Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Antara Abhi, Andi, dan Aisyah II


__ADS_3

"Aku suka mbak Aisyah," celetuk Andi yang saat itu juga sedang berada di ruang belajar Abhi ikut belajar juga.


"Huh, suka. kenapa?" tanya Abhi.


"Mbak Aisyah cantik dan baik aku suka padanya," Abhi yang masih fokus belajar menghentikannya kemudian berbalik ke arah Andi sehingga kini kursinya menghadap Andi dengan tatapan lembutnya Abhi pun mengelus rambut Andi. Abhi tersenyum kepada Andi membuat Andi yang melihatnya terasa muak.


Dengan senyum hangatnya Abhi menyelesaikan belajarnya kemudian mengajak Andi untuk selesai dan kembali tidur.


"Apa mas Abhi tidak marah kalau aku suka mbak Aisyah?" teriak Andi yang melihat Abhi pergi.


"Ya boleh saja," jawab Abhi tanpa berbalik ke belakang untuk sekedar melihat Andi keponakannya itu.


Dengan tatapan dingin Andi diam memperhatikan paman muda nya itu sampai menutup pintu ruangan belajar itu meninggalkan Andi sendiri disana.


Waktu terus berjalan Abhi harus pergi ke london untuk mengecam sekolah di sana setelah lulus sekolah di kairo Abhi pun mengambil jurusan di unversitas London. Sedangkan Andi yang beranjak remaja masih dengan tekun menempuh belajar di indonesia.


"Kenapa, di jodohkan?" kata Abhi saat mengobrol dengan Aisyah lewat telponnya, memang di jaman sekarang ponsel sangatlah berguna dalam hal komunikasi jarak jauh, dengan adanya teknologi membuat hampir segalanya lebih mudah dan praktis, yang LDR an serasa dekat tinggal v call rasa rindu sedikit bisa terobati.


Tanpa basa-basi Abhi pun sesegera mungkin pulang ke tanah air karena masalah perjodohan Aisyah oleh ibunya.


"Mas Abhi..." Dengan isak tangis Aisyah memelas. Abhi yang saat itu ikut merasa kesal tak bisa berbuat apa-apa karena tak ada kekuatan terlebih lagi bapaknya sendiri yakni kyai Ansori yang menawarkan perjodohan itu meski tidak memaksa tetap saja bagi Abhi bapaknya ada peran.


"Aku akan coba bicara dengan bapak," ucap Abhi meski tidak ada keyakinan karena selama hidup nya Abhi pantang membantah perintah orang tuanya sendiri apalagi kiyai Ansori adalah satu-satunya orang tua yang tersisa selain dari nenek nya.


"Pak, mohon maaf mengenai perjodohan Aisyah dengan pengusaha itu apa tidak apa-apa?" tanya Abhi memberanikan diri setelah di lihatnya bapaknya itu sedang duduk santai di teras melihat para santri berlalu lalang melaksanakan kegiatan mereka masing-masing.


"Orang itu datang dan selalu menjadi donatur tetap disini, ketika melihat Aisyah ia langsung menawarkan diri untuk ingin menjadikan Aisyah istri sah untuknya, maka dari itu bapak tawarkan dan ibunya menyetujuinya," kyai menyimpan al-qur'an yang baru saja selesai beliau baca.


"Bukankah hal yang di paksakan akan berakhir dengan penyesalan maka dari itu gunakan waktu sebaik mungkin jangan sampai penyesalan yang akan kita terima di akhir nanti, itu yang selalu bapak katakan kepadaku sejak kecil."


Kyai Ansori terdiam sejenak sebelum beliau melanjutkannya kembali, ia memperhatikan Abhizar anaknya dengan seksama.


"Hemm.... nak, kamu sudah dewasa. Bapak tidak tahu apa saja yang kamu lakukan dan kegiatan apa saja yang kamu jalani di negeri London sana. Bapak juga tidak tahu pergaulanmu disana, bukan bapak tidak percaya kepadamu tapi sekarang kamu sudah dewasa. Apakah kamu menyukai Aisyah?" tanya pak Kyai tiba-tiba.


"Uhuk...uhuk....," Pertanyaan Kyai seketika membuat minuman yang ia minum dari gelas itu terhenti sesaat hingga air itu hampir keluar dari mulutnya.


"A,aisyah teman yang baik dan sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri bagaimnaa bisa saya menyukai Aisyah secara bukan mahrom." Pak Kyai hanya tersenyum melihat tingkah Abhi.


