Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Dilema


__ADS_3

Malam hari pun menyapa, semua kembali berkumpul di kamar kakek.


Saat Hexa masuk, ia melihat pamannya sedang berbincang dengan sang kakek, raut wajah paman tampak tak sedap, apalagi saat ia datang, tatapan kebencian tersorot di matanya.


Entah kenapa lagi dia.


Di sampingnya sudah ada Derta yang duduk dengan wajah membiru. Oh, mungkin karena itu lantas pamannya mengadu pada kakek, ia tidak terima jika anaknya dipukul.


"Benar kamu memukul Derta, Hexa?" tanya Kakek, ia sama sekali tidak terlihat emosi meski sudah dibujuk untuk memarahi Hexa.


"Pandai mengadu ternyata, tidak tahu malu," cibir Hexa sambil menatap ke arah Derta. Cunguk itu sekarang masih tertunduk, hanya sesekali saja mengangkat kepala melihat Dhira yang masih berdiri di samping Hexa.


"Bukan itu pertanyaan yang seharusnya ditanyakan padaku, kenapa tidak tanya langsung kenapa aku memukulnya, tidakkah kalian penasaran?" tutur Hexa sinis, apalagi saat menatap pamannya, bagai seekor elang yang ingin menelan mangsa bulat-bulat.


"Tentu saja karena kau memang orang yang kejam, semua orang mau dipukul agar tunduk, selalu merasa diri paling berkuasa sampai keluarga sendiri pun diburu," cibir sang paman yang dengan cepat menyahuti ucapan Hexa.


Lagi-lagi Hexa tersenyum miring, menatap ayah dan anak itu, entah kenapa gen mereka bisa sama persis, sama-sama bodoh.


"Kau sungguh tidak diberitahu oleh anak nakalmu itu kenapa ia mendapat pukulan dariku?"


Hexa berpindah menatap Derta. "Hei, Derta, kenapa kau tidak katakan saja pada ayah yang katanya selalu membelamu itu? Katakan padanya bahwa kau menginginkan wanitaku, kalau bisa sekalian saja minta restu padanya."


Mendengar ucapan Hexa, Derta benar-benar semakin tenggelam dalam diam, tak berani menatap siapa pun yang ada di sana.


"Cih, beraninya kau menyamakan dirimu dengan anakku. Selera kami tidak sepertimu yang suka dengan wanita rendah dan miskin. Masih banyak wanita terhormat yang mengejar Derta," sanggah pamannya tak terima.


Hexa masih begitu tenang, malah ia merasa pamannya itu benar-benar gelap mata, tidak bisa melihat seperti apa selera anaknya sendiri.


"Wanita terhormat apanya? Seorang wanita yang terhormat tidak akan mau mengejar lelaki, mereka yang terhormat, lebih memilih harga diri ketimbang lelaki, apalagi jika hanya untuk mengejar pria seperti Derta, kurasa yang Anda maksud mungkin wanita yang berada di klub malam itu, 'kan? Wajar, Derta juga sering ke sana menghabiskan malamnya." Tanpa sungkan Hexa membongkar semuanya.


Selama ini ia selalu melindungi Derta setiap kali anak itu diusir karena pergi ke klub malam.


Namun, sikap Derta yang lancang membuatnya tak bisa melindungi anak itu lagi, sekalian saja buka semua rahasia yang selama ini tidak pernah diketahui oleh kakek.


"Klub malam? Kau benar-benar membiarkan anakmu pergi ke tempat seperti itu? Dia bahkan belum menyelesaikan kuliahnya, apa dia benar-benar akan jadi mahasiswa abadi yang tak lulus-lulus? Bagaimana bisa menjadi penerusku?" Kakek tampak marah.

__ADS_1


"Haih, sudahlah. Dia tidak memenuhi kriteriaku. Aku sudah menetapkan siapa yang akan mewarisi seluruh aset dan harta yang kumiliki." Kakek tak ingin marah berkepanjangan, ia ingat tubuhnya tidak lagi sama, ia tak boleh terlalu emosi jika tidak ingin darah tingginya semakin memperparah kesehatannya.


"Kek, tolong jangan dengarkan omong kosongnya, kamu tahu sendiri Derta ini anak yang baik, dia tidak mungkin pergi ke tempat seperti itu, selama ini ia selalu belajar dan belajar." Ayah Derta tampak panik, mulai melakukan pembelaan untuk anaknya itu.


"Belajar, tapi kuliah tidak selesai selama 6 tahun, apa yang dia pelajari? Cara meniduri wanita? Ck, naif sekali," timpal Hexa yang semakin terkekeh geli melihat pencitraan pamannya yang tak mau kalah darinya.


"Diam kau!" bentak sang paman dengan mata yang melotot.


"Sudah cukup, beraninya kau membentak cucu kesayanganku. Memangnya kau siapa?" Kakek balik membentak, tidak suka jika orang lain terlalu berani membentak Hexa di depan matanya.


"Kek, Derta juga cucumu, kau tidak bisa bersikap tidak adil seperti ini." Kini pamannya mulai memelas.


