Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Mau Kabur


__ADS_3

Dengan berat hati, Derta pergi dari rumah itu.


"Kamu sungguh akan pergi? Mungkin Tuan Hexa hanya emosi sesaat, dia tidak benar-benar mengusirmu." Dhira berharap Derta tidak berkecil hati, tapi Derta adalah Derta, bahkan tidak dihibur pun, ia bisa menghibur dirinya dengan berbagai cara. Buktinya, ia sekerang tersenyum lebar bahkan terlihat tanpa beban.


Lagi pula, dia memang waktunya pulang ke rumah, tidak bisa terus menghindar terlalu lama.


"Kau jangan sedih, meski tidak tinggal di sini, aku akan sering mengunjungimu. Atau jika kamu tidak betah kerja sama Kak Hexa, kamu bisa kabari aku, nanti akan kucarikan lowongan di perusahaan papa." Sambil terus tersenyum, Derta mengacak ujung kepala Dhira merasa gemas dengan wanita yang mau dikatakan polos, tapi juga berani.


"Haish, aku dan Tuan Hexa, memiliki masalah yang sedikit rumit, sulit bisa berhenti. Lagian kamu tahu sendiri wataknya, sebelum aku mengundurkan diri, mungkin ia akan lebih dulu mencabik-cabik tubuhku. Itu mengerikan." Dhira tak berani membayangkan, lagian jika ingin terlepas, ia tidak bisa tinggal di kota yang sama dengan Hexa.


Derta pun terkekeh, memang apa yang dikatakan Dhira itu benar, Hexa tidaklah sesimple itu melepas orang yang sudah ia inginkan.


"Aku sarankan kamu tidak jatuh cinta pada Kak Hexa, tunggu aku sampai sukses, maka aku akan menikahimu." Derta berkata dengan sedikit menyipitkan matanya, lalu ia mengerlingkan mata genit terhadap Dhira, membuatnya mendapat pukulan dari wanita itu.


"Aww, kenapa memukulku? Aku salah?" desisnya sambil menggosok tangan yang dipukul.


"Bicara sembarangan lagi, maka aku akan menendangmu. Sudah, itu taksimu nunggu dari tadi, kasian sopirnya." Dhira pun segera mendorong tubuh Derta agar keluar dari rumah, tak akan ada habisnya jika meladeni anak itu bicara.


Detik berikutnya setelah taksi berlalu pergi, sebuah mobil hitam yang mengkilap memasuki halaman rumah. Dhira mengernyit, mobil itu tidak ia kenal sama sekali, dan tidak mungkin, 'kan, Hexa membeli mobil baru sementara mobilnya sudah berderet di garasi saking banyaknya.


Dhira menunggu pemilik mobil itu keluar, dan ternyata, orang yang selama ini ia tunggu datang juga, beruntungnya sekarang Hexa sudah berangkat ke perusahaan, jadi ia tidak akan ketahuan.


"Akhirnya kamu datang juga, kenapa lama sekali baru menampakkan batang hidungmu?" Dhira menyambutnya dengan antusias.


Wanita yang mengenakan dress hitam serta kacamata hitam itu menghampiri Dhira dengan raut datar, dia adalah Lina.


"Seharusnya Hexa tidak di rumah, 'kan?" tanyanya, dan Dhira pun mengangguk cepat.


"Beresi barangmu segera, aku akan mengantarmu ke bandara, dan ini tiket pesawat yang sudah kupesan, kau akan berangkat tiga jam lagi. Bergegaslah, akan kutunggu di sini." Sembari memberikan sebuah tiket pesawat serta pasport pada Dhira setelah ia masuk ke rumah.


Dhira menerimanya dengan semangat yang menggelora, akhirnya ada titik terang, sebentar lagi ia akan terbebas dari belenggu Hexa serta peraturan-peraturannya yang tak masuk akal itu.


"Aku akan kembali secepatnya, tunggu, ya." Hampir berjingkrak, Dhira berlari menaiki anak tangga untuk membereskan barang-barangnya.


10 menit kemudian, ia keluar kamar diam-diam, tidak ada banyak barang yang dia bawa, hanya beberapa helai pakaian yang ia masukkan dalam tas kecil, agar tidak menimbulkan kecurigaan jika ada yang memergokinya.


Seharusnya sekarang Pak Wang sedang sibuk mengatur para pelayan di dapur, jadi tidak sempat untuk keluar, Dhira bisa keluar rumah dengan aman. Palingan hanya satpam penjaga saja yang akan melihatnya. Ah, itu gampang, ia hanya tinggal memberi alasan logis agar tak dicurigai.