"Jika kamu menyukai Aisyah bapak akan lamarkan untukmu,"


"A,apa...bukan seperti itu aku hanya iba melihat Aisyah merengek seperti anak kecil tidak ingin di jodohkan." ucap Abhi mengelak.


Kyai pun beranjak bangun dari duduknya kemudian memegang pundak Abhi.


"Pastikan itu, pernikahan bukanlah permainan. Bapak tidak bisa berkata apa-apa dengan keputusan ibunya Aisyah dan sepertinya Aisyah pun tak menolaknya. Fikirkan baik-baik itu bak. Jangan hanya karena sebatas suka kau bahkan tidak tahu sifat asli Aisyah," Abhi terdiam kemudian pak Kyai pergi melengos ke dalam.


Abhi mengambil nafas nya kemudian menyantaikan diri duduk di kursi teras depan itu, membuka peci yang sedari tadi bertengger di kepalanya hingga kini rambut hitam lebatnya dapat terlihat sempurna membuat para santriwati terpukau mengamati ke tampanan Abhizar ternyata sedari tadi bukan hanya santriwati tapi juga santri sedari tadi mondar mandir berkegiatan hanya untuk melihat ketampanan yang Abhizar miliki.

__ADS_1


*Di taman belakang*


Aisyah sedang terisak menangis di hadapan Abhizar kala itu pukul 10 malam.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku... maafkan aku Aisyah, aku..."


"Kau bahkan tidak ingin membelaku, aku membenci mu Abhi seekian lamanya aku berharap padamu, tapi kau bahkan tak ingin sama sekali memperdulikanku."


"Ibumu menyetujui perjodohan ini bahkan bapak bilang kau pun sama," Aisyah terdiam.


"Apa yang kalian lakukan disini berdua saja?" Andi yang tiba-tiba saja datang memergoki Abhi yang sedang bicara empat mata dengan Aisyah.


Aisyah yang terlihat kaget hanya terpana dengan mata membulat kepada Andi yang sedang menatap tajam ke arah Aisyah.


"Aku hanya sedang berbincang dengan Aisyah, kamu sudah pulang?" tanya Abhi. Andi tak menjawab pertanyaan dari paman muda nya itu kemudian ia melengos pergi ke ruangan atas, begitupun dengan Aisyah sesaat setelah Andi pergi iapun permisi meninggalkan Abhi sendiri berdiri di taman itu.


"Assalamu'alaikum," Aisyah pergi.


Abhi hanya dapat terdiam memikirkan jalan keluar untuk Aisyah, ia tidak mau kalau Aisyah menikah dengan orang yang tidak dia sukai meskipun ibu Aisyah sebdiri yang menyetujuinya.


Hari beganti hari sudah waktu nya untuk Abhi kembali ke London menempuh pelajarannya kembali.


"Nak, kamu ini tidak usah kembali lagi toh ke London temani nenek kelola pondok ini bersama bapakmu dan menikah kasih cucu untuk bapakmu dan juga cicit untuk nenekmu ini. Nenek gak tahu kapal ajal akan menjemput, nenek mau nimang cicit dulu," celetuk nenek besar saat melihat Abhi membereskan pakaian.


"Kan ada Andi, nek nemenin nenek disini. Lagipula Abhi baru saja menjalani 1 tahun saja kuliah disana, tunggu sampai Abhi lulus dulu yah." anenek besar hanya bisa mengambil nafas panjang melihat Abhi dengan jawaban sopannya tetap kukuh untuk pergi.


"Boleh, emangnya kamu kenapa, sakit?" tanya nenek yang tiba-tiba khawatir.


"Nggak hanya sekalian check up kesehatan saja,nek."


Tak lama pak Kyai Abhi dan nenek besarpun pergi check up. Saat itu antrian begitu lumayan padat hingga nenek dan juga Abhi berada di urutan nomer sebelum akhir, hingga jam menunjukkan delapan malam.


"Aduh lama sekali antriannya,gumam nenek kesal,"


"Sabar nek kita kan datang setelah ba'da maghrib juga," nenek cemberut.


"Bhi dari sini ke rumah kan gak jauh juga bisa kamu tolong ambilkan selimut atau jaket untuk nenek?" perintah pak Ansori.


"Kamu ini jangan suruh-suruh cucuk nenek kasian nanti subuh dia kan harus berangkat ke London.


"Tidak apa,nek. Kebetulan Abhi juga mau mengambil sesuatu di rumah," tak lama Ahipun pergi setelah berpamitan.


