
"Oh, jadi gaun ini buat kamu, Dhira?" tanya Derta saat melihat gaun yang ia pilih bersama Hexa tadi di butik.
"Lho, kamu juga tau gaun ini?" tanya Dhira balik. Derta masih diam.
"Tuan Hexa bilang ia menemukan gaun ini di jalanan, jadi diberikan padaku untuk dipakai menemaninya ke pesta," lanjutnya lagi, dan seketika Derta tergelak, menahan tawa yang menurutnya sungguh sebuah lelucon.
"Lalu kau percaya dengan ucapan Kak Hexa?" tanya Derta, ia masih berusaha menahan tawa agar tidak pecah di hadapan Dhira.
"Memangnya dia berbohong?" Entah polos atau apa, Dhira malah bertanya. Lagian orang seperti Hexa, mana ada waktu memungut barang di jalanan.
Memangnya dengan uang yang banyak itu, ia tidak mampu membeli sebuah gaun? Jangankan satu gaun, satu butik pun ia beli.
Namun, pola pikir Dhira tidak seperti itu, ia berpikir bahwa dirinya bukan siapa-siapa, Hexa tidak akan menghabiskan uangnya untuk orang yang tak berguna seperti yang sering Hexa ucapkan, jadi Dhira percaya bahwa Hexa memungut gaun itu seperti halnya saat ia memungut Dhira di rumah bordir.
"Ya sudahlah, anggap saja seperti itu." Derta pun berlalu dengan cepat dan melepas tawa sepuasnya.
"Dasar Kak Hexa, dia lebih memilih berbohong daripada mengatakan bahwa gaun itu dibeli sendiri olehnya. Pikiran orang tua benar-benar sulit dimengerti," gumam Derta sambil mesem-mesem tak karuan mengingat kelakuan Hexa yang gengsinya kelewat tinggi.
Tak lama kemudian, Hexa pun pulang dari perusahaan untuk menjemput Dhira.
"Selamat malam, Nona. Sudah siap? Tuan muda sudah menunggu di mobil," sapa Sekertaris Jo sopan dengan senyum ramahnya.
"Sudah, ayo kita berangkat," Terdengar suara Derta yang menjawab ucapan Sekertaris Jo. Ia dengan semangat menuruni anak tangga untuk ikut serta menghadiri acara.
"Tuan Muda Derta? Anda juga pergi?" tanya Sekertaris Jo heran, selama ini Derta tak pernah mau jika diajak ke acara bisnis, kenapa sekarang malah inisiatif untuk pergi tanpa diajak?
Jawabannya tentu saja karena ada Dhira, jika tidak, boro-boro dia mau ikut, hanya membuat kepalanya pusing dengan pembicaraan orang-orang di sana yang hanya membicarakan soal bisnis dan bisnis. Seperti tidak ada topik lain yang lebih menyenangkan.
"Kamu jangan bicara seperti itu, dong, Paman. Aku kan juga anak dari seorang pengusaha, jadi datang ke acara seperti itu penting untukku agar bisa mengenal bisnis lebih dalam. Bukan begitu, Dhira?" Derta pun merangkul tubuh Dhira sambil tersenyum lebar.
Sekertaris Jo menampilkan senyum paksa ketika Derta masih saja memanggilnya dengan sebutan paman, padahal usianya dan Hexa tidak terpaut jauh, kenapa dirinya dipanggil paman semetara Hexa dipanggil kakak? Itu tidak adil.
"Ya sudahlah, ayo berangkat. Akan tetapi jika Tuan Hexa tidak mengizinkan, Anda tidak boleh memaksa." Sekertaris Jo pun keluar dari rumah itu dan diikuti kedua cunguk yang mengekor di belakang.
__ADS_1
"Halo, Kak Hexa. Kita bertemu lagi." Derta melambaikan tangannya sembari duduk di samping Sekertaris Jo.
"Kau sungguh ikut?" Alis Hexa mengerut tajam melihat kehadiran Derta.
"Rupanya gaun itu untuk Dhira, ya, Kak?"
Hexa melototi Derta dengan tajam, secara tak langsung Derta sebenarnya sedang mengancam Hexa, jika tidak mengizinkannya ikut pergi, maka ia akan memberitahu Dhira bahwa gaun itu sengaja dibeli oleh Hexa memang untuk Dhira.
"Jo, jalan," titah Hexa yang akhirnya lebih mengalah pada anak itu. Derta tampak sangat puas, ia mengerlingkan mata pada Dhira, begitu genit hingga membuatnya mendapat lemparan pulpen dari Hexa.
