
Disaat bersamaan aku yang sedang memikirkan cara untuk memberikan lagi suatu alasan. Kini aku di cengangkan dengan sesuatu.
Sebuah mobil alphard yang aku kenali baru saja terparkir di halaman parkir uang di sediakan, tepat di depan tempat duduk yang pas posisi duduk kami mobil itu terparkir. Karena itu aku bisa melihat jelas plat nomornya.
"Astaga! apalagi ini," gumamku.
Kulihat benar saja yang keluar dari mobil itu adalah mas Abhi, suamiku. Bersama dengan 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan menuju ke restoran.
"Kalau begitu aku ke toilet dulu," Sandy memotong konsentrasiku melihat yang baru saja turun dari alphard. Dirasa itu kesempatan bagus akupun meng iyakannya.
"Mmau ke wc, ya udah sana pergi cepet. Agak lama ya," kataku yang masih dengan posisi memperhatikan mas Abhi yang berjalan menuju restoran tempatku ketemu dengan Lia dan Sandy.
Sandy yang heran melihat tingkahku dan berbicara dengannya tapi mataku terap fokus di belakang Sandy merasa heran. Beruntung posisi Sandy duduk membelakangi jendela jadi mas Abhi gak akan tahu kalau yang duduk adalah Sandy pacarku. Saat Sandy akan menoleh ke belakang, buru-buru aku memegang wajahnya agar melihat ke arahku.
"Mmau ke toilet kan, iya kan? ya udah sa, sana." Aku sedikit mendorong Sandy untuk buru-buru pergi ke toilet sebelum mas Abhi masuk ke dalam. Sandy pun pergi, sampai ku balikkan kembali wajahku. Mas Abhi sambil berjalan sedang melihatku dengan tatapan tajam, seakan dia ingin mengatakan sesuatu.
Diapun kembali fokus pada lelaki dan kedua wanita yang bersamanya kini.
"Ba,bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan," otakku rasanya mau pecah memikirkan hal yang harus dilakukan. Sementara mas Abhi semakin dekat, ia semakin dekat dan dekat sampai ia berhenti tepat di depanku.
"M,mas..." Kataku dengan terbata. Mas Abhi menatapku seakan ada yang ingin dia tanyakan.
"Siapa ini?" tanya Lia. Kulihat ketiga kliennya mas Abhi pun heran saat mas Abhi berhenti di depanku.
"Han, siapa dia?" tanya lagi Lia kini dengan bisik-bisik.
"Di dia..."
"Aku Abhizar panggil saja Abhi aku suaminya Honey atau biasa dipanggil Han," mas Abhi memperkenalkan diri pada Lia yang tentu saja seketika itu matanya melotot dengan bibir yang terbuka, tak beda jauh dengan ketiga temannya itupun kulihat mendapatkan reaksi yang sama.
"Honey..., laki-laki ganteng ini suamimu, kapan kamu?" kata-kata Lia terbata-bata tapi teratur dengan tiap perkataannya.
Yang aku fikirkan saat itu bukanlah masalah mas Abhi suamiku atau bukan, tapi bagaimana kalau Sandy keluar dari toilet.
"Ha, halo" hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku. Seakan terkunci fikiranku sampai tidak bisa mengatakan hal lain.
Ada beberapa reaksi berbeda yang di tujukkan ketika aku say halo pada mereka. Kedua perempuan itu menyengirkan bibir atasnya seakan mereka berkata dan menghardikku.
__ADS_1
"Istri pak Abhi? mana mungkin seperti ini"
"Kampungan sekali, tidak satu level dengan pak Abhi,"
Begitulah kira-kira reaksi yang ada difikiran mereka.
mas Abhi melemparkan senyum kepada Lia di balas dengan Lia yang terkesan genit.
"Si Lia, nyari kesempatan dalam kesempitan!" gumamku dalma hati ketika kulihat ia melemparkan senyum gatal pada mas Abhi.
Akupun seakan di jatuhi buah durian, Sandy sedang berjalan menuju ke arahku. Seperti "kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga" mungkin kata-kata itu tepat untukku dalam situasi seperti ini.
"Li,Lia" aku menyikut Lia berharap sahabatku bisa ngeh dengan maksudku.
"Apa?" kata Lia.
