Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Kado Spesial Untuk Hexa


__ADS_3

Dhira melompat-lompat ke arah Hexa sambil tersenyum menampakkan gigi putihnya.


"Bagaimana, Tuan? Apa Anda terhibur dengan kejutannya?"


Hexa menghela napas sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia maju selangkah lebih dekat dengan Dhira, menatap wajah gadis itu cukup lama.


"Selamat ulang tahun, Tuan." Dhira membungkukkan badan, otomatis kain putih yang terikat di kepalanya menabrak wajah dan tubuh Hexa.


Hexa berdecak, lalu mencengkram kain putih di kepala Dhira hingga Dhira pun refleks berdiri kembali.


"Harusnya kau sediakan lilin beserta apinya di atas kepalamu," cetus Hexa, lantas berjalan melewati Dhira dan membuka jasnya. Membuangnya sembarangan di atas kasur.


Lalu berbalik badan dan kembali menghampiri Dhira yang masih senyum-senyum tak jelas.


"Apa yang kau lakukan dengan kostum ini?"


Hexa langsung menggendong tubuh Dhira seperti sedang memikul beras.


Mendudukkan tubuh Dhira di tepi kasur, lalu ia mengambil kapas serta cairan pembersih muka yang ada di atas meja rias.


Hexa mengambil kursi dan duduk di depan Dhira, sejenak ia menatap Dhira penuh telisik.


Berapa lama waktu yang dihabiskan wanita di hadapannya ini untuk tampil seperti itu. Benar-benar kurang kerjaan.


"Siapa yang membantumu melakukan ini?"


Dhira menggeleng. "Saya melakukannya sendiri, Tuan."


"Biar apa? Gunanya untuk apa?"


Dhira memutar bola matanya berpikir.


"Memberi kejutan untuk Anda, Tuan," jawabnya polos.


"Lalu ada apa jika aku terkejut? Kau berharap aku tiba-tiba kena serangan jantung dan mati?"


Dhira tergagap.


"B-bukan begitu, Tuan."


"Saya tidak bermaksud seperti itu."


Sedikit pun ia tidak pernah berpikir untuk menghilangkan nyawa orang, apalagi nyawa Hexa.


Hexa seketika mendekatkan wajahnya, Dhira hampir termundur.


Sesaat mata mereka saling menatap di satu garis lurus, sama-sama merasakan hembusan napas yang kian memburu.


Sepersekian detik berikutnya Hexa menarik diri.


Tangannya meraih ikatan tali di tubuh Dhiraa, membuang kain itu ke sembarang arah.

__ADS_1


Kini Dhira sudah tidak terbalut dengan kain, ia memakai piyama berwarna merah cerah tanpa lengan.


Hexa menelan salivanya dengan berat, sebagai lelaki normal, bohong jika ia tak tergoda dengan tubuh mungil Dhira.


Apalagi ini kali pertama Dhira memakai pakaian yang sedikit terbuka di hadapannya.


'Sial, apa dia sedang menggodaku?' batinnya sambil berpaling dari pemandangan yang menggairahkan di hadapannya itu.


Setelah mengatur napasnya kembali seperti biasa, Hexa pun perlahan meraih cairan pembersih wajah dan menuangkannya di atas kapas.


Mengusap lembut ke wajah Dhira yang penuh dengan bedak putih, membersihkan lingkaran hitam di pinggiran matanya.


Dhira dari tadi hanya bisa terdiam melihat ekspresi datar dari Hexa yang dari tadi sibuk dengan wajahnya.


Ia tak menyangka Hexa mau membantunya membersihkan riasan wajah yang sembrono di mukanya itu.


Malu, malu sekali rasanya, tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa menolak jika pria itu sudah berkehendak.


"Begini lebih baik," ujar Hexa setelah wajah Dhira benar-benar bersih dan kembali ke pengaturan awal.


"T-terimakasih, Tuan."


"Cuma itu?"


"Hah?"


Dhira tak mengerti maksud ucapan Hexa.


"Tidak ada imbalannya?"


"Anda tunggu di sini sebentar, saya akan kembali secepatnya."


Dhira berlari kecil menuju ke ruang ganti milik Hexa, mengambil sesuatu yang sudah ia beli khusus untuk pria itu.


Saat ia keluar dan ingin menghampiri Hexa, tiba-tiba ia tak menemukan keberadaan pria itu di sana.


"Lho, tadi ada di sini, disuruh nunggu malah pergi." Matanya mengedar ke beberapa tempat yang kemungkinan Hexa datangi, jika bukan kamar mandi, pasti ada di balkon.


