Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Foto Prewedding


__ADS_3

"Andhira." Seseorang menepuk pundak Dhira dan menyebut namanya.


"Kamu ...?" Dhira berusaha mengingat.


"Aku Fathir, sudah lupa?"


"Fathir! Ini sungguh kamu?" Dhira berteriak lantang sampai semua orang menatap ke arahnya.


"Sstth, kecilkan suaramu."


Dhira tampak malu saat semua orang memandang ke arahnya.


"Ayo, ikut aku." Fathir menarik pergelangan tangan Dhira untuk ikut bersamanya.


Sementara Sekertaris Jo masih di toilet membersihkan jasnya yang terkena tumpahan jus. Semua itu dilakukan oleh Fathir dengan sengaja agar ia bisa mendekati Dhira.


Saat mereka berjalan menuju taman di samping vila, tak sengaja melihat Ressa yang masih bersimpuh di tanah dengan linangan air mata yang tak bisa terbendung.


"Kak Ressa, kamu kenapa, Kak?" Fathir segera berlari menghampiri.


"Fathir, kamu kenapa keluar?" Ressa mengernyit ketika melihat adiknya berada di luar vila bersama seorang wanita.


"Aku ingin ajak teman lamaku ngobrol sebentar, Kak. Sudah lama tidak bertemu." Fathir tersenyum menatap Dhira.


Sementara Dhira hanya tersenyum simpul, ia tahu situasi saat ini sedang tidak baik.


"Dhira, kenalkan ini kakakku, namanya Kak Ressa." Fathir mengenalkan Ressa sambil tersenyum. Mungkin hanya dia yang tak tahu mengenai konflik yang sedang terjadi di antara mereka.


"Fathir, boleh pinjam dia sebenatar? Ada yang ingin kutanyakan padanya," ujar Ressa.


"Kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar, Dhira?" tanya Fathir yang merasa tak enak pada Dhira.


Dhira mengangguk pelan dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Fat."


'Dhira masih seperti dulu, begitu tenang di situasi apa pun.' Fathir membatin sambil tersenyum hangat pada Dhira. Ia pun pergi dari sana untuk memberi waktu pada kedua wanita itu untuk berbicara.


"Duduk dulu," ajak Ressa sambil melangkah ke arah kursi panjang tempat tadi ia dan Hexa duduk.


"Kamu dan Hexa ada hubungan apa?" Ressa langsung bertanya ketika Dhira duduk di sampingnya.


Dhira menampilkan senyum tipis dan menoleh pada Ressa. "Anda bisa tanyakan pada Tuan Hexa langsung, Nona."


"Jika Hexa mau menjawab, aku juga tidak perlu menanyakannya padamu," cebik Ressa kesal, ia tak ingin membuang waktu lebih lama di sana, acara mungkin akan segera dimulai.


"Itu artinya saya lebih tak berhak menjawabnya, Nona." Dhira menjawab dengan tenang meski sudah didesak oleh wanita di sampingnya itu.


"Cih, semua sama saja, menyebalkan." Ressa bangkit dan meninggalkan Dhira begitu saja, percuma bertanya pada orang yang sama sekali tak berniat untuk menjawabnya.


Jas milik Hexa kembali ia pungut di tong sampah, setidaknya ia memiliki sesuatu yang bersangkutan dengan Hexa.


Fathir kembali setelah Ressa pergi, mereka pun memulai obrolan dengan ceria, bahkan sempat mengambil beberapa foto berdua.


"Fat, terimakasih, ya. Kau membuatku sangat senang malam ini." Dhira benar-benar tampak bahagia, itu terlihat dari raut wajahnya.

__ADS_1


Dari kejauhan, terlihat Sekertaris Jo mendekat.


'Matilah, aku ketahuan.' Dhira mulai panik.


"Nona, silahkan ikut saya, Tuan Hexa sudah menunggu." Sekertaris Jo berucap sambil mempersilahkan Dhira untuk jalan lebih dulu.


"Aku masuk duluan, ya, Fat," pamitnya pada Fathir.


"Ingat hubungi aku setelah pulang nanti!" seru Fathir sembari tersenyum.


"Wanita itu terlihat semakin menggemaskan," gumamnya sambil menatap punggung Dhira yang berlalu pergi.


Saat Dhira menghampiri Hexa, pria itu kini sudah berwajah masam, semakin dingin sampai ia pun tak dilirik sama sekali walau sedetik saja.


'Pasti dia akan menghukumku lagi setelah pulang nanti," batinnya sambil sesekali menoleh ke arah Hexa.


Sepanjang acara berlangsung, pandangan Dhira tertuju pada Lina, Derta, beserta kedua orang tuanya, dan kedua orang tua Hexa.


"Tuan, bukankah itu ...."


"Cukup diam, jangan banyak bicara." Tidak sempat Dhira memberitahu, Hexa sudah memotong ucapannya.


'Aku kan cuma mau kasih tahu kalau di sana ada keluarganya, kenapa harus seacuh itu?' geram Dhira dalam hati.


