Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Melepas rasa


__ADS_3

Mas Abhi mempererat genggamannya seolah berkata "Jangan takut, bicaralah," aku mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan.


"Aku..., kau mungkin tahu apa maksudku. Beberapa lelaki menjadi targetku untuk ku poroti uang mereka. Tapi, aku tidak tahu kau akan menerima keadaan ini atau tidak, mas." imbuhku.


"Aku....,aku....,aku tidak tahu apakah aku masih....atau...." suaraku tersendat, untuk pertama kalinya aku takut mengungkapkannya.


"Dengarkan mas," ucapnya dan aku terdiam.


"Aku, kau, dibesarkan dalam lingkungan berbeda. Bukan berarti lingkunganku lebih baik darimu, Han." Aku masih diam tanpa mau melihat wajah suamiku itu.


"Kau sudah hebat, mas kagum dengan kegigihanmu pasang badan untuk keluargamu mengambil alih sebagai tulang punggung keluarga, berusaha memenuhi kebutuhan bapak dan ibu yang sekarang telah menjadi bapak dan ibu mertuaku juga, menanggung semua kebutuhan sekolah adikmu Ririn, kau masukkan ia ke sekolah yang baik, kau bahkan mampu menangis di dalam kesendirian tanpa ada orang yang menguatkan." Entah kenapa perkataan mas Abhi membuat air mataku berlinang, tapi masih tetap ku tahan.


"Kamu istriku sekarang. Mas sudah ber ikrar di hadapan Allah, Bapak dan ibu serta Amil. Aku mampu berikrar bukan semata-mata karena terpaksa, aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Jika kau takut aku tidak menerimamu...Bismillah Kau, Honey, istriku sejak.ikrar itu terucap gadis atau tidak gadis aku akan tetap menerimamu, susah senang kau tetap istriku. Honey aku akan hidup denganmu sampai ajal memisahkan kita."


"Mmas ...," maafkan aku, bimbing aku untuk menjadi istri uang baik dan patuh." Air mataku tumpah tak dapat lagi di tahan kata-kataku tak bisa lagi terucap, aku terharu. Aku tak menyangka jika mas Abhi suamiku akan mengatakan hal ini.


Aku menangis sesegukkan dipelukkannya, mas Abhipun tak melepaskan pelukkannya, malah semakin erat. Kami terlalut dalam keharuan hingga haripun tak terasa sudah sore.


***


Malam ini sangat sejuk, pintu balkon terbuka hingga angin masuk bebas ke dalam kamar, tapi tak mendung, tak juga hujan, mungkin baru akan hujan. Bintang-bintang bertaburan mengisi langit yang begitu gelap sehingga terpancar cahaya indah nan menawan.


"Ya, sepertinya besok tidak bisa aku sedang ada yang harus di urus. Wa'alaikum salam." Mas Abhi menutup telponnya.


Ia menyampaikan handuk kepala di atas kursi, rambutnya terurai basah, ia menggunakan kimono handuk berwarna biru dongker, mas Abhi yang tadinya terlihat kusut dan lusuh kini berubah menjadi segar dan bercahaya. Ia menutup pintu balkon sehingga anginpun tak mampu masuk walau hanya dari celah-celah pintu, ia menyalakan AC dan datang mendekat. Aku mengerutkan tubuhku di balik selimut, taku, malu.Mas Abhi mengumbar senyum manisnya kepadaku, ia mengusap rambutku yang basah kebetulan sebelum mas Abhi mandi, aku terlebih dahulu yang mandi.

__ADS_1


Tanganku gemetar, ini adalah pertama kalinya di dalam hidupku seperti ini di hadapan seorang lelaki. Ia mendekat mencium keningku dengan mengatakan Bismillah, mataku terpejam, jari jemariku dengan kuat meremas selimut yang ku tangguhkan untuk menutupi tubuhku.


"Kenapa, takut?" kata-kata halus mas Abhi bukan membuatku tenang malah semakin membuatku nervous.


