
Malam ini terasa dingin menusuk sampai ke dalam tulang-tulangku, aku terbangun dan tak ku dapati mas Abhi di sisiku. Ku ambil remote AC dan ku besarkan derajatnya hingga tak terlalu terasa dingin.
"Kemana mas Abhi, jam berapa ini selarut ini," pekikku.
Tak lama terdengar suara pintu kaca balkom tergeser hampir membuatku lari terbirit-birit, ada sosok yang muncul dari balik gorden putih balkon.
"Astaghfirullah, mas Abhi...!" dalam keadaan memegang selimut berniat menutupi seluruh tubuh dan wajahku yang tegang.
"Kenapa?" mas Abhi menghampiriku.
"Aku kira hantu, aku kira mas Abhi pergi kemana." Ku benarkan selimut yang tadi hampir menutupi wajahku.
"Tadi mas memang ke bawah sebentar membeli sesuatu. Sepertinya badanmu panas sekali, dingin?" Aku mengangguk pilu ketika tangan mas Abhi mulai memegang jidat dan leherku.
Ia mendekatkan wajah nya seolah memeriksa sesuatu membuat jantungku berdetak hebat. Wajahnya menjadi lebih dekat semakin membuatku tak nyaman dan sesak seketika.
"Apa mas Abhi mau menciumku. Ah...aku tahu tapi jangan sekarang aku sedang tak enak badan,mas." gumamku dalam hati lalu ku pejamkan mataku bersiap menerima kecupan manis dari suamiku itu karena wajahnya semakin dekat dan kini hidungnya hampir beradu dengan hidungku.
"Sepertinya benar kamu demam, istirahat yang cukup mas ambilkan obat untukmu yah." Ia pergi ke bawah untuk mengambil obat di kotak p3k. Sementara bibirku yang sudah di monyongkan untuk menyambut kecupan hangat mas Abhi kembali ku rapatkan.
"Ish... Dasar bisanya buat orang salting saja!" pekikku kemudian kembali merebahkan diri dan tarik selimut kembali.
Wajahku semakin memerah, kepalaku serasa mau pecah pusing tak karuan. Tubuhku menggigil, padahal sudah memakai selimut. Tak lama mas Abhi kembali dan membawakan obat serta mengambil air mineral.
"Ini obatnya di minum dulu. Panas sekali, aku panggilkan dokter kesini,ya." Mas Abhi yang cemas setelah memeriksaku dengan termomether menunjukkan ke angka yang cukup tinggi.
"Jangan, aku mau istirahat saja mas perutku sakit sekali." Aku meringis sambil memegang perutku yang terasa perih ulu hatiku seolah mual.
"Tapi badanmu demam sekali, minum dulu obatnya." Ia memberikkanku obat dan kembali mengistirahatkan kembali diriku yang lemas menyelimuti kembali diriku dengan dua selimut agar aku merasa hangat.
Dengan cemas mas Abhi menelpon seseorang sambil mondar-mandir.
"Mas...," penglihatanku kabur dan gelap entah apa yang terjadi ketika aku sadarkan diri ada jarum infusan menempel di tangan kiriku. Kulihat mas Abhi yang tertidur di sampingku sembari duduk dengan memegang tanganku.
"Mas Abhi sampai ketiduran seperti ini, pasti dia sangat cemas denganku." Ku sentuh dan usap rambut suamiku itu yang sedang terlelap tidur.
Akupun memeriksa kembali jidat dan leherku yang ternyata sudah kembali ke suhu normal tapi perutku masih terasa sakit tapi tak terlalu parah seperti semalam.
"Kamu sudah bangun," mas Abhi.memegang kepalaku memastikan suhu tubuhku.
"Iya,mas."
"Perutmu masih sakit?" tanya nya.
"Gak terlalu,"
"Sebentar lagi Andi dan Lia datang membawakanmu sarapan,"
"Andi?" aku kaget mendengar nama Andi yang sudah lumayan lama tak bersua dengan kami apalagi aku. Yang ku takutkan bukan apa-apa tapi mas Abhi.
"Memangnya mas kasih tahu mereka keadaanku?" mas Abhi mengangguk.
__ADS_1
Baru saja kami membahas mereka, Lia dan Andipun datang membukakan pintu kamar.
"Assalamu'alaikum...." Andi membukakan pintu kemudian Lia masuk dengan membawa kantong.
"Wa'alaikum salam," aku dan mas Abhi menjawab salam mereka.
"Honey....! kangen banget aku tuh sama kamu, tau-tau kamu sakit begini kan bikin saku syok. Hmmm...sayangku sahabatku maafin temenmu ini,ya." Lia memelukku tanpa aba-aba sedikit mengenai jarum yang menusuk tanganku.
"Aw sakit..."
"Aduh, maaf-maaf gak sengaja."
"Kamu emang gak kerja,yah?" tanyaku.
"Aku izinlah, mana mungkin aku diam saja ketika tahu temanku sakit begini. Meski aku di pecat gak apa-apa asal bisa melihatmu aku rela."
"Hemmm...dasar gombal. Bawa apa itu,"
"Bawa bubur dong," Lia membuka bungkusan itu dan menyodorkannya kepadaku.
"Kamu tak apa-apa kan?" tanya Andi. Ku lihat reaksi wajah mas Abhi ketika Andi menanyai keadaanku.
"Alhamdulillah mendingan,"
"Dokter nya kemana?" tanya Andi pada mas Abhi.
"Sebentar lagi kemari,"
"Sakit apa?" kini wajah Andi kepadaku.
"Bagaimana bisa kamu tidak jaga kesehatanmu sendiri, selain memikirkan orang lain kaupun harus pandai menjaga kesehatan sendiri." Ucapan Andi membuatku terdiam begitupun Lia tentu mas Abhi ikut terdiam.
