Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Finally


__ADS_3

"Sebaiknya kita langsung berenang." Dhira segera melepaskan diri dan duduk di pinggiran kolam, perlahan kakinya menurun dan menyentuh air hingga ia benar-benar masuk dalam kolam renang.


Wajahnya tampak makin ceria, entah kapan sejak terakhir kali ia berenang seperti ini, rasanya cuma saat tinggal di desa dulu bersama sang nenek, berenang di pinggir sungai bersama anak-anak yang lain sembari menunggu neneknya selesai mencuci baju.


Mengingat itu rasanya ia kembali bernostalgia, tapi sekarang neneknya sudah tidak ada, jika nenek masih hidup sampai sekarang, mungkin ia juga akan senang melihat Dhira tertawa gembira tanpa beban.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Hexa ketika melihat perubahan raut wajah Dhira.


Namun, Dhira kembali tersadar dan dengan cepat menggelengkan kepala, senyum kembali merekah sembari mengangguk pelan pertanda bahwa ia baik-baik saja.


Hexa pun turun menyusul istrinya yang sudah berenang duluan, berenang dengan cepat dan menarik pergelangan tangan Dhira hingga wanita ini terhenti dan berbalik.


Hexa mengambil kesempatan itu untuk mendekap tubuh mungil Dhira dalam pelukannya.


"Kita mau berenang bukan saling peluk begini."


Dhira mendorong pelan dada bidang Hexa dengan senyum malu. Malu-malu, tapi mau.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Hm?" Mata Dhira mengarah ke wajah Hexa dengan serius.


"Seandainya nanti kamu hamil dan melahirkan anakku, apa kamu akan tetap meminta cerai?"


Deg!


Suara detakan jantung Dhira kian meninggi, tak menyangka ternyata Hexa memikirkan hal itu.


Dhira berbalik badan, kembali berenang ke ujung kolam meninggalkan Hexa yang masih mengambang di tengah air.


Sorot mata Hexa kian menyendu ketika Dhira menjauh darinya, melihat Dhira tak menjawab pertanyaan itu, apakah mungkin mereka benar-benar akan berpisah?


Dhira menarik napas dalam-dalam lalu masuk ke air menenggelamkan diri, sambil berpikir apa yang harus ia katakan pada Hexa?


Mungkinkah ia harus tetap meminta cerai? Namun, ia sedikit merasa tak rela.


Dhira menekan dadanya yang mulai sedikit sesak, entah sesak karena berada di dalam air, atau melainkan sesak karena tak rela berpisah dengan Hexa.


Kenapa perasaan itu harus semakin tumbuh di saat seperti ini?


Namun, jika dia mengatakan bahwa dirinya masih ingin menjadi istri Hexa untuk selamanya, mungkinkah Hexa akan memandangnya seolah wanita yang suka menjilat ludahnya sendiri?


Bimbang, ia sangat ragu dan kehilangan arah untuk berpijak.


Terhitung sudah cukup lama Hexa menunggu Dhira muncul, tapi tak ada tanda-tanda bahwa Dhira akan berhenti menenggelamkan dirinya di sana.


Hexa bergegas berenang ke arahnya dan menangkap tubuh yang meringkuk di dalam air dengan perasaan panik.


Apa yang ada dalam pikiran Dhira, mau bunuh diri atau bagaimana? Sebegitu fatal kah pertanyaannya sampai membuat Dhira tak ingin hidup lagi?

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Astaga." Hexa bergumam sambil bergegas berenang ketepian membawa tubuh Dhira naik ke pinggir kolam.


Tubuh Dhira sudah lemas, dadanya naik turun dan terbatuk seketika.


Dhira segera meraup oksigen sebanyak mungkin setelah ia sadar bahwa dirinya sudah bertindak konyol, sampai lupa bahwa nyawanya nyaris terancam.


Perlahan Dhira bangkit dan duduk dengan napas terengah-engah.


Tanpa mengatakan apa pun, Hexa langsung mendekap tubuhnya. Erat, seolah takut kehilangan. Saking eratnya, Dhira semakin kualahan untuk bernapas.


"Maaf," lirih Hexa masih dalam posisi memeluk Dhira.


Dhira mengerutkan alis sejenak, pria yang memeluknya begitu erat ini, seolah benar-benar takut dirinya kenapa-napa.


"Aku baik-baik saja," jawab Dhira menenangkan sambil membalas pelukan itu.


Hexa akhirnya melepas dekapannya dan menatap Dhira lekat.


"Aku berjanji tidak akan menanyakan hal itu lagi, aku sudah tahu jawabannya."


"Tapi satu hal yang kamu harus tahu, jangan pernah sakiti dirimu apalagi berniat untuk bunuh diri seperti tadi."


Hexa tanpa sadar mencengkram bahu Dhira begitu kuat sampai pemilik bahu itu sedikit meringis merasakan tangan kekarnya.


"Bunuh diri?" Dhira balik bertanya.


Tak puas dengan ucapan Hexa barusan. Bunuh diri apanya? Tidak sedikit pun terlintas dalam hati dan pikirannya bahwa ia ingin mengakhiri hidup dengan konyol seperti itu.


Hexa saja yang berpikir terlalu jauh.


"Kamu tau apa? Aku kan belum menjawab pertanyaan kamu tadi."


Hexa bangkit, berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauhi Dhira.


