
"Dhira, kau kenapa? Mau ke mana?" Mila, wanita yang menawarkan Dhira pekerjaan sebagai pelayan di bar, sekaligus menjadi seorang teman bagi Dhira. Ia tampak ikut panik melihat Dhira berlari dengan tergesa.
"Aku harus kembali, Mil. Aku akan mati jika terlambat." Dhira menjawab dengan tergesa, wajahnya tak kalah panik.
"Orang itu sudah kembali?" tanya Mila lagi, Dhira pun mengangguk cepat.
"Aku duluan, ya, Mil." Dhira menepuk pundak Mila dan berlari menuju ruang ganti.
Mila ikut berlari di belakang Dhira, tiba di ruang ganti, Mila meminta nomor telepon Dhira agar hubungan mereka tidak terputus begitu saja. Sebab Dhira pasti tidak akan datang ke bar itu lagi untuk bekerja.
"Makasih, ya, Mil, dan maaf mengecewakanmu, aku pulang sebelum waktunya." Dhira memelas.
"Sudah, keselamatanmu lebih penting, pergi, gih, sana, jangan sampai terlambat."
Dhira mengangguk dan mereka berpelukan sebelum berpisah di ruang ganti.
"Ah, sial sekali. Bagaimana aku menjelaskan padanya mengenai kartu itu? Dia pasti akan menghukumku lagi," gumam Dhira yang kini sudah naik ojek.
"Bisa lebih cepat lagi tidak, Pak?" teriak Dhira sambil menepuk pundak sang tukang ojek.
"Ini juga sudah kenceng banget, Mbak. Saya mah lebih pentingin keselamatan aja, Mbak. Bahaya kalo terlalu cepet, anak bini saya masih nungguin di rumah," jawab tukang ojek yang membuat Dhira diam, ia tak lagi bicara, hanya dalam hati terus berdoa agar bisa terkejar.
Detik berikutnya, kini sepeda motor sudah memasuki pekarangan rumah. "Di sini, Mbak?" tanya tukang ojek untuk ke sekian kalinya. Tak percaya kalau wanita yang tampak sederhana itu tinggal di rumah yang super duper mewah, bahkan dirinya tak pernah membayangkan rumah sebesar ini.
"Saya cuma pelayan di rumah besar ini, Pak," jawab Dhira. Yang mematahkan rasa takjub tukang ojek itu, ternyata ia hanya bicara dengan seorang pelayan, bukan majikan.
"Makasih, ya, Pak. Udah nganterin." Dhira tersenyum.
"Saya nganterin gak gratis, lho, Mbak." Pertanda bahwa ia minta dibayar, sebab Dhira tidak memberikannya sepeser uang pun.
'Astaga, bagaimana ini? Aku tak punya uang,' batinnya sambil pura-pura mencari uang di dalam tasnya.
"Bapak tunggu di sini dulu, ya. Saya ambil uang di dalam," jawab Dhira panik.
Sasaran utamanya sekarang adalah Pak Wang, dengan siapa lagi ia akan minjam uang.
Dhira sedikit berlari masuk ke dalam sembari berteriak. "Pak Wang, kamu di mana?"
__ADS_1
Betapa terkejutnya Dhira ketika masuk ke rumah sudah mendapati Hexa duduk di ruang tamu, ada Sekertaris Jo dan Pak Wang berdiri di sampingnya.
'Astaga, kenapa dia sudah ada di sini?' batin Dhira memekik, sebab ia tak melihat mobil Hexa terparkir di luar, jadi ia kira dirinya selamat karena tiba lebih dulu.
Sepertinya ia mau mati saja, bagaimana dirinya akan menghadapi Hexa sekarang?
Wajah Pak Wang nampak tegang, ia adalah orang pertama yang akan disalahkan karena keterlambatan Dhira pulang ke rumah.
Hexa menatap lekat ke arah Dhira yang berjalan sangat pelan menghampirinya. Lalu berpindah melihat jam di tangannya.
"Membuatku menunggu selama satu jam, berteriak masuk ke rumah seperti orang kesurupan, bagaimana aku akan menghukummu?" Hexa beranjak dari tempatnya dan menghampiri Dhira, yang kini berdiri dengan kepala tertunduk.
'Dia tiba satu jam sebelum aku datang, itu bohong, 'kan? Tidak mungkin secepat itu,' ocehnya, yang tentu hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Hexa mengangkat dagu Dhira dengan telunjuknya, hingga wajah Dhira pun bisa ia lihat lebih jelas lagi.
Wajah pucat karena ketakutan, sedikit membuatnya merasa senang, tapi tetap mempertahankan wajah dingin di hadapan gadis kecil yang malang ini.
"Kau tidak ingin mengatakan apa pun? Menjilatku dengan kata-kata manis, mungkin? Siapa tahu aku akan berbelas kasih padamu dan mengurangi hukuman." Senyum yang mengerikan, baru dilihat saja sudah bikin merinding.
