Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Mie Kadaluwarsa


__ADS_3

"Pak Wang!" teriak Hexa beberapa kali memanggil kepala pelayan.


Sembari menunggu, Hexa pun membantu Dhira berjalan ke tempat tidur dengan hati-hati.


"Iya, Tuan Muda. Ada apa?" Pak Wang tampak ngos-ngosan karena berlari dari lantai bawah.


"Ambilkan obat mual, cepat!" titahnya.


"Baik, Tuan Muda." Pak Wang lagi-lagi berlari menuruni anak tangga karena kotak obat ada di lantai bawah.


Dua menit kemudian Pak Wang kembali dengan membawa obat mual dan memberikannya pada Hexa. "Minum ini dulu." Hexa pun memberikannya pada Dhira beserta segelas air.


'Baru kali ini aku melihat tuan muda begitu panik,' batin Pak Wang.


Sedetik kemudian, tiba-tiba saja perut Dhira bergemuruh, ada sesuatu lagi yang ingin keluar, tapi bukan ingin muntah.


Dhira bergegas berlari ke toilet dan membuang ampas makanan yang sudah masuk ke perutnya. Ya, dia mengalami diare saat ini.


Wajah Dhira tampak semakin pucat setelah keluar dari toilet, sepertinya ia sudah mengalami dehidrasi, tubuhnya terasa begitu lemah.


"Pak Wang, Anda bisa bawa mobil, 'kan? Bawa Dhira ke rumah sakit, aku akan menyusul setelahnya," titah Hexa, ia tak bisa menundanya lebih lama, Dhira butuh penanganan medis, obat yang ia berikan tidak bekerja, Dhira terus muntah dan bahkan sekarang mengalami diare, akan bahaya jika dibiarkan begitu saja.


Setelah kepergian Pak Wang yang membawa Dhira ke rumah sakit, Hexa baru menyadari bahwa tubuhnya gemetar.


'Ada apa dengan tubuhku? Apa aku sepanik itu?' batinnya yang merasa aneh pada dirinya sendiri.


Lantas ia masuk ke dapur dan mencari sesuatu di tong sampah, itu kali pertama ia melakukan hal kotor seperti itu, dan juga kali pertama ia masuk ke dapur selama ia tinggal di rumah itu.


Para pelayan yang melihat Hexa, semuanya merasa heran, tapi mereka juga tidak berani bertanya apalagi melarangnya.


Apa yang dicari akhirnya ia dapatkan, kemasan mie instan yang dimakan Dhira kemarin malam ia lihat lebih teliti.


Matanya tertuju pada expiration date (tanggal kadaluwarsa) pada kemasan tersebut.


"Kadaluwarsa? Dia sungguh memakan makanan ini?" gumamnya.


"Ck, sialan!" Hexa melempar kemasan mie tersebut dengan kasar, membuat beberapa pelayan yang ada di dapur terkejut melihat kemarahannya.


"Katakan siapa di antara kalian yang membawa nona muda ke supermarket?" Tatapan mata Hexa benar-benar mengintimidasi semua pelayan yang ada di sana, mereka saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


"Tidak ada yang ingin mengaku?" bentak Hexa lagi.


Sejurus kemudian satu pelayan wanita menunjukkan dirinya. "S-saya, Tuan."


"Di supermarket mana kau membawanya?"


"Apa lagi yang ia beli selain mie instan?"


"Jawab, Tuan Muda. Nona meminjam uang saya, sebenarnya saya yang memberikan uang itu, saya kasihan melihat nona saat saya belanja keperluan dapur, sepertinya nona sangat ingin membeli beberapa makanan, jadi saya membiarkan Nona membeli apa yang dia mau." Pelayan itu tertunduk takut saat menjelaskannya.


"Jadi masih ada beberapa makanan instan yang dia simpan?" tanya Hexa lagi.


"Benar, Tuan Muda. Nona meminta saya untuk menyimpannya."


"Keluarkan semua!" titah Hexa semakin terlihat geram.


Pelayan tersebut bergegas mengambil semua makanan yang ia simpankan untuk Dhira di lemari dapur, lalu memberikannya pada Hexa.


Masih ada mie instan yang sama, tanggal kadaluwarsanya pun juga sama, semuanya sudah tidak layak untuk dikonsumsi.


"Apa kau tahu bahwa rasa kasihanmu itu sudah hampir membunuhnya? Ini rasa kasihan yang kau maksud?"


"Sekarang aku memberi kesempatan padamu, bekerjalah lebih baik lagi. Aku tidak pernah mengampuni orang yang melakukan kesalahan berulang kali." Hexa memperingati dengan sorot mata yang begitu tegas.


Masih dengan begitu emosi Hexa membawa makanan itu ke supermarket di mana Dhira membelinya.