"I,itu..." aku berkata tapi berusaha mulutku tidak terlihat berbicara, hanya mataku saja yang lincah memberikan kode pada Lia berharap secepatnya ia sadar apanyang aku maksud.
" Sandy semakin mendekat saja, Liapun tetap tidak mengerti. Aku pasrah saja," fikirku karena sudah tidak mungkin. Berharap keajaiban terjadi, Mana mungkin akupun tiba-tiba menyuruh mas Abhi pergi.
"Tadi suami anda?" tanya mas Abhi pada Lia tapi melirik ke arahku.
"Hah?" Lia heran ketika mendengar nya, mungkin fikirnya "Siapa, Sandy, suami saya?" begitulah mungkin sehingga reaksi Lia seperti itu.
"Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus pura-pura pingsan saja?" dalam situasi itu akupun masih memikirkan rencana bodoh dan Sandy pun semakin dekat hanya tinggal beberapa langkah saja.
"Pak, sebaiknya kita cepat-cepat karena takutnya calon investor kita menunggu." Lelaki yang bersama dengan mas Abhi mengingatkan mas Abhi untuk cepat-cepat menemui tamu pentingnya. Mas Abhi sedikit melirikku lalu mas Abhi pun pergi bersama para kliennya menuju ruang atas yang memang hanya di sediakan untuk yang mau meeting atau family time.
Aku segera menyikut Lia setelah mas Abhi perlahan pergi melangkah menjauhiku.
"Itu, Sandy..." kataku pada Lia untuk mencegahnya sampai. Tunggu mas Abhi naik tangga dulu,
Akhirnya Lia pun mengerti dan menghampiri Sandy. Beruntung saat mas Abhi melirik ke arah belakang tepat saat itu Lia berhasil menghadapkannya ke arah Lia sehingga kini Sandy membelakangi mas Abhi.
"Ada apa Li?" tanya Sandy. Lia pun pura-pura menepuk-nepuk bahu Sandy. Sandy yang keheranan segera menepiskan tangan Lia.
"Apaan sih," kata Sandy saat melihat Lia seperti itu.
__ADS_1
Akupun mengambil nafas dan mengeluarkannya. Lega saat ku lihat mas Sandy sudah tidak terlihat lagi di tangga, mungkin.
Akupun mengedipkan mata ke arah Lia, semua keadaan membaik seperti semula. Lia pun hampir keceplosan tapi segera aku alihkan.
"Sand, Li, kita pindah tempat saja yu? ajakku karena takut mas Abhi tiba-tiba ke bawah.
"Kemana lagi?" cetus Lia.
"Kemana aja ayo ah, jangan disini" aku mengajak dan menarik tangan Sandy.
"Kita mau kemana, Han?" tanya Sandy.
"Udah ih ayo kita cari tempat lain, yuk." ajakku masuh kukuh.
Sandy pun mengiyakan lalu membayar makanan dan minuman yang aku pesan. Lalu kamipun pergi ke tempat lain untuk ngobrol.
Di dalam mobil aku duduk di depan dengan Sandy sementara Lia duduk di belakang.
"Lega rasanya, untung mas Abhi gak tahu. Kalau ketahuan bisa-bisa aku yang di cap jelek. gara-gata dia nih," gumamku sambil mengarahkan pandanganku pada Sandy.
"Kamu ini kenapa, yank? tanya Sandy.
"Eh, gak apa-apa." jawabku singkat sambil mengelapkan tisu ke sekitar wajahku, berkeringat sepertinya karena tadi.
"Lalu kenapa tiba-tiba ingin pindah tempat?" tanya nya lagi.
"Gak tahu rasanya sumpek saja, padahal hanya beberapa pengunjung saja. Tapi rasanya panas," jawabku ngasal.
"Apa kamu sakit?" Sandy memegang dahiku memastikan
"Tidak kok, aku baik-baik saja." Akupun melepaskan tangan Sandy dari jidat paripurnaku.
dret...dret...
[ awas ya kalau setelah ini gak menjelaskan semuanya! ] .Lia mengirim Whatshap mengancamku.
[ iya, pokoknya aku ceritakan semuanya ] ... balasku.
__ADS_1
"Hampir saja" gumamku.
Bersambung...