
"Aduh.....mas kerudungku kotor semua lupa aku cuci," imbuhku saat menemukan kerudungku yang kotor
"Kita beli Syal saja nanti kamu buat kerudungan menutupi rambutmu," jawab mas Abhi santai.
"Gimana mau beli syal waktunya mepet cuman 20 menit lagi belom jalannya, belom nyari yang pas, ribet dan makan waktu," aku yang kesal waktu itu menggerutu layaknya burung beo.
Aku kesal dengan diriku sendiri karena keteledoran sendiri lupa padahal hanya sebuah kerudung paris yang tipis di kucek saja dan di pajangkan memakai hanger sudah akan kering walau hanya di angin-angin.
"Hotel sebegitu mewahnya tapi perkara ini cucian baju kotor ribet banget. Coba kalau ada di khusus kan para pelayan untuk mencuci dan me londry pakaian para costumer di setiap hotel, kan enak gak selalu ribet." Hardikku.
"Kalau seperti itu juga bisa, hanya saja tidak semua pelanggan hotel mau menerimanya. Belum lagi mereka tidak tahu kwalitas pakaian yang pelanggan pakai, kadang juga ada yang ribet kalau sampai salah bisa menghilangkan nilai nintang dari hotel tersebut. Jadi lebih baik seperti itu saja," mas Abhi memeluk melilit pinggangku dengan tangannya.
"Ya kalau gitu sediakan saja di setiap kamar hotel mesin cuci kecil kan gampang...!" celetukku gak mau kalah.
"Nanti kita usul saja setelah akan pulang dari sini, yah. Sekarang kita cari syal saja dulu." Mas Abhi yang tidak ingin banyak berdebat denganku.
"Gak akan cukup, mas...waktunya." Jawabku masih tak mau kalah.
"Terlambar sebentar kan gak apa-apa,"
"Aku juga harus dandan loh mas,"
"Bawa saja peniti dan bros nya langsung pakai di sana."
Aku tak banyak cakap lagi setelahs elesai memoleh wajahku, ku ambil tas dan pangsung turun ke bawah dengan mas Abhi menuju toko terdekat. Kebetulan di seberang hotel ada salah satu toko yang menjual berbagai outer pasti diasana juga ada jual syal.
Ketika sampai aku langsung masuk ke dalam dan mengambil syal tipis berwarna hitam putih perpaduan warna yang elegan tapi tidak terlihat ramai. Langsung ku pakaikan dan ku hias dengan bros yang ku bawa setelah berada di kamar ganti.
"Sudah?"
"Huuh,"
"Tuk...." mas Abhi mengajak peegi setelah menggesek sebuah credit card.
"Maaf yah,mas."
"Hmm...kenapa?" tanya nya.
"Aku tadi bawel dan berbicara keras,"
"Memang sifatmu biasanya kan seperti itu," ucap mas Abhi yang membuatku membelalakkan kedua mataku padanya.
"Apa....?!" ucapku.
"Perempuan yang biasanya hidup keras, mandiri bahkan menjadi tulang punggung keluarga memang rata-rata akan mempunyai sifat tempramen seperti itu,"
"Memangnya aku sebegitu tempramennya, apa!"
"Tapi mas suka," wajahku langsung memerah.
"Bisa saja,mas." aku memukul halus tangan mas Abhi.
**Di tempat pertemuan**
Membutuhkan waktu 15 menit menuju tempat tujuan ke pertemuan yang di janjikan. Kami menaikki mobil yang disediakan perusahaan, sudah termasuk sopir nya.
Sesampainya di tempat pertemuan, terdapat beberapa orang-orang penting disana yang tidak perlu di sebutkan.
__ADS_1
Saat kami sampai, beberapa orang pandangannya menuju kami.
"Hai Mr. Abhizar, how are you long time no see." Salah satu teman bisnis mas Abhi dari L.A menyapa.
"Hi...Mr. Samuel, nice to meet you too. How is your business?"
Mereka pun saling menyapa kemudian aku di perkenalkannya mas Abhi kepada beberapa tman bisnis mas Abhi.
Beberapa orang mendekati mas Abhi tak terkecuali teman bisnis wanitanya juga ikut menyapaku sebagai istri mas Abhi. Aku melihat sekeliling yang ku tuju adalah makanan, tentu saja aku suka sekali makan apalagi yang berbau dessert selain lucu juga sudah di pastikan enak. heheh...
"Han..." seorang lelaki menepuk pundakku dari belakang terdengar suara yang tidak asing lagi aku menoleh.
"Hendra... wah kebetulan sekali kamu ada disini, jadi yang kamu maksud mega proyek itu ini,yah?"
"Huuh...kamu juga disini, suami kamu berarti salah satu dari mereka?" aku menganggukkan kepalaku.
"Permisi..." mas Abhi yang baru saja datang dengan menyapu pegangan Hendra yang belum lepas dari pundakku seketika Hendra menjauh.
"Halo, saya Hendra gunawan." Ia mengulurkan tangannya meminta balasan jabat tangan yang di balas juga oleh mas Abhi.
"Hai..."
"Kamu mau makan?" tanya mas Abhi yang tidak mengindahkan sapaan dari Hendra.
"Mas ini teman waktu aku SMP namanya Hendra gunawan, dulu kami satu kelas." Ucapku berharap mas Abhi sedikit ramah seperti ke rekan bisnis nya yang lain.
