Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Ibu Tak Tahu Malu


__ADS_3

Kini Dhira sudah berada di depan meja makan, bersiap untuk menyantap sarapan sekaligus makan siangnya, entah kenapa akhir-akhir ini dia sangat sulit untuk bangun pagi, mungkin karena terlalu lelah melayani Hexa ditambah harus begadang setiap malam, sepertinya tubuh itu sangat remuk ketika bangun.


"Pak Wang," panggil Dhira dengan sedikit berbisik.


"Iya, Nona."


"Masalah yang tadi, jangan dikasih tahu Tuan Hexa, ya." Dhira tersenyum kecil, berusaha membujuk.


"Kenapa, Nona?"


"Haish, pokoknya jangan dikasih tahu, bisa bahaya." Dhira tak ingin menberikan alasannya.


Walau bagaimanapun, wanita itu adalah mantan kekasih Hexa, ia takut akan mendapat ganjarannya jika ketahuan ia sudah memprovokasi Ressa.


Pak Wang menggaruk kepalanya sembari tersenyum tak enak. Dhira tampak mengerutkan dahinya menatap pria paruh baya itu.


"Kenapa, Pak?"


"Sudah terlambat, Nona. Saya sudah memberitahukannya. Lagipula, tidak ada yang bisa disembunyikan dari tuan muda, seluruh cctv di setiap bagian sudut rumah ini, itu selalu dipantau oleh tuan muda." Pak Wang berusaha menjelaskan.


"Apa?" Dhira seketika menghentikan suapannya.


"Jadi maksudnya, selama ini dia juga selalu memantau pergerakan saya di rumah ini?" Dhira terbelalak, tak sabar menunggu jawaban dari Pak Wang.


Sementara pria paruh baya itu pun tampak tak enak hati sudah mengatakannya.


"Bisa iya, bisa juga tidak, Nona." Hanya bisa mengatakan seperti itu, sebab dirinya pun tak tahu menahu kapan majikannya akan memeriksa rekaman cctv di rumah ini.


"Oh, jadi ini rahasianya?" Dhira mengangguk paham.


"Rahasia apa, Nona?" Tiba-tiba Pak Wang pun penasaran.


Bukannya menjawab, Dhira malah melamun, membatin di hatinya.


'Sekarang aku tahu, kejadian di bandara waktu itu, pasti bukan karena sebuah kebetulan.' Dhira menyipitkan matanya dengan tajam, sekarang ia sudah menyadari kebenaran tentang kejadian kemarin.


'Huh, benar-benar tak bisa dianggap remeh,' batinnya lagi.


"Nona." Pak Wang kembali memanggil dan seketika Dhira tersadar.


"Ah, bukan apa-apa, Pak. Masakan Anda enak, saya sampai lupa untuk bicara." Dhira mengalihkan topik dengan cepat.

__ADS_1


"Oh, ya, Pak Wang. Ini uang yang pernah saya pinjam kemarin." Dhira mengeluarkan selembar uang seratusan.


"Tidak perlu dibayar, Nona." Pak Wang menolak uang tersebut.


"Tidak boleh begitu, Pak Wang, Anda pasti juga sulit untuk mendapatkannya, saya tidak suka menerima uang secara cuma-cuma." Dhira langsung menyelipkan uang tersebut di saku baju Pak Wang sambil tersenyum cerah.


***


Sisi lain, di tengah pusat kota.


"Hal yang kukatakan tadi, sudah kau atur?"


"Sudah, Tuan. Mereka sudah berada di kamar hotel," jawab Sekertaris Jo.


"Ke sana Sekarang." Hexa bangkit dari tempatnya dan melangkah keluar dari ruangan, Sekertaris Jo dengan cepat mengikuti dari belakang.


Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka tiba di sebuah hotel, langsung memasuki kamar yang dipesan oleh Sekertaris Jo.


Kini, sudah ada tiga wanita paruh baya yang menunggu di dalamnya dengan perasaan cemas, mereka ditarik paksa dan dikurung di kamar tersebut, sambil berpikir siapa gerangan yang membawa mereka ke sana dengan paksa.


Pintu seketika terbuka lebar, menampakkan seorang pria yang kini berdiri di ambang pintu.


Hexa langsung masuk dan berdiri di hadapan ketiga wanita paruh baya itu.


Ketiganya tampak bingung, masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang diinginkan Hexa pada mereka.


