Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Suprise


__ADS_3

Ketika semua orang yang berkunjung sudah pada pergi mas Abhi mendekatiku, mencium keningku mencumbu semua yang ada di wajahku dari mulai jidat paripurnaku berjalan ke alis dan mata ke oipi hidung hingga sampai ke titik sensitif yakni bibirku.


Terpancar sinar kebahagiaan pada mas Abhi, ia memelukku dan mengelus-elus perutku.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tidak apa-apa," jawab mas Abhi yang masih mengelus perutku.


"Senang?"


"Huuh, bahagia" senyum sipu terpancar di wajahnya.


"Eh tespack tadi mana mau aku kirimkan ke mama," aku mencari tespack yang tadi di berikan Dokter Umi kepadaku.


"Eh tapi aku mau tanya kapan Dokter Umi memeriksa urine ku?" tanyaku heran.


"Semalam saat kamu pingsan kamu tersadar sebentar kemudian meminta ke toilet untuk buang air kecil dan Dokter Umi memberikkan tespack untuk memeriksanya. Memangnya kamu kira itu hasil dari siapa kalau bukan istri mas sendiri?" gumam mas Abhi.


Aku tersenyum kemudian memfotokan garis merah tersebut dan dikirimkan ke ibu. Tak lama ibu menerima nya kemudian ponselku berbunyi seketika begitupun mas Abhi dari pihak keluarganya.


"Nak, benar kamu gak bohong kan?" tanya ibu. Suara ibu sedikit bergetar terdengar suara adikku dan juga bapak samar-samar.


"Iya, bu. Aku hamil, baru saja di periksa "


"Alhamdulillah, akhirnya kamu akan memberikkan cucu pada ibu dan bapak, nak." ucap Ibu sebentar suara ibu terhening hanya terdengar srek...srek...dari sana entahlah bisa ku pastikan ibu menangis kemudian mengelap air matanya dengan kain yang ia punya mungkin dasternya.


Akupun terdiam dan lagi-lagi menumpahkan air mata bahagia.


"Ibu ingin kesana,nak. Ibu kangen," suara ibu terbata.


"Hmm, iya ibu kesini saja, tapi pastikan ibu dan bapak dalam keadaan sehat yah."


"Tentu saja ibu sehat, kamu mual tidak mau ibu bawakan apa nanti?"


"Apa saja, bu asak jangan sate atau maranggi, ayam bakar juga yah. Pokoknya yang di panggang-panggang gak usah deh bu." Terdengar tawa kecil dari ibu dan mengiyakan syaratku itu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu aku tutup yah telponnya. Aku harus istirahat dulu, nanti ibu kesininya kalau lagi senggang saja." Setelah ibu mengiyakan akupun memberi salam kemudian menutup telponku.


"Iya,nek. Alhamdulliah Honey hamil, nenek akan punya cicit." Terdengar mas Abhi juga menelpon pihak keluarganya.


Dapat di pastikan tentunya neneknya yang sekian lama menunggu agar Abhi mau menikah dan memberikkannua cicit kepadanya.


Entah kenapa tiba-tiba wajah mas Abhi menjadi serius. Ia beranjak dan pergi seolah ada pembicaraan rahasia antara mas Abhi dan neneknya.


Tak lama mas Abhi kembali dengan wajah bingungnya.


"Ada apa mas, apa nenek sakit?" tanyaku.


"Oh, tidak nenek sehat." jawabnya dengan senyum tapi seolah terpaksa.


"Lalu ada apa, kenapa wajah mas Abhi terkihta murung?" tanyaku yang masih bingung juga.


"Tidak ada apa-apa. Nenek senang sekali kalau akan mendapatkan cicitnya."


"Benarkah?" tanyaku ragu.


Terbayang saat di luar sebelum dokter Umi pamit berbicara kepada Abhi.


*Flashback*


"Bhi, Honey harus banyak istirahat jangan terlalu cape. Karena sepertinya Honey lemah kandungan. Jangan sampai terlalu banyak fikiran dan menempuh perjalanan terlalu jauh.


"Baik, dok."


*Back*


"Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikum salam...Eh ibu, Bapak?" Aku terkejut berasa di berikan suprise mas Abhi membukakan pintu muncul dua sosok malaikat ku ini. Segera ku berdiri dan menghampiri mereka ku ciumi tangan mereka setelah mas Abhi mencium tangan ibu dan bapakku.


Ku peluk erat bapak dan ibuku. Ibu meneteskan airmata bahagia di hadapanku dan mas Abhi ia begitu antusias membawa banyak buah tangan untukku dan mas Abhi.

__ADS_1


"Ayo pak,bu duduk dulu." Mas Abhi mempersilahkan mereka pun duduk.


