
Kamipun telah sampai di salah satu mall. Kali ini kami memilih mall tamrin city, Lia yang antusias memaksa untuk berbelanja disana atau sekedar lihat- lihat saja.
Akupun membiarkannya sendiri berkeliling di mall, sedang aku dan Sandy mencari tempat untuk duduk.
Lagi-lagi kami memesan makanan dan minuman, karena pesanan kami yang tadi di pesan belum sempat di makan, hanya minuman saja yang sempat kami tenggak.
"Kamu mau makan apa? tanya Sandy saat membuka buku menu.
"Aku minuman saja," karena aku sudah tidak selera makan.
"Baiklah," Sandy pun memesankan minuman untukku.
"Sand, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan." Aku mencoba untuk mengatakannya.
"Kamu mau bicara apa?" tanya nya.
"Kamu gak seharusnya menginap,kalau pun menginap lebih baik di tempat lain jangan di kost an ku." Aku mencoba untuk membujuknya.
"Loh, memangnya kenapa aku juga gak akan ganggu kamu sama Lia kok," jawab Sandy lalu mengambil minuman yang tersedia yang diantarkan pelayan.
"Kamu bisa tidur di hotel untuk kamu tidur, di kost an ku sempit." kataku memakai alasan lain,
"sudah pasti dia tidak akan mau kalau ku katakan tempatku sempit," fikirku.
"Tidak apa-apa berdempetan juga," jawabnya lagi sedikit membuatku muak.
Sebenarnya saat itu juga aku ingin mengatakan kita putus saja, bukan karena status pernikahan ku. Tapi memang kalau sudah illfeel, ya udah pengennya putus aja.
Akupun cukup lama ngobrol dengan Sandy, sudah 2 jam lama nya kami mengobrol tapi masih belum menemukan solusi. Sandy tetep kekeh ingin menginap dirumahku.
Tak sengaja aku melihat 2 wanita yang tadi ikut meeting dengan mas Abhi. Akupun mulai selidik memperhatikan sudut demi sudut kalau-kalau ada mas Abhi, tapi tak ku temukan.
"Mungkin setelah meeting kedua wanita itu langsung meregangkan otot-ototnya dengan ber shoping. Hmm... orang kaya mah bebas lakukan apa saja," gumamku dalam hati membicarakan kedua wanita itu sambil memangku dagu di atas meja, tanpa menghiraukan Sandy yang terus merengek merayuku agar bisa diijinkan tidur di tempatku.
"Kalaupun aku benar ngekost disini, gak akan pernah deh aku ijinin kamu tidur satu ruangan denganku. Yang ada aku bisa habis di gerayangi sama lelaki tak bertanggung jawab sepertimu!" pekiku dalam hati.
"Duh, si Lia kemana lama bener." Akupun membuka ponsel dan memutar-mutar ponsel di atas meja.
dret...dret...
[ Dimana....] mas Abhi WA aku.
[ lagi makan sama temenku,mas.] jawabku lalu aku menegakkan dudukku melihat ke sekitar takutnya mas Abhi ada disini walau perasaanku tidak mungkin mas Abhi ada disini, karena jelas-jelas mas Abhi tadi meeting di restoran dekat apartemen.
Plukk... Dirasakan tangan Sandy mulai memelukku, aku menghindar dengan menggeser tempat duduku ke arah sisi sedikit lebih jauh dengannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa," tanya Sandy sambil mengerutkan keningnya.
"Nggak apa-apa, cuman panas saja." Jawabku asal dan kembali memangku dagu diatas meja dengan kedua tanganku.
"Kamu bete ya," tanya Sandy.
"Iya aku bete karena kamu gak pergi-pergi! " kataku dalam hati memaki.
Akupun berdiri bermaksud mencari Lia, sedangkan Sandy pergi ke kasir untuk membayar.
Tak lama Sandy pun sudah dekat lagi denganku, aku serius mencari Lia. Kulihat di jam ponsel sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Kemana si Lia sih," gumamku.
"Mungkin dia sudah pulang duluan," kata Sandy.
"Gak mungkinlah, dia pasti kasih kabar kalau mau pulang." Aku coba menghubungi Lia tapi malah tidak aktif. Akupun mulai bingung mencari kemana,
"Apa mungkin di toilet ya, di toilet kan sinyal hp memang suka gak stabil." Fikirku, akupun mencoba untuk pergi ke toilet wanita.
Entah kebetulan atau bagaimana, hari itu jalan menuju toilet sepi. Akupun tetap mencari Lia berharap benar Lia ada di sana. Di sisi lain aku takut Sandy melakukan hal yang aneh karena tempatnya sepi. Ini kali pertama aku merasa takut,bukan takut hantu tapi takut pria bejad.
