
Pagi itu, Dhira sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, dengan catatan ia harus menjaga pola makannya dan harus lebih pandai memilah mana yang baik dan yang tidak baik bagi pencernaannya.
Dhira tak mengerti, kenapa dokter memintanya untuk memilah makanan yang sehat, karena menurutnya semua makanan itu bikin sehat.
Selama ini ia juga tidak pernah ada masalah pada makanan instan karena itu juga sudah menjadi makanan sehari-harinya sebelum bertemu Hexa. Toh, tidak terjadi apa-apa padanya, bahkan ia tak pernah sakit seperti sekarang.
Ya, memang tidak pernah ada masalah baginya saat makan makanan instan, tapi dalam catatan, makanan tersebut masih dalam kondisi layak untuk dikonsumsi, sementara yang ia makan kemarin, adalah mie instan yang sudah expired, alias jatuh tempo dan Hexa pun tidak memberitahukannya soal itu.
Ditambah lagi, mungkin karena terlalu lelah dan baru saja sembuh dari demam, makanya tubuh Dhira tidak bisa menerima makanan yang sudah kadaluwarsa.
"Tinggal saja di sini, jangan keluar dan membuat masalah, kau tahu bahwa dirimu hanya menumpang, jangan menyusahkan orang, paham?!" sergah Hexa seperti sedang memarahi anak kecil yang selalu nakal.
Dhira dengan patuhnya mengangguk tanpa mengatakan apa pun, bibirnya menekuk kesal mendengar kata menumpang, lagian siapa suruh membawanya pulang ke rumah ini, dirinya tak pernah ingin tinggal bersama Hexa.
Setelah dirasa cukup memberi peringatan pada Dhira, Hexa pun berlalu pergi dari kamar itu dan bersiap untuk berangkat ke perusahaan.
Tak lama setelah kepergian Hexa, beberapa pelayan dan juga Pak Wang meminta izin untuk masuk, mereka membawa beberapa makanan. Bubur ayam, cemilan lunak, serta buah-buahan.
"Silahkan dimakan buburnya dulu, Nona," ucap Pak Wang sembari tersenyum sopan.
"Aku tidak ingin makan bubur, Pak Wang." Dhira melengos tak bersemangat saat menatap semangkok bubur di atas meja dengan porsi jumbo, padahal lidah Dhira masih terasa hambar, kenapa harus diberikan porsi sebanyak itu, tentu saja ia tak mampu menghabiskan semuanya.
"Ini perintah, Nona, tuan muda mengatakan, jika Anda tidak ingin makan bubur itu, maka Anda minum air putih saja sampai kembung, tidak boleh makan apa pun sampai malam termasuk makan buah dan cemilan."
"Anda tinggal pilih, antara bubur dan air putih," lanjut Pak Wang dengan senyum yang tak dapat dibaca oleh Dhira.
'Benar-benar pria kejam yang tiada tandingannya,' gerutu Dhira dalam hati.
Dengan sangat amat terpaksa, ia meraih mangkok bubur itu dan melahapnya secepat mungkin. Tidak ada waktu untuk menikmati setiap sendok yang masuk ke mulutnya, biar Pak Wang bisa puas dan melapor pada Hexa bahwa ia telah melakukannya sesuai yang diinginkan oleh pria kejam itu.
"Anda sudah bisa tenang sekarang, Pak Wang. Silahkan laporkan pada tuan muda Anda, katakan bahwa saya sudah menuruti maunya, jangan mengancam saya lagi, saya tidak takut," celetuk Dhira sedikit tersulut. Hatinya benar-benar gusar dengan segala peraturan dan perintah yang tak masuka akal. Belum lagi berbagai ancaman selalu diberikan oleh Hexa, kepalanya terasa semakin puyeng.
'Tidak takut, tapi Anda selalu patuh setiap kali diancam oleh tuan muda, Nona. Apa namanya itu jika bukan karena takut?' batin Pak Wang, sembari senyam senyum tak karuan membuat Dhira curiga bahwa Pak Wang mungkin sedang meledeknya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, Nona. Masih ada cemilan dan buah, ingat untuk dimakan, ya, Nona." Pak Wang pun berlalu pergi, tentunya masih dengan senyum yang mengambang sempurna di bibirnya.
Dhira mengembuskan napas kasar usai kepergian kepala pelayan, kini perutnya benar-benar terasa penuh usai melahap bubur satu mangkuk besar.
__ADS_1
Namun, yang namanya bubur, makanan lunak yang mudah dicerna, membuat perut Dhira lapar dengan cepat sebelum waktunya tiba makan siang.
"Haduh, cacing di perutku kenapa begitu rakus, ya? Ini masih jam Sepuluh, tapi sudah berontak minta makan." Sembari memegangi perutnya yang terus berirama. Sepertinya cacing di dalam sana sedang konser bersama teman-temannya.
"Keluar sebentar seharusnya tidak apa-apa, 'kan?" gumam Dhira sambil tersenyum penuh arti.
Akhirnya ia pun dengan berani melanggar pesan Hexa untuk tidak keluar dari kamar, memang sulit mengatur orang yang menganggap sebuah perintah adalah sesuatu yang harus dilanggar.
Seperti Dhira sekarang, ia keluar tanpa sepengetahuan Hexa, mungkin ia mengira bahwa pria itu tidak akan mengetahui kelakuannya.
Saat ia ingin masuk dapur, dengan cepat Pak Wang menghalanginya. "Anda mau ke mana, Nona? Anda lupa akan pesan tuan muda? Atau Anda ingin saya meneleponnya sekarang juga?"
