Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Si Kucing Rakus


__ADS_3

Usai dari kamar Hexa, Dhira langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, tubuhnya sangat lelah, ditambah perutnya yang terasa begitu penuh gara-gara minum susu dua gelas.


Ingin istirahat sejenak untuk menghalau rasa lelahnya, tapi apa yang terjadi? Ia ketiduran sampai pagi dan mentari pun menyapanya lewat sinar yang menerpa tepat di wajahnya.


Semalam ia lupa menutup jendela. Meski sudah mendapat sapaan dari sang mentari, Dhira tetap tak terbangun, tertidur pulas tak merasakan apa pun.


"Pak Wang!" teriak Hexa memanggil Pak Wang di lantai bawah.


Pak Wang lari dengan tergesa menghampiri, tumben sekali tuan mudanya turun ke lantai bawah pagi-pagi sekali, biasnya ia hanya akan turun setelah bersiap untuk berangkat ke perusahaan.


"Iya, Tuan Muda." Pak Wang tampak kalang kabut, semua pelayan pun ia perintahkan untuk ikut bersamanya menyapa sang majikan.


"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa semua pelayan yang berdiri di belakang Pak Wang.


"Wanita itu mana? Ini sudah jam berapa? Aku mau berangkat ke kantor."


"Apa saya perlu memanggil nona muda, Tuan?" tanya Pak Wang hormat.


"Sudah, tidak perlu. Anda saja yang siapkan air, yang lain bubar, kerjakan pekerjaan kalian," titahnya.


Hanya dengan satu kalimat, semuanya patuh dan berhambur dari sana.


Pak Wang pun ikut naik ke atas untuk menyiapkan air mandi sang tuan muda.


Tuan muda yang manja menurut pandangan Dhira, tapi sayang, wanita itu masih tertidur sekarang, jadi tidak adaa suara hati yang terus berteriak memaki tuan muda yang satu ini.


Sudah lama semenjak Dhira datang ke rumah, ini adalah pertama kalinya lagi Pak Wang menyiapkan air untuk tuan mudanya, selama ini tugas melayani tuan muda selama di kamar, menjadi tanggung jawab Dhira, tapi berhubung wanita itu masih tidur, jadi Pak Wang yang menggantikannya.


***


"Pak Wang, biarkan wanita itu tidur, jangan dibangunkan kecuali ia bangun sendiri, siapa pun yang berani mengganggu tidurnya, akan menerima akibat setelah aku pulang nanti." Hexa memberi peringatan sebelum ia berangkat bekerja.


Pak Wang yang selalu setia dan patuh, lantas menjawab, "Baik, Tuan Muda. Akan saya pastikan tidak ada yang mengganggu tidurnya nona."


"Bagus."


Hexa pun masuk ke mobil yang sekertaris sudah menunggu dan membukakan pintu.

__ADS_1


"Jalan dulu, Pak," sapa Sekertaris Jo ramah.


"Iya, Tuan Jo." Pak Wang membalas dengan tersenyum lebar sembari menunduk. Usai kepergian mereka, Pak Wang menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


Ada apa dengan keduanya, yang satu biasanya selalu tak peduli akan banyak hal, tiba-tiba begitu peduli pada satu orang, dan yang satu biasanya tak pernah menyapa saat akan pergi, sekarang malah menyapanya dengan ramah. Apa dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja? Apa semua orang akan berubah seperti mereka? Ah, entahlah.


Pak Wang berjalan masuk dengan pikiran kalut yang tak menemukan jawaban dari sikap kedua pemuda itu, entah mungkin karena dirinya yang sudah tua jadi tak akan mengerti dengan pikiran mereka.


"Kalian semua, dengarkan saya!" seru Pak Wang di dalam dapur. Semuanya menoleh dan menghentikan pekerjaan, mendekati Pak Wang.


"Di antara kalian semua, tidak ada yang boleh mengganggu tidur nona muda, perhatikan langkah jika melewati kamar nona muda, ini perintah langsung dari Tuan Muda Hexa. Jika kalian tak takut akan hukuman, silahkan melanggar perintah." Pak Wang memperingati dengan tegas.


"Paham?" tanyanya sambil mengitari pandangan ke seluruh anak buahnya.


"Paham, Pak Kepala!" jawab mereka serentak.


"Bagus, kembalilah bekerja," titahnya lagi, semua menurut dan bubar.


"Hooaam ...."


