Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Hobi Baru Hexa


__ADS_3

Usai memberikan penjelasan via telepon serta mengendus manis pada pria itu, akhirnya ia terbebas dan tidak diberi hukuman tambahan.


Dhira menatap kotak persegi yang ia letakkan di atas kasur, perlahan membuka pita berwarna biru yang mengikat kotak tersebut.


Sebuah gaun berwarna navi, serta pernak-pernik yang berkilau, menambah kesan anggun serta elegant terhadap gaun tersebut.


Di atasnya terdapat sebuah kertas kecil yang ada tulisannya.


(Temani tuan muda ke pesta malam ini)


"Ah, pasti tulisan tuan sekertaris itu lagi, pria itu tak kalah menyebalkan dari bosnya."


Memberi makian terhadap sebuah kertas, hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Dhira. Berhadapan dengan orangnya langsung, hanya membuatnya terlihat seperti udang rebus, menciut.


"Tuhan, beri aku kesempatan sekali saja untuk menolak keinginan pria itu tanpa mengundang masalah." Dhira terbaring lemas tanpa ingin menyentuh gaun yang diberikan.


Terbayang lagi di pikirannya sebuah nama yang pernah mengisi hari-harinya kala duduk di bangku SMA.


Fathir, pria sekaligus orang satu-satunya yang peduli padanya di sekolah, di saat semua orang menjauh, hanya pria itu yang selalu menguatkannya untuk terus berpikir optimis.


Bukan mantan pacar, tapi bukan juga teman biasa. Mungkin seperti sahabat rasa saudara.


"Andai semua orang di dunia ini seperti kamu, Fat," Dhira kembali bergumam sembari membayangkan wajah teman lamanya itu.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 sore hari, Dhira baru berniat untuk bangun dari kasur.


Tidur seharian membuat seluruh tubuhnya sakit.


Ia membawa langkah kakinya menuju ke balkon untuk mengangkat jemuran yang berupa segitiga bermuda milik Hexa.


Namun,


"Lho, ke mana perginya?" Dhira celingak-celinguk dengan raut wajah yang mulai panik dan mencari.


Beberapa menit sudah berlalu sejak ia mencari cucian yang ia jemur tadi, tapi tak kunjung menemukannya.


"Matilah aku, bagaimana ini?" Dhira menepuk jidatnya cukup keras. Sekarang ia tak tahu harus bagaimana untuk menemukan benda itu.


Jika tak ketemu, tahu sendiri apa yang akan dilakukan Hexa padanya. Pria itu pasti akan semakin menyiksanya dengan ide-ide gila yang menguras tenaga dan emosi.


"Arrgh ... rasanya ingin lenyap saja dari muka bumi."

__ADS_1


Dhira berlari turun ke bawah, berniat untuk mencari di luar rumah. Barangkali terbawa angin dan jatuh.


"Nona Muda, ada apa?"


Sudah di duga, saat ia turun, pasti akan ada Pak Wang yang akan menyambutnya.


"Bukan apa-apa, Pak. Saya cuma mau olahraga sebentar di halaman." Dhira menjawab sambil tersenyum.


Pak Wang hanya diam saja saat Dhira berlalu pergi. Tubuh Dhira sudah kecil, mau dikecilkan bagaimana lagi pikir Pak Wang.


Setengah jam lamanya Dhira mencari, akhirnya ia menemukannya di bawah tanaman bunga tepi rumah.


Saat berbalik ingin kembali, mobil yang tak asing memasuki halaman.


Itu mobil Hexa, Dhira sangat mengenalinya.


Segera ia menghentikan langkah ketika bunyi klakson mobil memekakkan telinga.


Benda di tangannya ia sembunyikan di belakang tubuh agar tak terlihat oleh pemiliknya.


Seperti biasa, pesona pria itu tak pernah gagal menyilaukan pandangan ketika ia keluar dari mobil.


Benar-benar pria berkharisma yang penuh energik.


"Saya datang menyambut kepulangan Anda, Tuan. Bukankah ini sudah menjadi pekerjaan saya setiap hari?" Dhira menjawab dengan tenang, meski tangannya sudah gemetar sambil menggenggam erat celana pusaka milik Hexa.


Dari dalam rumah tampak Pak Wang keluar dengan terburu. "Selamat datang, Tuan Muda," sapanya.


"Pak Wang, katakan padaku tentang akibat seseorang jika berani berbohong pada majikannya." Ia bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari wanita di hadapannya.


Pak Wang melirik ke arah Dhira, ia takut akan salah bicara hingga membuat Dhira mendapat hukuman.