"Jangan takut jika kamu belum siap, mas juga tidak akan memaksa," mendengar itu aku langsung menggelengkan kepalaku tanda tidak benar.


"Bukan aku tidak mau, aku, hanya gugup saja," jawabku.


"Disini bukan hanya kamu yang gugup tapi juga mas. Ini pertama kalinya untuk mas, jadi jika mas sedikit kasar maafkan mas." Mas Abhi perlahan membuka selimut yang dari tadi ku genggam erat untuk menutupi tubuhku. Akupun seolah terhipnotis hinnga kini penjagaanku ku lepas.


Ia mendekat sekali lagi ia mengucap doa sebelum menyentuhku.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".


Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


"Bibirku bersentuhan dengan bibir mas Abhi!" kataku dalam hati. Aku sendiri tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaanku saat itu, mas Abhi segera melepaskan kecupannya dan mengambil nafas.


"Aku tertawa kecil ketika melihatnya tidak bernafas saat menciumku," ia melirikku dan wajahnya memerah seperti udang rebus.


"Maaf, aku tidak mahir soal ini." celetuknya seolah kecewa,marah sekaligus malu.


"Tidak apa-apa, ini juga pertama kalinya aku berciuman dengan orang yang aku suka," mas Abhipun seolah terdorong, iapun mencobanya lagi.


Kamipun melepas rasa melepas semua yang sempat tersendat di salam hati.

__ADS_1


Ku peluk penuh tubuh ku gigit birbirku dan air matakupun jatuh tatkala kini aku telah resmi menjadi istri mas Abhi. Astri dari seorang anak pemuka agama kondang yang banyak di segani banyak irang oleh kebaikkannya.


Dia suamiku adalah lelaki soleh sekaligus bertanggung jawab yang memilikki warisan besar dari kekuarganya, dia anak satu-satunya yang telah mempersunting yang hanya gadis biasa saja sepertiku.


***


Malam ini, aku telah resmi menjadi istrinya. Aku istri dari lelaki soleh ini lelaki kekar dan baik hati ini, lelaki yang bertanggung jawab yang akan menemaniku kini nanti dan sampai akhir hayatku.


"Ya Allah terima kasih banyak atas apa yang kau berikan kepadaku, lelaki hebat ini telah menjadi suamiku." Air mataku tumpah lagi, aku terharu.


"Kenapa, sakit, maafkan mas karena tidak pelan-pelan," ku gelengkan kepalaku


"Lalu kenapa?" tanya nya khawatir.


"Aku menangis karena bahagia, lelaki sepertimulah yang Allah takdirkan untukku,"


"Aku beruntung memiliki wanita tangguh sepertimu, Honey." Ia menekan tombol AC ka angka lebih rendah hingga terasa dinginnya.


"Kenapa AC nya di turunin, kan dingin, ucapku.


"Terasa gerah, kalau dingin biar mas peluk, sini." Ia mengecup keningku dan memelukku, kamipun terlelap dalam tidur berselimut hingga Adzan subuh berkumandang.


Aku menangis saat dua salam telah selesai, ku cium tangan suamiku. Aku menangis, ia membelai wajahku mengusap kepalaku mencium keningku, ia suamiku menatapku dengan tatapan sendunya


"Terima kasih banyak karena senakal apapun kamu di masa lalu, kau masih mampu menjaga kesucianmu. Terima kasih karena selama itu kau masih bersabar hingga aku datang meminangmu. Terima kasih banyak karena kau mau menerimaku yang masih banyak kekurangan ini." Ia, mas Abhi yang kini menjadi suamiku memelukku dalam dekapan hangatnya aku terbuai. Nyaman dan aman itulah yang aku rasakan. Ia melepas senyumnya dan mengajakku kembali tidur bersama di atas ranjang yang masih bernodakan bercak merah disana tanda kegadisanku sudah hilang.

__ADS_1


Ia sekali lagi mengajakku memadu kasih di ranjang ini, aku tersenyum malu tapi tetap merangkulnya. Dia suamiku, mas Abhi lelakiku, lelaki yang akan membimbingku menuju jannah Nya.


__ADS_2