Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Gerogi


__ADS_3

***


"Li, maaf banget dadakan juga kasih tahu nya. Aku gak bisa makan siang sama kamu sekarang karena mas Abhi mengajakku untuk meeting bertemu dengan investor baru," kukirimkam pesan pada Lia yang takut menungguku, tapi masih belum ada balasan.


"Sudah siap?" mas Abhi sudah kembali memakai jas nya karena setiap di ruangan kerjanya, mas Abhi selalu membuka jas nya.


"Oh, iya udah siap," kami pun pergi ke ruang meeting, kebetulan meeting nya masih di kantor.


Deg degan pertama kalinya bekerja di sebuah kantor, biasanya aku pekerja tenaga dari beberapa restoran termasuk cafe, pernah juga bekerja jadi OB di sebuah kantor tapi tak pernah lama hanya beberapa bulan saja sudah keluar, karena ternyata kebetulan atasan yang berada di tempat kerjaku laki-laki nya pernah aku porotin setelah itu aku tinggal hahahahaha. Tapi Alhamdulillah hanya satu cafe yang membuatku bertahan sedikit lama, yakni cafe terakhir tempatku bekerja.


"Sepertinya kita terlalu cepat datang, apakah benar jam segini kita mulai?" tanya mas Abhi setelah kami sampai di meja rapat.


"Eh iya kok, beneran di data tertulis jam..." mas Abhi mengembangkan senyumnya sambil mengusap kepalaku.


"Iya, mas tahu. Hanya saja mereka yang menjanjikan selalu ngaret sedikit," ucapnya tenang.


"Loh, kok bisa begitu. Kan harusnya sesuai perjanjian, dong. Yang seperti ini mana bisa di jadikan meeting, malah merugikan waktu saja," gumamku pada mas Abhi. Mas Abhi tersenyum melihat wajahku yang sedikit bete, akupun berjalan mengelilingi kursi demi kursi yang di posisikan membulat, dan mas Abhi sedang menyiapkan projector untuk meeting.


Sampai akhirnya aku mendekati mas Abhi karena penasaran ingin melihat benda yang dinamakan projector itu, kakiku malah tersangkut kabel hingga hampir jatuh. Syukurlah mas Abhi dengan cepat memegang pinggangku hingga tak jadi terjatuh dengan posisi terlentang, akupun memegang leher mas Abhi karena takut jatuh. Tapi kini, wajah kami bertemu, hampir berciuman, mata kami saling menatap, begitu dekat, jantungku seperti bermain di pacuan kuda terpompa begitu cepat.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, begitu indah ciptaan Mu, pantaskah aku..." gumamku dalam hati.


Mas Abhi terus menatapku dengan sendu, akupun seolah tak ingin melepaskan cengkraman tanganku di atas lehernya. Entahlah apa yang aku dan mas Abhi fikirkan, yang ku lihat mata mas Abhi seolah mengatakan jangan lepaskan, jangan pergi. Akupun mulai enggan melepaskan tanganku, masih ku kaitkan, kini sedikit ku tekan hingga wajah mas Abhi semakin mendekat ke wajahku.


"Mas," kataku lewat mata batinku pada mas Abhi, seolah mengerti mas Abhi pun semakin mendekatkan wajahnya kepadaku.


Tok...tok...tok...


Ada seseorang dari balik pintu kaca bermaksud untuk masuk. Aku lepaskan tanganku dari mas Abhi, tapi mas Abhi seolah enggan melepaskanku.


"Mas, ada orang mau masuk," kucoba melepaskan cengkraman tangan mas Abhi di pinggangku, tapi susah.


"Ma, mas....!" dengan sedikit sentakan ku panggil mas Abhi.


"Astaghfirullah...," mas Abhipun akhirnya melepaskan tangannya dan membantuku berdiri.

__ADS_1


"Masuk," mas Abhi membuka pintu kaca itu. Aku dan mas Abhi sedikit kikuk saling tatap-tatapan dengan rasa malu.


"Kapan datang?" tanya mas Abhi.


"Baru saja, tapi lama sekali buka pintu nya, saya kira ada apa-apa," jawab laki-laki itu. Sekali lagi kami kembali saling melirik lalu dengan cepat mengarahkan mata ke arah yang lain seolah tak ingin menjawab pertanyaan dari laki-laki itu atas kejadian yang baru saja terjadi. Mas Abhi pun tersenyum tanpa menjawab.


"Itu siapa pak?" tanya laki-laki itu.


"Oh, ini adalah..."


"Sekertaris baru mas, eh pak Abhi. Nama saya Honey panggil saja saya Han." Tanpa aba-aba aku segera menyela mas Abhi sebelum ia memperkenalkannya sebagai istri.


"Oh, iya. Salam kenal juga saya Robi," jawabnya.


"Dia sekertaris sekaligus istriku," jawab mas Abhi tiba-tiba. Akupun sedikit memelototi mas Abhi, tapi sayang mas Abhi orangnya gak panasan. Ia dengan tenang memperkenalkanku sebagai istrinya.


"Oh, begitu. Maaf atas sikap saya barusan," kini laki-laki itu meminta maaf.


