Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Tidur Denganku


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Dhira hanya diam saja, ia masih kesal dengan kejadian di studio foto.


"Kau tidak perlu merasa ternoda. Tidak mungkin kau berpikir bahwa aku menyukai ciumanmu." Dengan sorot mata yang menatap lurus ke depan Hexa berkata dengan santai.


'Ish.' Dhira semakin mencebik kesal.


"Jo, siapkan apa yang kumau besok." Hexa berpindah topik.


"Baik, Tuan."


'Mau apa lagi dia? Jangan bilang mau melakukan hal aneh lagi.' celetuk Dhira.


Detik berikutnya, mereka tiba di rumah dengan disambut oleh Pak Wang beserta beberapa pelayan, yang siap membantu membawa foto prewedding Hexa dan Dhira, sesuai perintah Sekertaris Jo pada Pak Wang.


"Hati-hati, jangan sampai jatuh!" seru Pak Wang pada anak buahnya, sangat bahaya sekali jika sampai mereka menjatuhkan foto tersebut.


"Gantung di kamarku satu, lalu sisanya letakkan di ruang tamu." Hexa memberi perintah sembari menjatuhkan diri di sofa, meregangkan lehernya yang terasa begitu kaku.


Dhira kini sudah siap di bawah Hexa, seperti biasa melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sendal rumah.


"Aku lelah. Ke mari, beri aku pijatan!" titahnya pada Dhira sembari menyenderkan kepalanya di punggung sofa serta dengan mata yang tertutup.


"Baik, Tuan." Dhira memberikan sepasang sepatu Hexa pada Pak Wang yang masih berdiri di sana.


"Jo, kau pulanglah, tugasmu selesai malam ini, tapi ingat apa yang kuminta, besok pagi kau harus datang dengan buku nikah itu." Hexa berbicara lagi, tapi dengan mata yang masih terpejam.


Dengan hormat Sekertaris Jo menunduk dan berkata, "Baik, Tuan. Saya permisi undur diri." Lalu ia berbalik badan dan pergi dari sana.


'Apa maksudnya dengan buku nikah?' pikir Dhira penasaran.


Ingin bertanya, tapi tak memiliki keberanian. Hingga rasa penasaran itu pun terhenti di benaknya tanpa jawaban yang pasti.


Sembari mendapat pijatan dari Dhira, Hexa membuka matanya, pandangan pertama yang tertangkap adalah wajah Dhira yang kini sedang memijat kepalanya.


Apalagi ini, Hexa membuat Dhira menjadi salah tingkah mendapat tatapan yang begitu lama sampai Hexa lupa untuk berkedip.


'Hanya dengan kutatap begini saja, ia sudah salah tingkah, bagaimana jika aku melakukan hal yang lebih dari ini?' Hexa ikut membatin sambil menatap wajah Dhira yang dari tadi tampaknya sedang berusaha mengalihkan diri ke sana ke mari untuk menghindari tatapan Hexa. Ia sudah seperti kodok yang ketakutan.


"Bagaimana jika kita main satu permainan?" Hexa tiba-tiba menawarkannya pada Dhira.


Wanita itu sedikit mengernyit. "Permainan apa, Tuan?"

__ADS_1


"Permainan saling tatap, siapa yang kalah, harus menuruti satu permintaan yang menang, bagaimana?" Hexa pun menjelaskan aturan-aturan yang ada dalam permainan yang ia buat sendiri.


'Dasar pria kadal, sudah pasti kau yang menang.'


"Saya menyerah, Tuan. Anda bisa katakan permintaan yang harus saya turuti." Dhira tak berani memulai permainan gila itu.


Jangankan saling menatap, baru ditatap sebentar oleh Hexa saja jantung mulai tak aman.


"Ck." Hexa berdecak kesal. Belum dimulai saja Dhira sudah menyerah. Permainan yang ia rencanakan menjadi tidak mengasikkan.


"Aku mau mandi." Hexa berjalan dengan begitu cepat menuju kamarnya sampai Dhira pun ngos-ngosan ikut berlari untuk mengejar Hexa.


Hexa pergi begitu saja tanpa aba-aba, tentu saja ia kesulitan untuk mengimbangi kecepatan pria itu yang memiliki kaki lebih panjang darinya.


Saat masuk ke kamar Hexa, pemandangan baru terpampang nyata di depan mata.


Tepat di atas tempat tidur, foto Dhira yang mencium wajah Hexa tampak sangat jelas, lalu foto mereka berpelukan juga ada di atas nakas, itu membuat Dhira malu setengah mati.


Ingin sekali rasanya Dhira bersembunyi di lubang yang begitu dalam, di mana tidak ada siapa pun yang akan menemukannya. Ia sangat malu sekarang.


Namun, bagaimana mungkin pria itu bersikap biasa saja seolah tidak terjadi perubahan apa pun di kamar itu.


Ah, Dhira pusing sendiri memikirkan hal itu, tapi untungnya foto-foto tersebut tidak diletakkan di kamarnya, bisa-bisa ia gila sampai mati jika melihat foto konyol itu setiap hari.


