Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Wanita Elegant


__ADS_3

Sudah selesai menyiapkan air di bak mandi, Dhira kembali berlari kecil ingin menghampiri Hexa. Namun, siapa sangka, kakinya yang basah menyentuh lantai ubin hingga menjadi licin, ia pun kehilangan keseimbangan dan terpeleset.


Bukk!


Hexa menoleh, melihat Dhira yang sudah terduduk di lantai.


Hexa tergelak, terkekeh kecil melihat wajah Dhira seperti orang bodoh.


"Bagaimana? Masih aman?" Tanpa ada rasa simpati Hexa bertanya dengan enteng.


Dhira kesal, menggertakkan gigi sampai hidungnya pun mengembang, hal itu membuat Hexa tak kuasa melihat ekspresi Dhira yang sungguh mengundang gelak tawa.


"Kau tidak berpikir untuk menyalahkan aku, 'kan? Kau sendiri yang berjalan tanpa hati-hati." Nada suaranya terdengar dingin, tapi ia malah menyembunyikan senyum lebarnya dari Dhira.


'Cih, pria macam apa dia ini, bukannya membantu malah menertawakanku.'


Dengan susah payah ia mencoba untuk bangkit. Aih, bokongnya benar-benar terasa sakit mendapat hentakan keras di lantai.


"Airnya sudah siap, Tuan." Ia menghampiri Hexa dengan langkah perlahan.


Hexa berdehem untuk mengembalikan raut wajahnya seperti semula, datar tanpa ekspresi.


"Lain kali perhatikan langkahmu, kau membuat lantai kamarku jadi kotor."


"Baik, Tuan. Saya minta maaf." Dhira menunduk, berusaha tenang meski tubuhnya gemetar.


Hexa memperhatikan tangan Dhira. 'Apa dia sungguh kesakitan?' batinnya.


"Kau harus menemaniku malam ini, apa sudah mandi?"


"Sudah, Tuan."


"Kapan?"


"Tadi siang, Tuan."


"Kau tidak berpikir bahwa bau tubuhmu saat ini sangat mengganggu?" Ledekan itu membuat Dhira seketika mencium bajunya.


'Jika bauku sangat mengganggu, kenapa berpikir untuk membawaku pergi ke pesta?' celetuk Dhira kesal.


"Mau mandi bersama?"


"Hah?" Tawaran Hexa cukup membuat Dhira tercengang.


"Lihat, wajahmu memerah, sepertinya kau sangat ingin mandi denganku." Hexa lagi-lagi menertawakan Dhira.


"Saya tidak layak, Tuan." Sebisa mungkin Dhira menolak dengan cara halus.


Hexa kembali tersenyum miring. "Ya, kau benar. Kau memang belum cukup layak untuk mandi bersamaku." Ia berdiri dan melewati Dhira yang masih terdiam seperti patung, tapi hatinya tak berhenti memaki Hexa.


'Jika kau tahu itu lantas kenapa masih bertanya, pria sialan!'


Satu detik tidak mengerjainya, mungkin akan membuat pria itu gila, pikir Dhira.

__ADS_1


Sudah satu jam Dhira menunggu, tapi Hexa masih belum keluar dari kamar mandi.


"Gila, apa yang sebenarnya pria itu lakukan di kamar mandi? Apa dia berniat tidur di sana?" Dhira bergumam sambil mendekat ke arah kamar mandi.


"Tuan, apakah sudah selesai?" Dhira mengetuk pintu, tak biasanya Hexa mandi begitu lama.


Sudah beberapa kali Dhira memanggil, tapi tak kunjung ada jawaban, hal itu membuat Dhira sedikit khawatir.


'Pria itu tak mungkin mati di air, 'kan?' batinnya.


Dhira akhirnya memberanikan diri masuk ke sana, kebetulan pintu tak dikunci.


"Tuan, maaf saya masuk," ucapnya sambil waspada barangkali Hexa masih mandi dan sengaja tidak menjawab panggilannya.


Namun, saat dilihat ternyata Hexa memang masih berada di dalam bak mandi, kepalanya bersandar di pinggiran bak dengan mata yang terpejam.


"Tuan," panggilnya.


Masih tak bergerak, hal itu membuat Dhira berani mendekat untuk mengecek keadaannya.


Dengan ragu Dhira menyentuh bahu Hexa dan menggoyangnya pelan. "Tuan." Berusaha untuk membangunkan.


Perlahan mata Hexa terbuka, dahinya mengernyit sambil memijit alisnya.


'Dia sungguh tertidur?' batin Dhira.


"Handuk," ujar Hexa dengan suara yang sedikit serak.


Dengan cepat Dhira mengambilkan handuk yang tergantung.


'Ck, tanpa disuruh pun aku juga akan melakukannya'


Dhira memalingkan wajahnya tak ingin melihat Hexa yang berdiri tanpa busana.


Usai membilas tubuhnya yang penuh sabun, Hexa mengambil handuk dari tangan Dhira dan memakainya.


"Pukul berapa sekarang?" Sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan diikuti Dhira dari belakang.


"Pukul 18:30, Tuan."


