Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
pov Abhizar II


__ADS_3

Bhi kita nginep dulu di hotel terdekat habis itu kita pergi ke tempat teman bapak itu,ya." Bapak menyarankan.


"Abhi ikut bapak saja, kebetulan di sekitar sini juga ada klien yang mau Abhi temui. Kami janji ketemuan di salah satu cafe." jawabku


"Ketemuan dimana?" tanya bapak lagi.


"Di cafe tempat biasa keluarga kita kumpul,pak." jawab ku


"Baiklah kalau begitu," Pak kiyai dan Abhipun langsung turun menuju hotel untuk memesan kamar. Sementara Abhi langsung pergi untuk bertemu klien di salah satu cafe yang dekat dengan hotel tempat ku dan bapak menginap.


****


"Pelayan..." salah satu pelayan laki-laki mendekati untuk menuliskan pesanan.


"Tolong pesan makan nya ini,dan ini 4 porsi ya semuanya dan minumnya..."


"Pak Abhi mau pesan apa minumnya?" tanya salah satu klien wanita.


"Oh, saya jus jeruk saja." Jawab Abhi lalu meneruskan meeting mereka setelah selesai memesan, dan tak lama pesananpun sampai. Tak lama Abhi pun berniat melihat-lihat pemandangan di sekitar cafe karena sudah waktunya istirahat karena meeting di siang itu sudah selesai dan yang lainnya sedang makan.


"Bbuk...!" Salah satu pelayan menubruk Abhi yang sedang memegang jus jeruk seketika minuman itu jatuh mengenai kaos putihku.


Aduh, mohon maaf. Maafkan saya," Wanita itu mencoba membersihkan jus jeruk yang tumpah di kaos putih ku.


"Wanita itu terlihat panik, dia mengambil kain lap yang tertempel di pundaknya dan mencoba membersihkan noda yang ada di bajuku.


Sampai saat tangannya mulai membersihkan ke perutku, aku memegang tangannya. Entah kenapa rasanya aneh, jantungku berdegup kencang sampai tak sadar aku memegang tangan seorang wanita yang bukan muhrimku. salah seorang klien wanitaku membentak dan membuatku sontak kaget.


Wanita itu masih menunduk tak memperlihatkan wajahnya kepadaku. Aku ingin melihat wajahnya,sampai aku pergi akupun belum bs mengetahuinya. Sampai saat aku keluar dari toilet, aku melihatnya.Melihat wanita cantik itu dengan jelas, tak sadar sampai akupun tersenyum.


***


Mobil pun tiba di sebuah rumah yang sederhana tapi luas dengan halaman. Bunga- bunga berjejer menghiasi halaman utamanya.


Akupun masuk saat di sambut oleh teman bapak itu. Kami berbincang di dalam sampai ada yang mengantarkku minuman. Alangkah kagetnya bahwa yang mengantarkanku minum adalah karyawan di cafe milikku tadi.

__ADS_1


"Nama nya Honey, ia datang saat mengantarkan minuman dan beberapa cemilan ke atas meja.


***


" Tampan sekali anak pak kiyai, jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat pria tampan tadi," Begitulah kira- apa yang aku dengar dari bibir wanita itu. Aku yang mendengarnya tersenyum dari balik punggungnya.


"Ini, pisau," ku berikan pisau itu.


***


Setelah selesai maulid ( ceramah )akupun kembali kerumah pak pamungkas. Aku mengobrol sebentar dan pamit ijin untuk membersihkan diri. Tapi sebelum itu aku harus ke kamar dahulu sekedar mengambil pakaian ganti.


"Huh? siapa yang ada di kamar, setelah ku nyalakan lampu. Betapa kagetnya Honey berada di kamar, spontan langsung ku tutup mulutnya takut membuat ramai, saat dia mau pergi tiba-tiba kakinya tersandung, aku yang berniat menolongnya juga malah merobek pakaiannya dan ikut jatuh hingga kini posisi kita seperti sepasang suami istri. Alangkah kagetnya saat kami di pergoki orang tua kedua belah pihak. Sampai ku lihat wanita itu menangis dan memohon-mohon agar tidak di tikahkan. Tapi hasil nihil, tetap saja kami menikah saat itu juga dengan cincin yang di berikan nenek kepadaku sebelum pergi kesini. Dan benar saja cincinnya cukup di jari tengahnya.


Aku tak percaya hanya dalam satu malam saja aku menikah dengan seorang wanita yang bahkan aku tak tahu asal-usulnya, kebiasaanya, dan ketaatannya.