Dhira menggeliat kiri kanan, berguling ke sana ke mari seperti cacing kelaparan.


Seketika teringat akan satu hal.


Mulut yang tadi belum tuntas menguap, tiba-tiba ia katupkan lagi, matanya membulat sempurna, hilang sudah rasa ngantuk dan lelah yang kemarin.


"Astaga, jam? Jam berapa sekarang?" Dhira bangkit bagaikan superman, sangat cepat.


Dilihatnya jam yang berdiri imut di atas nakas. Jam sebelas siang.


"Astaga, apa aku seekor kerbau? Jam segini baru sadar?" Dhira merutuki dirinya.


Ia melihat ponselnya yang tergeletak, lalu membukanya. Satu pesan belum terbaca.


(Kesalahan yang kemarin belum kuperhitungkan, kau masih berani bangun terlambat dan tidak melayaniku, beri aku saran bagaimana cara menghukum orang yang tidak patuh.) Lebih kurangnya seperti itulah bunyi pesan dari Hexa.


Dhira menjatuhkan ponsel tersebut dan mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Aahh, Pak Wang. Kau ke mana? Kenapa tidak bangunkan aku? Kita berteman, bukan? Kenapa kau senang sekali melihatku dihukum oleh pria itu." Dhira menggerutu. Sudah seperti seekor babi yang nungging-nungging di atas kasur.


Secepat kilat ia turun ke bawah untuk melihat situasi, terlihat Pak Wang yang sedang menata berbagai makanan di atas meja. Pas sekali, ia sangat lapar, tapi sebelum itu, ia ingin mendakwa Pak Wang terlebih dahulu.


"Pak Wang!" teriaknya dengan suara kecil, sembari memukul tangan pria paruh baya yang tak tahu kenapa dirinya dipukul tiba-tiba.


"Nona Muda, kenapa?" tanyanya bingung.


"Ish, Bapak malah bertanya kenapa? Seharusnya saya yang tanya, kenapa tidak bangunkan saya pagi-pagi? Lihat, ini sudah jam berapa? Saya jadinya tidak melayani keperluan Tuan Hexa, dia pasti marah," celetuk Dhira dengan wajah masam.


"Tidak apa-apa, Nona. Ada saya, saya bisa menggantikan Anda melayani keperluan tuan muda jika Anda terlambat bangun," jawab Pak Wang dengan tenang.


"Ish, Pak Wang. Anda tidak mengerti perasaanku bagaimana." Bibir Dhira semakin menekuk.


'Pria itu pasti akan menelanku bulat-bulat begini,' batinnya.


"Anda pasti lapar, Nona, silahkan makan, semuanya sudah saya siapkan." Sembari memperlihatkan berbagai masakan yang terhidang rapi di atas meja.


Tak bisa dipungkiri, perutnya memang sangat lapar, kemarin malam ia hanya makan sepotong roti dan minum dua gelas susu. Sekarang ia harus makan, agar nanti tubuhnya siap menerima pukulan keras dari Hexa.


Ia harus siap jiwa dan raga jika ingin menghadapi manusia yang setengahnya bagaikan monster.


"Pak Wang, saya akui, masakanmu memang yang paling enak." Seperti orang yang tak menjumpai makanan selama tiga hari, Dhira terus melahap dengan rasa senang.


Meski ia tak bisa merasakan rasa senang berada di rumah itu, setidaknya masakan Pak Wang adalah obat dari segala penyakit yang ada di tubuhnya. Semua rasa yang tak mengenakkan, akan disembuhkan oleh makanan.


Di sebuah perusahaan elit milik Hexa yang berada di tengah pusat kota.


"Dasar kucing rakus," gumam Hexa. Sudut bibirnya sedikit melengkung.


Sekertaris Jo yang mendengar gumaman tersebut, lantas menoleh pada bosnya.


'Siapa yang Tuan Hexa maksud?' batinnya sambil berpikir.


Saat ini Hexa secara diam-diam membuka aplikasi cctv jarak jauh, memantau keadaan di dalam rumahnya.


Memperhatikan Dhira dengan pakaiannya yang semalam, penampilan yang acak-acakan, sedang makan seperti kucing liar yang kelaparan.

__ADS_1


Hal itu benar-benar sangat menggelitik diri Hexa, bagaikan sebuah hipnotis yang mampu mengubah dirinya yang semula kaku, kini mulai sedikit memberi ruang untuk sebuah senyuman tampil di bibirnya yang begitu memesona.


__ADS_2