Seluruh karyawan serta manager supermarket tersebut ia marahi habis-habisan sampai tidak ada yang berani berkutik, sebab mereka tahu betul siapa Hexa, di lain sisi mereka juga tahu akan kesalahannya karena lalai dalam mengecek barang yang masuk.


"Jika sampai ini terulang lagi, maka aku tidak akan pernah sungkan membuat supermarket ini bangkrut dalam semalam," ucapnya memperingati, lalu ia menendang kantong kresek yang berisi mie instan tadi lantas berlalu pergi meninggalkan orang-orang yang sedang ketakutan seperti kura-kura yang diketuk cangkangnya.


Di tengah kebisingan lalu lintas yang berlalu-lalang, Hexa kini melajukan mobilnya, mengemudi sendiri tanpa Sekertaris Jo, menembus jalanan kota untuk tiba di rumah sakit di mana Dhira dirawat.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Hexa pada kepala pelayan.


Melihat kedatangan Hexa, Pak Wang segera berdiri menyambutnya dan menjawab, "Dokter sudah menanganinya, Tuan muda. Sekarang Nona sedang istirahat di dalam."


Hexa tampak lega. "Anda pulanglah, biar aku yang menunggunya di sini," ujar Hexa.


"Baik, Tuan Muda. Saya pamit pulang dulu." Pak Wang pun membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Hexa masuk ke kamar pasien, di sana Dhira masih terbaring lemah dengan infus di tangannya.


"Beruntung sekarang karna kau sedang sakit, tapi aku tidak bisa menjamin bahwa kau akan baik-baik saja setelah sehat nanti, akan kuberi pelajaran padamu karena melakukan hal tanpa persetujuan dariku," gumam Hexa sambil menatap wajah pucat Dhira.


Dua dan Tiga jam berlalu, Hexa mulai tampak gelisah karena Dhira tak kunjung bangun dari tidurnya.


'Dasar kerbau betina, dia tidur sepanjang malam, sementara membiarkanku terjaga satu malam penuh,' rutuk Hexa dalam hati, lingkaran hitam di matanya kini tampak jelas.


Sayup-sayup, Dhira mengernyitkan dahinya serta dengan mata yang mulai terbuka, ternyata sudah pagi.


Kini perasaannya jauh lebih baik dari semalam, ia juga merasa tubuhnya kembali segar dan bugar.


Dhira duduk di ranjang, ia menoleh ke arah sofa, kini seorang pria yang tak asing sedang duduk menatap tajam ke arahnya.


Dhira buru-buru memutar bola mata berpaling dari Hexa, tatapan pria itu seperti sedang menghakiminya.


'Kesalahan apa lagi yang kulakukan sekarang? Dia begitu galak bahkan saat aku tak melakukan apa pun,' Dhira membatin sembari memejamkan mata begitu rapat, takut pada Hexa.


Setelah beberapa detik tidak terdengar suara Hexa bicara, Dhira kembali menoleh, tapi ternyata Hexa masih menatapnya begitu lekat tanpa berkedip, membuat Dhira mau tak mau memaksakan diri tersenyum canggung pada pria itu.


"Selamat pagi, Tuan. Sepertinya Anda begitu bekerja keras, lingkaran mata Anda sudah mirip dengan mata panda," ujar Dhira dengan polosnya.


"Menyamakanku dengan binatang? Apa kau sudah bosan hidup?" cetus Hexa dingin.


Dhira seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Apa dia salah bicara lagi? Astaga, Dhira. Kenapa belum sadar juga, pria itu memang sebuah kutub es, dan juga mudah tersinggung, lebih baik kau diam saja jika berhadapan dengannya, mau bicara benar pun akan tetap salah di telinganya.


"Anda menunggu saya di sini sampai tidak tidur, Tuan?"


Cukup, Dhira! Jangan bertanya lagi, kau bisa dilahapnya bulat-bulat jika salah bicara.


"Dari mana datangnya kepercayaan dirimu itu? Siapa yang kau sebut sedang menunggumu sampai tak tidur?" ketus Hexa yang tampak kesal.


"Lantas kenapa Tuan ada di sini?" tanya Dhira lagi. Tolonglah, siapa yang harus memberitahu wanita itu agar tidak banyak bicara, setelah sakit, kenapa keberaniannya malah makin meningkat?


"Aku baru saja datang, cuma ingin memastikan apakah kau masih hidup atau sudah sekarat, aku tidak punya banyak waktu menunggu perempuan sepertimu hingga menghabiskan waktu satu malam yang berharga," sanggah Hexa.


Lihatlah pria ini, dia ahlinya dalam berkelit, ia begitu enggan untuk memberitahu Dhira bahwa dirinya memang berada di sana sepanjang malam menunggu wanita itu bangun, sampai rela dirinya tidak tidur satu malaman.


Hexa gengsinya kelewatan ya, Guys. Hihi

__ADS_1


__ADS_2