8:30 malam


Cekrek Abhi membuka pintu rumah besar atau rumah utama di pondok itu. Masih dalam keadaan gelap gulita di fikir Abhi sudah tidak ada orang dan Andi belum juga pulang.


"Anak itu, masih saja suka kelayapan. Tidak bisa membedakan sedang berada dimana, Hemm...." Perlahan Abhi berjalan menuju kamar nenek besar dan mengambilkan sebuah jaket untuk menghangatkan tubuh nenek. Kemudian sebelum pergi Abhi bermaksud ke kamarnya saat langkah kaki ke empat menuju kamar atasnya terhenti karena Abhi mendengar suara benda terjatuh di ruangan belajarnya dulu yang kini menjadi kamar Andi.

__ADS_1


"Suara apa itu?" gumam Abhi dalam hati.


Perlahan Abhi berjalan mendekati kamar Andi, samar-samar terdengar suara dari balik kamar itu.


"Ah...hmmm...ah..ah....hemmm nikmat...,"


Abhi yang masih tidak pasti mendekatkan kupingnya ke daun pintu hingga bersentuhan dengan pintu. Terdengar jelas sebuah ******* dari seorang perempuan yang sepertinya tak asing bagi Abhi. Semakin di diamkan semakin menjadi kini suara laki-laki mendesah kenikmatan tentu Abhi kenal suara itu.


Seketika wajah Abhi yang bingung berubah menjadi merah padam dengan dua bola mata membulat dengan alis mengkerut dan dengan jantung berdebar Abhi marah ia mengepalkan satu tangannya dengan seluruh tenaganya ia mendobrak pintu kamar itu.


Alangkah kagetnya di dapatinya dua insan yang sedang bercengkrama di kamar dengan tanpa sehelai busana pun.


"Astaghfirullah hal'adzim, apa yang kalian lakukan....!" mata Abhi memerah tak ada rasa sungkan atau malu Abhi melihat mereka berdua yang tidak lain adalah Andi dengan Aisyah.


Yah mereka ke pergok sedang bercumbu di kamar ketika semua penghuni rumah tidak ada mereka melakukan hubungan haram itu tanpa ikatan suci mereka berzina.


Aisyah yang ketahuan buru-buru mendorong Andi yang masih dalam ke adaan anu nya di dalam Aisyah. Aisyah dengan cepat merebut selimut untuk menutupi tubuhnya yang elok dan mendekati Abhi tapi...


Plakk.... sebuah tamparan keras mendarat di wajah cantik Aisyah hingga Aisyah tertegun mematung seketika.


"Mas..."


"Jangan pernah kau panggil aku lagi seolah kau tahu diriku, aku jijik..!"


Andi yang dengan santainya memakai kembali celananya. Dengan senyum sinis nya seolah menang, ia memandang Abhizar.


"Wah, ketahuan juga." Kata Andi.


"Kau...!!"


"Kenapa paman mudaku, kau ingin menamparku atau menonjokku? lakukanlah,"


Dengan penuh emosi Abhi berjalan ke hadapan Andi dan sebuah bogeman mendarat di wajah Andi hingga ia terjatuh dan mengeluarkan darah.


Nikahi Aisyah sekarang juga, aku akan panggil keluarga. Aisyah kaget dan memohon agar Abhi tak melakukannya karena malu.


"Bilang saja, aku tidak akan menikahi Aisyah,"


"Apa kau bilang?"


"Apa, Andi apa yang kau bicarakan?" tanya Aisyah kaget.


"Aku memang tidak berniat menikahimu, di negara London hal seperti ini sudah biasa,"


Aisyah yang baru tahu kalau ia di manfaatkan oleh Andi pun menangis sejadi-jadinya. Masalah itu beres karena Aisyah memohon menutupi kejadian itu dan juga Abhi yang memikirkan keadaan nenek nya yang sudah tua dan mempunyai riwayat sakit jantung begitupun bapak nya Kyai Ansori. Entah apa yang akan beliau lakukan jika mengetahui semua ini.


Pada akhirnya semua itu selesai di malam itu juga sampai Abhi kembali melanjutkan belajarny di London, lulus dan fokus untuk mengejar karirnya. Hingga kini ia menemukan tambatan hatinya yang benar-benar ia sukai dan cintai yakni Honey. Dan sekarangpun Honey sedang terancam karena Andi mulai menunjukkan eksistensinya di depan Abhizar.

__ADS_1


__ADS_2