Saat itu aku melaksanakan shalat subuh, tapi Honey malah tertidur nyenyak. Aku tak sanggup membangunkannya, sepertinya dia lelah sepanjang malam menangis.


"Biarlah, untuk kali ini saja. Untuk pertama kalinya aku menanggung dosa-dosa istriku.


***


Akupun mencoba mendekatinya dan berkata.


"Abhi, namaku muhamad Abhizar Albiru, saat ini telah menjadi suamimu maka kamu harus taat padaku." Wajah kami berdekatan, matanya yang bulat dan bibirnya yang tipis dengan dagu yang seperti bulan sepasi istilah sunda nya. Dia memalingkan wajahnya dari pandanganku. "Ah, imut sekali..."gumamku seakan ingin memgang wajahnya.


Ia pun bangun dari tidurnya saat ku sadar di celana tidurnya tertempel bercak darah. Ku ambil handuk yang ada di dekat kursi riasnya, ku tutupi dengan handuk. Saat ia tersadar dan ku beri tahu bahwa ia sedang halangan, iapun pergi dengan sedikit berlari ke kamar mandi.


Aku yang melihat itu tertawa kecil, menyaksikan tingkahnya yang seperti anak kecil.


"Entahlah bagaimana rumah tangga dadakan kami ini akan awet atau tidak. Aku bahkan blum sempat berdo'a untuk berjodoh dengannya, Allah sudah langsung menjodohkannya.


"Benar kata orang-orang jodoh memang jorok,"


***

__ADS_1


"Iya ,pak. Abhi akan membawanya ke apartemen Abhi dulu sekalian mengurus semua dokumen-dokumen pernikahan agar secepatnya resmi menerima surat nikah. Sekalian mengurus dulu kerjaan Abhi," ucapku saat telponan dengan bapak.


"Abhi sudah sampai rest area, sedang makan. Honey baik-baik saja, sepertinya ia lelah. Baik pak, tolong kalau bapak tidak keberatan suruh asisten rumah membereskan apartemen Abhi khususnya kamarnya, juga sediakan kebutuhan wanita di kamar mandi seperti di tempat-tempat spa, karena teman kerja Abhi suka ke tempat spa. Jadi sepertinya Honey pun akan suka, sekalian pak, maaf Abhi minta tolong lagi. Neri hiasan di atas sprei bunga mawar dan juga perhiasan yang ditinggalkan ibu untuk Abhi beri ke istri Abhi.


"Baik, iya... terima kasih banyak pak. Assalamu'alaikum."


"Dan perjalanan saling mengenalku dengan istriku akan di mulai dari sekarang," gumamku.


Tak sedetikpun pandangannya teralihkan, sepanjang peejalanan yang ia padang hanyalah ke jalanan raya. Ku tegurpun tetap tak mendapatkan reaksi.


Terlihat garis bening di kedua pipinya dengan linangan di kedua bola matanya, terlihat dari kaca mobil yang terpantul.


Ingin ku katakan "Mulai sekarang akulah imam mu, aku akan menanggung dosa-dosamu dari sekarang akupula yang akan menanggung semua beban yang selama ini kau tanggung untuk keluargamu."


Rambutnya yang panjang hitam berkilau terikat tak begitu mengikat karetnya. "Aku mencintaimu sejak pandangan pertama dan Allah seketika telah menghalalkan kita."


Di apartemen.


"Apa kau sudah gila, kita ini sudah menikah Ha!," teriakku padanya yang seketika itu langsung terdiam.


Ia memohon untuk mengajakku berkomitmen dalam satu kertas agar tidak saling bersentuhan dan tidak saling kepo tentang apapun mengenai privasi masing-masing. Aku pergi, aku marah aku tak mampu lagi berkata-kata tak tahu iblis apa yang singgah di fikirannya hingga ia memintaku syarat.


"Dasar bodoh," aku menyeruput kopi dan sebuah rokok di sisi cafe dekt jendela.


Malam hari..


Aku melihatnya tak mampu lagi berkata, wajahnya yang manis kini tek bercahaya, matanya sembab.


"Sepertinya semalaman ia menangis dan tidak tidur,"


Pada akhirnya aku tanda tangani juga kertas tak berguna ini.


"Percuma saja, aku tak mudah melepaskan seseorang."


Aku hanya bisa bergumam dalam hti dan fikiranku, berharap suatu saat kau mampu menerimaku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2