Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Sarapan


__ADS_3

***


"Bhi, tolong ambilkan nenek kacamata," mas Abhipun mengambilkan kacamata untuk nenek tercintanya itu lalu duduk di depan nenek.


"Istrimu mana, nenek belum sempat ngobrol kemarin," ucap wanita paruh baya itu.


"Honey sedang di dapur, nek. Katanya mau buatkan nenek roti ala breadtalk," ucap Abhi.


Wanita tua itu tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya sambil memandang ke luar, karena posisi duduknya menghadap jendela yang sedang terbuka. Tak lama akupun menghampiri dengan menyodorkan roti ala breadtalk buatanku. Entah kenapa tiba-tiba saja kepikiran ingin membuat roti kangen saat masa-masa dulu masih bersama mama kami selalu membuat roti untuk di dagangkan adikku Ririn di sekolahnya. Lama kelamaan roti itupun berepolusi ke roti yang lebih menarik dan dengan bermacam-macam rasa.


"Nek, ini dimakan lumayan untuk sarapan pengganjal perut sebelum yang lainnya matang, dan ini teh nya." Aku membelah roti yang berisikan slai srikaya itu lalu meletakan di piring yang kemudian nenek terima.


Bak seperti sedang berada di kontes master chef saat wanita setengah abad lebih itu mencicipi roti yang aku buat dari subuh mengadoni tepung khusus untuk membuat roti hingga ku uleni dan diami sampai di cetak aku yang buat.


"Lebih tepatnya tak ingin kalau sampai Aisyah yang selalu di depan," pekikku dalam hati.


"Enak, seperti roti yang ada di cafe-cafe,"


"Yes..! akhirnya aku dapat nilai dari nenek mas Abhi. Tentu saja pasti enak, karena saat masih kerja di sebuah cafe akulah yang di percaya untuk membuat roti kosong maupun isi." Merasa menang karena saat itu juga Aisyah baru saja sampai ke rumah utama untuk membantu menyiapkan sarapan untuk nenek.


"Aisyah cobain, enak." Saat nenek menawarkan Aisyah roti mas Abhipun menolong Aisyah mengambilkannya untuk mencicipi roti yang aku buat. "Nih, cobain roti buatan Honey." Aisyahpun membuka dan mencicipi roti buatanku. Ia mengangguk tanda menerima bahwa memang roti buatanku itu enak.


"Tapi, kalau makan roti setiap hari bukannya gak baik untuk kesehatan. Apa mas Abhi sarapan roti setiap hari?" celetuk Aisyah diikuti nenek yang langsung mengerutkan alisnya setelah mendengar Aisyah berbicara seperti itu seolah meminta jawaban yang pasti pada cucunya.


"Tentu tidak setiap hari, Abhi di buatkan sarapan sama istri Abhi dengan menu berbeda-beda." Aku terkesan dengan mas Abhi yang membelaku, padahal lebih sering ketika aku bangun mas Abhi sudah berangkat kerja.Memang selalu aku siapkan sarapan jika kebetulan mas Abhi agak siang perginya, itupun bahan-bahan yang ada dirumah, seperti nasi goreng, nasi putih plus telur ceplok, kadang ataupun roti sandwich.

__ADS_1


Nenek besar menganggukkan kepalanya sedangkan Aisyah mendelikkan matanya kepadaku seolah kalah karena tak berhasil menyudutkan ku di depan mereka.


Tak ingin banyak basa-basi aku menuju dapur lalu menyiap - nyiapkanenu sarapan yang aku buat untuk nenek. Tersedia nasi kacang-kacangan yang pernah aku makan dulu di salah satu restoran Taiwan ketika makan malam dengan Lia, aku juga memasak ayam goreng serundeng, sambal goreng, dan juga pepes tahu. Nenek, mas Abhi, bapak mertua, dan juga Aisyah sedikit terkejut dengan menu yang dihidangkan hanya untuk sarapan begitu banyak.


"Wah, sarapannya kali ini menunya mewah, sudah 2 bulan kita gak makan se mewah ini berasa di warteg." Pak Kiayi segera duduk lalu membalikkan piring yang tersedia di atas meja. Ku sendoki satu persatu nasi ke piring nenek,mertua, dan mas Abhi kecuali Aisyah.


"Gak mau aku sendoki nasi padanya, kan punya tangan sendoki aja sendiri," Kini aku yang mulai mendelikkan mataku padanya.


"Sah, kenapa gak makan bareng sini sarapan bareng saja," pak Kiayi menyuruh Aisyah untuk duduk dan sarapan bersama, tapi Aisyah menolak karena sudah sarapan lebih dulu tadi bersama anak santriwati.


Aisyah pun pamit pergi dan kami bersama sarapan, banyak pujian yang mereka lontarkan kepadaku. Rasa takut yang menghantuiku karena menikah mendadak dengan mas Abhi, tak ada kabar,tak ada seserahan, to the point dengan sekejap mas Abhi sudan resmi menjadi suamiku.