"Kembalilah ke kamarmu, setelah mandi turun untuk makan malam. Jam Tujuh nanti kau harus siap."


Usai tertidur di bak mandi sepertinya Hexa jadi pria normal di mata Dhira, sebab ia tidak dibuat darah tinggi dan hanya disuruh keluar begitu saja. Dhira lega akan hal itu.


"Baik, Tuan." Dhira menundukkan kepala dan keluar dengan senang hati.


Sekertaris Jo tiba di rumah Hexa sesuai jam yang ditentukan.


"Selamat malam, Tuan, Nona," sapanya dengan hormat ketika dua orang itu keluar dari rumah, Pak Wang juga mengantar sampai ke teras.


"Semoga selamat sampai tujuan, Tuan dan Nona," ujar Pak Wang.


"Terimakasih, Pak Wang." Dhira tersenyum hangat, alangkah baiknya jika Pak Wang adalah ayahnya, pria paruh baya itu sungguh baik dan sabar dalam menghadapi banyak masalah.

__ADS_1


"Tuan, saya dengar Nona Ressa juga hadir malam ini." Sekertaris Jo berkata saat mereka sudah berada dalam perjalanan.


"Biarkan saja, ini memang acara keluarganya, 'kan?" Hexa tampak tak peduli.


'Nona Ressa? Tampaknya tak asing.' Dhira sedikit penasaran, tapi ia tak berani bertanya.


Sepanjang perjalanan, sepertinya mood Hexa sangat tidak baik, ia tak mengatakan apa pun meski melihat Dhira sudah salah tingkah.


Tak memakan waktu begitu lama, perjalanan kini terhenti di sebuah vila besar nan megah.


Dhira sudah merasa cukup terbiasa melihat pemandangan rumah atau vila yang besar, sebab rumah yang ditempatinya beberapa bulan ini jauh lebih mewah dan besar dua kali lipat dari vila2 yang ia kunjungi untuk menghadiri pesta.


Saat berada di depan pintu masuk utama, dua orang scurity menyambut dengan sopan dan hormat.


"Selamat datang, Tuan Muda."


'Mereka sepertinya sudah kenal begitu lama dengan pria ini,' Dhira membatin sambil menatap wajah Hexa dari samping.


Pria itu jika hanya diam saja, entah kenapa terlihat semakin memesona dan mampu menggugah hati untuk mendapatkannya.


Sudah ada begitu banyak tamu yang hadir, Hexa langsung menuju ke tempat di mana orang yang sedang berulang tahun berada.


Saat kedua pria ini berhadapan, hanya ada kesunyian yang melanda keduanya, saling menatap lekat tanpa kata.


"Tuan Sandi, ini hadiah ulang tahun dari Tuan Hexa." Sekertaris Jo meletakkan kotak persegi di atas meja tepat di samping Tuan Sandi Prayoga.


Sandi Prayoga adalah ayah dari Ressa. Ressa Tiga bersaudara, memiliki sepasang adik kembar, laki-laki dan perempuan.


Tuan Sandi tampak mengambil kotak hadiah dari Hexa, lalu membukanya.


Bibirnya sedikit tersenyum melihat isi hadiah tersebut. Sebuah gelas antik yang digunakan untuk meminum wine.


"Bahkan sampai sekarang kamu masih ingat barang kesukaanku." Sambil tersenyum lebar ia berkata pada Hexa.


Dhira menatap Hexa yang kini juga sedang menampilkan senyumnya pada pria paruh baya itu.


"Karena saya tahu bahwa Anda tidak mungkin mengubah kebiasaan lama yang sudah mendarah daging."


Kebiasaan lama yang dimaksud Hexa adalah minum minuman beralkohol. Pria itu memang sangat senang melakukannya bahkan saat setiap kali Hexa berkunjung semasa masih bersama Ressa dulu.


"Namun, sayangnya aku tidak minum minuman seperti itu lagi. Lantas, harus kugunakan untuk apa pemberianmu ini?" Sambil menunjukkan gelas antik yang ia pegang.


"Terserah, Anda bisa gunakan untuk menelan masa lalu suram Anda." Jawaban Hexa membuat Dhira hampir tertawa. Bagaimana mungkin Hexa bisa bicara lelucon seperti itu.


"Oh, terimakasih sudah menyarankannya."


Meski tampak tenang, tapi siapa pun dapat merasakan bahwa pria paruh baya itu sedang kesal pada Hexa.


"Kenapa kau tidak menerima Ressa saat ia menemuimu?" Tuan Sandi memulai topik lain.


Namun, tampaknya Hexa diam saja, ia tak menjawab pertanyaan Tuan Sandi.


"Hexa, kamu ternyata datang juga." Wajah cantik nan anggun itu tersenyum hangat menyambut gembira kehadiran Hexa.

__ADS_1


'Siapa sebenarnya wanita ini? Dia juga menyapa Tuan Hexa saat di acara sebelumnya.'


Dhira memperhatikan Ressa dari atas sampai bawah. Mau dilihat dari sisi mana pun, wanita itu tetap saja terlihat menawan dan elegan


__ADS_2