"Oh, halo. Bagus kebetulan sekali bisa bertemu dengan teman satu sekolah dulu," sapa mas Abhi masih dengan dingin.
"Iya, kami satu sekolahan dan satu kelas waktu SMP. Kami juga sempat pacaran dulu ala-ala sekolah, gak nyangka bisa ketemu Honey disini, ya kan Han..." Aku yang langsung kikuk oleh pernyataan Hendra.
"Eh...iya mas. I, itu cinta monyetk kok iya kan Hen. hahahaha." mencoba mencairkan suasana.
"Oh, begitu... Yank sebentar lagi akan di bahas masalah mega proyek kita sebaiknya kita kembali ke meja kita," mas Abhipun langsung menyeretku ke meja tujuan meninggalkan Hendra tanpa basa-basi.
Aku sedikit tersentak saat mas Abhi mengatakan kata yank...ingin tertawa tapi leadaan juga sedang tegang saja tiba-tiba.
"Ta, tapi...." aku menoleh ke belakang melihat keadaan Hendra yang tersenyum saat melihatku di bawa mas Abhi.
*** Di Hotel ***
Sejak tadi di pertemuan mas Abhi hanya fokus dengan mega proyeknya sambil tak jauh dari sisiku walau aku sibuk menyicipi berbagai menu hidangan dessert yang tersedia di meja.
"Mas..."
"Hmm..."
"Aku lapar... tadi aku hanya makan dessert saja jadi serasa nyemil aja gitu,"
"Kamu mau keluar...kita cari makan atau mau pesan saja biar mereka antarkan?" tawar mas Abhi.
"Tapi perutku begah juga, makan gak yah...?"
"Mas ..."
"Hmm ..kini mas Abhi berganti pakaian ke pakaian santai dengan kaos berwarna putih dan celana pendek santai. Anehnya saat ia berpakain santai kharisma ke lelakiannya semakin memikatku.
"Tadi...kenapa mas tidak ramah sekali dengan Hendra?"
__ADS_1
"Tidak kok...kamu saja yang terlalu difikirin,"
"Mana ada, emangnya aku anak kecil yang tidak tahu body language mas. Mas kan suamiku," celetukku.
"Kalau memang iya kenapa?"
"Tapi kenapa?"
"Karena ia salah satu yang pernah mencintaimu, sudah jelas kan?"
"Itukan SMP, mas. Mana bisa di samakan pacaraan saat sudah dewasa."
"Sudah bagaimana saja dengannya?" tanya mas Abhi tiba-tiba.
"Apaan sih, cuman pegangan tangan saja kan wajar," tetiba mas Abhi menciumi kedua tanganku.
"Lalu apa lagi?" aku yang kaget dengan tingkah mas Abhi hanya terdiam.
"Dia...pernah membelaiku..." mas Abhipun membelaiku
"Lalu..."
"Lalu...ia pernah memegang pinggangku hingga kami berdekatan wajah satu sama lain," kataku. Lalu mas Abhipun langsung mendekapku hingga kini wajahku berdekatan dengan mas Abhi.
"Begini...?"
"Kurang dekat," jawabku. Ia kini menekan tubuhku hindda wajahku mendongak ke atas untuk melihat wajahnya karena mas Abhi tingginya 182cm sedangkan aku 155 saja kecil dan pendek.
Wajah mas Abhi kini di miringkan agar hidung mancungnya tak bertabrakan dengan hidungku yang kecil mancung.
"Lalu...?" katanya seolah menantang.
"Lalu... ia mencium dan bermain lidah denganku dengan sangat lama hingga tangannya meremas buah dadaku yang tergantung tetap disana..." ku tambahi agar mas Abhi juga melakukan hal yang sama sesuai apa yang aku katakan karena kini birahiku seolah di pancing olehnya.
Tiba-tiba mas Abhi melepaskan dekapannya hingga hampir membuatku terjatuh, tapi tidak terjadi karena ia menahanku.
"Jangan ngadi-ngadi mana ada SMP pacaran seperti itu," celetuknya sambil mengambil sweater yang di pakaikan ke tubuhnya.
"Cih...gak bisa di bohongi ternyata," bathinku.
"Ada kok..."
"Tapi mas percaya kamu tidak seperti itu," ucapanya yang seperti itu malah membuatkan terlempar ke dunia ke uwuan hingga membuatku begitu terlena, padahal hanya kata sederhana.
Akupun mendekap mas Abhi dari belakang di heser olehnya agar kini kami saling berhadapan. Ia menundukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya laku mengulum bibirku yang tipis. Disana kami sedikit bermain lidah saat dirasa mas Abhi sudah mulai sedikit mengeras, ia melepaskanku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Bukannya kamu lapar, kita cari makan diluar sudah jam 11 malam kita midnight..." Sambil membenarkan posisi celananya yang sedikit menggencet ruang lingkut gerak anu nya.
"Tapi mas emangnya gak apa-apa begitu?" tanya ku lagi.
"Udah ayo, mas gak apa-apa..." ia pun merangkulkan tangannya ke leherku mengajakku keluar dari kamar hotel.
"Ingat, jangan dekat-dekat dengan pria lain selain aku." Mas Abhi sambil memegang tanganku menuju pintu lift, aku hanya tersenyum tanpa mengangguk dan mengatakan iya.
Yang aku tahu saat ini aku bersyukur bisa bersama dengannya yang begitu mencintaiku.
__ADS_1