Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Andi dan kamar mandi


__ADS_3

Tok...tok...tok...


"Mas," lagi-lagi Andi yang masuk.


"Ada apa!" pekikku kesal.


"Hmm, galak banget punya tante, aku mau memberikan dasi ini yang ku pinjam tadi pagi dari mas Abhi," ku terima dasinya dan bermaksud menutup pintu tapi di tahan Andi.


"Sudah lama tidak masuk sini, terakhir sebelum di rehab sekitar 5 tahun lalu." Andi melebarkan pintu sehingga kini ia masuk ke kamar.


"Kau ini masuk ke kamar tanpa ada seorang suami itu bisa jadi fitnah, bukankah kamu tahu itu, kamu kan dari keluarga ahli agama." Andi tetap masuk lebih dalam ke ruangan tempatku membuang semua penat dan lelah, Andi duduk di kasurku.


"Kamar ini tidak terlalu banyak berubah, dulu aku sering tidur bareng dengan mas Abhi disini," Andi kini menuju ruang kamar mandi.


"Memangnya kamu tinggal disini dulu?" tanyaku sambil mengikuti Andi dari belakang.


"Hmm, saat itu aku SMA tidak ingin di pesantren milik ayahnya mas Abhi, karena mas Abhi selalu pulang 2 minggu atau 1 bulan sekali dari London ke jakarta untuk mengurus bisnis. Wah... kamar mandinya sudah di perluas," Andi seketika terkejut saat melihat kamar mandi yang sekarang terdapat tempat berendam khusus, karena kata Andi duku tidak ada hanya kamar mandi kecil sederhana," Aku pun tetap mengikuti Andi dari belakang.


"Gila, dari London ke jakarta 1 bulan sekali?" Andi mengangguk meng iyakan.


"Tapi, ngomong-ngomong kamu jangan lama-lama disini. Nanti mas Abhi keburu pulang dari kerjanya, gak baik kalau seorang laki-laki berkeliaran di satu ruang bersama wanita yang sudah menikah dan suaminya sedang tidak di tempat." Andi tak menjawab lagi, ia berbalik arah menuju pintu kamar mandi.


"Mungkin Andi sudah selesai melihat-lihatnya dan kini ia mendengarkan omonganku dan mau pergi," gumamku dalam hati sambil tetap mengikuti Andi dari belakang.


Tiba-tiba Andi berbalik setelah ia menutup pintu kamar mandi dan menyudutkanku ke sisi hingga pinggangku kini menempel pada wastafel.


"Kau bilang tidak baik jika seorang lelaki masuk ke ruangan yang tidak ada suaminya dan kau mengijinkanku dengan tangan terbuka tanpa hati-hati, apa kau tidak munafik?" Kata-kata Andi seketika membuatku tersentak kaget, aku bahkan tak mampu berkata apa-apa.


"Apa karena aku keponakan nya mas Abhi sehingga kau bahkan tidak bertindak hati-hati?" Kini Andi semakin dekat padaku.


"Kau lupa kalau akupun seorang laki-laki dan bisa berbuat apa saja semauku, apalagi dalam keadaan seperti ini," wajah Andi yang semakin dekat membuatku memejamkan mata dengan rasa takut dan jantung berdebar tak menentu karena takut, ia membukakan keran wastafel.

__ADS_1


Andi menyentuh jari-jariku yang ku tahan ke dadanya agar tidak semakin mendekat, hanya hitungan 2 centi saja mungkin jarak dada bidangnya kepadaku. Andi menunundukkan wajahnya seolah ingin menciumku, tanganku gemetaran, kini tanganku berada di genggamannya Andi.


"A, Andi," mulutku seolah susah di gerakan dan susah untuk mengeluarkan suara, hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Andi tak menhiraukanku, ia masih tetap mendekatiku sambil menahan kedua tanganku yang berusaha mendorongnya, yang tentu saja percuma karena di tahan olehnya.


"Bagaimana ini, apa yang dia lakukan, apa yang terjadi," beberapa pertanyaan mendarat di fikiranku mengenai Andi.


Cekrek....Sebuah pintu terbuka langsung seketika ku buka kedua mataku melihat ke arah pintu kamar mandi berharap mas Abhi yang pulang.


