
"Ingat, ini adalah kamarku, kedepannya, kau tidak boleh masuk kecuali jika aku memanggilmu, paham?"
"Paham, Tuan."
"Sekarang aku mau mandi."
"Baik, Tuan."
"Hei, mau ke mana?" Baru saja Dhira ingin keluar, Hexa tiba-tiba memanggilnya.
"Bukankah Anda ingin mandi? Saya keluar untuk tidak mengganggu Anda," jawab Dhira masih dengan kepala yang tertunduk.
"Siapa yang menyuruhmu keluar? Kelak jika aku mengatakan akan mandi, kau harus dengan segera menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air di buth up, mengerti?" tegasnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Baik, Tuan. Saya mengerti." Dhira bergegas melangkah menuju ke kamar mandi dan menguncinya dengan cepat.
"Sial, dia sengaja tidak mandi saat pulang dari vila pasti karena ini. Dia ingin menyusahkanku dengan segala perintahnya yang sudah pasti tidak bisa kubantah," rutuk Dhira dengan suara yang sedikit berbisik, matanya terus menyorotkan sebuah amarah yang tertahan, tidak bisa ia lampiaskan pada siapa pun.
Selanjutnya Dhira pun keluar setelah melakukan tugas yang diperintahkan.
"Tuan, air sudah siap, Anda sudah bisa mandi sekarang."
"Selagi aku mandi, kau siapkan pakaian santai untukku, ada di lemari sana." Sembari menunjuk ke arah lemari yang ia maksud.
"Baik, Tuan."
Hexa pun berlalu, tiba-tiba sedikit senyum menukik di bibirnya tanpa sadar saat Dhira tak melihatnya, entah mengapa ia seperti memiliki mainan baru yang unik dan menyenangkan.
"Astaga, menyusahkan sekali," cebik Dhira kesal setelah pria itu masuk ke kamar mandi.
Saat membuka pintu lemari pakaian milik Hexa, Dhira sedikit terkejut. "Apa ini? Kaosnya semua berwarna hitam. Tidak ada warna lain?" batinnya, tak habis pikir betapa misteriusnya pria itu, bahkan pakaian pun harus satu warna saja.
Selagi menunggu Hexa mandi, Dhira keluar untuk melihat-lihat sekitaran rumah itu, ia tak berani berjalan jauh, bisa-bisa tersesat mengingat bahwa ia adalah orang asing yang tak tahu peta rumah yang sebesar itu.
"Gunanya rumah sebesar ini untuk apa jika cuma dirinya saja yang menempati? Ini tu pemborosan," gumam Dhira sembari menyenderkan punggungnya ke tembok, matanya terus melihat-lihat seisi rumah.
Tak lama kemudian.
"Pelayan." Suara teriakan Hexa begitu nyaring masuk ke gendang telinga Dhira hingga ia bergegas masuk ke kamar tersebut.
"Ada yang dibutuhkan, Tuan?" Dengan cepat ia bertanya.
"Siapkan sarapan untukku, bawa kemari," titahnya setelah mengenakan pakaian yang dipilih oleh Dhira.
"Baik, Tuan." Dhira bergegas berlari menuruni anak tangga, bertanya pada salah satu pelayan yang bertugas membersihkan rumah itu.
"Permisi, arah dapur di mana, ya?"
__ADS_1
"Oh, mari saya antar, Nona." Pelayan tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan menunjukkan jalan untuk Dhira.
"Ini Kepala Pelayan Wang, Anda bisa meminta padanya jika ingin makan sesuatu, Nona."
"Baik, terimakasih."
"Pagi, Nona Muda. Sarapan sudah disiapkan di meja makan, jika tidak ada yang sesuai dengan selera Anda, tolong beritahu saya dan saya akan menyiapkan apa yang Anda inginkan," sapa Pak Wang dengan ramah dan sopan.
"Mmm, itu. Apa Anda tahu sarapan yang biasa dimakan oleh Tuan Hexa? Dia memintaku untuk menyiapkannya," bisik Dhira pelan.
"Tuan Muda biasanya hanya makan sandwich di pagi hari, saya juga sudah menyiapkannya di meja makan beserta susu hangat," jawab Pak Wang sembari mengajak Dhira untuk menuju ke meja makan.
"Biar saya bantu antarkan ke atas, Nona."
"Ah, tidak usah, Pak Wang." Dhira dengan cepat meminta kembali nampan yang di tangan kepala pelayan.
"Biar saya saja." Ia pun tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya takut Anda jatuh jika naik tangga dengan membawa makanan, Tuan muda akan marah besar jika hal itu sampai terjadi."
Dhira pun tersenyum kecut mendengar ucapan Pak Wang, sejak kapan Hexa akan marah besar jika dirinya terjatuh, pria itu mungkin akan begitu senang jika hal itu terjadi, pikir Dhira.
"Anda tidak perlu meragukan keahlian saya, Pak Wang. Tenang saja, semua akan aman terkendali." Dhira mengedipkan matanya dan tersenyum genit.
