Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
kedatangan Aisyah


__ADS_3

"Mas, ayam bakar yang semalam di kulkas kan?" pagi itu perutku benar-benar keroncongan. Dengan sigap aku berlari ke dapur untuk menanak nasi yang sekarang sudah ke lampu biru yang menandakan sudah matang.


"Iya, mas semalam simpan di kulkas." Mas Abhi yang masih duduk santai membuka-buka buku dengan menggunakan sarung dan kaos oblong tipis dengan memakai kacamata seolah memiliki vibes idol k-pop di tambah dengan rambut mas Abhi yang sedikit gondrong menambah kesan maskulin nya.


"Mas sudah makan?" tanyaku lagi.


"Belum, baru air putih saja. Kini mas Abhi menutup buku file yang ia baca kemudian berdiri mendekatiku lalu memelukku dari belakang.


"Ada apa, mas mau di masakkin apa?"


"Hmm, ayam bakar saja sudah cukup." Jawabnya sambil menggelengkan kepala dan menempelkannya ke leherku.


Akupun memindahkan satu ekor ayam bakar itu ke teflon dan menambahkan sedikit kecap manis serta mentega dan mengolesinya. Setelah selesai, ku siapkan nasi hangat yang ku masak tadi dan menekan-nekannya seperti dalam citakan lalu menaruhnya saat di rasa sudah membentuk cetakan yang diingini.


Ting....


Suara bel dari balik pintu apartemen berbunyi.


"Biar aku saja yang membukakan nya mas."


Betapa kagetnya bahwa yang aku lihat adalah Aisyah.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


"W-wa'alaikum salam."


"Siapa Han, tanya mas Abhi melihatku berdiri mematung seperti orang yang baru dihipnotis.


"Aisyah...?!" Reaksi mas Abhi dan aku tak jauh beda kami sama-sama kaget. Sedangkan senyum manis tersimpul dari Aisyah seolah berhasil memberikan suprise kepada kami.


"M-mas, kebetulan sekali ada mas di apartemen." Aisyah sedikit melirikkan matanya kepadaku," Boleh aku masuk dulu?" tanya Aisyah yang sebenarnya bukan otu yang aku harapkan. Inginnya ia segera enyah dan lenyap dari sini. Tapi apa boleh buat tamu tetaplah tamu, harus di sambut dengan baik.


"Oh masuk, masuk..." Aisyah pun masuk melewatiku yang masih berdiri mematung di depan kursi.


"Ada apa kemari Aisyah?" tanya lagi mas Abhi. Kini posisi Aisyah dan mas Abhi sedang duduk di sofa tengah rumah yang di tersedia sedangkan aku sedang membuatkan minum untuk Aisyah.


"Nenek besar menyuruhku mengantarkan ini untuk Honey, katanya Honey sedang sakit jadi nenek meminta ART di rumah utama untuk di masakkan sup ayam dan menyuruhku untuk mengantarkannya.


"Dengan siapa kemari?" mas Abhi seolah tak percaya atau entah jaga2 sajs karena ada aku.

__ADS_1


"Aku kesini di antar mas Faisal yang kebetulan ada urusan."


"Oh, ya udah. Kalau begitu kemarikan itu bawaan biar aku buka dan makan. Kamu bisa pergi sekarang," ucapku pada Aisyah yang seketika itu mengubah wajahnya menjadi bete.


"Ini, minumannya." Aku menaruh minuman air putih dingin saja kepada Aisyah. Kulihat mas Abhi menatapku seolah aku tidak boleh bersikap seperti itu pada Aisyah.


"Lalu kapan Faisal akan kembali ke pondok, kamu ikut pulang?"


"Mas Faisal sudah dari tadi pulang, mas."


"Loh kok bisa, kenapa gak tunggu kamu?"


"Mas Faisal hanya sebentar saja, kemudian pergi lagi kembali ke pondok."


Aku tidak habis fikir kenapa bisa ia dengan santai nya seperti itu saat di tinggal Faisal kembali ke pondok. "Jangan bilang lu mau nginep disini, ogah gak mau gue...!!" bathinku.


"Kalau begitu kamu nginep saja disini sementara waktu, kamu bisa tidur di atas dengan Honey aku tidur di bawah saja,"


" Kan, kan-kan...bener dugaan gue...!!"


"Gak mau, aku tidur sama mas Abhi saja. Kenapa Aisyah gak tidur di apartemen Andi saja, dia kan tinggal sendiri disana?" saranku berharap mas Abhi berkata...


