
Satu minggu sudah sejak kejadian itu, aku sering sekali menghindar dan menjawab seperlunya saja kepada Andi. Jujur saja kejadian itu membuatku masih sedikit trauma sehingga secara refleks jika Andi sedikit berdekatan saja denganku, tubuhku secara tidak langsung menjauhinya.
Mas Abhi pun sepertinya sadar dengan apa yang aku lakukan, tapi Andi dengan sikap biasa-biasa nya itu seolah tidak ada hal yang sudah terjadi antara aku dan Andi. Sedikit kesal sebenarnya dengan tingkah Andi yang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Siang itu tepat hari minggu dan mas Abhi tidak ada jadwal apapun. Biasanya di hari weekday pun mas Abhi masih harus sibuk dengan pekerjaannya, tapi hari ini tidak. Aku gunakan kesempatan ini untuk meminta sebuah ijin yang sudah menjadi unek-unek yang harus di keluarkan dan sepertinya inilah saat yang tepat, karena keadaan di tempat kami sekarang hanya terdapat aku dan mas Abhi saja sedangkan Andi pergi keluar dan entah jam berapa pulangnya.
Aku berinisiatif membuatkan mas Abhi teh hangat dan cemilan frozen food yang terdapat di freezer, kebetulan ada frozen food dontang yakni donat kentang yang hanya tinggal menggorengnya sudah terdapat gula tabur di dalamnya. Ku suguhkan donat panas itu di atas piring dan gula taburnya ku pisah di piring satu lagi karena takut kalau mas Abhi tidak suka pakai gula tabur, kalaupun mau pakai tinggal di cocol kan saja donatnya.
Mas Abhi mengembangkan senyumnya ketika melihatku menyimpan makanan di atas meja.
"Makan dulu mas donatnya mumpung masih panas," Ku letakan donat itu dengan satu cangkir teh tawar hangat.
"Iya makasih,ya." Mas Abhi duduk lalu meminum teh hangat dan mengambil donat.
"Hari ini sedang tidak ada kegiatan ya?" tanyaku.
"Hmm," masih dengan mulut mengunyah mas Abhi menjawab
Tiba-tiba saja mulutku serasa terkunci.
"Ada apa?" tanya mas Abhi. Aku masih diam otakku masih berputar-putar memikirkan cara ngomong kepada mas Abhi agar tak menyinggungnya.
"Besok mas ada perlu, mau mengantarkan teman ke cirebon, mungkin mas nginep beberapa hari disana. Kamu tidak apa-apa mas tinggal beberapa hari saja?" tanya nya. Aku mengangguk tanpa menjawab atau bertanya siapa yang diantar mas Abhi, perempuan atau laki-laki.
"Kebetulan sekali, mas. Sudah beberapa hari ini aku mau ngomong sama mas, ada restauran yang sedang membutuhkan pekerjaan. Selama ini kan aku hanya sendiri dirumah," kulihat ke arah mas Abhi yang sedang memperhatikan tujuan pembicaraanku.
"Aku....,"
__ADS_1
"Tidak boleh," mas Abhi tetiba menjawabku sebelum ku selesaikan omonganku dan seolah akupun sudah mengerti dengan apa yang mas Abhi maksud.
"Karena aku sudah biasa bekerja keras, bahkan di saat aku masih sekolah SMA pun aku bekerja paruh waktu, jadi aku seperti terbiasa dengan bekerja. Jadi, hanya di resto dekat kok " mata dan wajahku memelas meminta agar diijinkan oleh mas Abhi. Dia menggelengkan kepalanya tanda tetap tidak setuju.
"Aku tidak terbiasa menggunakan uang orang lain, jadi..."
" Kamu masih menganggapku orang lain bahkan kita sudah berstatuskan suami istri, bagaimana bisa?" tanya nya membuatku sedikit merasa bersalah.
"Bukan begitu. Maaf mas aku tidak bermaksud, aku hanya ingin kekosonganku saat dirumah bisa terisi dengan bekerja. Lagipula kita masih dalam masa penjajakan, bukankah kita sudah sepakat tentang hal itu?"