"Saya tidak berbohong, Tuan, sungguh." Dhira memelas.


'Sial, kenapa raut wajahnya harus begitu?' Hexa malah tak tega untuk memberinya hukuman.


"Apa yang Anda sembunyikan, Nona?"


Sekertaris Jo yang menyadari gelagat aneh Dhira, segera bertanya.


"Ah, bukan. Bukan apa-apa." Dhira menggeleng, wajahnya berubah pucat. Datang lagi masalah baru di saat satu masalah belum selesai.


"Tunjukkan!" titah Hexa dengan nada suara yang memaksa. Tak boleh dibantah.

__ADS_1


Detak jantung Dhira semakin berpacu hebat di dalam sana, berhadapan dengan Hexa selalu saja membuat posisinya tak aman.


Dengan terpaksa, sangat-sangat terpaksa ia harus menunjukkan apa yang ada di tangannya. Tak terbayangkan bagaimana malunya ia saat ini.


Melihat sebuah kain kusut di tangan Dhira, Hexa mengernyitkan alisnya, merasa tak asing dengan warna tersebut.


'Astaga, wanita ini.'


Sudah tak tahu lagi bagaimana caranya ia menghentikkan Dhira. Sangat menyesal kenapa ia harus memaksa wanita di hadapannya ini untuk menunjukkan sesuatu yang sebenarnya adalah miliknya sendiri.


Mau dilihat dari segi mana pun, tetap dapat dilihat jelas apa yang sedang dipegang Dhira meski tampilannya kusut dan tak beraturan.


"Apa yang Anda lakukan dengan itu, Nona? Tolong jangan tidak sopan di depan tuan muda. Benda itu tidak seharusnya dilihat olehnya," tegur Sekertaris Jo dengan wajah datar, tak senang dengan apa yang ada di tangan Dhira.


Buru-buru Dhira menyembunyikan tangannya beserta celana pusaka tersebut. 'Ini kan kau yang minta seketaris sialan.'


Jika ia seekor singa, setelah Hexa maka orang kedua yang ingin ia gigit adalah Sekertaris Jo. Agar dua lelaki menyebalkan ini bisa hilang dari kehidupannya.


"Buang itu, jangan pernah ada yang kedua kalinya!" perintah Hexa datar.


"Baik, Tuan." Dhira mengangguk dan tertunduk, tidak ada ucapan lain yang bisa ia katakan untuk membela diri. Ia sudah ditakdirkan untuk selalu salah di mata Hexa. Memikirkannya saja sudah membuat Dhira ingin mengamuk.


Setelah Hexa masuk ke rumah dan diikuti oleh Sekertaris Jo, Dhira berjalan cepat ke arah tong sampah dan membuang celana segitiga bermuda yang sudah susah payah ia cuci, kini harus dibuang dengan satu kalimat perintah.


"Menyusahkanku saja. Tahu begini lebih baik langsung kubuang saja, untuk apa susah payah mencucinya kalau berakhir di tong sampah?" Dhira mencibir dengan bibir yang mencebik kesal.


Seperti biasa, tidak ada yang melakukan apa pun sampai ia masuk ke rumah. Baik Pak Wang maupun Sekertaris Jo, sama-sama berdiri di samping kiri kanan Hexa. Menunggu dirinya untuk melayani tuan muda mereka.


Dhira benar-benar seperti pelayan pribadi yang sejati sekarang. Tolong berikan tepuk tangan meriah untuk kerja kerasnya selama ini, setidaknya ia bisa kembali bersemangat meski harus mendapat ribuan duri yang merejam tubuhnya.


"Hentikan!" titah Hexa.


Dhira langsung menghentikan tangannya yang baru saja terulur untuk membuka sepatu milik Hexa. Ia mendongak menatap penuh tanda tanya.


"Cuci tanganmu terlebih dahulu sebelum menyentuh sepatuku!"


'Hah? Apa-apaan? Memangnya tanganku tidak lebih bersih dari sepatunya yang ia gunakan menginjak kuman?' Sebelah dari bagian sudut bibir Dhira tertarik begitu saja.


Lagian yang ia pegang adalah celana milik Hexa sendiri, kenapa malah pria itu yang merasa jijik?


'Pria aneh.'


Tatapan mematikan dari Dhira membuat Hexa sedikit tersenyum. Sepertinya membuat Dhira kesal adalah pekerjaan sampingannya untuk mendapatkan kesenangan baru.

__ADS_1


Bantu votenya dong kakak ^_^


__ADS_2