Benar saja, pria itu kini sedang berdiri di sisi balkon sambil menikmati suasana malam yang larut, malam yang dipenuhi bintang yang bertabur indah di atas sana, tapi sayangnya, sang rembulan tidak menampakkan diri malam ini.


"Tuan," panggil Dhira pelan ketika berada di samping Hexa.


Hexa pun menoleh, ia tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


Entah kenapa, semenjak menikah, rasanya Dhira sedang berhadapan dengan orang yang berbeda, pria yang dulu suka memerintahnya dan setiap saat berwajah datar, kini berubah seperti orang lain.


Tidak ada Hexa yang kejam dan pemarah, sekarang hanya ada Hexa yang lembut dan tidak pernah memaksa.


"Ini kado untuk Anda."


Dhira memberanikan diri menyerahkan sebuah kotak kado berukuran kecil.


Hexa melirik ke arah kado di tangan Dhira, lalu berpindah menatap mata teduh gadis yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Terimakasih." Hexa pun menerimanya. Ini adalah kali pertama ia menerima kado ulang tahun dari seseorang semenjak ibunya tiada.


Dhira tak hentinya tersenyum ketika ia mendapat ucapan terimakasih dari lelaki yang tak pernah ia bayangkan akan mengucapkan satu kata itu padanya.


Tanpa menunggu waktu lebih lama Hexa membukanya di hadapan Dhira langsung, tapi tiba-tiba wajah Dhira sudah bersemu merah bahkan sebelum isinya dilihat oleh pria itu.


Ketika penutup kotak sudah terbuka, Hexa mengernyit, lalu mengangkat isi di dalamnya.


Celana segitiga bermuda warna biru.


Dhira semakin menenggelamkan wajahnya begitu malu.


Ia benar-benar kehabisan akal untuk memikirkan kado ulang tahun Hexa, hingga terpikirkan hal bodoh seperti itu.


Hexa berpindah menatap Dhira penuh selidik, cukup lama hingga berhasil membuat Dhira salah tingkah.


Hexa tiba-tiba menarik pinggang Dhira dengan tangan kekarnya.


Hingga tubuh mungil itu pun tersentak dan merapat ke tubuhnya.


Dhira membulatkan mata dengan sempurna, jantungnya memburu dengan cepat ketika melihat Hexa menatapnya begitu dalam.


Ah, situasi macam apa yang terjadi sekarang?


"Apa kau sedang menggodaku dengan memberi kado seperti ini?" bisik Hexa.


Suara berat yang khas milik Hexa nyaris membuat Dhira tergoda sesaat.


Padahal niat hati membeli kado itu hanya untuk mengganti milik Hexa yang kemarin harus dibuang ke tong sampah karena ulahnya, tidak ada sedikit pun niatan untuk menggoda pria di hadapannya ini.


Akan tetapi benar juga, cukup aneh jika seorang wanita menghadiahi sebuah celana segitiga itu untuk seorang pria, maksud dan tujuannya sudah sangat terlihat ambigu.


Kenapa ia tak terpikir sampai ke situ? Ah, bodohnya.


Dhira tak hentinya merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang semakin menjadi-jadi dalam dirinya.


Namun, semakin napasnya tak beraturan, semakin kuat pula Hexa memerangkap tubuhnya dalam dekapan hingga ia refleks mendaratkan kepalanya di dada bidang milik Hexa.


Pria itu nyaris menyentuh bibirnya jika ia tak cepat menghindar dan bersandar kepala di dada Hexa.


Dhira dapat merasakan, detak jantung Hexa juga tak kalah cepat berdetak di dalam sana.


Apa yang terjadi, kenapa jantung mereka bisa sama-sama berdetak begitu cepat dalam waktu singkat seperti ini?


Dhira memejamkan mata, sejenak menghayati debaran jantung Hexa yang rasanya terdengar begitu nyaman di telinganya.


Tubuh pria ini ... hangat dan wangi, sangat pas untuk membenamkan diri dalam pelukannya.


Dhira seketika lupa diri dan lupa segalanya. Hingga beberapa menit berlalu, ia membuka mata dan kembali tersadar.


Ia sudah sangat lancang sekarang.


Bergegas ia mengangkat kepala dan menjauhkan diri, tapi sedetik setelah itu Hexa kembali menarik pinggangnya dan bibirnya menghampiri bibir Dhira.

__ADS_1


Saat itu juga, di detik itu yang disaksikan oleh ribuan bintang di atas langit, Dhira membelalakkan mata tak percaya, kini bibir mereka saling bertaut, merasakan kelembutan, manis, dan juga hangatnya sentuhan demi sentuhan yang berhasil menggetarkan jiwa dan raga.


__ADS_2