Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Bersama Ibu


__ADS_3

Keadaanku sedikit membaik karena adanya ibu disini. Mas Abhi punenyarankan untuk mencari orang agar bisa membantu untuk sekedar beres-beres di ruman ini tapi ibu menolak katanya selama ibu disini jangan menyewa siapapun karena ibu gak suka pekerjaan rumah ada yang mengacaukan. Karena itu meski beberapa kali mas Abhi membukuk ibu tidak akan ada gunanya karena ibu termasuk keras kepala.


Kulihat pagi ini ibu beberes dari subuh dan jam 8 pagi sarapan sudah siap. Setelah selesai sarapan mas Abhi pamit untuk pergi ke kantor, mas Abhipun mengatakan akan pulang agak telat karena ada suatu hal, dia mangatakan akan menyurvei sebuah lahan di suatu tempat katanya tempatnya tidak jauh dari rumahku. Ibu bahkan berpesan jika terlalu larut lebih baik menginap di rumahnya, tapi mas Abhi berusaha akan kembali ke apartemen.


Well, apapun itu kita lihat apa mas Abhi akan pulang kerumah ibu atau kesini. Karena aku tahu projek dengan pak Jorge lumayan sulit, katanya proyek kali ini dia deal untuk mencari lahan gersang untuk menjadikan perkebunan sawit. Kebetulan di dekat rumahku ada lahan atau gunung gersang yang mudah sekali longsor, karena itu akan di tanami sawit super untuk produksi khusus untuk impor.


Mas Abhi juga mengatakan selain lahan mereka juga menyediakan pabrik pembuatan minyak nya. Dan mas Abhi meminta bahwa tenaga kerja harus merekrut orang pribumi termasuk dalam pengolahannnya ingin orang pribumi yang di pekerjakan. Awalnya Mr.Jorge ragu dengan ke tenagaan kerja lokal, tapi mas Abhi berani bertanggung jawab atas kinerja semuanya. Ia mengatakan tenaga kerja lokal bukan tidak ahli, dia bilang tenaga lokal karena sudah biasa di pekerjakan dalam pekerjaan kasar jadi terbentuk opini bahwa tenaga kerja lokal hanya bisa bekerja kasar saja.


Sementara itu mas Abhi ingin tenaga kerja lokal mampu lebih maju lagi dalam mengelola pengolahan sawit ke minya dengan alat modern. Karena kesepakatan itu terjadi ketika mas Abhi berani bertanggung jawab atas semuanya. Sempat aku berdebat dengan mas Abhi mengenai ini, bukan tidak percaya tapi resiko yang mas Abhi ambil terlalu tinggi.


*Flashback*


"Mas, bukannya resikonya terlaku tinggi. Ini bukan soal tentang para pekerja lokal, tapi jika tidak sesuai dengan harapan mas tahu sendiri orang luar itu sudah tidak ada ampun, tidak bisa percaya lagi sama mas, nanti mas sendiri yang susah."


"Han, Insya Allah tidak akan. Kita juga harus bisa mengajarkan pada mereka bagaimana mengelola sawit dengan alat modern. Agar mereka bisa di lirik oleh para pengusaha asing untuk dapat di rekrut nantinya dan kehidupan merekapun akan lebih baik." Penjelasan mas Abhi memang masuk akal tapi resikonyapun besar.


"Terserah mas ajalah, aku memang tidak berguna jadi sekertaris pada akhirnya yang memutuskan mas sendiri. Memang aku ini cuman kacung aja...!" umpatku.


"Hemm..., ini kesempatan kita agar dapat menjadikan tenaga kerja dari indonesia menjadi lebih baik dan menunjukkan kepada pengusaha asing bahwa tenaga kerja dari indonesia juga adalah pekerja keras dan kreatif. Kamu tahu sendiri pekerja dari negara kita selalu di pandang rendah oleh di luar sana. Padahal bukan jelek hanya saja tidak tersedianya alat."


"Tetap saja resikonya tinggi,"


"Sekarang kamu jangan banyak fikiran nanti dede bayi mas nangis Loh," mas Abhi mengelus-elus perutku.


"Yah namanya debat dengan mas Abhi gak akan menang. Hari ini aku belajar sesuatu tentang mas Abhi, ternyata dia orangnya keras kepala juga tapi jika tentang bisnis kalau masalah ke lawan jenis apalagi aku istrinya mas Abhi begitu lemah lembut. Yah setidaknya mas Abhi tak sekeras itu jika denganku," gumamku dalam hati. Mas Abhi merebahkan kepalanya di atas perutku dengan manja ia mengelus-elus perutku kemudian menciumnya.