"Aku tahu kamu ingin bercerai dan bebas dari kekanganku. Karena sudah begitu, maka aku tidak punya pilihan lain, apa pun keinginan yang kamu mau, aku akan turuti termasuk keinginan untuk bercerai denganku." Bahkan Hexa bicara tanpa menoleh dan menatap wajah Dhira.


Dhira menghela napas berat, ia tahu bahwa Hexa sudah salah paham terhadapnya.


Ia pun ikut bangkit dan menghampiri Hexa, berjarak sekitar satu langkah lagi dengan suaminya, Dhira pun berhenti, menatap punggung kekar itu dari belakang.


"Siapa bilang aku ingin bercerai?" ujar Dhira santai dan tenang.


Hexa menoleh dan membalikkan tubuhnya. "Maksud kamu?"


"Maksudnya sudah jelas, kan? Aku mau tetap di sini, bersama kamu, dan juga anak-anak kita nanti." Dhira tersenyum selebar mungkin dan menatap wajah Hexa yang kini mulai manampakkan binar bahagia di sorot matanya.


"Benarkah?" Hexa selangkah lebih maju dan Dhira mundur satu langkah.


"Stop!" Dhira mengangkat tangannya di depan Hexa agar pria itu berhenti bergerak.

__ADS_1


Hexa menurut dan diam di tempatnya.


"Sekarang giliran aku yang bertanya," ujar Dhira lagi.


"Kamu sudah tahu jawabanku, keinginanku, dan apa yang kumau, sekarang giliran aku yang bertanya." Sejenak Dhira memutus ucapannya dan menatap lekat manik mata Hexa yang tajam bagai seekor elang.


"Bagaimana dengan kamu? Meski aku ingin tetap tinggal bersamamu, tapi kamu belum tentu ingin tinggal dan menua bersamaku, kan? Apa jangan-jangan kamu berharap kita bercerai dan kamu bisa bebas balikan sama mantan kamu, begitu?"


Hexa tergelak mendengar ucapan Dhira, ia melangkah cepat menghampiri Dhira tak peduli Dhira mundur menjauhinya, tetap saja tubuh mungil itu tak bisa lepas dari incarannya.


Hexa mengangkat tubuh Dhira setinggi mungkin hingga refleks membuat Dhira berteriak keras karena terkejut.


Tak cukup sampai di situ, Hexa kembali memeluk tubuh Dhira dan berputar-putar bersama, tubuh Dhira melayang-layang di udara dengan posisi masih dalam pelukan Hexa.


Teriakan keras tadi berubah menjadi tawa yang bahagia, itu sangat menggelikan, bagaimana jika ada yang melihat tingkah konyolnya? Sudah seperti anak ABG yang baru merasakan yang namanya jatuh cinta.


Sekitar 2 menit Hexa berputar sambil memeluk Dhira, akhirnya ia pun berhenti.


Napas mereka saling memburu, Dhira bahkan hampir tumbang karena pandangannya berputar, tapi Hexa dengan siaga menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Kini mereka saling berpegangan, Dhira menunduk dengan mata terpejam untuk menetralisir rasa pusing di kepalanya, sementara Hexa menatapnya dengan senyum yang tak berhenti mengembang, ia seolah tak merasakan apa-apa.


"Kamu kenapa berbuat seperti ini? Kalau aku pingsan bagaimana?" Dhira memukul tangan Hexa setelah dirasa pandangannya tidak lagi berputar.


"Maaf, aku terlalu senang." Masih senyum-senyum seperti orang gila.


"Kamu belum jawab pertanyaanku."


Lagi, dan untuk ke sekian kalinya Hexa kembali tersenyum.


"Haruskah kita buat anak sekarang juga? Aku akan menjawabnya di ranjang." Senyumnya berubah licik.


Dhira melotot dengan cepat, tanpa sempat mengatakan apa pun, Hexa sudah mengangkat tubuhnya menjauh dari kolam renang.


Kini Dhira pasrah, ia tak berniat untuk menolak, sekarang dia milik Hexa sepenuhnya, pun sebaliknya. Hexa juga miliknya.


Akhirnya sama-sama berhasil menaklukkan hati satu sama lain. Kini waktunya menikmati hari yang bahagia, buah dari kesabaran Dhira selama ini. Biarlah ia dikatakan menjilat ludahnya sendiri, yang penting bisa bersama lelaki yang ia cintai, dan bersedia meratukannya setiap saat.


Keberuntungan berpihak pada Hexa, setelah sekian lama berada satu atap bersama Dhira, kini ia sudah disadarkan sepenuhnya betapa beruntungnya memiliki istri setulus Dhira, dan beruntungnya disaat ia sudah sadar akan perasaan itu, Dhira masih berada di sisinya.


Tidak tahu bagaimana jika ia terlambat menyadari perasaannya, disaat Dhira sudah pergi, maka ia akan menjadi lelaki paling bodoh di dunia ini karena sudah melepas wanita seperti istrinya ini.


Tidak akan pernah ia lepaskan sampai kapan pun. Dhira adalah ratu, yang selamanya tidak akan pernah terganti di samping singgasananya.


Selesai.


Terimakasih sudah membersamai cerita Pilihan Tuan Muda, salam dari Hexa dan Dhira.


Terimakasih untuk setiap dukungan yang kalian berikan, salam hangat dan cinta dari author, semoga sehat selalu dan sejahtera.


Sampai jumpa di cerita berikutnya.

__ADS_1


Bye semuanya.


__ADS_2