'Astaga, ada apa dengan orang di rumah ini, kenapa senang sekali mengancam orang lain?' benak Dhira kesal.
Lalu ia segera tersenyum manja pada pria paruh baya itu. "Pak Wang, saya tahu Anda adalah orang yang baik dan bisa mentolerir seorang wanita, tolong jangan jadi seperti Tuan Hexa yang senang menyiksa orang lain, saya hanya ingin masuk ke dapur sebentar, hanya sebentar saja. Ada seseorang yang harus saya temui, please," mohon Dhira, dengan sangat-sangat berharap Pak Wang bisa melepaskannya kali ini.
"Mohon maaf, Nona. Ini adalah perintah, tidak boleh dilanggar," jawab Pak Wang tanpa ada rasa kasihan dan bersalah sedikit pun.
"Ck. Anda payah," cetusnya dengan bibir yang sedikit manyun.
Tak lama ia kembali bersemangat dan menatap Pak Wang. "Kalau begitu bisa suruh pelayan wanita yang bernama Anisa keluar dan datang menemuiku?" Dhira mulai menawar.
Pak Wang pun akhirnya pasrah melihat tampang menyedihkan Dhira yang terus memohon padanya. "Janji hanya sebentar, ya, Nona. Saya tidak ingin tuan muda murka lagi." Luka bekas potongan gaji dari Hexa masih begitu berdarah, ia tak ingin membuat Hexa mengoyaknya lagi dengan potongan tambahan di bulan berikutnya.
Pak Wang pun memanggil pelayan wanita yang bernama Anisa, sesuai yang diinginkan oleh Dhira.
Detik berikutnya, pelayan yang kemarin pergi bersamanya ke supermarket keluar dari arah dapur, ia sepertinya tak berani menatap Dhira dan terus menunduk.
"Kamu kenapa terus menunduk?" tanya Dhira heran.
Bruk!
Ia pun menjatuhkan diri di hadapan Dhira, membuat Dhira seketika melotot dengan kaget. Ada apa gerangan? Kenapa tiba-tiba berlutut di hadapannya?
"Maafkan saya, Nona. Saya tahu salah, seharusnya saya tidak membawa Anda ke supermarket dan membuat Anda sakit," ucapnya laju.
Dhira semakin tak mengerti dengan penuturannya. "Sudahlah, aku tak mengerti apa yang kamu ucapkan. Berdiri dulu." Dhira membantu pelayan itu untuk bangkit.
__ADS_1
"Aku datang bukan ingin memintamu berlutut," lanjutnya.
"Bagaimana dengan mieku? Masih aman 'kan? Bisakah kamu masakkan aku satu? Aku sangat lapar," bisik Dhira, takut ada yang mendengar.
Pelayan tersebut menatap Dhira sambil menggeleng pelan.
"Baiklah, tidak apa-apa jika tidak bisa, kamu cukup ambilkan saja, dan aku akan memasaknya sendiri." Dhira kembali menawar.
"Tidak, bukan begitu, Nona. Masalahnya, mie itu ...." Ucapannya terhenti, sementara Dhira menunggu jawaban dengan wajah polos tak tahu apa-apa.
"Mienya sudah diambil oleh Tuan Muda Hexa, Nona."
Dhira melotot. "Semuanya?" tanyanya lagi. Dan Anisa mengangguk pelan.
"Ck, dia benar-benar keterlaluan," gerutu Dhira kesal.
"Menurut saya, tuan muda sudah melakukan hal baik untuk Anda, Nona. Mie yang kita beli kemarin, ternyata sudah kadaluwarsa, sudah tidak layak makan, itu juga jadi penyebab Anda mengalami muntah dan diare." Anisa pun menjelaskan agar Dhira tidak salah paham.
"Kadaluwarsa?" Alis Dhira menukik tajam. Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya? Tapi rasanya enak kok, tidak seperti makanan yang kaluwarsa, apa mungkin lidahnya yang terlalu tebal sampai tidak sadar ada perubahan rasa pada mie tersebut. Ya, sepertinya begitu.
"Anda lapar, Nona? Saya akan antarkan bubur ke kamar Anda," ujar Anisa yang seketika berhasil membuyarkan lamunan Dhira.
"Apa tidak ada nasi di dapur? Aku ingin makan nasi saja," pinta Dhira dengan wajah yang memelas.
"Tapi Anda masih sakit, Nona. Belum boleh makan makanan yang keras, nanti terjadi sesuatu saya yang akan dimarahi tuan muda."
"Ya sudahlah, bubur ya bubur, daripada lapar," gumam Dhira sambil melangkah pergi dari sana.
Sebenarnya dia lebih merasa sakit dan lemah jika hanya makan bubur, kenapa tidak ada yang setuju dengan pola pikirnya. Nasi itu lebih mengenyangkan ketimbang bubur. Dhira terus merutuk sepanjang ia berjalan.
"Dia ingin berulah lagi," gumam Hexa sembari menyunggingkan bibir menatap ponselnya yang tersambung dengan cctv rumah. Hexa dapat melihat bahwa Dhira tidak menuruti perintahnya dan keluar dari kamar, malah masih begitu berani menemui pelayan itu, pasti ingin meminta mienya yang ia simpan.
'*Sepertinya kulihat hari ini tuan muda kurang fokus bekerja, dari tadi ia selalu menatap layar ponsel, sampai-sampai pekerjaannya pun diabaikan*.'
__ADS_1
'*apa sebenarnya yang dilihat tuan muda di ponsel itu*?" batin Sekertaris Jo terus bertanya-tanya, apa gerangan yang telah terjadi pada tuan mudanya. Sangat tidak biasa sekali.