***


"Terima kasih banyak untuk hidangannya," terkembang senyum yang begitu menenangkan dari mas Abhi menyambut puasnya hidangan yang ia makan untuk sarapan hari ini bersama keluarganya. Ia mendekat, tapi aku spontan mundur, entah kenapa seketika itu teringat saat nenek Besar mengatakan bahwa mas Abhi mengantarkan Aisyah dan menginap beberapa hari.


"apa?"


"Tidak jadi," mas Abhi mengerutkan kedua alisnya hingga hampir bertemu antara keduanya.


"Katakan saja, ada apa?"


"Sudah lama rasanya tidak main kerumah ibu dan bapak, aku..."


"Setelah dari sini kita kerumah bapak dan ibu kamu,"

__ADS_1


"Tapi, kita harus mengurus pekerjaan dulu." Bukan itu yang ingin aku katakan, tapi rasanya berat karena terikat perjanjian tidak boleh mengusik kehidupan masing-masing. Aku yang semenjak resmi di sunting oleh mas Abhi, rasa penasaranku kepada laki-laki lain seolah pudar, entah kenapa yang jelas niatku kepada mereka seolah berangsur turun.


"Tidak apa-apa beberapa hari saja kan gak akan buat perusahaan rugi, lagipula ada Andi yang akan meng handle," kata yang di lontarkan mas Abhi tak sama dengan pesan yang Andi dan Lia kirim kepadaku.


[ Honey! kapan Loe pulang, cape banget ngurus dua perusahaan. Gak kasian sama temen terbaik mu ini, hiks... ] itulah pesan keluhan yang Lia kirimkan melalui WA ku.


[ Suruh mas Abhi cepat pulang, aku mau istirahat. Sudah satu minggu lebih di pondok, kalian kira honeymoon apa?" ] Dan inilah yang Andi keluhkan kepadaku, ia kirim pesan WA yang sama kepadaku. Walau di akhir pesannya ia menuliskan [ jaga diri baik-baik jangan tegang-tegang dirumah mertua ] Seolah ia mengerti perasaanku dari pada suamiku sendiri.


"Tidak usah, mas. Kita pulang saja, kasian Lia dan Andi mereka kelelahan mengurus 2 kantor sekaligus. Apalagi Andi pasti lebih sibuk,bisa di bayangkan bagaimana ia sibuknya melayani setiap klien yang datang dengan berbagai macam permintaannya." Aku tersenyum membayangkan mereka berdua yang solid tapi sering sekali curhat mengenai kekurangan masing-masing.


Lia yang selalu mengeluh dan membicarakan Andi yang super duper tegas dan galak segala sesuatu harus sempurna dan baik. Dan juga Andi yang selalu mengeluhkan sahabatku dan juga sekertarisnya karena di sangka lelet sampai disuruh membuat kopi pun tak bisa. Bagaimana bisa sigap, Lia adalah anak manja dari keluarga yang mampu dan berkecukupan, jangankan membuat kopi mengambil air untuk minum dirinya sendiri aja sering banget mager. Tapi Lia sekarang banyak perubahan dari sebelumnya, lebih sedikit-sediki mandiri dan juga dewasa apalagi setelah putus dengan Bobi tambah bijak walau cengeng.


"Mas dekat sekali dengan Aisyah, yah. Sepertinya kalian sangat akrab dan tidak canggung seperti kita," aku langsung menutup mulut lancangku setelah mengatakan itu, sedangkan mas Abhi hanya tersenyum tenang.


"Iya, kami sangat dekat dulu. Kami teman bermain, teman ngaji,teman curhat juga, mungkin karena itu kami tidak canggung satu sama lain karena sudah tahu satu sama lain."


Seolah tak ingin mendengar lebih akupun memotong bicaranya. "Besok kita jadi pulang?" tanyaku.


"Insya Allah," jawab mas Abhi.


"Aisyah?" terlihat Aisyah yang sedang berdiri di belakang saat kami di balkon.


"Mas, kata pak kiyai bisa tolong gantikan untuk menyambut tamu dari luar, karena pak Kiyai harus pergi dan pulang sore.


"Tamu, siapa, kapan?"

__ADS_1


"Sekarang, tamunya sudah ada di rumah dan pak kiayi sedang pamitan untuk pergi." Mas Abhipun pergi mengikuti Aisyah ke bawah setelah pamitan denganku untuk mengurus tamu bapak mertua di bawah. Aku tak ikut karena sepertinya tamu penting, jadi Aisyah yang pergi terlihat mereka berdua berjalan menuju rumah pak Kiyai karena rumah pak Kiyai karena rumah pak Kiyai dan nenek besar pisah. Sejak ibunda tercintanya mas Abhi meninggal rumah pak kiyai kini berfungsi untuk menerima tamu. Selalu ada orang yang khuus bersih-bersih disana, pak kiyaipun jiga siang hari selalu pergi kesana untuk merenung atau sekedar membaca-baca buku musaf.


Kulihat tak ada batasan diantar mas Abhi dan Aisyah, bahkan hampir berdempetan. Mas Abhi yang kulihat selalu merasa risih terhadap yang bukan muhrimnya berbeda dengan Aisyah. Entah kenapa rasanya sedikit mengganjal di hati melihat mereka berjalan beriringan seperti itu.


__ADS_2