
"Mas, kenapa mas biarkan Andi nginep disini?" Aku melemparkan tas ku ke atas kasur sedangkan mas Abhi menutup pintu kamar.
"Andi disini hanya sebentar, lagi pula mas kangen sama keponakan mas yang nakal itu," senyum mas Abhi yang manis terpancar dari bibirnya.
"Tapi, tetap saja dirumah ini kamar hanya ada dua. Dimana nanti dia tidur," jawabku.
" Andi bisa tidur di kamar bawah, mas biar tidur di kursi saja"
"Apa nanti gak curiga kalau Andi liat mas Abhi tidur diluar?" gumamku.
"Ya sudah terserah mas saja, tidur di kamarku saja, mas. Lagi pula keponakan mas tidak tahu kalau kita tidak tidur bareng," mas Abhi hanya mengangguk kemudian pergi mengambil pakaiannya di bawah.
"Mas, kenapa pakaian mas ada disini, bukannya kamar mas di atas yah?" Tanya Andi yang merasa heran saat tahu semua kebutuhan mas Abhi termasuk pakaian dan keperluan mas Abhi lainnya berada di kamar terpisah.
"Biasa Di, barang perempuan memang selalu menang. Hehehe...," jawab mas Abhi dengan tenang sambil membereskan semua pakaian yang akan ia kenakan besok.
"Hmm, mas. Gimana dengan mbak Aisyah, apa ia tahu kalau mas sudah menikah?"
"Iya,"
"Terus gimana mbak Aisyah?"
"Ya gak apa-apa, mau gimana lagi namanya jodoh itu jorok memang," mas Abhi meletakkan pakaiannya di atas kasur lalu duduk.
"Andi dengar kalau pernikahan mas sama istri mas sekarang itu karena tidak di sengaja ya, kalau gitu mana bisa di katakan jodoh," Andi kini melepaskan kaos yang sejak tadi menempel di badannya sehingga nampak kini dada nya yang sispack.
"Mau bagaimana pun tetap saja mas sudah menikah dan itu juga di sebut jodoh karena mas sudah ber ikrar," Mas Abhi mengambil pakaiannya bersiap keluar.
"Ya sudah, kamu bersihkan diri dulu. Mas juga mau mandi ke atas,"
"Eh mas," langkah mas Abhi terhenti dan langsung melirik.
"Tapi, sepertinya istri mas itu galak yah. Bawel dan cerewet susah di atur, hihi keliatan dari raut wajahnya yang judes."
"Kamu itu gimanapun juga dia sudah menjadi tante kamu walaupun usia kalian hanya beda 3 tahun,"
"Eh, tapi bagaimana malam pertamanya mas Abhi sama dia. Wah gak bisa di bayangkan, mas Abhi yang polos dan dingin sama wanita dari dulu, tiba-tiba menikah dan gak bisa di bayangkan malam pertamanya. hehehe,"
"Sudah, mandi sana." Mas Abhi pun keluar membiarkan Andi dengan fantasinya membayangkan pamannya.
"Lah malah pergi," Andi kini pergi ke kamar mandi dan bersiap membersihkam diri.
"Andi, anak itu gak berubah sampai sekarang," gumam mas Abhi di balik pintu kamar Andi.
***
Abhi pergi ke kamar mandi membersihkan diri, setelah selesai, ia mengambil bantal dan selimut meletakannya di atas sofa. Di lihatnya Honey sudah tertidur lelap, iapun membaringkan tubuh dan membalikkan tubuhnya ke arah kasur yang di tiduri Honey hingga kini bisa melihat nya.
"Malam pertama, kiss?" Abhi pun memejamkan matanya setelah sedikit lama memandang Honey yang terlelap.
****
"Mas, jangan ah"
__ADS_1
"Kenapa, kita sudah menikah." Abhi menggenggam tangan Honey.
"Tapi, aku malu" Honey menatap mata suaminya yang sendu seolah memohon untuk diijinkan.
"Mas ini suamimu, kita sudah sah. Boleh yah?" Abhi membujuk Honey agak setuju.
Honey pun mengangguk. Kini Abhi memulai dengan mencium kedua tangan istrinya Honey lalu mencium bibirnya mulai tangannya bergereliya ke pipi lalu ke pundaknya hingga tangannya hampir mendengkati kedua belah tebing yang tersangkut kokoh di antara kedua dadanya.
Brukk...!