"Ya sudah, kamu di kamar bawah saja tidur nya. Bisa?" tanya lagi mas Abhi pada Aisyah dan Aisyah pun menyanggupinya.


" Bisa, tapi aku tidak punya baju ganti." Spontan mas Abhi langsung melirikku


"Mas kok ngebiarin si Aisyah nginep disini sih...!" protesku.


Kini kami ada di dalam kamar berdiskusi.


"Aisyah juga kan termasuk tamu, jadi tidak apa-apa kalau sehari dua hari dia nginep disini. Toh menjamu tamu juga termasuk ibadah dan dapat pahala juga," sanggah mas Abhi.


"Tapi kan Aisyah ..."


"Mas gak akan apa-apa percaya pada mas, lagipula kita sama-sama ke kantor kerja bareng pulang bareng juga kan?" mas Abhi memegang wajahku mengarahkan ke wajahnya agar mas Abhi dapat melihat wajah ekspresi marahku yang menurutnya lucu dan menggemaskan.


Akupun mau tidak mau pasrah, mengangguk meng iyakan saran mas Abhi.


"Ya ampun... akan ada cobaan apalagi coba,"

__ADS_1


Aku mengambil beberapa baju untuk Aisyah kenakan saat dirumah. "Nih, pakai itu." Ucapku dengan ketus tanpa mau basa-basi atau sekedar bilang "Kamu cape yah, istirahat dulu saja nanti aku panggilkan ketika makan susah siap,"


"Jangan harap...!" batinku.


"Makasih,yah." Jawab Aisyah tanpa basa-basi juga langsung mengambil baju yang ku bawa untuk ia pakai, yang ku letakan di atas kasur.


"Kita kan belum sarapan, mau sarapan di rumah atau di restoran saja?"


"Loh, mas Abhi gak kerja?" tanya Aisyah sok perhatian.


"Nggak aku sedang libur satu hari ini, besok mulai kerja lagi.


"Oh begitu, boleh deh makan disininatau di restoran gak apa-apa" jawabnya.


"Makan disini saja kalau pagi, sayang kan ayam bakar yang udah aku angetin.


Akupun pergi melengos dengan sedikit menyenggol tubuh kekar mas Abhi agar mengikutiku pergi.


"Ya sudah kamu ganti saja bajunya," ucap mas Abhi kemudian berlaku mengikutiku.


Aku membuka satau persatu rantang susun yang di bawa oleh Aisyah amanah dari neneknya. Rantang susun yang berisi lima buah rantang tersusun berjejer. Isian daei rantang pee rantang selain nasi putih juga ada, sop sop an seperti sop iga, sop ayam, sayur lodeh, dan juga ayam bakar karena mas Abhi pernah bilamg bahwa aku suka sekali dengan ayam bakar. Di tambah ada sambal cumi goreng kesukaan ku ada satu menu andalan dan kesukaan mas Abhi juga empal sapi.


Setelah di rasa selesai ku pindahkan semuanya ke meja makan Aisyah yang baru datangpun ikut membantuku. Menyusun hidangannyang tersedia.


"Mas," ku sendokkan satu centong nasi ke dalam piring mas Abhi begitupun Aisyah.


"Terima kasih," ucapnya kemudian aku menyendoki untukku sendiri.


Sepanjang pagi itu aku yang bete ditambah masih lelah karena perjalanan kemarin dari London ke Jakarta cukup menguras energi apalagi bertemu Hendra yang sifatnya berubah 180° dari yang dulu. Dan sekarang aku harus di hadapkan dengan Aisyah.


"Ya Allah cobaan apalagi yang akan aku hadapi," aku menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali lalu makan sendok demi sendok ku masukkan lauk-pauk beserta nasi beraturan.


Mas Abhi memperhatikanku, tapi ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kalau tidak di tawari menginap nanti Aisyah tidur dimana. Dan alasan apa yang akan di berikan kepada neneknya, dulu ada alasan karena ingin mengobati Aisyah biar tidak stres dan juga tidak mau karena mas Abhi tinggal sendiri di apartemen sedangkan sekarang kan sudah ada aku istrinya.


Fitnah apa yang akan terjadi jika mas Abhi yang masih single tinggal satu atap tanpa berstatuskan suami dan istri. Aku saja yang semua ada, waktu kejadian ijab qobul itu pun masih di fitnah di tuduh jinah.


"Udahlah terima nasib aja,"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2