
"Apa yang kamu maksud dengan tidak siap?" kini mas Abhi menurunkan kedua tangannya yang tadi sudah menyentuh wajahku.
"Apa mas Abhi mencintaiku?" tanyaku dengan serius berharap mas Abhi menjawabnya.
"Apa penting, kita sudah menikah dan sah dimata agama maupun hukum," mas Abhi saat itu langsung berdiri. Jawaban yang tidak begitu aku harapkan fari seorang mas Abhi.
"Aku hanya ingin memastikan karena hal itu penting untukku mas, untuk kelangsungan hidup kita nanti," akupun tak ingin kalah dengan mas Abhi.
"Baiklah, sekarang aku ingin tanya. Apakah kamu mencintaiku, rela bersama selamanya dan mempunyai keturunan dariku?" mas Abhi melempar pertanyaan yang tak kalah membuatku menohok.
Akupun terdiam tak menjawabnya hanya sedikit menunduk. Bukan karena aku tidak mas Abhi, tapi aku masih tidak yakin dengan perasaanku kepada mas Abhi.
"Karena pernikahan itu terasa sangat mendadak, aku bahkan tidak bisa menentukan perasaanku seperti apa. Aku bahkan masih ingin bekerja dan menikmati masa muda ku, bermain menyenangkan hati kedua orang tua." Ku lihat mas Abhi yang kini sedang berdiri jauh dari balik kaca balkon.
"Jadi kau anggap semua ini main-main saja. Baiklah kalau begitu, memang seharusnya kita menjaga jarak saja. Katakan saja apa yang kau mau," suara langkah mas Abhi perlahan mendekat padaku yang masih duduk di dalam sofa.
"Aku hanya ingin, kita berada di masa penjajakan dulu, seperti hal nya orang kebanyakan yang di Jodohkan tapi mereka tidak saling mencintai. Aku ingin bisa beraktifitas seperti biasa, ingin bisa bekerja, ingin bisa menghasilkan uang dari jerih payahku sendiri. Aku ingin kita tidur terpisah tidak memgganggu privasi masing-masing. Mas Abhi boleh mempunyai pacar, begitupun aku juga bisa punya pacar." Mas Abhi mendengar kata pacar langsung mengerutkan kedua alisnya.
"Kau tidak sedang waras kan, Han. Pacar, kita ini sudah diikat di dalam janji suci, kita itu sekarang berstatuskan menikah, bagaimana bisa kau memikirkan hal yang bisa mencoreng pernikahan ini." Mas Abhi yang tidak bisa mengungkapkan lagi kekesalannya terhadapku, dia hanya bisa memegang kepalanya.
"Kalau begitu kita cerai saja, hari ini akan aku jatuhkan.."
"Jangan,mas. pernikahan kita belum sampai 1 bulan," kataku mencegah mas Abhi mengatakannya.
"Lalu apa maumu, jika memang ingin bebas sebaikny di sudahi saja."
"Bukan ini yang aku mau," ucapku dalam hati.
"Akan aku fikirkan,"
Sejenak kami terdiam. Tak lama mas Abhi pergi meninggalkan kamar, aku hanya terdiam dan menangis.
"Apakah salah pengajuanku?" Akupun membaringkan diri di atas ranjang sampai terlelap.
Hingga pagi menjelang seperti biasa aku membereskan rumah dan menyiapkan kopi serta sarapan untuk mas Abhi. Hingga ku dapati kamsr bawah kosong dengan masih dalam ke adaaan rapi.
"Mas Abhi kemana ya, apa dia masih marah karena kejadian semalam?" gumamku lalu ku tutupkan kembali pintu kamar bawah.
###
__ADS_1
Ting... suara kode pintu terdengar dari luar menandakan ada yang masuk ke rumah.
"Mas Abhi," aku segera mengambilkan kemeja yang semalam mas Abhi pakai tergantung di tangannya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri" jawabnya lalu duduk di tempat makan kami.
"Sudah sarapan?" tanyaku lagi.
"Sudah,"
"Aku sudah menyiapkan sarapan,mas. Dimakan yah," aku merayunya karena khawatir dia belum makan.
