
Dhira terus menyusuri jalan dengan kakinya yang mulai lelah, dari siang ke sore, ia hanya terus berjalan, kini perutnya pun kelaparan. Uang sudah habis semua, di mana ia akan mendapatkan uang untuk mengisi perut?
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah restoran sederhana, tanpa pikir panjang, kakinya ia bawa melangkah ke sana. Meskipun tak bisa makan, setidaknya ia bisa istirahat melepaskan penatnya. Itupun jika diberi izin oleh pemilik restoran tersebut.
Tiba di sana, bagaikan habis mendapat cambukan yang teramat sangat dahsyat, semua tubuhnya baru terasa sakit saat ia menjatuhkan diri di salah satu kursi.
"Ya ampun, badanku sakit semua," gumamnya lirih, sambil memijit kakinya dibagian betis.
"Selamat sore, Nona. Ini menu makanan di restoran kami, silahkan dipilih terlebih dahulu." Seorang karyawan restoran itu menyodorkan buku menu di hadapan Dhira.
"Ah, iya." Dhira menerima buku tersebut dan membukanya lembar demi lembar.
"Biarkan saya memilihnya dulu, ya, Mbak. Nanti akan saya panggil jika sudah selesai memilih," ujar Dhira yang mencoba menghindar. Mau dipilih bagaimana pun, ia tetap tidak bisa memesan makanan karena uangnya sudah ludes dibawa pergi oleh ibunya.
Sebenarnya karyawan itu pun menatapnya dengan raut wajah yang tak bersahabat. Penampilan Dhira benar-benar tidak seperti orang yang sanggup membeli makanan, ditambah dengan keringat yang dari tadi mengucur dan membasahi setengah baju kaos Dhira, membuat karyawan tersebut menaruh rasa geli terhadap pelanggannya yang lain daripada yang lain.
"Baik, Nona," jawabnya, dengan terpaksa bersikap ramah dan sopan. Ia mencoba untuk bersikap professional dalam bekerja, pengunjung adalah raja, ia tetap harus melayani sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan oleh bos mereka.
Usai berlalunya karyawan itu, tubuh Dhira yang tadinya membeku, kini kembali lunglai seperti semula. Sedikit lega karena ia tidak diusir seperti makhluk yang hina.
"Hari ini apa ada jadwal rapat di luar?" tanya Hexa pada Sekertaris Jo.
"Kedutaan dari Malaysia tiba di bandara sore ini, dan beliau ingin membincangkan soal kerjasama perusahaan kita di sebuah bar, saya menjadwalkannya pada jam sepuluh, Tuan." Seperti biasa, semuanya diatur sempurna oleh Sekertaris Jo.
Pria yang usianya tidak jauh berbeda dari Hexa, memiliki pengalaman kerja yang setara dengan bosnya, kekuatan mereka berdua dalam dunia bisnis mampu menggeser perusahaan besar dan ternama satu persatu dan menjadikan perusahaan itu dikenal ke seluruh pelosok negara, dan menjadi dua bisnismen terkuat serta yang termuda sepanjang sejarah.
Hexa hanya mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya. Hari ini jadwalnya penuh dengan pertemuan kerjasama dengan perusahaan luar negeri, di hari peresmiannya sebagai pemimpin perusahaan, telah menjadi hari tersibuk untuknya.
Tawaran kerjasama dari berbagai negara datang silih berganti. Bukan karena mengenai perusahaannya yang besar, tapi mengenai siapa yang memimpin.
Bagi mereka, Hexa adalah kandidat unggul yang pantas untuk dipertimbangkan mengenai kerjasama bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan besar bagi kedua belah pihak.
Sampai malam hari tiba, dingin pun mulai menyapa, wanita yang awalnya menumpang istirahat dengan embel-embel ingin membeli makanan, kini malah tertidur hingga pukul 21:00 malam hari.
"Siapa dia? Dari tadi kuperhatikan terus duduk di sana, bahkan tertidur begitu pulas, apa ia kira ini hotel?" tanya sang kasir pada salah satu karyawan pengantar makanan. Menatap Dhira dengan wajah *julidnya*.
"Tidak tahu, Mbak. Dari tadi sudah saya tanya mau makan apa, tapi dia jawab nanti saja, sudah malam begini dia bahkan belum bangun juga."
"Beritahu bos saja, satu jam lagi kita akan tutup, ia tak mungkin mau tidur di sini terus, 'kan?"
"Baik, Mbak."
__ADS_1
Detik berikutnya, karyawan itu balik lagi dan membisikkan sesuatu pada sang kasir
Wanita kasir itu segera menghampiri Dhira usai mendapat perintah.
"Bangun!" serunya sambil menepuk bahu Dhira beberapa kali.