Hexa sudah memutuskan untuk pulang sebelum acara selesai, kini ia tahu maksud dari semua keluarga yang hadir di acara itu.


"Ke studio foto sekarang, Jo," titah Hexa.


"Baik, Tuan." Sekertaris Jo segera memutar mobil menuju ke tempat yang diinginkan majikannya.


"Selamat malam, ada yang bisa dibantu?" Pemilik studio foto menyambut kedatangan mereka.


"Anda bisa menyiapkan foto prewedding?" Sekertaris Jo bertanya.


'Hah! Apa? Foto prewedding? Aku tidak salah dengar? Siapa yang mau menikah?' Dhira tiba-tiba panik.


"Bisa, Tuan."


"Siapkan sekarang juga, rias pengantin wanitanya dan kenakan gaun yang terbaik di sini," titah Sekertaris Jo dan pemilik tempat pun menurut dengan cepat.


Beberapa penata rias mulai berkutat pada wajah Dhira, rambut, serta kukunya. Semua berjalan begitu cepat, kini ia sudah seperti seorang mempelai wanita yang sudah siap untuk menikah.


Bahkan Dhira sendiri pangling melihat dirinya sendiri yang mengenakan gaun pernikahan, sungguh sangat cantik. Ia baru menyadari ternyata ia juga bisa terlihat cantik mengenakan gaun pengantin.


Namun, tunggu dulu, kenapa tiba-tiba ia berpenampilan seperti ini? Tidak untuk menikah dengan Hexa malam ini juga, 'kan? Pikirnya.


Hexa sudah menunggu di ruang foto, Dhira masuk diantar oleh beberapa penata rias.


"Sial, kenapa dia terlihat semakin manis dengan gaun itu?' Hexa memalingkan wajahnya dari Dhira.


Sesi foto-foto pun dimulai.


Dua dan Tiga foto, semuanya tampak begitu kaku, sampai fotografernya pun bingung untuk mengarahkan.

__ADS_1


"Tuan, bisa arahkan pandangan Anda ke arah pasangan Anda? Lalu, Nona, Anda tersenyum lebar ke arah kamera, ya." Berulang kali fotografernya mengarahkan, sampai mulutnya pun pegal, tapi keduanya malah berdiri kaku tanpa ekspresi.


"Kenapa harus aku yang menatapnya? Kenapa tidak kau suruh saja dia yang menatapku?" Hexa protes.


"Ini ...."


Fotografer kehabisan kata-kata, dari tadi Hexa selalu protes setiap kali diarahkan.


Semua arahan selalu salah di matanya. Sampai Sekertaris Jo pun bertindak dan membisikkan sesuatu pada sang fotografer.


"Baiklah, tolong ambil kursi." Ia memerintahkan pada krunya untuk mengambil kursi agar Hexa bisa duduk.


Hexa pun duduk tanpa diminta. Ya, dia adalah bosnya, siapa yang berani melarangnya melakukan sesuatu.


"Nona Dhira, dalam hitungan ketiga, Anda berikan ciuman di wajah Tuan Hexa, ya," kata sang fotografer sambil tersenyum.


"Hah? Kenapa harus begitu?" tanya Dhira tak terima.


"Jangan membantah, turuti saja apa yang dia mau." Hexa berucap sambil tersenyum merasa puas.


'Ish, buaya darat, bukankah dari tadi kau selalu protes? Kenapa sekarang aku tidak boleh melakukan hal yang sama?' cebik Dhira kesal.


"Ayo, Nona. Saya hitung dari Tiga, ya!" serunya lagi.


"Tiga!"


'Ish, menyebalkan sekali.'


Mau tak mau Dhira harus menurut.


"Dua!"


Kini Hexa sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dada, bersiap mendapat ciuman dari Dhira.


'Wajah puasnya membuatku semakin jengkel saja.'


Dhira terus menggerutu kesal saat melihat wajah Hexa yang tampak puas. Semua orang tampaknya bekerjasama menindasnya.


"Satu!"


Menyatulah bibir Dhira di wajah Hexa, meski sangat dipaksakan, tapi fotografer puas dengan hasil potretannya, akhirnya menemukan angel yang bagus untuk foto prewedding mereka.


Semuanya bertepuk tangan gembira setelah adegan itu, tak terkecuali Sekertaris Jo.


'Sialan, ini pasti ulah dia.'


Dhira menatap jengkel pada Sekertaris Jo yang mengulum senyumnya ikut puas.


Hexa pun tampak tersenyum tipis merasa menang dengan hasil foto tersebut.


"Sekarang Nona Dhira peluk Tuan Hexa, ya."


'Hah! Lagi?'

__ADS_1


Dhira kembali dibuat kesal setengah mati, kenapa seperti dirinya yang terlihat begitu tergila-gila pada Hexa.


Menyebalkan, semuanya menyebalkan di mata Dhira, lebih menyebalkan lagi di saat ia tak dapat membantah dan hanya bisa patuh di hadapan Hexa.


__ADS_2