"Ish, Kak Hexa, mengganggu saja," cebik Derta.
Mobil mereka pun menyusuri jalan melewati susunan gedung-gedung tinggi, di tengah hiruk pikuk keramaian jalan oleh kendaraan lain.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, di sebuah gedung berwarna abu-abu, dan tinggi menjulang ke atas.
"Acaranya di hotel, Kak? Inikan acara amal, ya, bukankah harusnya di perusahaannya langsung?" Derta mulai banyak bicara, tapi malah tidak ada yang menjawabnya.
Hexa yang melihat itu, segera memisahkan mereka dengan cepat. "Tidak ada gandeng-gandengan. Dhira pelayan pribadiku, dan kau?" Hexa menunjuk Derta. Lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Kau sama Johan, jangan dekat-dekat denganku."
"Ish, lagian siapa juga yang mau dekat-dekat dengan Kak Hexa, aku cuma mau dekat sama Dhira," rajuk Derta dengan wajah masam sambil melangkah mundur menghampiri Sekertaris Jo.
Sudah ada begitu banyak tamu yang datang. Saat masuk, semua mata tertuju pada mereka, dan beberapa reporter pun mengambil gambar Hexa yang berjalan di dampingi oleh wanita yang tak dikenal.
Momen ini hanya ada satu kali setelah beberapa tahun Hexa menggeluti dunia bisnis, selama ini jika tidak datang sendiri, maka hanya ditemani oleh sekertarisnya, tidak pernah bersama wanita. Lalu sekarang? Tidak ada angin, tidak ada hujan, pria itu malah datang bersama wanita.
Namun, beberapa orang juga ada yang tidak begitu terkejut melihatnya, karena mereka juga sempat melihat Hexa membawa wanita di acara ulang tahun kakeknya, tapi mereka hanya tidak menyangka bahwa wanita yang ia bawa adalah orang yang sama saat di acara ulang tahun.
Detik berikutnya saat Hexa berbincang dengan beberapa klien dan mitra kerjanya, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Hexa!"
Hexa menoleh ke sumber suara. Dhira dan Derta pun tak terkecuali.
__ADS_1
Derta terbelalak lebar ketika melihat wanita itu yang tak asing di ingatannya.
"K-Kak Ressa?" ucapnya dengan suara yang sedikit keras. Itu refleks terjadi setelah ia berhasil mengingat sosok wanita di hadapannya itu.
Wanita yang dipanngil Ressa itu pun menoleh pada Derta dan sepertinya sedang berusaha mengingat. "Kamu ...?"
"Derta, Kak. Sudah lupa?" Entah kenapa anak itu menjadi orang yang paling bersemangat bicara pada Ressa, sementara Hexa malah memilih tak peduli pada wanita itu, masih menyibukkan diri dengan beberapa koleganya.
"Sstt, siapa?" Dhira yang penasaran, menyikut tangan Derta memberi kode agar diberitahu tentang siapa wanita itu.
"Nanti aku ceritakan," bisik Derta. Dhira pun manggut-manggut.
"Aku ngobrol sama Hexa dulu," Ressa sedikit melirik ke arah Hexa. Masih seperti dulu, dengan senyumnya yang manis juga lemah lembut.
"Hexa!" panggilnya sembari meraih pergelangan tangan pria itu. Namun, tidak seperti yang diharapkan, Hexa menepis tangannya dengan cepat.
"Tolong jaga sikap, Nona. Jangan kurang ajar," ujar Hexa dingin dan tak peduli sama sekali meski ia mengenali mantan kekasihnya itu.
Ressa merasa seperti tubuhnya dicabik-cabik, ia ditolak oleh Hexa di hadapan banyak orang, antara malu dan sedih, ia sendiri tak dapat membedakannya.
Hexa telah berubah begitu banyak setelah beberapa tahun tak bertemu.
Selain terlihat lebih tampan, ia juga menjadi pria yang berhati dingin.
Pria yang tanpa sungkan memberikan tamparan hebat secara tidak langsung ke wajahnya.
Sangat berbanding terbalik dengan yang dahulu.
Hexa yang perhatian, lembut, dan tidak pernah marah padanya.
Pria yang dulu selalu menjaga perasaannya, kini menjadi pria yang tak peduli lagi terhadapnya.
Mungkin inilah yang dinamakan hukum karma, ia yang memulai, maka sekarang harus menanggung resikonya.
__ADS_1