"Hexa, mengalahlah, kau jauh lebih dewasa dari Derta, jangan seperti anak-anak. Kerukunan keluarga itu lebih penting," sahut ayahnya yang kini tiba-tiba angkat bicara.


Hexa berpindah menatap pria paruh baya yang katanya adalah ayahnya, tapi tidak pernah sekali pun merawatnya dari kecil, jika bukan karena kakek, ia tidak tahu akan seperti apa pertumbuhannya sekarang.


"Apa kau pernah melihat aku mengalah demi menutupi kebenaran yang ada? Kurasa kakek juga tidak menyukai itu," jawab Hexa santai, begitu malas menatap ayahnya.


"Sudah-sudah. Yang dikatakan Hexa benar. Jika salah maka akan tetap salah, jangan meminta orang untuk mengalah demi menutupi kesalahan itu sendiri," jawab kakek membenarkan.


"Hexa, kau boleh memilih siapa pun wanita yang kau kehendaki, aku sudah lelah memaksamu menerima perjodohan ini."


"Tapi, Kek." Lina segera menyela ucapan kakek, ia sedikit tidak terima mendengar orang tua itu yang tiba-tiba memasrahkan keputusan Hexa untuk memilih wanita mana pun. Bagaimana dengan dirinya, ia menunggu selama bertahun-tahun hanya untuk menerima kenyataan yang seperti ini? Tentu saja ia tak terima, kesal dan marah dengan keputusan itu.


"Memangnya kau ingin hidup dengan pria yang tak menyukaimu?" tanya kakek.


"Kata orang-orang, rasa suka itu bisa timbul dengan sendirinya karena terbiasa, apa salahnya mencoba?" desak Lina yang tak mau dirinya diabaikan dan ditinggalkan.


"Tapi sayangnya aku tak berminat mencobanya denganmu," jawab Hexa lugas dan cepat. Raut wajah Lina tampak semakin kesal, ia tak dapat berkata apa pun lagi.


"Kenapa tidak tanyakan saja pada Dhira? Apakah dia bersedia tinggal denganmu? Menjadi wanitamu? Melahirkan anak untukmu?" Derta yang dari tadi diam tak berani bicara, kini ia malah mengangkat kepalanya bicara dengan lantang. Suasana menjadi hening sejenak, semua orang menatapnya. Apalagi Hexa, sepertinya hanya dia yang paling kesal dengan ucapan lancang itu.


"Bagaimana, Dhira? Tidakkah kau ingin keadilan untuk hidupmu? Kau bebas mengatakan yang sejujurnya sekarang. Dari tadi kami hanya mendengar ocehan Kak Hexa yang tetap ingin memilihmu sebagai pasangannya, tapi kami mengabaikanmu, biarkan kami tahu apa yang kamu inginkan, apakah kamu juga ingin bersama Kak Hexa? Atau ... hanya Kak Hexa saja yang terlalu berharap?" ujar Derta lagi sambil menyorot matanya ke wajah Hexa. Anak ini benar-benar berani.


Semuanya berpindah menatap Dhira, ikut penasaran apakah yang akan dikatakan oleh Dhira, apa benar hanya Hexa saja yang begitu terobsesi, atau ... apakah mereka malah saling menyukai?

__ADS_1


Jangan tanyakan bagaimana gugupnya Dhira ketika semua mata mengarah ke dirinya, seakan dunia berhenti berputar dan jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sesaat.


Apa yang harus ia katakan, apa dia harus mengatakan bahwa ia ingin bebas dari Hexa? ?Namun, apakah itu adalah ungkapan hati yang sebenarnya? Kenapa ia sedikit merasa tak rela untuk mengatakannya?


Dhira menatap Hexa yang ternyata dari tadi juga menatapnya.


Menyadari Dhira juga menatapnya, Hexa segera berpaling muka, seolah tak peduli tentang jawaban apa yang akan Dhira ucapkan. Padahal sedikit harapan tersimpan agar Dhira berkata, bahwa ia masih ingin tinggal bersamanya.


"Katakanlah, kami semua tidak akan memaksa, jika memang kamu lakukan ini karena terpaksa sebab Hexa yang mengancammu, maka kami akan membantumu. Biarlah Hexa menjadi urusanku. Katakan saja yang sejujurnya." ujar kakek di sela kesunyian itu.


Dhira lagi-lagi menatap Hexa, ingin sekali rasanya ia mendengar apa yang sedang ada di hati pria itu, mungkinkah Hexa mengharapkan ia tetap tinggal, atau sama sekali tak peduli dengan semua tentang dirinya? Ah, Dhira benar-benar dilema kali ini.



Percakapan Dhira dan Hexa diluar konteks



Dhira: "Para pembaca ada yang bisa bantuin Dhira buat jawab, gak?"



Hexa menjawab, : "Katakan saja kamu mau tinggal bersamaku. Jangan sok cari pelarian dan membuat para pembaca pusing, sudah cukup kau membuat hatiku berputar seperti gasing.



Eeaakk!!



Swit banget sih Babang Hexa. Hihi


Mau dong dipeluk sama tubuh kekarnya. Wkwk..


__ADS_1


Kaboorr!!!


__ADS_2