Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Kertas berharga


__ADS_3

"Pagi ini cerah, aku belum mau pulang. Sepertinya harus tunggu 2-3 hari lagi deh disini," ucap Aisyah yang sedang asyik membereskan apartemen Abhi.


"Tapi...Kenapa mas Abhi masih belum keluar juga dari kamarnya, apa dia gak shalat subuh yah?" tanyanya dalam hati.


Ruang di bawah sudah Aisyah bersihkan begitupun memasak sudah Aisyah siapkan untuk sarapan Abhi.


Srekkk... Sebuah kertas putih terjatuh saat Aisyah membereskan laci lemari tv.


"Apa ini?" Aisyah mengambilnya kemudian memperhatikannya. Tiba-tiba mata Aisyah membulat, tangannya menutupi mulutnya yang menganga seketika.


"Tidak mungkin...!" Ucapnya.


Terdengar suara seseorang sedang menuruni tangga Aisyah buru-buru mengembalikkan kertas putih itu ke dalam laci, Abhi sedang turun.


"Mas..."


"Kamu sedang apa?" tanya mas Abhi yang sembari melihat sekeliling. "Kamu beberes?" tanyanya lagi.


"Iya mas," Tak lama aku pun turun dengan stelan rok span di atas mata kaki berwarna hitam dengan kemeja panjang berwarna hitam dan daleman kaos berwarna putih bersih.


"Selamat pagi," Honey memberi salam pada Aisyah.


"Han, sarapan dulu nanti kamu sakit," Tawar Aisyah yang melihatku bersiap-siap pergi.


"Aku belum lapar, makan saja dengan mas Abhi." jawabku dingin tanpa basa-basi akupun pergi tanpa ingin mendengar sepatah katapun dari mas Abhi.


Aku pergi sambil membuka aplikasi untuk memesan Grab, saat akan di klik ponselku di ambil mas Abhi yang entah sejak kapan ia berada di sampingku, sepertinya pas aku keluar dia langauh mengikutiku.


"Loh, kenapa tidak sarapan dulu?" tanyaku heran dan mas Abhi tidak mengindahkan pertanyaanku. Ia berjalan terus hingga kini aku yang berada di belakangnya.


"Siniin ponselku, aku mau pesan Grab...!" Sambil mencoba mengejar langkah mas Abhi aku sedikit berlari.


"Mas ..!" teriakku karena tak diindahkannya usahaku untuk mengambil ponselku sendiri.


Mas Abhi seketika berhenti kemudian balik badan kepadaku sambil mengulurkan ponsel yang ku incar. Segera ku melangkah hingga aku dapat menggapainya tapi sebelum itu terjadi kini mas Abhi mengangkat ponsel itu ke atas dengan sebelah tangannya hingga aku harus melompat-lompat seperti kelinci untuk mengambilnya.


"Siniin...!" teriakku karena tak bisa menggapai ponselku tentu saja karena dengan tingginya 183cm dengan aku yang mungil dengan tinggi hanya 156cm saja butuh usaha keras untuk mengambil ponsel yang di acungkan oleh tangan mas Abhi.

__ADS_1


"Mas... aku serius siniin gak. kalau nggak...!"


Deg... mas Abhi memegang pinggangku hingga bersentuhan dengan nya, karena aku lompat-lompat menyebabkan kakikku terkilir dan saat akan terjatuh mas Abhi dengan sigap langsung memegang pinggangku.


Sret...! kini ponsel telah aku raih saat mas Abhi lengah karena fokus memegangiku.


"Ku tidak apa-apa?" tanya mas Abhi yang tergambar rasa khawatir pada dirinya, akupun tak menjawab hanya menggelengkan kepala.


"Hari ini aku tidak ingin di ganggu mas Abhi sedikitpun. Aku tak mau masuk kantor, aku mau main saja!" pekikku.


"Kamu mau kemana?" tanya mas Abhi dengan suara lembutnya.


"Tidak perlu tahu, pokoknya aku mau menenangkan diri," jawabku ngasal.


"Han, jangan seperti anak kecil. Kita hanya menerima Aisyah sebagai tamu saja tidak lebih," kata mas Abhi seolah tahu penyebabku seperti ini.


"Lalu kenapa dia tidak pergi saja segera dari sini, harusnya mas Abhi tahu kalau tidak seharusnya Aisyah berada disini apalagi aku sudah tahu kalau Aisyah pernah menginginkan mas Abhi." Jawabku dengan sedikit emosi dan berniat berjalan tapi mas Abhi mencegahku dengan menarik tanganku.


"Itu dulu, Han. Sekarang aku sudah menikah denganmu kita sudah resmi akupun tidak ada sedikitpun rasa terhadap Aisyah. Dia sakit dan dia sudah aku anggap keluarga sendiri," jawab mas Abhi.


"Jika memang dia sudah dianggap sebagai keluarga mau, kenapa tidak menikah dengan Aisyah saja kenapa malah menikah denganku...!" pekikku.


"Halo, Li...kita ketemu di restoran x aku tunggu..!" ku telepon Lia dan mengajaknya untuk ketemuan.