"Aku tidak apa-apa kok, sekarang aku sehat. Mas Abhi pun menjagaku dengan baik." Ku lirik reaksi wajah mas Abhi yang masih terdiam dan Andi yang sepertinya kesal entah kenapa.
"Kenapa suasana berubah jadi canggung begini." gumamku dalam hati.
"mm, ehem-ehem... Han dimakan buburnya kan nanti dokternya kemari."
"Uek...Huek....," tiba-tiba aku merasa mual mencium bau yang tak asing.
"Loh,loh,loh... Han kenapa. Ada apa?" tanya Lia panik begitupun Abhi dan juga Andi.
"Bau, aku mau ke toilet." Lia membantuku dan memapahku ke toilet disana akupun muntah tanpa ada yang keluar hanya air saja yang keluar karena belum masuk apapun.
"Kamu bawa sate yah?" tanyaku pada Lia.
"buka sate tapi maranggi bukannya kamu suka maranggi jadi ku bawakan."
"Aku gak tahu kenapa liatnya jadi jijik apalagi mencium baunya, tolong cepat buang saja aku gak mau ada bau itu dirumah ini." Dengan rasa lemas aku menyuruh Lia membuangnya dan dengan senang hati Andi pun membuangkannya untukku meski dengan wajah herannya.
"Han, jangan-jangan kamu...?" Aku menatap Lia menunggu ucapannya keluar.
__ADS_1
"Apa kamu hamil, sudah di testpack?" aku menggelengkan kepalaku.
Terdengar suara bel berbunyi, Dokter kenalan mas Abhi datang. Namanya dokter Umi, sudah berumur namun wajahnya yang sejuk membuat semua orang yang melihat nya merasa tenang.
"Baik, saya periksa dulu yah." Mas Abhi dan Andi pun keluar menungguku di periksa.
"Apakah benar aku asam lambung, bu dokter?" tanyaku penasaran.
Ia masih dengan serius memeriksa bagian perutku dengan tetoskop nya kemudian setelah memastikannya ia kembali menutup bajuku. Lia menemaniku di sisiku, ia tak jauh dariku.
"Bagaimana dok hasilnya?" tanya Lia yang tak sabar.
Mas Abhi dan Andi pun kembali ke dalam setelah mengetahui kalau dokter Umi selesai memeriksaku.
"Alhamdulillah keadaan ibu sudah membaik, suhu tubuhpun sudah kembali normal. Tinggal memakan makanan yang bergizi dan sehat dengan teratur insya Allah akan kembali pulih." Terlihat wajah cemas yang di hadirkan mas Abhi dan Andi sedari tadi kini memudar.
"Lalu kenapa saat mencium bau sate atau maranggi aku berasa mual yah Bu dok?" Dokter Umi tersenyum sambil menyodorkan tespack kepadaku yang kemudian ku buka dan terdapat tanda garis dua berwarna merah disana.
Aku yang masih bingung mengerutkan keningku, sedangkan Lia menutup mulutnya yang menganga dengan matanya yang melotot saat melihat tanda itu.
"Han, kamu hamil. Kamu hamil Han," ucap Lia yang kemudian memelukku.
"Apa?" aku yang masih bingung.
"Alhamdulillah, selamat bu Honey anda saya nyatakan Hamil dan insya Allah sudah akurat. Kehamilan anda sudah jalan dua bulan, selamat yah?" ucap Dokter umi itu.
"Selamat yah pak Abhizar anda akan segera menjadj ayah, jaga baik-baik ibu dan calon buah hati anda dan bu Honey." Senyum terkembang dari wajah Dokter Umi begitupun mas Abhi.
"Alhamdulillah, insya Allah akan saya jaga istri dan calon anak saya, Bu." wajah mas Abhi berseri-seri kemudian melihat ke arahku.
"Kalau begitu saya pergi dulu," mas Abhipun mengantarkan Dokter Umi ke luar.
"Wah...aku akan jadi seorang tante,selamat ya Honey."Kia memeluk tubuhku dengan erat sambil berurai air mata.
"Alhamdulillah Li, syukurlah aku akan menjadi seorang ibu," akupun tak sadar meneteskan air mata.
"Selamat yah Han," ucap Andi yang sedari tadi terdiam ketika mendengar kabar kehamilanku seolah heran.
"Iya, terima kasih banyak Andi kamu juga akan menjadi seorang paman nanti," Andi mengembangkan senyum tapi bukan kebahagian seolah senyum kebingungan.
"Iya," jawabnya.
Tak lama mas Abhi pun kembali setelah selesai berbincang Lia dan Andipun berpamitan.
*Di Mobil...*
Senyum terus terkembang dari bibir Lia saat itu sedangkan Andi masih kebingungan dengan kabar yang baru saja dia terima tentang kehamilanku.
"Pak Andi tak lama lagi akan menjadi seorang paman dan aku akan menjadi seoang tante," senyum bahagia terkembang dari Lia.
"Aku harus mulai membeli perlengkapan bayi, aku tidak mau jadi tante yang gak baik," Antusias Lia membuat Andi sedikit jengkel.
__ADS_1
"Jangan senang dulu, belum tentu juga kan lulus sampai 9 bulan." kata Andi yang mulai menghidupkan mobilnya.
"Astaghfirullah, jangan bilang begitu pak. Ingat omongan adalah doa jangan sampai omongan bapak nanti bisa jadi malapetaka untuk Honey dan pak Abhi." Tanpa mendengar bahkan merespon perkataan dari Lia Andi mulai melajukan mobilnya menembus jalan raya menuju kembali ke kantor.