Kepala pelayan seketika terbelalak, ia segera melihat ke arah sekitar, dan matanya tertuju pada cctv yang tidak jauh darinya.
'Tuhan, selamatkan aku. Semoga Tuan Muda tidak memotong gajiku bulan ini,' batin Pak Wang yang semakin merasa gelisah.
Dhira kembali ke kamar Hexa dengan membawa sepiring sendwich serta segelas susu hangat.
"Ini sarapan Anda, Tuan." Dhira pun meletakkannya di samping Hexa yang kini sedang menatap layar laptopnya dengan fokus.
"Kenapa hanya berdiri di sana? Kau pikir makanan itu akan masuk sendiri ke mulutku?" ujar Hexa, masih dengan mata yang fokus pada laptopnya.
'Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku berpikir makanan bisa masuk sendiri ke dalam mulut,' batin Dhira kesal.
"Lalu saya harus bagaimana, Tuan?" tanyanya lagi, untuk memastikan apakah pria itu benar-benar menginginkan dirinya untuk disuapi olehnya.
"Aku sangat sibuk sekarang, tidak ada waktu untuk itu, suapi aku." Tanpa ada rasa canggung dan malu, Hexa benar-benar meminta Dhira untuk menyuapinya, membuat wanita itu menyunggingkan bibir tak habis pikir.
'Tuhan, kutukan apa lagi ini? Kenapa aku harus mengurus bayi tua sepertinya.' Dhira menghela napas panjang sebelum ia benar-benar menyuapi Hexa seperti anak-anak yang masih perlu diurus untuk segala sesuatunya.
"Panggil Pak Wang kemari," titah Hexa setelah ia selesai menghabiskan sarapannya.
"Baik, Tuan." Dhira menunduk patuh dan keluar dari ruangan itu.
"Nona Muda, Anda jangan masuk ke sini, atau Tuan Muda akan memarahi saya, Anda bisa memencet bel di pintu dapur dan saya akan menemui Anda secepatnya," ujar Pak Wang panik.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak Wang. Hanya masuk ke dapur tidak akan menjadi alasan untuk dia memarahi Anda." Dhira pun tersenyum hangat.
"Tolong jangan tersenyum pada saya, Nona. Saya takut." Pak Wang terus menundukkan pandangannya, tidak berani menatap Dhira.
Dhira mengangkat alisnya setinggi mungkin mendengar ucapan kepala pelayan tersebut. "Pak Wang, apa wajahku begitu menyeramkan saat sedang tersenyum?"
"Tidak, Nona. Bukan begitu maksud saya. Pokoknya jika dengan pria lain selain tuan muda, lebih baik Anda bermuka datar saja, saya takut tuan muda akan murka untuk hal itu."
'Astaga, Pak Wang saja begitu takut padanya,' batin Dhira yang kini tidak lagi tersenyum.
"Anda dipanggil Tuan Hexa di kamarnya," ujar Dhira menyampaikan pesan.
Seketika wajah Pak Wang tampak tegang, hembusan napasnya bahkan begitu kuat sampai Dhira terlihat bingung.
'Apa perlu setakut itu?' Dhira membatin sembari meninggalkan ruang dapur. Sambil terus berpikir kesalahan apa yang dilakukan Pak Wang sampai ia setakut itu saat dipanggil.
"Ampuni saya, Tuan Muda. Saya benar-benar tidak bisa mencegah nona muda melakukan itu, semua di luar kendali saya." Kini Pak Wang berlutut di hadapan Hexa.
"Pak Wang, aku menghargaimu sebagai orang yang lebih tua dariku, tapi apa perlu kau membuatnya mengedipkan mata dan tersenyum lebar di hadapanmu? Aku saja tidak pernah mendapat senyuman darinya, memangnya Anda siapa?" Hexa terus mondar-mandir di hadapan kepala pelayan, hatinya sedang kesal sekarang.
"Maafkan saya, Tuan muda. Saya berjanji Nona muda tidak akan melakukannya lagi, saya berjanji." Seluruh tubuh Pak Wang gemetar ketakutan.
"Keluarlah, gajimu bulan ini kupotong 70%."
"Dan ingat, tidak ada kejadian seperti itu lagi kedepannya." Peringatan yang begitu tegas, membuat jantung Pak Wang berdetak tak karuan.
"70%? Bukankah itu terlalu banyak? Ini kali pertama gajiku dipotong sebesar itu." Pak Wang menuruni anak tangga sembari terus memikirkan gajinya yang terbuang sia-sia hanya karena satu kedipan mata yang dilakukan Dhira di hadapannya.
"Sial, bisa-bisanya aku marah pada Pak Wang hanya karena wanita itu." Tak lama setelah Pak Wang keluar dari kamarnya, Hexa tiba-tiba tersadar dengan apa yang ia lakukan, ia tak mengerti kenapa dirinya sangat marah hanya karena hal sepele yang tak berguna.
"Apakah aku terlalu galak pada wanita itu? Dia tak pernah terlihat tersenyum padaku," gumam Hexa sambil terus berpikir. Wajah Dhira benar-benar memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1