Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Kebenaran Aisyah


__ADS_3

"Ada yang mau aku ambil, maaf." Andi melengos ke dalam apartemen Abhi dan berjalan ke atas mengambil beberapa baju milikku dan juga tas dompetku.


"Apa Honey ada dirumahmu?" Mas Abhi menarik tangan Andi sehingga langkah Andi terhenti.


"Kalau dia ada disini memangnya kenapa?"


"Kenapa dia menginap di apartemen mu?"


"Heh, kenapa, tanya pada dirimu sendiri mas. Atau... mungkin wanitamu memang lebih menyukaiku dan nyaman bersamaku daripada dengan suaminya sendiri,"


"Andi...!"


"Kenapa, kau takut aku mengerjai Honey. Sejak kapan kau peduli pada wanita. Bahkan saat mbak Aisyah menghianatimu pun kau tak peduli,"


"Tutup mulutmu, jangan pernah menyentuhnya jika tidak?"


"Jika tidak, apa yang akan kamu lakukan?"


Andipun melengos pergi tanpa basa-basi lagi. Abhi tertegun diam seperti patung.


***


Brukk....


Sebuah tas, pakaian dan dompet di lempar Andi di atas meja.


"Apa ini?"


"Buta yah, itu kebutuhanmu," Andi mengambil salah satu belanjaan lalu memasukkannya ke dalam oven dan di panaskan.


"Aku tahu tapi dari mana kau dapat ini, apa kamu pergi ke kantor atau ke apartemen mas Abhi?" aku mengira-ngira.


"Mmm, tebak kemana aku pergi, ke kantor dulu atau apartemen?"


"Ah percuma debat denganmu gak pernah ada yang serius," Tiba- tiba Andi menarikku hingga kini aku terbaring di sofanya dan Andi berada di belakang di atasku mendekatkan wajahnya kepadaku.


" Kau ingin aku yang serius, seperti ini apa kau yakin tidak akan apa-apa?" pekiknya.

__ADS_1


Aku tak menjawab, tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di bibirku. Jantungku berhenti sejenak, nafasku ku tahan aku mendorong Andi sampai ia tersungkur.


"Astaghfirullah hal'adzim....bayanganku!" gumamku.


Ternyata Andi tak melakukan apa-apa itu semua hanya bayanganku saja, karena posisi wajah Andi berdekatan dengan wajahku.


Aku memperbaiki duduku dan Andipun dikejutkan oleh makanan yang ia panaskan di oven tadi.


"Nih," Ia menyodorkan sebuah makanan instan berupa nasi kare yang sudah terhidang di dalam mangkuk yang terbuat dari bahan Stereofom beserta dengan bumbu-bumbunya.


Gak kebayang ternyata selama di apartemen tinggal sendiri ia tak pernah makan dengan baik, satu hari ini saja ku perhatikan makanan yang ia lahap semua instan.


"Bukankah itu gak baik buat kesehatan," gumamku.


"Kamu tiap hari makan seperti ini semua instan, memangnya kamu tidak bisa masak?" tanyaku.


"Malas, lagi pula yang instan lebih praktis dan enak tidak seperti buatanmu yang selalu nasgor atau tekur ceplok bahkan sandwich bosen, kalau beli makanan gini kan selain praktis juga banyak pilihan," Jawabnya tanpa dosa.


"Kau ini tidak bisa yah sekali saja tidak mengejekku," gumamku.


"Tidak, itu fakta." Aku beranjak dari dudukku tanpa memakan makanan yang ia sodorkan untuk sarapan. Kubuka pintu kulkas dan tidak ada apa-apa hanya minuman air mineral dan juga berbagai jus yang berjejer rapi di dalamnya.


Andi tak menghiraukan omelanku yang seperti nenek lampir, nyerocos tidak karuan. Ku perhatikan kesukaan Nadi dan Abhi tidak jauh beda sepertinya, mas abhipun di kamarnya bernuansakan warna cat hitam putih. Aku dengan orang yang suka warna hitam orangnya misterius dan tidak mudah di tebak.


"Ya memang tidak salah, mas Abhi pun tidak mudah di tebak, covernya seperti soleh taunya begajulan juga!" pekikku dalam hati.


