri saya. Kebetulan sekali istri saya sedang makan di sebuah resto dekat sini, jadi aku ajak sekalian untuk menemani kita meeting. Sayang, kenalkan ini Nyonya Sani." Wanita itu melirik tajam ke arahku, ia melihat dari atas ke bawah dari bawah ke atas seolah tak ada sudut yang ia lewatkan.


"Halo," Aku menyapa canggung. Wanita itu melengos mempersilahkan mas Abhi untuk masuk tanpa menghiraukan ku, untung mas Abhi tidak lupa pada istrinya hingga ia mengajakku masuk juga.


Terlihat ada dua pelayan sepertinya di khususkan untuk melayani Nyonya Sani ini. Saat kami masuk, sofa langsung menyambut kita lalu di sampingnya terdapat tempat tidur yang besar. Tersedia juga pantry hanya sebagai hiasan.


"Sepertinya usia Ny. Sani sekitar 50 lebihan karena kelihatan kerutan-kerutan di leher nya," gumamku lalu duduk di sofa yang di sediakan.


"Lalu, Nyonya mau membahas tentang apa?" mas Abhi langsung bertanya ke intinya.


"Sepertinya mas Abhi ingin cepat menyelesaikan meetingnya dengan nyonya tua ini," gumamku dalam hati.


Mobil di hidupkan, mas Abhi mulai menginjak pedal gas perlahan memundurkan mobilnya untuk dapat keluar dari parkiran. Ia membantuku mengikatkan seat belt hingga wajahku dengan mas Abhi berdekatan.


"Jadi, tujuan mas itu membawaku karena takut?" tanyaku memulai percakapan agar suasana tidak canggung.


" Sebenarnya bukan takut karena itu, Ny. Sani mengajak meeting di hotel, jadi mas rasa mas harus mengajak istri mas."


"Sama saja kan itu mas sebenarnya takut. Bagaimana tidak takut yang mendekati mas Abhi lebih cocok jadi nenek mas, heheh" Aku terkekeh menertawakan kejadian tadi.


Mas Abhi hanya diam dan melempar senyum tipisnya.


Sebenarnya mas Abhi orang baik, selain dari wajahnya yang tampan dengan tubuh yang maskulin,ia adalah suami yang bertanggung jawab dan perhatian. Dia juga orang nya rajin ibadah dan mempunyai sifat mengalah.


"Hanya saja, rasanya aku tidak pantas..." gumamanku terhenti tatkala Hp ku bergetar.


Dret...dret...dret...


"Han, dinner bareng yuk. Kami tunggu yah di resto x"


"Dari Lia, apakah dengan Bobi juga?"


"Kamu lapar?" Langsung ku anggukan kepalaku.


"Mas inget Lia kan, Lia mengajakku makan malam hari ini."


"Dimana?"


"Di Mall kemarin saat mas Abhi jemput Andi," jawabku. Mas Abhi dan aku kini menuju tempat Lia.


Dret ..dret...dret.... Hp mas Abhi bergetar. Segera ia mengambil nya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, ya Hallo Syah. Sedang di jalan mengantar..."


"Dimana, aku kesana." Mas Abhi mengencangkan injakan gas mobilnya hingga mobil itu sedikit lebih cepat melaju.


Tak lama mobil sudah terparkir di sebuah Mall yang di tuju.


"Mas, gak bisa ikut makan malam dengan teman mu hari ini."


"Mungkin lain kali," Ku lihat wajah mas Abhi seperti yang cemas.


"Mas memangnya mau kemana?"


"Ada urusan sebentar," jawabnya.


Aku hanya mengangguk tak lama mas Abhi pergi dengan mobilnya.


"Ada apa ya, tadi ku dengar mas Abhi ngomong Sah. Siapa?"


Dret...dret...dret...


"Ya Hallo,Li dimana?" Aku mulai mencari ke beradaan Lia di dalam Mall lantai ke 2.


"Disini!" Lia mengangkat tangannya. Aku menghampirinya ku kerutkan keningku saat ku jumpai bukan hanya Lia tapi juga Andi sepupu mas Abhi.


"Kemana Bobi?" ucapku dalam hati.


"Maaf yah agak lama. Tapi, kenapa kamu disini?" Lia menyuruhku duduk terlebih dahulu sebelum ia menjawab.


"Begini, ternyata orang ini adalah rekan kerja baru ku di kantor x. Dia yang di tugaskan bos di kantor ku untuk memantau kinerja para staf nya," Lia melempar senyum pada Andi.


"Oh, begitu." Aku mulai memesan makanan dan minuman kepada pelayan.


"Ngomong-ngomong, mas Abhi kemana. Gak ikut?" Andi bertanya dengan wajah yang heran.


"Dia ada urusan katanya, karena itu gak bisa ikut makan." Menu makan malam sudah di antarkan satu persatu hingga semua sudah terhidang di atas meja, kami mulai memakannya dengan sesekali berbincang.


Aku membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin, padahal AC nyala tapi entah kenapa rasanya dahaga sekali.


"Udah kayak lari maraton saja minum air dingin setengah botol gede masuk ke dalam perut mu,"ku lirikan mataku kepada Andi.


"Jangan membuatku takut dengan lirikan tajammu itu," Andi mengambil botol aqua yang baru saja aku minum lalu menuangkannya ke gelas dan ia juga meminumnya."


"Dia sendiri minum," pekik ku.


"Sepertinya mas Abhi belum pulang," gumamku.


"Huh?" Andi merespon.

__ADS_1


"Tidak ada, aku istirahat selamat malam."


Bersambung...


__ADS_2