"Hah, apa... emang ini jam berapa aku masih kerja gimana sih, emang kamu gak kerja?" tanya Lia


"Pokoknya kita harus ketemu, ijin dulu aja nanti aku yang ngomong sama Andi. Aku tunggu di restoran x yah aku juga belum sarapan...!" tanpa mendengae jawaban dari Lia aku langsung tutup teleponnya. Bisa dibayangkan Lia yang syok dengan ajakkanku pasti terbengong di kantor dan memutar otak untuk meminta ijin kepada bos nya Andi.


Memang dari dulu Lia itu peka sebagaimana sibuk pun jika aku sedang butuh teman pasti dia langsung memutar otaknya untuk bisa keluar meminta ijin ke bos nya. Begitupun sebaliknya, tapi Lia yang malah lebih sering seperti itu kepadaku dan ini kali kedua aku seperti ini kepada Lia karena itu aku yakin Lia pasti akan datang.


sementara di kantor Lia


"Duh si Honey ada-ada aja, gimana minta ijinnya sama pak Andi?"...


"Kerjakan tugas dan jangan harap kamu bisa keluar di jam kerja," perintah Pak Andi yang entah dari kapan ia sudah ada di belakang Lia.


"Ba,baik pak. Saya akan bereskan dengan cepat kemudian saya minta ijin lebih awal istirahat karena ada sesuatu hal yang mendesak." Mohon Lia pada pak Andi.

__ADS_1


"Tidak bisa, karena masih banyak yang harus kau kerjakan." Dengan secepat kilat Andi menambahkan tumpukkan berkas di meja Lia agar ia kerjakan tanpa harus menunggu waktu.


Lia yang melihat tumpukkan berkas yang menggunung tak bisa berkata-kata hanya dalam otaknya ia memilirkan bagaimana marahnya Honey saat ia tidak bisa menemui temannya itu.


"Ada apa, apa ada sesuatu dan kau tidak ingin mengerjakannya. Atau kau tetap ingin keluar saja dari kantor ini tapi jangan berharap akan bisa kembali?" Ancam Andi dengan tatapan tajamnya membuat Lia tidak berkutik .


"Ti,tidak. Pak." Senyum licik tersimpul pada bibir keponakan Abhi itu.


Back to Honey


"Makasih ya pak," Aku membayar ongkos grab yang aku pesan kini aku berada di restoran yang aku janjikan pada Lia.


"Apa Lia masih ada dikantor apa sudah kemari yah, karena kantor Lia berdekatan dengan restoran ini. Duh lapar," kemudian aku masuk ke restoran yang masih sepi pelanggan itu, bagaimana tidak sepi masih di jam-jam baru di buka.


Ku lambaikan tangan ke pelayan yang ada di restoran setelah sudah ku temukan spot yang cocok untuk ngobrol dengan sahabatku itu.


"Ada yang bisa saya bantu, bu." Suara pelayan wanita itu dengan lembut.


"Saya mau pesan teh tarik hangat dan makanannya sandwich tuna dan salad sayur yah," pelayan itu mengangguk dan segera pergi untuk membuatkan pesananku.


"Eh, Lia di pesanin juga gak yah. Nanti deh kalau dia sudah disini biar dia sendiri yang pesan ." Gumamku.


Drrr...drr...drrr...


Ku tengok ponselku untuk melihat siapa yang menelpon. Ternyata mas Abhi. Tak ku angkat dan tak ku balas pesan WA darinya, yang kufikirkan hanya ingin sendiri. O'ya aku juga membawakan oleh-oleh yang aku janjikan untuk Lia.


Sudah hampir setengah jam aku menunggu Lia tapi tak terlihat sedikitpun batslag hidungnya, salad sayur yang ku pesan sudah habis tinggal teh tarik setengah gelas lagi dan juga sandwich yang belum sama sekali aku sentuh. Di telpon Lia pun tidak menjawab, di WA ceklis satu.


"Apa terjadi sesuatu dengan Lia, ah nggak-nggak itu hanya fikiran gak baik saja." Segera ku gelengkan kepala dan berniat menelpon sahabatku itu memastikan ia baik-baik saja.


"Mbak tolong bungkus yah mau aku bawa pulang," perintahku. Setelah di bungkus akupun membayar jumlah bill kemudian keluar dari restoran itu.


"Halo, Li... kamu gak apa-apa kan. Kalau kamu sibuk sudah gak apa-apa kok gak datang juga. Aku tahu kamu pasti sibuk apalagi si Andi udah pasti gak akan ngebolehin kamu ijin." Tanpa ku tunggu sepatah katapun ku telpon Lia dan langsung nyerocos ngomong.


"Wah, sepertinya kamu punya insting kuat yah, sehingga tahu kalau sahabatmu itu gak akan aku ijinkan keluar di jam kerja " Terdengar suara tegas dari arah sisi yang tiada lain adalah Andi keponakan mas Abhi sekaligus bos nya sahabatku Lia.


"Eh, kok kesini. Loh, Lia kemana?" tanyaku polos setelah menutup telpon.

__ADS_1


"Dasar nakal, orang sedang kerja jangan di ganggu bagaimana kalau bos nya bukan aku pasti sahabatmu itu sudah di pecat dan dia akan nganggur seumur hidupnya dan menyesali keputusannya untuk menemuimu sahabatnya yang tidak tahu diri ini...!" Ucap Andi dengan kesal sambil mengusap dengan sedikit menekan di kepalaku.


"Aduh...aduh...sakit...!" kataku sambil mengusap-usap kepala.


__ADS_2