Dan benar saja, saat di tempat yang benar-benar sepi, Sandy mulai merangkulku. Ku percepat langkahku, kini dia menarik tanganku dan mendorongku ke tembok.
"Aku kangen, kamu tahu kan?" jawabnya. Aku tahu sudah apa yang dimaksud dengan kangen, aku tahu fikiran mesumnya.
"Sand, lepaskan aku..." Aku berusaha melepaskan genggamannya, tapi genggaman tangannya malah semakin kuat.
"Apa kamu gila, lepaskan!" sentakku agar dia mau melepaskanku. Saat itu aku berharap ada seseorang yang lewat atau sekedar batuk saja agar Sandy sadar bahwa disini ada orang.
"Mau apa kamu, Sand. Jangan macam-macam," kataku memperingati.
"Aku, mau ngapain? apa kamu bercanda, aku bilang aku kangen dan kita ini pacaran. Kamu juga ngerti kan maksudku apa?" jawabnya yang semakin merekatkan tangannya membuatku kesakitan.
"Sakit, lepaskan aku. Sandy!" bentakku.
"Kamu bahkan belum membayar atas apa yang sudah aku keluarkan. Kamu fikir uang belasan juta itu sedikit, itu bisa menggajimu kerja beberapa bulan," Sandy sudah diselimuti nafsu bejad nya.
"Sandy, gila apa kamu, lepaskan aku." Sandy mulai mendekatiku, akupun mulai terpojok.
"Ssandy," ....
"Lepaskan aku, siapa kamu!" bentak Sandy pada seseorang.
"Mas Abhi!" Dia memelintirkan tangannya Sandy sampai Sandy melepaskanku. Akupun langsung bersembunyi di belakang mas Abhi.
__ADS_1
"Kamu siapa, jangan campuri urusanku!" bentak Sandy yang penuh emosi.
"Aku sua..." belom mas Abhi selesai bicara aku memotongnya.
"Sodara...ya dia sodara sepupuku, sodara jauh!" balasku. Sampai mas Abhi menoleh kepadaku dan menyipitkan matanya, aku tidak berani menatap mas Abhi karena pasti mas Abhi marah.
"Sodara?" tanya Sandy.
"Iya, karena itu sudah ku bilang kan sebaiknya kamu pulang." Sandy masih bengong dengan pernyataanku dan mas Abhi masih terdiam sepertinya ia membiarkanku untuk berakting.
"Benar kamu sodara sepupu Honey?" tanya Sandy.
Mas Abhi tidak mengindahkan pertanyaan yang di lontarkan Sandy.
"Jangan sampai aku melihat bocah ingusan seperti dirimu lagi. Jika sekali saja aku melihatmu..." Mas Abhi tidak meneruskan perkataannya.
"Astaghfirullah..." Mas Abhi menyeretku pergi dari zona berbahaya itu, kami pun pergi meninggalkan Sandy sendiri terpojok dengan yang masih kaget karena tak disangka se
sodarakulah (mas Abhi) yang menghentikan rencana mesumnya.
"Seandainya tadi mas Abhi tidak datang. Mungkin saja sesuatu hal yang buruk akan terjadi padaku," gumamku.
"Han, dari masa kamu itu aku mencarimu. Eh, halo..." Sapa Lia sambil celingak celinguk mencari keberadaan Sandy sadar bahwa sekarang suamiku di sampingku.
"Dimana Sandy?" begitulah kira-kira kode bathin yang ia sematkan lewat kontak matanya denganku.
"Gak tahu," jawabku tanpa berbicara hanya mengangkat kedua bahuku.
"Kamu tahu tadi Honey dengan siapa?" tanya mas Abhi. Lia yang takut ia tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya saja.
Tanganku yang masih gemetar dengan kejadian barusan karena trauma. Mas Abhi sepertinya menyadari itu, ia menggenggam tanganku dan memintaku dan Lia untuk menunggunya atau ikut ke parkiran untuk mengambil mobil.
Lia pun memilih menunggu di depan pintu masuk mall menunggu mas Abhi mengambil mobilnya.
"Lo kenapa bisa dengan suami?" tanya Lia saat sadar ams Abhi sudah hilang dari pandangan.
"Sandy hampir berbuat mesum sama gue," pekikku.
"Hah...serius lo...!" teriak Lia seketika langsung menutup mulutnya.
"Kok bisa..." kini Lia memelankan suaranya.
"Nanti saja ceritanya," jawabku tak lama mobil mas Abhi keluar dari parkiran.
Bersambung...
__ADS_1