Akupun kembali duduk dan akhirnya menyerah, menyendokki makanan yang Andi sajikan.


"Kamu gak kerja?" tanyaku.


"Kamu juga tidak kerja," jawabnya.


"Aku kan memang sedang tidak kerja," jawabku.


"Kenapa?" aku terdiam mendengar pertanyaannya.


"Karena ada masalah dengan mas Abhi, atau karena kau kecewa dengannya lalu menjadi alasan bahwa kamu tidak usah bekerja?"

__ADS_1


"Bukan begitu, aku..."


"Atau karena kau istri dari seorang bos bisa seenaknya pergi atau tidak pergi. Kau bahkan tidak mampu mempertanggung jawabkan pekerjaanmu bagaimana bisa kau mempertahankan sebuah rumah tangga," aku mendelik saat Andi berkata seperti itu.


"Dewasalah," aku diam.


"Kau pasti tahu hubungan mas Abhi sebelumnya dengan wanita itu,kan?"


"Bagaimana bisa kau tidak mengatakannya kepadaku?"


"Jika ku katakan apa kau akan percaya, begitu?"


"Setidaknya kau tidak membiarkan mas Abhi menerima pelakor itu,"


"Jika aku berkata sebenarnya bukan dia yang pelakor, tapi kamu. Kau hadir begitu saja diantar hubungan mereka bahkan langsung menjadi istri mas Abhi langsung. Aku yang mendengarnya saat itu cukup terkejut, karena itu aku pulang menyusul mas Abhi untuk memastikan."


"Aku cukup terkejut dengan pernyataan Andi bahwa sebenarnya akulah perebut mas Abhi dari Aisyah."


Dret...dret...dret


"Halo, iya, sebentar." Sementara aku terdiam Andi membukakan pintu karena ada tamu yang datang yang tiada lain adalah mas Abhi.


"Han, " Aku sontak berdiri membalikkan badanku ke hadapan mas Abhi.


"Mas, Abhi." Suaraku bergetar aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya.


Aku Honey, sekali lagi aku telah merasakan betapa sakitnya menjadi penghalang sekaligus perusak hubungan dua insan.


Mas Abhi yang sadar akan kesedihankua ia menarikku dan membawa tasku keluar, pergi meninggalkan Andi sendiri disana.


Di mobil, aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Pak Tarno seperti biasa selalu menjadi saksi pertengkaran kami berdua, ia arahkan kaca mobil ke atas sehingga tak bisa melihat kami berdua.


Mas Abhi menggenggam tanganku yang dingin, kini aku berada di apartemen, mas Abhi duduk di hadapanku di bawah, ia menatapku, mengusap air mata yang keluar dari pelupuk mataku.


"Kenapa waktu itu mas tidak menolaknya saja, akupun akan menemukan kekuatan untuk menolak keinginan bapak saat itu, aku yang mengira kalau Aisyah adalah orang yang ingin merusak rumah tangga, ternyata sebenarnya aku, akulah orangnya yang...." Mas Abhi beranjak lalu menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang itu, dapat ku dengar suara jantungnya berdetak.


"Siapa yang mengatakan itu?" Aku nasih terisak di dalam pelukan mas Abhi tak bisa menjawab. "Andi?" tanya nya. Aku hanya menganggukkan kepalaku lalu mas Abhi mendekapku dan mengusap kepalaku sama seperti yang di lakukan Andi terhadapku kemarin.

__ADS_1


"Itu tidak benar, kamu mau dengar cerita sebenarnya?" ku anggukkan kembali kepalaku tanda setuju.


Terlihat di apartemen ini sedikit berantakan, mas Abhi yang ku kenal orangnya rapi sepertinya tidak setelah aku tidak ada. Peci dan sarung yang selalu ia gunakan untuk menunaikan shalat berserakan di sofa kamar tidak di bereskan. Entah karena semalaman ia khawatir dengan keadaanku karena tidak ada kabar, tidak mengangkat telponnya, gorden yang biasanya terbuka lebarpun hanya dibuka setengahnya saja . Pakaian kemeja biru mas Abhi saat kemarin masih menempel di tubuhnya, sepertinya tidak ganti, hanya celana nya saja yang ia ganti.


__ADS_2