Mas Abhi terdiam, ia menatap ke arahku dengan tajam dan sesekali melihat ke arah lain kemudian menatapku. Aku tak berani melihat ke arahnya, ku tundukkan sedikit wajahku dari mas Abhi.
"Bekerja di kantorku, jika memang kamu ingin bekerja " jawabnya setelah beberapa menit terdiam.
"Tidak bisa, kenapa harus di kantor mas Abhi?" tolakku.
"Kamu masih tetap ber sikukuh ingin bekerja dengan alasan mengisi kekosongan dan tidak biasa menggunakan uang orang lain? kalau begitu bekerja di salah satu kantor mas, akan mas gaji sesuai prosedur yang berlaku." Mas Abhi serius menawarikku pekerjaan.
"Akan aku fikirkan nanti," Aku membereskan piring bekas donat yang ku suguhkan tadi kepada mas Abhi ternyata habis, hanya tersisa sedikit bubuk-buku dari gula halusnya.
"Drrr ....drrr....drrr..." suara ponsel mas Abhi yang terletak di meja bergetar, sepertinya ada telpon. Aku segera bangun dan membawa piring kotor tadi untuk ku cuci, sedangkan mas Abhi beranjak pergi ke balkon ketika menerima telepon dari seseorang entah rekan kerjanya mungkin.
****
Hari ini mas Abhi tidak ada dirumah, kemarin ia ijin untuk pergi ke cirebon mengantarkan temannya. Ke cirebon mungkin maksudnya ke pesantren.
"Apa mungkin temannya mas Abhi ada yang menjadi ustad disana,yah?" fikirku.
__ADS_1
Sambil sibuk membereskan rumah aku masih teringat dengan tawaran mas Abhi untuk bekerja di kantornya.
" Tapi kalau begitu sama saja aku tetap menggunakan uang mas Abhi, aku kan bukan ingin begitu," kembali menghela nafas. Tiba-tiba suara pintu terbuka setelah seseorang membuka kode kunci otomatis.
Cekrek...
"Andi...!" pekikku dalam hati bola mataku melotot bulan seakan mau keluar saking kagetnya, setelah beberapa hari ia tidak pulang.
"Kenapa dia pulang pas mas Abhi tidak ada," gumamku. Aku kembali berjalan menaiki tangga.
"Aku lapar, boleh aku meminta sesuatu yang bisa di makan?" saat tangga ke tiga ku injak, tiba-tiba Andi berbicara. Aku beberapa detik terdiam tak ku jawab tak ku iyakan, pada akhirnya aku turun lalu pergi ke dapur membuatkan sesuatu untuk bisa Andi makan.
Kulihat tidak apa-apa hanya ada mie telor, dan telor yang berada di kulkas. Aku ambilkan mie telor serta telor ayamnya ku rendam degan air hangat mie telor kering nya sebentar di tuangi minyak supaya tidak lengket lalu di tiriskan. kemudian ku iris bawang dan bumbu lainnya, ku buatkan Andi mie goreng buatanku. Kebetulan ada timun jepang di kulkas ku jadikan lalapan temani makan mie goreng untuk Andi.
Setelah jadi ku hidangkan mie goreng itu kepada Andi yang sedang duduk di depan lalu ku cuci kembali bekas memasak tadi, aku berniat pergi meninggalkan Andi.
"Han," Andi memanggil.
"Temani aku sebentar saja," ucapnya.
Tak ku hiraukan ajakkannya aku langkahkan kaki satu demi satu menaiki tangga.
"Sebentar saja, sebelum aku pergi," entah kenapa saat mendengar kata pergi aku segera mendekatinya dan duduk menemaninya makan.
"Ada apa?" jawabku ketus.
Andi tersenyum tipis sedikit membuatku kesal, sesendok demi sesendok Andi memasukkan makanan yang dimasak olehku ke dalam mulutnya. Ia tak berhenti makan sampai mie goreng itu habis. Lalu ia meminum segelas air putih dingin yang ku sediakan untuknya.
__ADS_1
"Enak juga siang-siang gini di beri mie goreng,hehehe..." Aku sedikit melotot dengan ucapannya.
"Bukannya berterima kasih sudah ku buatkan makanan," pekikku dalam hati.