Saat masuk ke kamar mandi, Dhira kembali dikejutkan oleh hal yang sama. Ya, foto itu bergentayangan di mana-mana, bisa-bisanya bahkan di kamar mandi pun ada foto mereka, tidak berguna, bukan?


'Jangan bilang ia ingin mandi sambil menikmati foto di depan matanya? Ah, konyol sekali, dia membuatku hampir gila.'


Dhira mengacak rambutnya, kini ia mulai frustrasi memikirkan sudut pandang Hexa yang ia sendiri tak mengerti sama sekali.


Usai mengisi bak mandi, Dhira menghampiri Hexa untuk melapor. sembari menunggu Hexa mandi, ia menyiapkan baju tidur untuk pria itu. Ya, itulah rutinitasnya setiap hari.


Siapa pun yang akan menjadi dirinya, pasti sudah gila karena bosan dengan jadwal yang terjadi itu-itu saja setiap harinya.


Setelah memastikan Hexa tak butuh apa-apa lagi, Dhira pun pamit untuk kembali ke kamarnya.


"Siapa bilang kau boleh pergi dari kamar ini?" Belum sempat melangkahkan kaki keluar, Dhira kembali dihadapkan dengan sikap Hexa yang entah siapa yang dapat memahaminya.


"Anda perlu sesuatu, Tuan?" tanya Dhira yang berusaha bersikap baik-baik saja dan tetap tenang.


"Mulai malam ini, kamarmu ada di sini, kamarku adalah kamarmu." Hexa mengatakannya dengan serius.

__ADS_1


"T-tapi kenapa, Tuan?" Dhira masih tampak berpikir, setan mana lagi yang merasuki pria di hadapannya ini.


"Apa aku butuh alasan untuk mengatur seseorang yang tinggal di wilayahku?"


Dhira berani bersumpah, ekspresi Hexa saat ini amat sangat membuatnya kesal, ia ingin marah, apakah ada yang bisa menjamin bahwa Hexa tak akan menghukumnya jika ia marah?


Ah, sudahlah, Dhira. Jangan berpikir terlalu banyak, sampai kapan pun kau tidak akan bisa menang darinya. Hexa adalah raja di rumahnya, segala aturan hanya boleh dipatuhi jika keluar dari mulutnya.


"Namun, tetap saja saya juga harus memindahkan pakaian saya terlebih dahulu, Tuan. Ada banyak barang yang harus saya ambil." Dhira berusaha mengelak, agar bisa kabur ke kamarnya dan tak kembali lagi.


Tiba-tiba pintu diketuk seseorang, Dhira berjalan ke pintu untuk membukanya.


Dhira kembali dihadapkan oleh kenyataan bahwa Hexa sangat berkuasa. Kini Pak Wang dan dua pelayan yang lain sedang berdiri di depan pintu dengan masing-masing membawa koper di tangan mereka.


"Ini barang-barang Anda, Nona." Pak Wang berkata sambil tersenyum sopan dan masuk membawakan koper-koper itu. Pakaian Dhira Ia tata di sebuah lemari kosong di ruang ganti milik Hexa.


"Apa ada alasan lain yang ingin kau ucapkan untuk membantah perintahku?" Hexa tampak tersenyum sinis dan puas melihat Dhira tak berkutik.


'Sialan, sejak kapan ia meminta Pak Wang membawakan semua barang-barangku?'


Dhira bagai seekor singa betina yang dikurung di sebuah kandang yang hanya bisa menurut dan patuh saat diberi makan, tidak bisa memberontak meski sikap aslinya sangat ganas. Seseorang yang kuat dalam pendirian, juga akan tetap kalah jika dihadapkan dengan orang yang jauh lebih memiliki kuasa dan tahta.


Apalagi Dhira, siapalah dia di mata Hexa, ia jauh lebih kecil dibandingkan lalat, yang kapan saja dapat ditepuk oleh Hexa jika pria itu menginginkannya.


Hexa sangat puas ketika Dhira tidak memiliki kata-kata lagi untuk mengelakkan keinginannya.


"Pergilah mandi," titahnya.


"Mandi?" tanya Dhira mengulangi.


"Lantas, kau ingin tidur denganku dengan keadaan seperti itu?" Hexa menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring.


'Tidur dengannya?' Dhira mulai berpikir.


'Hah! Dia tidak beemaksud untuk meniduriku, 'kan?"


Mulai lagi, Dhira kembali berpikir hal yang mengerikan.


Alangkah baiknya jika ia bisa mengatur pikiran serta hati pria di hadapannya ini, tapi dia bukan Tuhan, ia bisa apa sekarang? Hanya seorang wanita kecil yang dijual, laku dibeli oleh Hexa dan kini harus menjadi kucing penurut agar bisa tetap hidup dan diberi makan.


Apalagi jika mengingat hutangnya pada Hexa yang jumlahnya tak terhitung, bagaimana ia bisa meninggalkan tanggung jawab itu begitu saja? Itu akan terus menghantui selama ia tak melunasinya.

__ADS_1


__ADS_2