"Kasihani saya, Tuan," mohon Dhira, tidak sungguh-sungguh, itu hanya pencitraan saja karena Hexa adalah rajanya.
"Jo, apa perlu aku mengasihaninya?" Hexa berbalik menatap Sekertaris Jo. Mereka berdua seolah bekerjasama mengerjai Dhira.
"Untuk menjadi orang yang berpendirian, kesalahan tetaplah harus diperhitungkan, Tuan," jawab Sekertaris Jo dengan wajah datarnya.
'Sialan kamu, Johan. Akan kubunuh kamu. Bisa tidak jangan memperkeruh suasana!' pekik Dhira kesal, yang lagi-lagi hanya bisa marah dalam hati.
"Jika aku mengasihanimu, itu artinya aku akan disebut sebagai orang yang tidak berpendirian," ujar Hexa lagi.
"Maaf, saya tidak berani membuat Anda dipandang seperti itu, Tuan. Silahkan hukum saya," jawab Dhira dengan wajah yang tenggelam.
'Ya, lakukanlah semaumu, dari awal aku juga tidak berharap kau akan mengasihiku, memangnya aku tidak tahu watakmu? Huh!'
"Permisi, saya menunggu bayaran." Tukang ojek yang dari tadi menunggu, sudah tidak bisa bersabar lagi, ia lantas memberanikan diri masuk ke rumah yang pintunya tidak tertutup oleh Dhira.
Semua memandang ke arah tukang ojek dengan wajah menghakimi. Seketika pria itu bergidik, rumah mewah yang diisi dengan tatapan menakutkan.
__ADS_1
Sekertaris Jo segera menghampiri tukang ojek tersebut.
"Silahkan keluar, Pak," perintahnya sopan.
Ya, bisa dibilang bahwa Sekertaris Jo masih memiliki hati nurani terhadap masyarakat dari kalangan bawah.
"Tapi bayaran saya, Tuan?" pintanya memelas, ia sangat berharap dari bayaran itu. Orderan sangat sepi, jika tak mendapatkan uang, istri anaknya mau makan apa?
Sekertaris Jo membawa pria paruh baya tersebut keluar dari rumah terlebih dahulu, rumah tuan mudanya bukan tempat yang bisa diinjak oleh sembarang orang tanpa izin.
Sekertaris Jo mengeluarkan dompetnya, terlihat uang cash hanya ada lima lembar seratusan.
"Saya hanya punya uang cash segini, apa cukup?" Sembari menyerahkan semua uang di dalam dompetnya.
"Ah, ini terlalu banyak, Tuan. Saya ambil satu saja." Sambil menarik satu lembar uang seratus. Tak ingin serakah, biasanya ia hanya mendapat 10 atau 20 ribu saja, dikasih 100 ribu saja ia sudah sangat bersyukur, tak ingin mengambil kesempatan di atas kebaikan orang lain.
"Sekarang Anda boleh pergi, Pak." Empat lembar sisanya, dimasukkan ke saku baju pria itu oleh Sekertaris Jo.
Dengan mengucap banyak terimakasih, pria itu membawa motornya pergi dari sana. Entah dapat mimpi apa dia semalam, sekali narik bisa dapat 500 ribu, cukup untuk biaya hidup satu minggu ke depan.
Sekertaris Jo kembali masuk, kini tuan mudanya sudah duduk kembali di sofa, sementara Dhira sudah berjongkok melepaskan sepatu. Pak Wang masih berdiri di sana menunggu perintah.
'Entah hukuman apa yang akan diterima olehnya,' batin Sekertaris Jo, sembari memperhatikan gelagat Dhira, tangan wanita itu tampak gemetar.
Hanya bisa mendengus kesal, kenapa selalu saja tidak sesuai dengan keinginan, ia merasa gagal menjadi kaki tangan Hexa jika hal kecil begini saja tidak bisa ia bereskan.
Segera ia menepis lamunannya dan lanjut melangkah mendekati tuan mudanya.
"Izinkan saya mengurus sisanya, Tuan. Anda bisa istirahat lebih awal malam ini," ucap Sekertaris Jo sambil membungkuk hormat.
"Pulanglah, lanjut di kantor besok," jawab Hexa dengan mata terpejam.
"Baik, Tuan."
"Nona, sisanya saya percayakan pada Anda." Sembari tersenyum tipis.
Bersikap baiklah setelah ini, tuan muda akan menghukummu jika tak patuh. Begitu yang tertangkap dari senyum Sekertaris Jo.
__ADS_1
'Ah, akan kubunuh kamu, Jo, kenapa tidak bantu aku bujuk pria ini agar menghentikan penyiksaannya?' Dhira mendengus lemah sembari menatap punggung Sekertaris Jo dengan tatapan penuh dendam.
Sekarang ia harus berjuang sendiri untuk mengambil hati Hexa, setidaknya hukuman bisa sedikit lebih ringan jika ia berhasil.