"Mas semalaman tidak pulang,yah. Kemana?" akupun ikut kepo dengan menanyakannya.
"Ketemu teman," mas Abhi mulai memakan sarapan yang aku sediakan.
Aku mencoba untuk memulai permbicaraan semalam tapi mas Abhi sedang asyik makan.
"Mas," ku coba memberanikan diri.
"Aku ingin menanyakan hal yang semalam," aku memberanikan diri bertanya karena mas Abhi sudah selesai dengan sarapannya.
"Han, apa kamu serius dengan itu semua. Tidak akan menyesal?" tanya mas Abhi.
"Apa ini?" di kerutkan nya alis mas Abhi.
"Ini surat perjanjian kita, apa yang boleh dan tidak boleh di langgar selama masa penjajakan.", Ucapku dengan yakin nya.
Mas Abhi membaca kertas itu dengan seksama ku lihat ekspresinya yang sesekali mengerutkan alisnya selama dalam proses membacanya. Hingga iya mulai mengambil bolpoin yang ku sediakan di atas meja makan dengan ucapan "Bismillah," mas Abhi mulai mencoret kertas itu menanda tangani nya.
"Terima kasih banyak," dengan girangnya hingga tak terasa memeluk mas Abhi yang sedang duduk. Tak lama ku lepaskan kembali saat ku sadar memeluk mas Abhi salah satu syarat yang tidak boleh di langgar saat masa penjajakan berlangsung.
"Maaf," Akupun kembali duduk lalu mengambil bolpoin dan menanda tangani kertas putih itu.
"Jadi kita sekarang sudah mulai dari awal ya, mas."
Mas Abhi hanya mengehela nafas dengan senyum kecil yang sepertinya tidak ikhlas.
"Aku tidur di bawah dan mas Abhi tidur di atas," ucapku mulai menyusun kembali posisi kita.
__ADS_1
"Tidak usah, biar aku saja yang di bawah." Ucapnya dan memberi tahu bahwa kamar di bawah akan memudahkan nya pulang pergi tanpa mengangguku.
"Tidak usah, biar aku saja." Aku yang tidak enak hati menawarkan diri lagi sekali lagi.
"Lemari pakaian di bawah kecil kebetulan pakaian ku pun tidak seberapa banyak, sedangkan pakaian wanita pasti akan banyak nantinya dan kebetulan lemari di kamar atas besar kamu bisa mengisi nya." Mas Abhi pun menolak dengan halus.
"Kamar mandi atas jadi punyaku ya, dan yang bawah mas Abhi yang tinggal. Terima kasih banyak sudah mengerti aku ya mas," ucapku dengan wajah yang seperti anak kecil senang saat diberi jajan.
"Ya, nanti biar aku saja yang membereskan pakaian ke bawah," ucap mas Abhi.
"Aku bantu yah,"
Setelah selesai membereskan pakaian mas Abhi sebagian akupun mulai rebahan di kamar.
[Li,...]
[oi ada apa?]
[ Libur gak , ]
[ Besok hari minggu, tentu libur ih oncom...]
[ Ya udah kita ketemuan, yuk?]
[Dimana, kapan]
[Di tamrin city saja, sepulah kamu kerja saja]
[ ya udah ..]
Selesai chat dengan Lia, akupun mulai bersiap untuk mandi.
Tok...tok...tok
"Eh, mas Abhi ada apa?" Tanyaku saat membuka sebagian pintu karena sebagian pakaian sudah ku buka.
"Aku mau keluar ada urusan, mungkin aku pulang nanti malam agak larut kamu tidak usah menunggu,ya." Aku mengangguk tanda setuju.
"Oia, sekalian aku juga mau pergi janjian ketemu dengan Lia kebetulan dia sudah 2 hari dipindah tugaskan di kantor dekat mall tamrincity." Mas Abhi mengangguk juga lalu pergi dengan pakaian casual nya yang membuat bentuk tubuh nya yang sispack sedikit terbayang dari dalam kaosnya.
__ADS_1
"Mas Abhi barusan tidak mengatakan akan ketemu dengan siapa. Ah nanti saja aku chat aja nanyain sama siapa mas Abhi. Soalnya pakaiannya casual," lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bersambung....