Benar saja mas Abhi yang datang, ia membuka pintu kamar mandi dan tercengang melihaku dan Andi yang berada di kamar mandi berduaan. Meski saat terdengar suara pintu terbuka pertama entah dari mana aku mendapatkan tenaga untuk mendorong Andi menjauh dariku.


"Mas, sudah pulang, aku barusan mengembalikan dasi punya mas Abhi dan ingin mencucikannya karena terkena noda, aku tahu ini dasi kesayangan mas Abhi dan tidak boleh di cuci oleh mesin cuci, karena itu aku memberi tahukan Honey cara mencucinya." Andi mengeluarkan kata pertamanya dengan senyum yang seakan tidak punya salah, beda denganku yang masih memasang wajah tegangku.


"Ya sudah, kalau begitu biar nanti mas saja yang bersihin." Andi pun meminta ijin keluar dari ruangan itu. Kini hanya tinggal mas Abhi dan aku di kamar.


"Kamu tidak apa-apa?" mas Abhi mengusap kepalaku, aku reflek menjauh darinya lalu menganggukkan kepalaku.


"Sudah makan malam?" lagi-lagi jawabanku dengan menggelengkan kepala.


"Sudah kalau gitu kita makan malam,yuk. Terserah kamu mau makan dimana," Aku mencoba menjelaskan tapi mas Abhi keburu memotong nya dengan mengajakku untuk makan.


"Mas tunggu di bawah, kamu ganti baju dulu." Aku kembali mengangguk lalu bersiap mengganti pakaian setelah mas Abhi pergi.


***


"Apa yang kamu lakukan," Mas Abhi kini berada di balkon lantai bawah apartemen kami, melihat Andi sedang berada di balkon, mas Abhi menghampiri Andi.


"Seperti yang aku bilang tadi, aku sedang memberitahu Honey cara mencuci dasi yang aku pinjam dari mas Abhi," jawab Andi tenang, ia tak berani menatap mas Abhi langsung, Andi masih fokus melihat ke arah depan nya.


"Bukankah kau tahu dia sudah menikah, bagaimana bisa kau berani ke kamar kami tanpa ada aku suaminya disana," Suara mas Abhi kini sedikit di tekan dan meninggi kepada Andi.


"Mas," ku panggil mas Abhi yang sedang berada di balkon bersama Andi. Mas Abhi dan Andi secara bersamaan melihat ke arahku.

__ADS_1


Mas Abhi mendekatiku dengan senyum tulus yang menghiasi wajah tampannya dengan wajah sejuk enak di pandang.


"Yuk," Mas Abhi merangkul pinggangku mengajak keluar sesegera mungkin.


"Akupun tidak tahu apa saja yang baru aku lakukan tadi kepada istrimu," Andi bergumam sendiri ketika kami sudah pergi dan menutup pintu apartemen.


***


"Mau pesan apa?" buku menu sedang di buka-buka mas Abhi memilih menu makanan yang akan kami santap untuk malam ini.


"Apa saja, terserah mas Abhi," aku ingin membicarakan soal pekerjaan tapi rasanya bukan waktu yang tepat jika sekarang aku tanyakan kepadanya.


"Mbak, kami pesan ini dan ini yah."


"Baik,pak. minumnya apa?"


"Ini saja, beri kami dessert buah saja jangan pakai cake yah," setelah deal dengan pesanan pelayan itupun kemudian pergi untuk menyerahkan pesanan kami ke chef di dapur.


"Tadi, kamu ketemu dengan Lia?"


"Iya,"


"Dia bekerja di kantor yang Andi kelola?" Aku mengangguk.


"Begitu,"


"Dulu, Andi tinggal dirumah mas Abhi?" mas Abhi mengangguk tanda mengiyakan.


"Berarti kalian begitu dekat ya,"


"Maaf atas perlakuan Andi tadi kepadamu,ya." Tiba-tiba mas Abhi membahas kejadian tadi dengan wajah yang tampak menyesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa mas, lagi pula Andi tidak melakukan hal yang aneh kok." Aku berusaha menenangkan mas Abhi yang sepertinya kecewa kepada Andi, bisa dilihat saat di balkon tadi mas Abhi yang menatap Andi dengan dalam.


__ADS_2