Terlihat rasa peluh pada mereka berdua, dan juga keringat bapak yang mungkin membawakan barang-barang ini untukku.


"Kenapa Bapak dan Ibu tidak telpon saya atau Honey kalau mau kesini, biar pak Tarno yang jemput jadi tidak perlu repot-repot naik turun kendaraan untuk pergi kemari. Apalagi bapak dan ibu bawa bawaan yang banyak seperti ini pasti menguras tenanga," mas Abhi dengan cemas dan malu merasa menjadi menantu yang tidak peduli kepada mertuanya.


"Oh tidak apa-apa sekalian bapak juga ingin jalan-jalan sudah lama sekali bapak tidak pergi jauh." ucap Bapak.


" Ibu dan bapak bawa apa banyak sekali," sambil ku beranjak mengambilkan minum untuk kedua orang tuaku begitupun mas Abhi yang membantuku mengambilkan cemilan untuk di suguhkan kepada mereka.


"Tidak usah repot-repot nak Abhi, kamu juga jangan banyak gerak harus banyak istirahat." Ucap ibu yang menghawatirkan kondisi anaknya ini, bagi seorang ibu tidak peduli sedewasa dan setua apa mereka baginya anak tetaplah anak bak seperti anak kecil.


"Oh ya nak, ibu bawa banyak makanan kesukaan kamu. Ada dendeng balado, soto betawi, ayam ungkep biar nanti kalau kamu atau nak Abhi mau makan, tinggal goreng saja. Ibu juga bawa bolu kukus pisang kesukaan kamu dan juga puding." Dengan semangat ibu membuka satu persatu penutup wadah makanan itu.


"Banyak bener,bu. Tidak usah repot-repot HJoney bisa pesan gojek kok,"


"Kamu ini sedang mengandung jangan sembarangan makanan luar, kita tidak tahu kan apa saja bumbunya."


Aku bahagia mendapatkan seorang ibu seperti dia dan bapak yang meskipun tidak terlalu banyak bicara perhatian dan rasa peduli mereka sangatlah besar terlepas pada jaman sekarang. Bapak dan mas Abhi sedang asyik ngobrol di balkon luar, entah apa yang sedang mereka perbincangkan yang jelas sepertinya namaku akan eksis di obrolan kedua lelaki hebatku ini.


"Bu Ririn kenapa tidak ikut?" tanyaku yang sedari tadi tak melihat Ririn.


"Kamu ini daritadi baru sadar kalau adikmu gak ada. Ririn sebenarnya mau ikut, hanya saja repot nanti dia kan harus sekolah. Sayang kalau tidak sekolah dan malu sama nak Abhi suami mu itu, hidup kami sudah di jamin olehnya. Jadi jangan di sia-siakan kesempatan ini." Sambil memasukkan makanan yang ibu bawa ke dalam kulkas satu persatu dengan lihainya menempatkan dengan rapi.


"Maafkan Honey ya, bu." Aku memeluk ibuku dari belakang, rasanya hangat dan nyaman ketika aku memeluk ibuku seperti ini, rasanya tidak cukup sedari kecil memeluk seperti ini.


"Maafin Honey ya bu. Honey belum bisa jadi anak yang baik untuk bapak dan ibu." Dengan nada tertahan ku ucapkan uneg-uneg yang selama ini mengganjal di hatiku.


"Hey...udah-udah jangan seperti ini," ibu kembali memelukku. " Sekarang kamu harus jaga kesehatan karena ada si jabang bayi alias calon cucuk mama di perut kamu sekaligus pewaris dari nak Abhi kadi harus di jaga baik-baik." Aku mengangguk dan tersenyum bahagia saat melihat pancaran bahagia dengan senyuman yang menyejukkan dari wajah ibu sambil mengelus-elus perutku.


"I love you ibu, jika bukan karenamu aku tidak akan terlahir di dunia ini dan mungkin saja nasibku tidak akan seperti ini.


Sampai sore tiba bapak dan ibu mohon pamit untuk kembali ke rumah mereka.


"Ini sore loh pak,bu. Gimana mau pulang perjalanan mobil pribadi dan angkutan umum jarak tempuh lamanya perjalanann juga berbeda, boarkan pa Tarno yang mengantarkan. Kenapa bapak dan ibu tidak menginap saja disini." Rajukku karena masih kangen-kangennya pada mereka.

__ADS_1


Dengan beberapa kali debat pada akhirnya bapak yang pulang karena kasian Ririn sendiri dirumah. Sedangkan ibu disini untuk beberapa hari menjagaku agar mas Abhi bisa fokus untuk bekerja dengan tenang.


__ADS_2