"Astaghfirullah...!" Abhi yang kini tersadar telah membenjolkan kepalanya ke lantai mengusap wajahnya yang masih belum kumpul nyawanya.
"Mimpi," Abhi mulai tersadar dan melihat jam menunjukkan pukul 4 subuh. Ia bergegas membersihkan diri dan bersiap menunaikan shalat subuh setelah membangunkan Honey untuk shalat juga.
****
"Pagi, mas" Andi menyapa mas Abhi lalu duduk di tempat makan.
"Pagi," tak lupa Andi juga menyapa Honey yang kini menjadi istri pamannya itu.
"Hari ini mas mau kerja?" tanya Andi.
"Iya. Mas asa urusan," jawab mas Abhi.
"Kalau gitu aku tidak ada teman jalan-jalan," keluh Andi lalu memakan sandwich yang sudah di sediakan Honey.
"Kenapa gak ajak mbak Honey saja kalau mau jalan-jalan," pernyataan mas Abhi membuatku menohok.
"Ah iya bener, mbak Honey nanti temani aku jalan-jalan ya,heheeh" antusias Andi karena akan ada teman.
"Batalkan saja," jawab Andi.
"Ap, apa batal?" di balas anggukan Andi.
"Lelaki ini pagi-pagi sudah buat jengkel!" pekikku dalam hati.
"Nggan bisa, karena aku lebih dulu ada janji dengan teman," aku yang tidak mau kalah.
'Hmm, ya sudah kalau gitu aku jalan sendiri saja."
"Akhirnya lelaki ini mau ngalah," gumamku dalam hati.
"Ya sudah kalau gitu mas mau pergi dulu," akhirnya mas Abhi pun berangkat kerja. Aku mulai membereskan rumah sementara Andi masuk ke kamar nya.
Dret...dret...dret...
"Mas Abhi," Aku langsung bangkit rebahan di atas kasur.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam... Kamu ada dirumah?"
"Iya,"
__ADS_1
"Siap-siap nanti mas jemput,"
"Loh, mau kemana?" tut...tut..tut... telpon langsung di tutup oleh mas Abhi.
Setelah sejenak berfikir aku memutuskan bersiap-siap takut mas Abhi datang belum siap.
"Wah segernya," Ku lepaskan rasa dahaga dengan mengambil air dingin yang tersedia di dalam kulkas.
Cekrek..., Andi membuka kulkas lalu mengambil air dingin untuk minum.
Glek...glek...glek..."Aahh...segarnya," Andi menyimpan kembali air dingin ke dalam kulkas.
"Bukannya tadi pagi mau pergi sendiri?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Hmm,"
"Terus, kenapa masih disini,?"
"Bukannya kamu sendiri ada janji, kenapa masih disini," seketika aku diam tak bisa membalas ucapannya.
"Jangan-jangan hanya alasanmu saja tidak mau mengantarku," Andi menyeringai lalu membasuh gelas bekas minum nya.
"A, aku memang ada janji kok. Hanya saja temanku sedang tidak bisa, ia masih sibuk." Berharap Andi percaya dengan alasanku.
"Hmm, begitukah?"
Deg ..deg...deg...
Tit...tit...tit...tit...tit...
Suara kode membuka pintu terdengar.
"Ah mas Abhi," fikirku.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam," kami sahut salam mas Abhi bebarengan.
"Loh, bukannya kamu mau jalan-jalan yah," tanya mas Abhi yang heran karena keponakannya masih ada dirumah.
"Iya, tapi liat cuacanya seperti itu jadi males. Akhirnya sendiri rebahan di kamar," mas Abhi mengangguk ketika mendengar alasan Andi.
"Terus mas kenapa jam segini sudah dirumah?" Andi dengan muka herannya karena mas nya sudah pulang.
"Oh, mas ada urusan kesini untuk jemput istri mas." Andi melihat ke arahku dan menganggukkan kepala beberapa kali.
"Lelaki ini bener-bener tidak sopan," pekikku.
"Ya udah mas, yuk kita berangkat." Aku sedikit mendorong mas Abhi pergi ke luar.
"Mas, aku ikut." Andi kembali ke kamarnya lalu keluar dengan mengambil ponsel nya.
"Kamu ikut dengan kami?" tanya mas Abhi.
__ADS_1
"Nggak aku mau kerumah teman sebentar,sekalian saja numpang di mobil mas Abhi,"
"Oh iya boleh, yuk." Kamipun pergi setelah memastikan apartemen sudah aman.