"Lanjutkan," titah Hexa pada Sekertaris Jo, sembari berjalan menuju sebuah sofa yang cukup besar dan ia duduk di sana.


Sekertaris Jo mengangguk mengerti dan mengeluarkan ponselnya, menghampiri salah satu wanita dari ketiganya.


"Apa wanita yang ada di sini merupakan putri Anda?" Sekertaris Jo bertanya sembari memperlihatkan layar ponselnya yang tertera sebuah foto wanita. Yaitu foto Dhira.


Wanita paruh baya tersebut menggeleng dengan wajah ketakutan. "Bukan, dia bukan putri saya."


Sekertaris Jo pun mengangguk pelan dengan wajah datar.


"Tuan, apa pun yang dilakukan gadis itu, tidak ada sangkut pautnya dengan saya."


Wanita paruh baya itu jelas adalah ibunya Dhira, Bu Sari. Namun, ia tak ingin mengakuinya karena takut terkena masalah yang akan membuat hidupnya terancam.


Sekertaris Jo menoleh pada majikannya. Tampak Hexa masih santai bersender di sofa dengan tersenyum sinis, matanya memandang lurus ke arah jendela di hadapannya.

__ADS_1


"Berikan tas Anda," titah Sekertaris Jo sembari membentangkan sebelah telapak tangannya.


"U-untuk apa, Tuan?" Wanita itu meremas tasnya yang ada di atas pangkuan.


Tas itu ia beli dengan harga yang cukup mahal, khawatir Sekertaris Jo akan merusaknya.


"Berikan!" Suara pria itu mulai meninggi, tak suka terlalu banyak drama.


"T-tapi." Ia benar-benar tak rela untuk memberikannya, hingga teman di samping menyikut tangannya agar tidak membantah, sebab mereka juga semakin ketakutan mendengar suara lantang Sekertaris Jo.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sekertaris Jo merampas tas itu dan menuang isinya di atas kasur.


Ada peralatan make up serta dompet di dalamnya.


Dalam dompet itu masih ada kartu debit yang diberikan Hexa untuk Dhira, Bu Sari masih membawanya ke mana-mana, sepertinya ia sudah menganggap kartu itu miliknya.


Benar-benar tidak tahu malu, kenapa bisa ada orang tua yang begitu tidak memikirkan tentang anak kandungnya.


Ia bersenang-senang tanpa beban, sementara anak sendiri ditelantarkan. Hak yang seharusnya menjadi milik anaknya pun ia rampas dengan paksa.


Tak habis pikir kenapa bisa ada orang tua seperti itu.


Sekertaris Jo menunjukkan kartu tersebut di hadapan wanita itu, lantas berkata, "Tuan Hexa sudah berbaik hati meminjamkan kartu ini untuk beberapa hari, tapi sekarang akan beliau ambil kembali karena mengingat bahwa Anda sepertinya tidak berniat untuk mengembalikannya."


Sekertaris Jo melangkah ke arah Hexa dan meletakkan kartu tersebut di atas meja, tepat di hadapan majikannya itu.


Lalu ia berbalik lagi menghampiri Bu Sari.


"Tuan, kenapa Anda berpikir bahwa kartu itu bukan milik saya? Jelas-jelas itu ada di dalam dompet saya, 'kan?" protesnya.


Sorot mata Sekertaris Jo menajam, menusuk hingga wanita paruh baya tersebut menciut dan tertunduk takut.


"Kartu itu diberikan oleh Tuan Hexa untuk wanita yang ada di gambar tadi, Anda merampasnya dengan paksa di sebuah mall, tidakkah Anda berhutang sebuah penjelasan terhadap Tuan Hexa selaku suami dari Nona Dhira?"


Seketika mereka terkejut, kedua temannya langsung menatap Bu Sari dengan mata yang terbelalak, pun sebaliknya, Bu Sari menatap kedua temannya hingga kedua bola matanya hampir lepas.


"S-suami? M-maksud Anda, gadis itu adalah istri Tuan Hexa?" ia langsung bertanya dengan wajah pucat.


Sekertaris Jo diam tanpa kata, dengan wajah yang tanpa ekspresi.


"Tuan, gadis itu anak saya, dia yang memberikan kartu tersebut dengan sukarela karena dia kasihan terhadap ibunya," ujar Bu Sari, memasang wajah sedih di hadapan Sekertaris Jo agar dikasihani.

__ADS_1


__ADS_2