"Sudah?" tanya Lina ketika ia melihat Dhira tidak membawa koper.


Dhira mengangguk dengan cepat, lalu mereka pun pergi menuju ke bandara.

__ADS_1



Rapat sudah berlalu satu jam, Hexa pun mengakhirinya dengan cepat.



Ia bergegas membuka ponselnya setelah semua orang keluar dari ruang meeting.



"Kau kembalilah ke ruangan, aku masih ingin di sini beberapa menit lagi," ujar Hexa pada Sekertaris Jo.



"Baik, Tuan."



Usai kepergiannya, Hexa dengan cepat memeriksa cctv di rumah, ia penasaran apa yang dilakukan Dhira sekarang setelah *cunguk* itu pergi dari rumahnya.



Tidak ada siapa pun yang terlihat, baik di lantai bawah maupun atas.




Rahangnya tiba-tiba mengeras, tangannya terkepal geram ketika melihat Dhira bersama Lina, mereka bahkan pergi bersama.



Hexa memperbesar gambarnya agar bisa melihat dengan jelas apa yang diberikan oleh Lina pada wanita peliharaannya itu.



Setelah memastikannya dengan jelas, ia berlari keluar hingga para karyawan yang melihatnya merasa heran, tidak biasanya atasan mereka itu berlari di perusahaan, meski ia terburu-buru sekali pun.



Bahkan Hexa tidak memberitahu sekertarisnya terlebih dahulu, ia takut tak terkejar.

__ADS_1



"Sudah waktunya kau masuk, aku tidak mengantarmu lagi. Ingat, setelah kau pergi, jangan pernah kembali lagi, aku tidak akan membiarkanmu dengan mudah jika sampai kutahu kau masih berada di negara ini." Lina menatap tajam pada Dhira, memberi peringatan terakhir. Karena setelah Dhira pergi dan tak dapat ditemukan oleh Hexa lagi, maka pria itu mungkin akan menerima perjodohan mereka dan ia akan hidup bahagia bersama Hexa sebagai sepasang suami istri.



"Kau tenang saja." Dhira pun bangkit dan pergi meninggalkan Lina, wanita itu kini tampak tersenyum puas usai kepergian Dhira dari hadapannya.



"Ck, sial." Hexa terus memencet tombol klakson beberapa kali, jalanan macet membuatnya semakin tak sabar untuk tiba dengan cepat.


"Ada apa?" Ia mencoba bertanya pada seseorang yang mengatur jalur lalulintas.


"Ada kecelakaan, Tuan. Mohon bersabar," jawab pria yang ditanya oleh Hexa.


Wajah Hexa pun semakin muram, gusar dan tak sabar.


Setelah setengah jam berada dalam kemacetan, akhirnya lalulintas pun kembali normal.


Tanpa menunda waktu lebih lama, Hexa melajukan mobilnya secepat yang ia bisa.


Tak memakan waktu lama, kini ia tiba di bandara, tapi tak menemukan Dhira di lobi, ia pun menerobos terminal penerbangan, meski begitu sulit karena ia sendiri tidak tahu ke mana tujuan keberangkatan Dhira.


Setelah berputar ke sana ke mari, akhirnya ia menemukan titik terang, Dhira berada di depan matanya.


Hexa berusaha untuk berjalan lebih tenang, mengatur napasnya agar terkendali dengan normal.


"Sedang apa kau di sini?"


Baru mendengar suara dan melihat sepasang sepatu kulit di depan matanya, keringat dingin malah lebih dulu menyapa tubuh Dhira. Aura Hexa benar-benar semengerikan itu.


Dhira memejamkan matanya terlebih dahulu, baru memberanikan diri mendongak ke atas menatap pria yang kini sedang berada di hadapannya itu.


"Anda mengikuti saya, Tuan?" tanya Dhira.


Hexa tergelak. "Siapa yang begitu kurang kerjaan mau mengikutimu sampai ke sini?" Ia berbohong. Secara tidak langsung ia telah mengatakan bahwa dirinya kurang kerjaan, sebab ia memang sengaja mengikuti Dhira untuk membawa wanita itu pulang bersamanya. Namun, ia tak mau mengakui.


Bersambung.


Go, Hexa, go. Jangan lepaskan Dhira, nanti ada yang kepincut lagi sama dia, maklum, kamu kan sudah tua, harus bisa buat Dhira jatuh cinta biar gak ngelirik cowok lain. Hihi

__ADS_1


Salam hangat dari Tuan Hexa dan Dhira.


__ADS_2