Dhira yang sangat lelah dan mengantuk, merasa begitu berat membuka matanya, ia hanya bergumam pelan membuat kasir itu semakin jengkel.
"Bangun kamu, keluar dari sini!" tanpa menunggu Dhira bangun, wanita itu menyeret tangan Dhira yang membuatnya seketika terkejut dan bangun dari tidurnya.
Ada apa ini? Aku ada di mana?
Seketika Dhira lupa di mana ia berada sekarang, otaknya masih terasa kosong hingga kesadarannya pun belum kembali total.
Ia yang diseret keluar pun lantas tak bisa berbuat apa-apa, sampai tubuhnya dilempar keras ke luar restoran ia tetap tak melakukan perlawanan, tubuhnya masih terasa lemah, nyawanya pun belum terkumpul sempurna.
"Permisi, kamu baik-baik saja?" tanya seseorang yang juga baru keluar dari restoran itu.
Dhira mendongak menatap wanita cantik di hadapannya, dan sepertinya usia mereka tidak terpaut jauh.
"Saya baik-baik saja." Dhira segera bangun dari keterpurukan yang berlangsung begitu cepat, tersenyum pada wanita yang tadi menyapanya.
"Aku ada roti dan air mineral, ini untukmu saja." Ia mengeluarkan sebungkus roti dan sebotol air di dalam tasnya.
"Ah, tidak usah, Mbak." Dhira dengan cepat menggeleng tanda penolakan.
Kruyuk!
Ah, sial. Kenapa momennya tidak tepat begini, sih? Teriak Dhira dalam hati, sambil cengengesan malu.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum lebar pada Dhira. "Perutmu tidak bisa bohong. Ambil ini." Ia pun memaksa Dhira untuk menerimanya, meski tak enak hati, tapi sebenarnya Dhira sangat senang menerimanya.
"Ayo, makan di sana." Wanita itu menunjuk kursi kayu di sekitaran restoran tersebut, Dhira menurut dengan patuh.
Dalam hatinya berkata, '*Ternyata masih ada orang baik di dunia ini yang peduli terhadap sesama*.'
Lewat perkenelan itu, Dhira menceritakan asal muasalnya hingga terdampar di tempat ini.
Wanita di sampingnya hanya manggut-manggut menjadi pendengar yang baik.
"Bagaimana kalau kamu ikut bekerja di tempat yang sama denganku? Di sana juga butuh karyawan baru, sebentar lagi aku akan ke sana untuk bekerja." Wanita itu menawarkan.
"Malam ini? Memangnya kerja apa?" tanya Dhira penasaran, jika biasanya sebagian besar orang-orang berangkat kerja di pagi hari, tapi wanita itu malah berangkat saat malam hari, hal itu membuat Dhira merasa takut dan ragu.
"Ah, jangan berpikir hal yang tidak-tidak, pekerjaan yang kutawarkan bukan pekerjaan yang seperti kamu pikirkan, hanya sebagai pelayan yang mengantar pesanan pelanggan saja, tidak lebih. Gajinya juga akan dibayar setiap kali selesai kita bekerja, gajinya lumayan besar."
"Ya, aku juga tidak akan memaksa, aku hanya menawarkan saja, keputusan tetap ada di tanganmu." Wanita itu menepuk bahu Dhira dengan raut wajah yang peduli. Sangat jarang saat ini ada orang yang seperti itu.
Setelah dipikir sedikit lama, tidak ada salahnya ia mencoba, untung-untung ia bisa pulang dengan membawa uang untuk bayar hutang pada Pak Wang.
Lalu juga ongkos ojek untuk ia pulang malam ini, jika sampai ia tidak di rumah saat Tuan Hexa pulang, bisa tamatlah riwayatnya.
Dhira pun menyetujuinya, mereka segera berangkat usai Dhira menghabiskan rotinya.
"Mobil sudah siap, Tuan." Sekertaris Jo masuk menghadap pada Hexa.
Hexa menghentikan pekerjaan dan menutup semua berkas-berkas di mejanya.
"Apa orang itu sudah ada di sana?" tanyanya sembari berjalan keluar dari ruangannya, diikuti oleh Sekertaris Jo yang mengekor di belakang.
"Sudah, Tuan."
Mendengar jawaban singkat Sekertaris Jo, Hexa tidak lagi bertanya, suasana kantor sudah mulai sepi, hanya tertinggal para karyawan yang lembur mengerjakan pekerjaan mereka.
Tak terlewatkan satu pun, semua bawahannya berdiri dengan cepat ketika melihat atasan melewati mereka.
"Selamat malam, Tuan." Begitu sapanya.
Hexa yang pada dasarnya memiliki bibir yang kaku, jangankan menjawab sapaan mereka, untuk sekedar senyum saja sangat sulit untuk dilihat.
__ADS_1