"Ja, jangan begitu, tidak apa-apa kok" jawabku..


Satu persatu yang akan mengikuti meeting berdatangan. Pada akhirnya kami pun mulai meeting saat semua sudah dirasa kumpul.


Tak lepas sedikitpun padanganku terhadap sosok kekar nan tampan di hadapanku sedang berdiri menerangkan rencana demi rencana untuk masa depan kantor mereka. Orang yang begitu tak ku pungkiri ke kerenan nya, wajah yang begitu menyejukkan, mata yang begitu sendu. postur tubuh yang tinggi, badan yang kekar tapi tak seperti aderai.


"Ah, Honey. Apa yang kamu fikirkan," gumamku. Teringat kembali kejadian sebelum meeting saat mas Abhi memegang pingganku dengan erat, dan saat ku berusaha melepaskan tangannya. Terasa urat-urat tangan yang keluar menahan beban berat dari tubuhku itu.


"Bagaimana dengan tubuh mas Abhi, ya. Astaghfirullah," buru-buru ku usap semua wajahku dan menyadarkan diri saat lamunanku terlalu jauh.


"Apa yang aku fikirkan, Honey sadar ini sedang meeting." pekikku sendiri dalam hati.


"Ada sesuatu?" tanya mas Abhi semakin membuatku kaget, sepertinya mas Abhi sadar aku memperhatikannya dari tadi.


"Ah, tidak ada. Barusan saya..."


"Oh, kalau begitu tolong penggaris besi," pinta mas Abhi. Akupun segera mengambilkan nya dengan cepat dan menyerahkan penggaris itu kepada mas Abhi.

__ADS_1


***


"Lah, wajar saja kalian kan sudah menjadi suami istri, sah lagi." Ucap Lia yang saat ini sedang berada di depanku duduk.


Kami tidak jadi makan siang bareng, tapi kini kami sedang duduk di meja makan untuk menikmati makan malam.


"Entah lah, akhir-akhir ini aku sering banget memikirkan hal-hal yang gak wajar kepada mas Abhi, rasanya tidak sopan saja." Aku mengeluh sambil menyenderkan daguku di atas tangan di atas meja.


"Tidak sopan bagaimana, dia itukan mas Abhimu, suamimu. Lagian salah sendiri kenapa kamu buat aturan sendiri seperti itu, jadinya kan kamu repot sendiri." Menu yang kami pesan pun kini berada di meja kami.


"Atau kamu saja toh deketin suamimu itu, wajar kok seorang istri."


"Ah nggak mau, kalau aku sendiri yang deketin mas Abhi rasanya seperti wanita gatal saja. Lagian aku juga tidak tahu bagaimana perasaan mas Abhi padaku, Huhu...rasanya pusing sekali."


"Kamu sendiri yang bikin repot," jawab Lia.


Aku memang sengaja berniat makan bersama dengan Lia malam ini karena tadi siang aku makan siang dengan mas Abhi karena itu malam ini aku meminta mas Abhi untuk mengijinkanku makan malam bersama Lia.


"Eh, tapi. Bagaimana teman kerja mu disana, ramah-ramah kan, pastilah karena suamimu itu memperkenalkanmu sebagai istrinya. Tapi jarang sekali loh di jaman sekarang ada bos memperkenalkan langsung istrinya ke publik. Yah, kamu tahu sendiri kan mereka biasanya punya selingkuhan di tempat kerjanya, biasanya yang sering sama sekertarisnya tuh," ucap Lia merayu.


"Kalau soal itu aku percaya rasanya gak mungkin mas Abhi seperti itu," jawabku.


"Wah, yakin sekali," sambil memakan ramen yang ia pesan.


"Yakinlah, karena ada disana pekerja mas Abhi yang bermama bu Mastani bilang padaku. Ia karyawan lama disana, sejak Bapaknya mas Abhi masih urus kantor disana, bu Mastani sudah bekerja disana. Yang ku dengar usianya sudah menginjak 45 tahun tapi dia masih produktif. Meskipun di usianya sekarang, bu Mastani masih tetap tekun dan sehat. Ia posisi masih menjadi karyawan tapi gajinya melebihi karyawan yang lain loh." Akupun mulai memakan spicy ramen yang aku pesan.


"Wah, langka sekali laki-laki seperti itu." Ucap Lia meyakinkan.


"Tapi,"


"Apalagi?"


"Akhir-akhir ini sejak mas Abhi mengantarkan teman nya itu ke Cirebon, selalu ada yang menelponnya. Yang anehnya, jika aku berada di samping nya telpon itu tak pernah ia angkat malah di reject. Tapi kalau aku gak di sampingnya, langsung ia angkat," jelasku.


"Ah, mungkin perasaan kamu saja. Jangan mikir yang aneh-aneh, di kantor saja ia menurut karyawan nya gak begitu, berarti kecil kemungkinan dengan yang lain. Apalagi sepertinya suamimu itu susah untuk berbaur dengan orang baru." Aku hanya bisa mengangkat kedua bahuku tanda tidak tahu, kamipun melanjutkan makan kami dan berbincang ke tema yang lain.

__ADS_1


__ADS_2