__ADS_1


*Back*


"Ayo cepat habiskan sayurnya," ucap ibu menyadarkanku dari ingatanku semalam bersama mas Abhi.


"Bu, aku mau makan yang lain."


"Boleh tapi habiskan dulu sayurnya, memangnya kamu mau kemana?" tanya Ibu.


"Mmm..., hari ini aku mau mengajak ibu jalan-jalan dan makan sepuasnya," ajakku.


"Bukannya kamu itu gak bisa nyium asap sate?" goda ibu.


"Ya pergi nya jangan ke tempat pedagang kaki lima dong,bu. Kita main nya ke mall-mall bagus dan mewah." Senyumku mengembang seketika saat membayangkan bagaimana bahagianya ibu saat di ajak ke mall, karena setahuku ibu sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di tempat-tempat pasar modern seperti itu.


"Ah ibu gak asyik." Sambil mengunyah sayur bayam yang ibu suapkan aku berbicara sampai air nya mau mincrat."


"Tuh, tuh, tuh... kamu ini udah gede mau jadi ibu tapi makannya masih belepotan aja." Pekik ibu.


"Tapi aku juga mau bikin senang ibu, mumpung ibu disini." rajukku.


"Nak Abhi bilang kalaupun mau jalan-jalan kamu harus pakai kursi roda. Nurut saja sama suami emang gak bisa kamu itu," ucap Ibu.


Aku tak menjawab, ibu dari dulu memang seperti itu. Beliau jika di ajak main olehku selalu sebisa mungkin menolak. Katanya suruh simpan dan tabungkan duitnya jangan di hambur-hambur.


"Ya Allah panjangkanlah umur beliau, hamba belum bisa memberikan apa-apa untuk beliau, sehatkanlah selalu mereka. Sungguh jasa yang tak pernah bisa di bayar oleh apapun adalah jasa yang tanpa lelah, tanpa pamrih dan tak akan pernah bisa di gantikan meski dengan satu ton berlian." Doaku dalam diam dalam hati ku ucapkan.

__ADS_1


*Di Kantor*


Terlihat Abhi yang sedang terdiam dengan memangku dagu oleh kedua tangannya. Ia sedang memainkan laptop di meja kantornya tanpa arah. Wajahnya sendu, matanya seolah lelah mungkin karena pekerjaan.


Drr...drr...drrr...Layar ponsel Abhi hidup nama Nenek tersayang bertengger di layar ponselnya, Abhi mengangkat ponsel itu.


"Assalamu'alaikum, Nek."


"Wa'alaikum salam.Bhi cucuku sempatkan hari ini kemari nenek ingin bicara denganmu tanpa istrimu Honey." Terdengar nada suara yang begitu tegar dari neneknya.


"Abhi tidak janji, nek. Karena ada janji dengan investor," kata Abhi.


"Memangnya kamu tidak bisa sebentar saja kemari?" ucap nenek terdengar memaksa.


"Nek, Abhi tidak bisa kesana. Nanti saja jika Abhi ada waktu insya Allah Abhi kesana, Assalamu'alaikum." Abhipun menutup ponselnya setelah pamit.


"Halo...halo..Abhi.." Terdengar nenek besar memanggil dari ponsel tapi Abhi tak menggubris. Ia merebahkan punggungnya ke kursi sambil memegang kepalanya.


Drr....drr...drr... Kembali ponsel Abhi berbunyi kali ini bukan nama nenek tersayang yang bertengger tapi Mr. Jorge, segera Abhi mengankatnya.


"Hello, Mr.Jorge?... Oh oke wait me," tak lama Abhipun mematikan ponsel kemudian berangkat ke bawah untuk menemui mr. Jorge.


"Boseeennnn.....!" pekik Honey yang sedang rebahan di atas kasur. Sementara ibu masih saja sibuk merapikan segala sesuatu di aoartemen Honey, memang ibu Honey sangatlah rapi orangnya dan bersih tak heran sepanjang hari ibu Honey ngomel-ngomel dengan keadaan rumah. Meski bagi Honey tidak kotor, tapi bagi ibu tentu debu adalah hal yang sangat mengganggu apalagi ketika AC tidak di nyalakan tak lama debupun mengumpul disana.


Wajar karena Honey dan Abhi tak sering ada dirumah hanya saat pulang kerja saja mereka ada dirumah dan itu sudah waktunya untuk Honey dan Abhi istirahat. Tapi tentu saja bagi Ibu itu bukanlah alasan, ibu sangatlah menjungjung tinggi tentang kebersihan adalah sebgaian daripada iman.

__ADS_1


__ADS_2